Wednesday, 22 November 2017

Menginspirasi atau Tidak, Tulisan Ini Ingin Saya Bagikan


Tujuan saya menulis adalah menginspirasi. Mau seperti apa tulisan saya niat itu yang ada di dalam hati. Namun, pada kenyataannya niat itu terimplementasi ke dalam catatan-catatan sarat luapan emosi. Catatan saya sebagian besar warna perasaannya yang meledak-ledak. Saya mencari apa sebenarnya, tanya pada diri sendiri. Jika memang tujuan saya menginspirasi, mengapa malah hal-hal buruk yang saya bagikan? Jika tujuan saya meluapkan emosi, mengapa harus dibalut kata ‘menginspirasi’?

Saya kembalikan kepada pembaca karena toh catatan-catatan saya sudah dibaca banyak orang.

Saya bukan orang dengan pengalaman ke-HRD-an seperti Riki. Juga bukan yang memiliki wawasan keilmiahan seperti Fadjri. Atau Kadek yang sering menuliskan tentang mindfullness. Saya hanyalah kontributor yang berusaha mencari ‘rumah’ untuk tulisan-tulisan. Bagi saya web berlogo burung hantu ini sudah banyak memberi ruang untuk pikiran. Tentu, pikiran saya yang ruwet dan sedang dalam proses pembenahan lewat tulisan.

Apa yang terjadi tatkala pikiran ruwet itu dibahasakan?

Ya, kode yang salah. Semisal saya ingin mengungkapkan rasa senang tapi yang muncul malah kekecewaan-kekecewaan di masa lalu. Itu otomatis dan saya tidak mampu mengontrolnya. Alhasil, niat awal yang tadinya menginspirasi aplikasinya malah mencari eksistensi diri. Ada dendam yang belum terkelola dengan baik. Ada kecewa yang belum sepenuhnya saya terima. Trauma, terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu.

Harus diakui saya rentan secara psikologis dan tidak tahan stres. Saya tidak kuat menghadapi tekanan dan karena itu masih sering mencari pelarian. Saya masih sering menghindari masalah daripada berusaha menyelesaikannya. Pikiran saya seperti terprogram untuk mencari masalah di dalam masalah, bukan solusi yang membuahkan jalan keluar. Pikiran saya dipenuhi hal-hal rumit yang membuat segala hal di dunia ini tampak ‘lebih dari kelihatannya’.

Ya saya cenderung melebih-lebihkan sesuatu sehingga mudah mengalami stres.

Stres itu menjadikan saya kehilangan fokus untuk menikmati momen here and now. Saya mudah teralihkan dan terpukau oleh sesuatu di luar topik atau sesuatu yang sedang saya kerjakan. Melamun adalah hal biasa yang masih sering saya alami. Pernah menonton film The Secret Life of Walter yang dibintangi Ben Stiller? Saat adegan Walter berangkat kerja? Ya itu yang saya alami. Pikiran tiba-tiba terlempar ke alam khayalan yang jauh di luar kondisi sekarang.

Jika hanya mengkhayal seperti itu masalahnya masih taraf ringan. Nah, kalau sampai lahir bisikan-bisikan untuk bunuh diri, menyakiti diri sendiri, dan menyakiti orang lain? Itu masalah level berikutnya bro. Bukan hanya fokus pikiran, isi pikiran atau mindset harus dibenahi agar bisikan-bisikan itu mampu diatasi. Tentu mengubah mindset tidak semudah mengubah wallpaper di handphone kita. Butuh penghayatan dan ketelatenan menghalau pikiran-pikiran itu dan menggantinya dengan pemahaman baru.

Itu sulit apalagi jika sudah masuk usia dewasa.

Sekarang saya sedang berusaha mengatasinya. Mengurai satu demi satu pikiran-pikiran buruk dan menggantinya dengan pikiran-pikiran baik. Memrogram kembali mindset yang menjadi dasar seluruh tindakan saya. Pertama, saya berusaha tidak takut dengan bisikan-bisikan itu dulu. Saya kuatkan diri untuk menerima semua bisikan yang muncul. Bisikan itu kalau sudah di-iya-in dia akan diam sendiri. Walaupun nanti muncul lagi tapi lama-lama ia lemah sendiri.

Menulis adalah salah satu upaya saya meng-iya-kan bisikan-bisikan itu. Jujur pada diri sendiri bahwa saya memiliki pikiran-pikiran seperti itu. Keluarga sampai ada yang membaca dan beberapa menunjukkan reaksi yang tidak suportif. Maksud saya, yang bereaksi itu bukannya prihatin malah kecewa dengan kejujuran itu. Andai saja mereka tahu mendidik ego tidak semudah membuat bulatan bakso. Apalagi dalam id terlanjur terekam perilaku-perilaku agresif dan emosional.

Keluarga kaget saya memiliki kenyataan psikologis mengerikan semacam itu.

Namun, saya juga tidak bisa terus lari dari kenyataan bahwa dorongan dari alam pikiran bawah sadar untuk bunuh diri memang ada. Saya tidak membuat-buatnya karena ia seperti seseorang yang bicara tanpa menunjukkan wujudnya. Bisikan setan mungkin kalau dalam sudut pandang agama. Jadi, apa langkah yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya? Rekonstruksi alam pikiran bawah sadar dengan melakukan pemrogaman ulang mindset tadi.

Oya, tentang tiga struktur kepribadian id, ego, superego bisa dibaca di sini.

Aspek kepribadian ego saya didik untuk tidak menuruti dorongan id mentah-mentah, itu bisa jadi langkah awal. Aspek kepribadian superego yang harus diperkuat dengan moral dan etika. Ya saya akui moral dan etika saya kurang berperan dalam kehidupan sehari-hari. Kepada yang lebih tua saya juga tidak menghormati sebagaimana baiknya. Kepada Ibu dan Simbah saja saya masih pakai bahasa Jawa ngoko, tingkat bahasa untuk bergaul dengan teman sepermainan.

Mungkin yang membuat saya seperti itu adalah kesombongan.

Kesombongan yang merasa diri ini lebih baik dari orang tua dan keluarga. Memang keluarga telah menorehkan banyak sekali kenangan traumatis. Namun, itu tidak menjadikan saya lebih baik dari mereka. Apabila saya dilukai oleh seseorang secara sengaja, apakah lantas saya jadi lebih baik karena teraniaya? Jelas tidak. Saya tidak tahu apa yang dialami orang itu dan segala amal yang telah diberikannya untuk mengisi hidup.

Mungkin mereka memiliki andil pada luka psikologis yang ada dalam diri saya.

Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki amal di luar perbuatan-perbuatan mereka kepada saya. Ada saat mereka berbuat baik kepada saya namun, itu tidak mampu mengimbangi rasa kecewa dalam diri saya. Rasa kecewa terhadap hidup yang menempatkan saya dalam posisi jauh dari kenormalan. Jika saya sulit menerima kenyataan perceraian dan kondisi Ibu sekarang, apakah itu salah? Sementara kenyataan itu benar-benar menyakitkan, dan Ibu satu-satunya keturunan Simbah yang pernikahannya berakhir dengan perceraian.

Hidup saya sudah berbeda dari sepupu-sepupu yang lain.

Keluarga tidak mengerti betapa trauma psikologis berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Setiap kita tentu memiliki masa lalu dan itu menjadi latar belakang masa sekarang. Apa yang menjadi sikap saya sekarang sebagian juga hasil dari didikan yang saya dapatkan. Bukan murni dari kehendak saya karena ada alam pikiran bawah sadar tadi. Sayangnya, saya disalahkan sepenuhnya atas sikap dan sudut pandang terhadap keluarga.

Tanpa mempertimbangkan luka psikologis saya yang belum sembuh.

Mengalami kegagalan beberapa tahun silam memicu semua kecenderungan neurosis dalam diri saya. Segala konflik diri yang belum selesai mencuat keluar. Rasanya tidak enak sekali tatkala bayangan-bayangan kejadian buruk di masa lalu menyerang pikiran saya. Menggerus kepercayaan diri dan menghilangkan keseimbangan psikologis yang selama ini saya jaga. Itu saat saya benar-benar berada di titik lemah dan keluarga tidak mampu menopang kegelisahan saya.

Saya paham apabila keluarga kecewa.

Ada yang berpikir kuliah di psikologi bisa membuat saya tahu teknik menyembuhkan Ibu dari gangguan jiwa. Apabila beliau tahu betapa rumitnya pikiran manusia, tentu pendapatnya akan berubah. Bukan hal mudah membenahi pikiran manusia yang sudah bertahun-tahun dalam kondisi neurosis. Membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, ditambah Ibu sendiri tidak memiliki kemauan kuat. Butuh mendorong sekaligus memberikan pemahaman agar Ibu berperilaku lebih sehat.

Banyak hal terjadi setelah beberapa anggota keluarga membaca tulisan-tulisan saya.

Ada yang masih merangkul, mengajak dan mau membuka pikiran. Ada yang bersumpah tidak akan membantu urusan saya lagi. Terakhir ada yang sangat marah sampai mengeluarkan segala penilaian yang disembunyikan selama ini tentang saya. Mereka tidak salah, karena apa yang saya tulis juga melewati batas –setidaknya batas adab di keluarga. Keluarga agak sulit memahami bahwa saya berperang melawan segala pikiran berbahaya tentang bunuh diri dan melukai tadi.

Tidak masalah, bukan hal aneh karena masalah psikologis masih dipandang remeh sebagian masyarakat.

Jadi, entah apa cerita kehidupan saya bisa menginspirasi pembaca. Apa yang saya hadapi sekarang adalah sesuatu yang mungkin juga dihadapi pembaca. Barangkali tulisan ini bisa sedikit memberikan kunci atau merangsang ide untuk tidak menyerah pada keinginan pada diri sendiri yang destruktif. Bukan hal mustahil sembuh dari gangguan pikiran-pikiran negatif. Kita selalu bisa melatih diri sendiri untuk terbiasa hidup dengan pikiran-pikiran itu, dan menguasainya.

Terakhir, saya memohon maaf pada pembaca lobimesen.com yang bosan dengan tulisan saya. Jujur saja saya yang membuatnya sendiri juga bosan. Namun, harus diakui bahwa ini tulisan terbaik yang bisa saya berikan. Menulis cerita fiksi seperti Sandy atau Kadek bagaikan membuat pesawat model baru buat saya. Saya belum menemukan rumus untuk membuka ide dan imajinasi yang buntu. Bercerita tentang kehidupan mungkin salah satunya, walaupun saya tidak yakin itu cara terbaik.



Sekretariat SPMB UNS, 22 November 2017

Sunday, 19 November 2017

Ketika Saya Gagal Menjalani Tantangan Seminggu Dengan Uang 50ribu

Gambar oleh Riki S

Pernah kah kalian mengalami apa yang saya alami. Menjalani kehidupan yang biasa saja, bahkan justru membosankan? Menjalani hidup dengan rutinitas yang itu-itu saja? Dan itulah yang saya alami akhir-akhir ini.

Saya merasa bahwa hidup ini begitu membosankan. Dan saya butuh sesuatu yang baru. Saya sempat browsing baik di youtube maupun di media sosial lainnya, tentang bagaimana mereka yang biasa disebut sebagai praktisi media sosial seperti youtuber, selebgram, bloger, maupun facebooker menjalani kehidupannya. Dan saya mulai tertarik dengan sosial eksperimen yang diunggah oleh seorang youtuber di chanel youtube miliknya. Berangkat dari situ lah, otak mulai bekerja, bahwa saya butuh hal seperti itu untuk mengisi hidup saya yang sudah mulai membosankan ini.

Bisa dibilang, sudah lama saya membiarkan blog milik saya sepi dari postingan baru. Ibarat rumah, saya sudah membiarkan terlalu lama rumah kosong. Jangankan disinggahi, sekedar dibersihkan saja tidak pernah. Rumah kosong yang tak berpenghuni, hanya akan lapuk dimakan waktu, kemudian lebih ngeri lagi jadi rumah berhantu. Dan itu tidak baik.

Satu blog yang saya kelola, harus saya suntik mati. Karena ide seperti sudah mentok, untuk terus memposting tulisan baru.

Saya mulai berpikir untuk melakukan social eksperimen, dan yang ada dalam pikiran saya kala itu adalah; apakah saya bisa menjalani hidup selama satu minggu dengan uang 50rb saja. Dan hari senin kemarin, saya melakukan hal ini.

Sebelum memulai, terlebih dahulu saya mengisi penuh bbm di kendaraan saya. Hal itu saya lakukan agar saya tidak terbebani lagi untuk uang bbm. Dan eksperimen pun dimulai.

Hari pertama

Kebetulan minggu ini saya masuk shift pagi. Iya, tempat kerja saya ada dua shift. Sebagai HR Officer saya juga harus ikut shift, karena saya bertanggung jawab satu shift.

Seperti biasanya, sebelum aktifitas pekerjaan saya ngopi dulu sambil mempersiapkan pekerjaan di hari pertama minggu ini. Seperti pekerjaan kantor pada umumnya, senin biasanya hari paling riweh, dibanding hari-hari lainnya.
Kemudian makan siang makanan yang disediakan oleh kantor tempat saya bekerja. Kebetulan di tempat kerja saya menyediakan fasilitas makan siang dan makan malam. Hal inilah yang membuat saya pede ketika akan menjalani tantangan ini.

Untuk makan malamnya, setelah sholat magrib saya di wasap untuk main ke tempat saudara, dan di momen itulah saya diminta makan malam di sana. Puji Tuhan, hari pertama bisa saya lalui tanpa pengeluaran. Aman!

Hari Kedua

Seperti halnya dengan hari pertama, di hari kedua saya awali dengan berangkat pagi-pagi di saat kebanyakan orang masih jingkrung dengan selimutnya di atas tempat tidur. Setelah ngopi di kantor sebagai awal untuk memulai aktifitas di hari kedua. Mulai briefing karyawan, rekruitmen, dan monitoring.

Di sela pekerjaan ada salah satu teman kerja mengajak jajan di sebuah warung tenda di deket alun-alun kabupaten. Kata teman saya, di sana ada warung yang sempat ramai di grup facebook. Ceker setan, konon pedasnya ceker setan level tiga membuat ngiler bagi mereka pecinta masakan pedas.

Namun, menjelang sore cuaca hujan deras disertai angin. Akhirnya kami membatalkan untuk mencicipi ceker setan.
Hujan awet hingga menjelang malam. Dan saya malas keluar untuk mencari makan malam. Saya nitip teman saya, agar sepulang kerja untuk membungkuskan makanan. Hanya Rp 6.500 saja, nasi sayur sama telur, dan tiga gorengan sudah cukup menyelamatkan saya dari kelaparan, di tengah cuaca hujan deras yang membuat orang lebih memilih jingkrung di atas kasur.

Hari Ketiga

Tidak seperti biasanya, di hari ketiga saya memulai dengan sarapan nasi tumpang, dan 4 gorengan. Cukup murah, karena semua itu hanya Rp 4000 saja. Sebenarnya saya paling males buat sarapan pagi. Secangkir kopi sudah cukup bagi saya untuk memulai aktifitas dari pagi hingga jam makan siang untuk shift pagi.

Malam sebelumnya, rekan kerja saya menginformasi bahwa esok hari ada tugas ke luar kota, yaitu ke Kebumen. Hal itulah yang membuat saya harus sarapan dulu. Karena ke Kebumen membutuhkan perjalanan sekitar 4 jam, saya tidak mau semrepet gara-gara telat makan.

Dalam perjalanan, kami mampir dulu di sebuah pondok makan ikan bakar. Meski menu utama dalam pondok makan adalah ikan bakar, namun saya memesan garang asem, karena saya sudah lama tidak menikmati garang asem. Terakhir waktu masih sering ke Solo. Karena masih dalam perjalanan dinas, tentu makan siang masih ditanggung oleh kantor tempat saya bekerja.

Setelah urusan di Kebumen selesai, sekitar jam 3 sore kami bergegas lagi untuk pulang. Ketika berangkat kami hanya berdua, namun ketika pulang kami bersama rombongan yang kami jemput.
Selama kurang lebih 4 jam perjalanan, kami mampir dulu di warung makan padang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampai di tempat tinggal, mandi kemudian saya mulai melemaskan otot-otot tubuh dengan rebahan di atas kasur, dan tertidur pulas.

Hari Keempat

Hari keempat saya lalui dengan biasa saja. Tak ada hal yang menarik untuk saya kisahkan. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Mulai dari ngopi dulu, kemudian beraktifitas seperti biasa.

Hanya saja ketika jam pulang kerja, cuaca hujan deras disertai angin. Saya nekat pulang dengan jas hujan. Dan mampir di sebuah warung kelontong. Karena hujan deras adalah waktu yang paling tepat buat di rumah saja. Dan saya butuh amunisi. Saya membeli dua sachet susu coklat, 3 sachet rinso cair buat mencuci baju, dan keripik bayam untuk menemai segelas susu coklat panas. Semua itu, sekitar Rp 17.000

Tidak hanya itu, karena saya adalah orang yang sulit tidur ketika perut dalam kondisi lapar. Saya juga nitip teman saya untuk membelikan makan malam. Nasi telur dan 2 gorengan, dan harganya cukup Rp. 6000 saja.

Hari Kelima

Sudah hari kelima, itu artinya tinggal beberapa hari lagi tantangan ini segera berakhir. Hari yang tidak begitu sibuk jika dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Jujur saya harus sedikit menahan diri agar saya dapat menyelesaikan tantangan ini. Saya yang memiliki mulut tidak bisa diam. Bukan, saya bukan orang cerewet, saya justru orang yang bisa dibilang pendiam. Namun mulut ini tidak bisa diam dalam hal mengunyah makanan. Sehari tidak ngemil yang kemripik begitu, rasanya mulut saya seperti pegal-pegal begitu.

Sepertinya hujan sedang senang turun di daerah tempat saya tinggal. Menjelang pulang kerja, langit menjadi mendung, tak lama kemudian hujan deras. Apesnya, saya lupa membawa jas hujan. Akhirnya saya meminjam jas hujan, kemudian saya harus balik kantor lagi untuk mengembalikan jas hujan milik rekan kerja saya. Sebagai ucapan terima kasih saya membelikan cilok pedas untuknya. Saya membeli 2, satu untuknya dan satunya lagi untuk saya. Dan saya mengeluarkan uang Rp. 10.000.

Kemudian ada pesan wasap dari kerabat saya. Saya diminta untuk membersihkan barang-barang yang akan dipindah ke rumah saya. Iya, pengajuan KPR saya di acc oleh pihak bank, lain kali akan saya ceritakan. Kalau sempet tapi.

Di tengah perjalanan, masih dalam suasana gerimis, saya terhipnotis oleh lezatnya mie ayam, dengan iringan kemripik kerupuk, kemudian segarnya teh panas. Saya pun mampir di sebuah warung mie ayam, dan Rp 10.000 harus saya keluarkan dari dalam kantong saya.

Setelah selesai membersihkan barang-barang, ada pesan wasap, diiringi panggilan via wasap dari salah satu rekan kerja. Ternyata ia mengajak saya untuk mencicipi ceker setan yang dulu sempat tertunda karena hujan.

Kampretnya, saya dikerjain. Saya disuruh pesen ceker setan kevel tiga, katanya level dua tidak begitu pedas. Dan ternyata, bibir dan lidah saya langsung getir karena pedasnya. Bajingan! Saya tidak tahu bagaimana nasib perut saya esok hari setelah mencicipi ceker setan level tiga.
Dan kali ini saya, ditraktir oleh rekan saya tersebut. Mungkin teman saya tahu, bahwa saya lagi "tipis".

Hari Keenam

Lembur, di hari keenam saya masih masuk kerja seperti biasa, karena sabtu ada lembur. Di hari lembur seperti di hari keenam ini, suasana kerja jauh berbeda dibanding di hari biasa. Semua bekerja nampak rileks dan tanpa beban. Saya belum tahu kenapa bisa begitu. Karena perhitungan lembur di hari sabtu yang dua kali lipat dari gaji pokok per hari, atau adanya faktor lain. Entahlah.

Ketika jam makan siang, meski sudah ada makan siang, saya ditraktir lagi bakso oleh teman saya. Artinya saya masih bisa melalui tantangan ini

Sepulang kerja, saya memiliki agenda sarasehan alumni almameter saya dulu. Kebetulan acara diselenggarakan di Sate Ayam Ponorogo Pak Bon Solo. Sehabis ashar saya meluncur ke sana. Dan cuaca sore hari ke enam ini bisa dibilang cerah dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan.

Sarasehan diakhiri dengan makan sate. Dan sebagaimana acara temu alumni, kami semua saling bertegur sapa, menanyakan kabar, sambil terus mengingat jaman masih kuliah.

Belum puas mengobrol, setelah dari acara sarasehan, kami berpindah tempat di sebuah angkringan. Kami duduk berempat pun menggelar majelis wedangan.
Dan di tempat wedangan itu saya habis Rp 11.000 untuk satu nasi bandeng, bakwan dan dua tusuk sate tahu bakso, serta teh panas.

Hari Ketujuh

Hari terakhir menjalani tantangan ini, saya mulai mengkalkulasi berapa pengeluaran saya selama satu minggu ini. Meski hari pertama, kedua, dan ketiga dapat saya lalui dengan mudah. Namun, tidak ada kontrol budget dalam menjalani tantangan ini.
Setelah saya kalkulasi lagi, total pengeluaran saya tepat di hari ketujuh ini sudah di angka, Rp 67.500 itu artinya saya gagal menjalani tantangan ini. Dan baru ingat juga, saya lupa memasukan pengeluaran pulsa, karena saya masih ada utang pulsa Rp 12.000 ketika saya dinas ke Kebumen.

Karena saya sudah dipastikan gagal, saya pun langsung kalap, dalam perjalanan pulang ke tempat Simbah, saya tergoda untuk mampir di sebuah warung makan yang menjual sambel belut. Cuaca mendung, sambel belut pedas serta beberapa tusuk sate ati ampela saya jadikan pelampiasan atas kegagalan ini.

Tidak hanya itu, saya pun sekalian membeli dua kilo salak buat simbah saya.
Kegagalan saya ini adalah murni kesalahan saya. Tidak adanya fungsi kontrol, serta tidak adanya keseriusan dalam menjalaninya adalah faktor utama kegagalan saya dalam menjalani tantangan ini.

Saya bisa saja menulis dan memanipulasi eksperimen ini seakan saya telah benar-benar berhasil menjalani tantangan ini; bisa hidup dengan uang Rp 50.000 selama satu minggu. Namun saya tidak akan melakukannya. Karena bagi saya, bukan hanya keberhasilan saja yang perlu diceritakan, terkadang kita harus berani menceritakan kegagalan. Biar semua orang tahu, hidup bukan hanya tentang pencapaian, tapi juga bagaimana kegagalan menyertai setiap pencapaian.

Sunday, 3 September 2017

Sedikit Luapan Emosional Mengenai Perceraian

 
Sedikit Luapan Emosional Mengenai Perceraian

Tulisan ini sedikit egois, anggap saja begitu –kenyataannya mungkin egois sekali. Saking egoisnya saya kesal saat diajak bicara Simbah ketika menuliskan paragraf pertama ini. Ya namanya orang tua maunya diperhatikan, kadang walau untuk bertanya atau membicarakan hal yang itu-itu saja. Tulisan ini bukan ingin membahas karakter orang tua yang egois namun mengibakan itu. Bahasan dalam tulisan ini berkaitan dengan banyak cerita tentang perceraian yang sampai kepada saya.

Sementara saya menerima kenyataan perceraian orang tua saja susahnya minta ampun.

Hingga sekarang saya tidak pernah bisa menerima perceraian sebagai hal yang bermanfaat. Benak saya dipenuhi perceraian adalah efek dari kegigihan yang pupus di antara pasangan. Saat pasangan tidak mau bersama istri atau suaminya lagi itu mungkin wajar bila terjadi sekali dua kali. Pertengkaran dan konflik itu wajar terjadi antara suami istri menurut saya. Bukan berarti harus dibiasakan karena kalau terlalu sering berarti masalah sebenarnya bukan konfliknya.

Ya, manusianya.

Saat saya mencari cerita tentang perceraian Ibu dan Bapak dulu yang ada hanyalah kekecewaan. Simbah ngotot agar Ibu tidak melanjutkan pernikahannya dengan Bapak. Sementara Ibu antara lanjut dan tidak karena keluarga Bapak tidak begitu ramah terhadapnya. Kalau pembaca berpikir ini mungkin berasal dari Ibu yang tidak mampu beradaptasi, awalnya saya pikir juga begitu. Namun, adik-adik saya menceritakan hal yang sama tentang keluarga Bapak yang tidak begitu bisa diajak bicara baik-baik.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran Bapak saat itu.

Kalau mendengar cerita Ibu saya tidak melihat adanya sisi baik yang menonjol. Namun, melihat adik-adik saya sekarang jelas Bapak berusaha keras memperbaiki hidupnya. Itu cerita yang dimiliki adik-adik dan saya tidak mengalaminya langsung. Ibu sampai sekarang masih merasa sebagai korban perasaan. Korban dari keegoisan Simbah dan keluarga Bapak yang dulu ngotot memperjuangkan perceraian. Ironisnya Bapak dulu memilih keluarganya daripada Ibu.

Setelah itu saya tidak pernah bertemu Bapak hingga beliau meninggal.

Itu yang sampai sekarang menggelitik pikiran saya. Apakah orang-orang tidak bisa berhenti egois sebentar saja dan memerhatikan perasaan orang lain. Setidaknya anak yang telah lahir atas hubungan cinta pasangan. Setiap kubu merasa paling mampu dan berhak merawat anaknya. Tanpa berpikir bahwa sang anak ingin kedua orang tuanya bersama, bukan merebutkannya. Kasihan anak yang masih bertumbuhkembang harus mengalami drama emosional yang berada di luar kemampuan umurnya.

Andaikata orang tua mau meminta maaf atas kesalahannya, tidak ada yang terlambat untuk diperbaiki. Kebanyakan saya temukan orang tua tidak merasa bersalah. Mereka malah merasa memperjuangkan yang terbaik untuk anak dengan memisahkannya dari ayah atau ibu mereka. Sikap dewasa macam apa ini? Banyak cerita yang lebih ironis di luar sana dalam mempertahankan rumah tangga. Semua dilakukan orang tua demi anak.

Mungkin posisi sebagai orang tua ini yang perlu disadari, bukan hanya sebagai pasangan.

Kalau sebagai pasangan pikirannya jelas terfokus pada kekecewaan terhadap suami atau istri. Namun, bila sadar posisi sebagai orang tua yang terbayang banyak jelas masa depan si anak. Apakah si anak akan terdidik dengan baik dan mampu bertahan dari badai kehidupan saat dewasa nanti. Sebab saat rentan-rentannya si anak disuguhi drama konflik yang kekanak-kanakan. Emosi-emosi yang tidak perlu bisa saja merangsang otaknya untuk berperilaku berdasar emosi yang sama saat dewasa nanti.

Tidak usah jauh-jauh contohnya saya.

Banyak emosi-emosi negatif terprogram dalam otak saya. Reaksi saya terhadap sesuatu bukannya sesuai keadaan tapi cenderung negatif pula. Seperti Ibu yang merasa sengsara dan mendapatkan tanggungan saat mendapatkan makanan. Ia anggap itu tanggungan bukannya rezeki dari Tuhan. Hasilnya beliau mau makan juga muncul perasaan berat hingga kadang makanan itu kadaluwarsa duluan. Jika berpikir bahwa itu rezeki, karena tahu tidak mampu menghabiskan sendiri, makanan itu lantas dibagi.

Itu baru satu contoh, belum Simbah yang marah-marah tatkala mendapatkan banyak daging kurban.

Apa yang akan terjadi dalam otak si anak ketika yang ia alami bersama orang tuanya adalah perceraian dan pertengkaran? Jelas ia saat dewasa kemungkinan besar akan banyak berkonflik pula dengan orang lain. Pasalnya ini berhubungan dengan nilai dan pembelajaran yang dapat mendidik jiwa. Saat jiwa kita terdidik dengan baik anak kita kemungkinan besar akan terdidik dengan baik pula. Namun, jika kita tidak mau mendidik jiwa kita sendiri bagaimana kita mendidik jiwa anak?

Mendidik jiwa yakni berusaha mengendalikan pikiran dan perasaan.

Ini tentu sulit karena kadang ego kita anggap sebagai diri kita sendiri. Padahal ego itu hanyalah dimensi terluar yang menutup kita dari sejatinya diri kita: ruh. Pikiran dan perasaan adalah implementasi ego itu sendiri. Jika kita terbawa arus perasaan dan kekauan pikiran kita masih dalam dimensi ego. Itu yang membuat kita lantas disebut egois. Saat pikiran dan perasaan terkendali oleh kekuatan ruh itulah keadaan manusia tanpa ciri.

Saya pikir keadaan manusia tanpa ciri ini perlu diusahakan.

Kita tidak berpatokan pada keinginan kita tapi apa yang perlu. Tentu pertimbangan semacam ini butuh ilmu dan tidak sedikit dari kita yang masih malas belajar. Substansi hidup perlu kita sadari dan ikuti agar tidak melawan hukum alam. Keinginan kita bisa berbahaya apabila membelokkan dari aturan alam. Banyak orang menikmati masa mudanya seperti raja dan meninggal dalam keadaan hina. Ada juga yang menjalani hidup seperti rakyat jelata dan mati meninggalkan setinggi-tingginya nama.

Hidup nikmat di dunia itu berbahaya meskipun kita semua menginginkannya.

Ada baiknya kita memahami bagaimana alam ini bekerja. Prinsip sederhana seperti: siapa yang menanam akan menuai. Apa yang kita tanam sekarang akan melahirkan buah yang kita petik nanti. Tentu kita ingin anak kita lebih baik dari diri kita sekarang. Namun, yang mau menjadikan dirinya lebih baik sungguh sangat sedikit. Kebanyakan tidak mau meninggalkan kenyamanan dan kenikmatan lama untuk mau beralih posisi sebagai orang tua –yang tinggal menunggu mati.

Posisi kita sebagai orang tua hanyalah manusia yang menunggu mati.

Jika kita sadar itu tentu kita akan lebih banyak berbenah daripada mengungkit salah. Apa yang terjadi di masa lalu bukan lagi sesuatu yang perlu banyak diributkan. Dibahas untuk diselesaikan memang perlu tapi bukan dijadikan alasan sekarang tidak mau belajar. Orang yang aura dirinya memancar tidak perlu menjelaskan dirinya di depan orang lain. Orang yang telah belajar akan sadar bahwa dirinya hanya manusia yang suatu saat akan mati.

Untuk apa mempertahankan egosentrisme jika suatu saat kita akan melepaskannya juga?

Lebih baik kita belajar berkompromi dengan keinginan dan berkata: kamu tidak harus terwujud, daripada mempertahankan keinginan yang akhirnya menyengsarakan diri kita sendiri. Kita mau mati dalam keadaan diingat manusia? Boleh saja tapi tujuan linear semacam itu akan melahirkan usaha yang dangkal pula. Lain halnya bila kita ingin mati meninggalkan kesan untuk kebaikan. Lebih tinggi lagi saat kita mati dalam keadaan meninggalkan kesan kepada Tuhan.

Hidup ini sederhana namun bila tidak mampu memahaminya akan melahirkan banyak kerumitan.

Semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Anak dan pasangan juga salah satunya. Tidak masalah kita sekarang dalam keadaan bagaimana, tapi sikap kita melihat keadaan itu. Jika sikap kita masih merasa lebih rendah dari masalah dan keadaan itu, kita takkan memiliki percaya diri. Jika kita merasa diri kita lebih tinggi dari masalah maka akan lahir perasaan sombong. Mau jadi bagaimana kita tergantung keputusan kita sendiri.

Putuskan sesuatu dengan ilmu bukan dengan pikiran dan perasaan.


Kamar Pecah, 3 September 2017


Ilustrasi: jasonlevoy.com

Wednesday, 23 August 2017

Depresi Eksistensial: Ketika Modernitas Mengaburkan Makna Kehidupan

"We became self-aware just to realize the story is not about us...”
-Kurzgesagt, In a Nutshell: Optimistic Nihilism


Hidup di abad ke-21 seharusnya menjadi hal yang mudah. Kita adalah generasi yang terlahir di era yang bisa dibilang merupakan era keemasan bagi manusia. Bagaimana tidak? Kitalah yang menikmati keberhasilan umat manusia dalam menjajah bumi dan membentuk ulang permukaannya, kitalah generasi yang hidup di era yang memungkinkan untuk menjadi apapun yang kita inginkan. Kita merupakan generasi yang bisa melakukan banyak hal hanya dengan satu ujung jari: jika lapar tinggal buka smartphone, pesan makanan dan tunggu di rumah; beli tiket pesawat, kereta, atau pesan penginapan tinggal pakai smartphone; mencari pekerjaan bisa via portal online; bahkan ada juga kuliah online yang membuat kita tak perlu meninggalkan kenyamanan rumah. Hidup terasa begitu mudah, nyaman, dan tidak memerlukan banyak usaha. Namun, kenyataannya mengapa hidup kita lebih diliputi oleh kesedihan dan kesepian?

Depresi Eksistensial: Ketika Modernitas Mengaburkan Makna Kehidupan
Sumber Gambar: www.stevecutts.com

Bahkan fakta menunjukkan bahwa pada generasi kita, “generasi di era keemasan ini”, tren angka bunuh diri mulai bergeser ke usia produktif. Menurut data dari WHO (World Health Organization), bunuh diri menempati peringkat kedua sebagai penyebab kematian tertinggi pada usia 15 sampai 29 tahun secara global. Sementara di Indonesia sendiri, tercatat ada sekitar 812 kasus bunuh diri pada tahun 2015. Itu hanyalah angka yang muncul di permukaan saja, karena kasus bunuh diri merupakan fenomena sosial dan selayaknya fenomena sosial, data-data yang ada di lapangan hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan fenomena. WHO sendiri juga menyebutkan bahwa pada setiap satu kematian akibat bunuh diri yang teridentifikasi, setidaknya ada 20 orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri namun tidak tercatat dalam data. Jadi, bayangan pada 2015, tercatat 812 kematian akibat bunuh diri di Indonesia dan di tahun yang sama ada sekitar 16.000 orang yang mencoba menggakhiri hidupnya. Tidakkah data tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan dalam menjalani hidup di era modern ini semakin menjadi masalah yang kompleks?

Bagi saya pribadi, mungkin hal yang mampu menjelasan mengapa manusia menjadi lebih “tidak bahagia” di era modern ini adalah munculnya depresi eksistensial (existential depression). Menurut Grohol dalam artikel di psychcentral.com menyebutkan bahwa depresi eksistensial bisa muncul ketika seorang individu berhadapan dengan isu seperti kehidupan, kematian, kebebasan, dan makna kehidupan. Individu dengan karakteristik depresi eksistensial biasanya mempertanyakan tentang makna dari keberadaannya di dunia (makna kehidupan), yang mana merupakan satu dari sekian banyak pertanyaan sulit dalam hidup manusia. Banyak individu atau bahkan hampir semua individu mungkin sependapat bahwa menemukan makna dalam kehidupan merupakan hal yang penting bagi kelangsungan hidup atau bahkan bisa jadi merupakan hal yang membantu individu tersebut untuk bertahan ketika fase-fase sulit dalam kehidupan menyerang. Namun, mengapa banyak orang yang tidak menemukan makna dalam kehidupannya, mengapa di era modern ini semakin banyak individu yang mengalami kekosongan makna?

Mungkin terkait pertanyaan terakhir, saya rasa ada beberapa faktor yang berperan. Salah satunya yang saya curigai membawa pengaruh besar adalah pola hidup masyarakat yang semakin konsumtif. Pola hidup modern berujung pada pola hidup yang konsumtif, dimana self-esteem atau rasa harga diri seseorang didasarkan pada benda-benda material yang ia miliki dan gaya hidup yang mewah. Kemewahan juga menjadi daya tarik dalam relasi dan pergaulan di era modern ini. Semakin banyak barang-barang material dan semakin mewah gaya hidup seseorang, maka perasaan tentang dirinya berharga serta kharisma yang dimilikinya cenderung tinggi di mata orang lain. Buktinya, lihat saja ada berapa banyak orang yang memamerkan foto-foto terkait gaya hidup mewah yang dimilikinya di instagram dan lihat juga berapa “juta” follower-nya. Penghargaan diri yang dimiliki seseorang atau harga diri (self-esteem) penting karena dapat membantu individu dalam pemecahan masalah, beradaptasi dengan lingkungan sosial, mengekspresikan diri secara positif, serta mempengaruhi kepercayaan diri individu. Merupakan hal yang umum bahwa orang-orang yang berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi tinggi cenderung memiliki self-esteem yang tinggi. Hal ini didukung oleh studi dari Chen dan koleganya (2016) yang menunjukkah bahwa remaja yang berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi tinggi lebih cenderung memiliki self-esteem yang tinggi dan berdampak pada tingginya tingkat kepuasan dalam menjalani hidup daripada remaja yang berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi rendah. Perlu diketahui bahwa kaitan antara status sosio-ekonomi dan kepuasan dalam menjalani hidup yang diperantarai oleh self-esteem ini juga diperkuat oleh tingkat optimisme yang dimiliki individu. Dengan kata lain, pada individu yang cenderung pesimis, status sosio-ekonomi memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap tingginya harga diri, dan sikap optimis dalam menjalani hidup juga bisa menolong individu dengan status sosio-ekonomi rendah untuk memiliki tingkat penghargaan diri yang tinggi. Intinya, memiliki status sosial dan ekonomi yang baik, cenderung membantu individu untuk mengahadapi fase-fase sulit dalam hidupnya di era modern ini dan jika Anda kurang beruntung, maka optimislah dalam menjalani hidup.

Faktor kedua yang sekaligus merupakan faktor terakhir menurut pendapat saya yang berkonstribusi terhadap kekosongan makna dalam kehidupan modern adalah ekspektasi yang tinggi. Saya sependapat dengan hal yang dikemukakan oleh “Social Work Tutor” di situsnya socialworktutor.com pada artikel “Why is Modern Life Making You Depressed?” terkait ekspektasi individu yang cenderung terlalu tinggi di era modern. Era modern memiliki banyak tipu daya, kita dimanjakan oleh kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan dengan berbagai macam hal instan setiap harinya, hingga seringkali kita juga menginginkan kesuksesan yang instan. Ingin sukses tanpa mengeluarkan banyak usaha tentunya merupakan utopia yang ingin dicapai setiap manusia, namun sayangnya karena hal itu tidak mungkin dicapai, makanya disebut utopia. Tapi banyak orang yang malah larut akibat utopia itu sehingga apabila dihadapkan dengan realita, muncul berbagai gangguan emosi dan psikis. Di beberapa sesi sharing komunitas, saya sering mendengar cerita para sahabat tentang masalah emosi yang mereka alami akibat ekspektasi yang tidak terpenuhi. Saya pun harus mengakui bahwa saya juga memiliki ekspektasi yang berlebihan akan kesuksesan. Saya pernah “bermimpi” untuk memiliki karier yang stabil dan bisa pensiun di pertengahan usia 20-an. Namun, nyatanya sekarang saya sudah berusia 22 tahun dan saya pun masih merintis sesuatu, masih harus menabung, dan meminimalkan pengeluaran, serta masih kuliah. Saya rasa realitanya ialah di usia pertengahan 20-an saya baru mulai memasuki dunia karier profesional yang sebenarnya. Jadi, ekspektasi saya turunkan, saya ubah mejadi hal yang lebih realistis, karena terus terang dengan ekspektasi yang tinggi dan tidak realistis, saya justru tidak fokus pada hal yang saya kerjakan, banyak hal menjadi kacau, dan kecemasan serta ketakutan akan masa depanlah imbalannya. Jadi, oleh karena saya pernah mengalami hal buruk itu, sekarang saya mencoba untuk menurunkan ekspektasi, menjadi lebih realistis, belajar menjalani keseharian apa adanya, serta fokus terhadap hal yang saya kerjakan.

Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa mungkin seringkali kita berharap bahwa kehidupan berjalan lancar sesuai keinginan kita, orang-orang dan lingkungan kita bereaksi sesuai apa yang kita mau, dan kita merupakan tokoh utama dalam cerita kehidupan kita. Saya rasa tak terhitung jumlahnya berapa kali saya benar-benar berharap bahwa saya adalah pusat dari semesta, namun sayangnya tidak, saya hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas ini dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan saya. Saya hidup hari ini dan saya fokuskan semua energi saya untuk hari ini, urusan esok hari biarlah dihadapi oleh diri saya yang besok. Jadi, saya ingin mengajak agar kita bisa lebih memaknai berbagai kesibukkan kita di hari ini, saat ini, dan tentunya jika hari ini berakhir baik, esok pasti lebih baik.

Referensi:
Badan Pusat Statistik. (2016, 22 Desember). Di Provinsi Mana Banyak Orang Bunuh Diri? Diperoleh 22 Agustus 2017, dari http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/12/22/jawa-tengah-provinsi-dengan-kasus-bunuh-diri-terbanyak-di-indonesia
Chen, W., Niu, G. F., Zhang, D. J. Fan, C. Y., Tian, Y. Zhou, Z. K. (2016). Socioeconomic status and life satisfaction in Chinese adolescents: analysis of self-esteem as s mediator and optimism as a moderator. Personality and Individual Differences. 95, 105-109.
Grohol, J. M. (2016, 17 Mei). What is Existential Depression? Diperoleh 22 Agustus 2016, dari https://psychcentral.com/lib/what-is-existential-depression/          
Social Work Tutor. (2016, 7 November). Why is Modern Life Making You Depressed? Diperoleh 22 Agustus 2017, dari https://socialworktutor.com/modern-life-making-us-depressed/
World Health Organization. ( ). Suicide Data. Diperoleh 22 Agustus 2017, dari http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/

Friday, 18 August 2017

Khusyuk: Depresif vs Adaptif

Depresif vs Adaptif
Sumber: media.licdn.com

Kemauan kuat dari dalam diri sendiri hingga sekarang masih saya pelajari. Bagaimana menemukan niat dalam diri sendiri dan mengubahnya jadi energi tidak tergoyahkan. Berlebihan ya kedengarannya tapi niat memang pangkal dari segala perbuatan. Niat berbeda dengan keinginan walaupun masih ada yang menilai sama. Keinginan bisa saja tidak kita perjuangkan, karena tahu tidak semua keinginan harus terwujud. Niat adalah keinginan yang sudah diikat dengan komitmen terhadap diri sendiri.

Komitmen untuk berproses dan masuk ke dalam keinginan itu.

Semisal kita ingin menikah (maklum jomblo topiknya nikah melulu). Kalau sebatas ingin nanti akan berubah-ubah. Satu waktu ingin banget di waktu lain cuma agak ingin. Begitulah keinginan berfluktuasi sesuai suasana hati. Niat seperti tali pengaman dalam kegiatan mendaki tebing. Saat kita hilang pijakan, tali pengaman itu yang akan menopang badan. Kita bisa meneruskan pendakian hingga mencapai puncak tebing.

Niat akan membuat kita tidak mudah terdistorsi.

Distorsi saat akan menikah apa sih? Beberapa distorsi atau godaan yang harus dijawab pernah saya tulis di tulisan Laki-laki di Persimpangan. Godaan yang kita kenal seperti finansial, keinginan orang tua, masalah dengan orang di masa lalu, dan sebagainya. Menikah itu tidak selalu mudah, walaupun sering ada promosi ‘nikah itu mudah’ di beberapa kajian. Kenyataannya masalah-masalah sebelum menikah bisa datang silih berganti dan memaksa kita menarik langkah.

Mungkin itu yang saya rasakan sekarang.

Beberapa waktu lalu saya berdoa untuk menikahi seorang perempuan. Memohonkan seseorang sebagai istri saya kepada Allah. Pada waktu itu saya menangis karena tahu ada sesuatu yang belum benar-benar ‘sudah’. Jiwa saya belum tenang untuk berpindah dari keadaan depresi ke mental adaptasi. Saya katakan mental karena yang butuh diperbaiki adalah kecenderungan depresi dalam mind. Kecenderungan yang berasal dari rekaman pembelajaran sejak kecil.

Perbaikan mind mungkin bisa dilakukan dengan langkah sederhana terapi kognitif.
Saat mental saya adaptif, respon yang terjadi mungkin tidak se-melenceng saat depresif. Saya masih mengartikan beberapa hal berlebihan dan jauh dari ketenangan manusia tanpa ciri. Walaupun sudah tahu ilmunya saya tidak mau menyelaminya dengan sungguh-sungguh. Itulah kesalahan terbesar saya yang membuat diri ini tidak berkembang. Saya terus menyesali kecenderungan depresi yang muncul beberapa tahun belakangan ini.

Dasarnya, yang melukai saya begitu dalam adalah cinta seorang wanita.

Ternyata saya benar-benar tidak tahu bagaimana menyembuhkan patah hati hingga ke akar-akarnya. Hanya satu yang membuat sakit: tidak bisa bersama. Kenyataannya dulu tinggal sedikit lagi kita bisa benar-benar membuat ikatan yang kuat. Namun, Tuhan ingin memberikan pelajaran berharga untuk ditanamkan kepada diri saya. Pelajaran bahwa dia bukan jodoh saya dan hanya Allah yang tahu siapa yang terbaik untuk menjadi pasangan saya.

Saya belajar memasrahkan diri dan proses menuju kepasrahan itu tidak mudah.

Ternyata saya tidak hanya berhadapan dengan patah hati karena wanita. Segala hal yang saya pendam bertahun-tahun muncul ke permukaan: kekecewaan-kekecewaan terhadap orang tua, keluarga, dan trauma masa kecil. Semua itu menabrak kesadaran dan akhirnya saya terjatuh dalam jurang tanpa dasar. Saya tidak bisa keluar karena niat telah hilang, atau lebih tepatnya saya tidak punya radar untuk mendeteksi niat dalam diri.

Radar itu adalah AKU tukang nyawang kalau dalam terminologi Ki Ageng Suryomentaram.

Semakin saya sadar dalam diri sendiri ada ‘pengawas’ atau ruh, saya semakin mudah mengendalikan jiwa. Jiwa dalam bahasan ini mencakup pikiran (mind) dan perasaan (feeling). Dua aspek jiwa itu yang menjadi pokok fluktuatif dalam diri. Ibu dan Simbah (baca lengkapnya di sini) tidak mampu masuk ke dimensi ruh dan menafsirkan jiwa terpisah dari ruh. Mereka terlarut dan terbawa hingga mudah sekali terpancing keadaan. Kekosongan pengetahuan untuk mengatur diri itu yang sekarang saya pelajari.

Jika menuruti jiwa saya akan terus terjebak dalam kondisi depresi.

Kondisi di mana saya tidak mampu mendidik pikiran dan perasaan menjadi alat. Pikiran alat pertahanan diri dan perasaan alat memotivasi diri. Pikiran sifatnya seperti rem yang menghentikan laju sedangkan perasaan adalah gas untuk meningkatkan laju. Terlalu memakai pikiran tidak akan maju-maju, terlalu memakai perasaan membuat terburu-buru. Keduanya bukan perilaku di bawah kontrol dan tidak adaptif (lebay mungkin kalau bahasa kekinian).

Respon-respon emosi yang tidak sesuai sering saya tunjukkan.

Sering saya sadari itu respon otomatis dari pikiran dan perasaan yang tidak sinkron (padu). Sayang saya menyadarinya setelah melakukan dan tidak jarang membekaskan sakit di hati orang lain. Orang lain belum tentu memaafkan dan mau mengakrabi saya kembali. Jika mereka mau mengerti bahwa itu di luar kendali, mungkin saya masih punya banyak sahabat. Kenyataannya bahkan keluarga tidak membuka pintu hati mereka menerima kondisi depresi saya.

Saya ingin terbiasa dalam kondisi adaptasi secara singkat, tapi jelas tidak mungkin.

Ada proses yang harus saya lalui untuk mengedukasi diri sendiri. Saat proses mengedukasi itu tidak jarang saya mengalami pasang surut. Ada kalanya saya begitu termotivasi namun ada juga saat frustrasi. Berhadapan dengan diri sendiri yang mengalami banyak luka masa kecil jelas bukan hal mudah. Egosentrisme akan terus menahan agar saya tidak memerangi pikiran-pikiran destruktif. Takkan mau merendahkan hati untuk menerima bahwa diri ini sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Beberapa waktu ini saya mulai mendekati keluarga kembali.

Tentu dengan pelan-pelan karena mereka mewarisi pikiran-pikiran destruktif pula. Salah bicara sedikit langsung menusuk pusat stres dan akhirnya pesan tidak tersampaikan. Mereka bisa jadi sulit memahami perkataan saya yang cenderung transenden dan abstrak. Saya harus menyampaikan dengan bahasa sangat sederhana agar mereka mengerti maksud baik dalam niat saya –plus melerai dendam dalam diri saat berhadapan langsung.

Bukan usaha ringan mengingat betapa saya merasa tidak memiliki teman.

Saya harus memahami orang lain dan saat saya butuh dipahami mereka pergi. Rasanya saya ingin mati saja bila kelemahan dalam diri ini tidak ada yang memaklumi. Teman yang benar-benar teman pun sudah memiliki hidup bersama suami dan istri. Tentu mereka memiliki porsi sedikit untuk memahami orang lain yang bukan di lingkaran keluarganya. Saya tidak mungkin memaksa orang-orang itu untuk mengerti karena mereka memiliki ujian hidup sendiri.

Harapan saya hanyalah seorang istri yang mau menerima kelemahan saya.

Ia yang mau memaklumi keadaan saya. Mengerti kemarahan saya dan mau mendukung hidup saya. Saya rasa itu tidak muluk-muluk karena saya juga berusaha untuk melatih kelemahan dalam diri. Saya juga berusaha mengurangi khilaf agar tidak menyakiti orang lain. Walaupun saya masih jauh dari ketenangan yang sebenar-benarnya tenang. Kenyataannya hijrah tidak seperti membalik telapak tangan dan hasilnya tidak selalu sesuai harapan.

Kita berharap tidak melakukan A lagi tapi karena terlanjur biasa A itu masih kita lakukan.

Butuh pembiasaan dan kesadaran tinggi pada keberadaan AKU-tukang-nyawang. Saat kita mengawasi dan menjadi tuan atas diri kita sendiri. Ruh kita memancarkan energi cakra yang beresonansi dengan cakra orang lain. Saat itu kita mampu berkoneksi dengan orang lain, karena kita terkoneksi dengan diri kita sendiri pula. Terbebas dari kondisi terpenjara pikiran dan perasaan. Kondisi adaptasi di mana kita mampu menyatu dengan alam semesta.

Khusyuk.


Perpustakaan UNS, 17 Agustus 2017

Thursday, 17 August 2017

Pertanyaan Terbesar Abad Ini, Apa itu Toleransi?

Sebuah pertanyaan, apa itu sebenarnya toleransi?
Sumber: http://assets-a1.kompasiana.com

Sebuah pikiran terlintas di benak saya menjelang ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-72. Begitu banyak permasalahan dalam kehidupan masyarakat dan juga kasus-kasus yang sempat viral di internet tentang sisi negatif masyarakat dalam mengisi kemerdekaan. Katankanlah salah satunya dengan main hakim sendiri, membakar seorang yang diduga mencuri. Mungkin, di sinilah muncul pertanyaan yang saya sebut sebagai pertanyaan terbesar di abad ini, tentang “Apa itu toleransi?”

Bagi saya, mendefinisikan tentang toleransi adalah hal yang sangat sulit. Ya, mengerti tentang sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah kita lihat dalam keseharian tentunya merupakan hal yang sulit, bukan? Mungkin begitulah toleransi bagi saya. Saya hanya sering mendengar tentang istilah toleransi. Kembali ke jaman berhala dulu (semasa kecil). Saya mendengar tentang istilah toleransi di TK maupun di SD, dan saya tidak yakin, makanan atau mainan macam apa itu. Karena hal yang saya alami ketika itu adalah belajar tentang agama, membuat saya tidak toleran. Peristiwa bom Bali 1 dan 2, orang-orang di sekitar saya seakan mengajarkan bahwa ada agama yang merupakan agama teroris yang orang-orangnya patut dijauhi. Setelah saya pergi ke luar pulau, saya belajar bahwa agama saya adalah agama yang disebut sebagai penyembah berhala, yang merupakan pengikut setan. Jadi, semenjak itu saya rasa untuk mengerti toleransi, Si penyembah berhala ini, sebaiknya melupakan semua pelajaran agama yang pernah ia dapatkan.

Pencarian saya, sampai saat ini, pada akhirnya menemukan sedikit titik terang. Sekarang ini, saya baru bisa mendefinisikan kulit luar dari toleransi. Yaitu sebagai suatu ideologi yang memandang manusia dalam jenjang yang setara. Tidak ada diskriminasi, dan tidak menjelekkan satu dengan lainnya. Terdengar cukup sederhana dan sepele kan, tapi saya menemukan definisi itu setelah belajar meditasi dari seorang Guru berkebangsaan Kanada selama 2 tahun, setelah tinggal di tengah perkebunan bersama para anak-anak TKI di luar negeri selama kurang lebih 2 bulan, dan mendengarkan kuliah dari staf kementrian pengembangan daerah pedesaan India selama 2 jam. Bagi saya, itu merupakan perjalanan panjang, diliputi oleh banyaknya konflik batin, perasaan kesepian, ketakutan, dan banyak emosi negatif yang terlibat dalam proses untuk mencerna sejumput esensi dari toleransi.

Begitu sulitnya bagi saya untuk mengerti tentang toleransi, membuat saya tidak ingin banyak berkomentar tentang kasus-kasus di negeri ini yang menjadi viral di internet. Seperti kasus pembakaran terhadap seorang yang diduga mencuri amplifier. Saya tidak bisa membenarkan tindakkan warga tersebut, tapi bagi saya mungkin mereka sampai bertindak demikian karena kurang toleransi. Saya juga tidak bisa membenarkan tindakan sekelompok mahasiswa yang membully mahasiswa difabel di kampusnya, tapi kembali lagi bahwa, mereka hanya tidak tahu tentang toleransi, sama seperti ketika saya kecil dulu.

Saya hanya ingin mengajak agar kita bisa belajar menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, lebih bagus lagi jika bisa sampai ke kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan berarti saya juga mengajak Anda-Anda ini untuk melupakan pelajaran agama, bagi saya agama itu baik, hanya saya memilih untuk tidak mengikuti aliran mana pun. Saya akui bahwa saya orang yang bodoh, yang harus belajar dengan cara sulit, apalagi tentang toleransi dan agama. Tapi saya yakin Anda lebih cerdas dari saya, jadi temukanlah cara Anda sendiri dalam hidup dan mari bangkitkan semangat toleransi menjelang ulang tahun kemerdekaan yang ke-72 ini.


-Salam Peace, Compassion, n' Respect-

Monday, 7 August 2017

REVIEW BUKU: KONSPIRASI ALAM SEMESTA KARYA FIERSA BESARI

Konspirasi Alam Semesta by Fiersa Besari

Judul : Konspirasi Alam Semesta
Penulis : Fiersa Besari 
Tahun : 2017 
Cetakan : pertama 
Halaman : 238 hlm 
Penerbit : Media Kita, Jakarta 
Genre : Novel Fiksi Romantis
Harga buku : Rp 75.000 ,-

Setelah “Sekolah Biasa Saja”, konspirasi alam semesta adalah buku kedua yang saya review di lobimesen(dot)com.