Ads Top

Akhir Kisah Pilu Skripsi Nugroho

Akhir Kisah Pilu Skripsi Nugroho


BEBERAPA waktu lalu, 8 Desember, setelah wisuda, teman saya ini pamit pulang. Eh, kemarin -hari rabu malam- sudah tiba di solo lagi. Bawa sepatu futsal dari Jakarta!

Tentu, jauh-jauh dari Jakarta bukan untuk bermain futsal saja. Waktu wisuda lalu, ijazah S1-nya belum diberikan. Sekalian mengambil ijazah juga untuk syukuran atas kelulusan dan diterimanya di BRI.

Teman-teman kuliah tentu paham siapa Nugroho yang saya maksud. Memang, nama Nugroho di kampus ada beberapa orang. Satu, Nugroho yang alim, pintar dan terlihat pendiam. Kedua, Nugroho yang suka misuhkalau jaga gawang waktu main futsal. Ketiga, Nugroho yang paling fenomenal, aneh bin ajaib dan disconnecting. Keempat, Pak Nugroho yang pintar melucu, dan demen sekali kalau bimbingan sama cewek. Satu lagi, Nugroho paling keren sekampus, bos muda kita, itulah mas dosen tercintaaaah.

Tapi bukan semua Nugroho di atas yang saya maksud. Inilah Nugroho yang harus mengulang sidang skripsi. Bisa membayangkan kan? Sudah menyiapkan sedemikian rupa. Tinggal satu langkah lagi untuk berhak memasang gelar “S.Psi.” di belakang namanya tapi draft skripsinya ditolak. Harus pendadaran ulang! Bisa jadi, kalau bukan Nugroho yang ini, sudah mutung tidak mau meneruskan lagi. Bagaimana tidak, harus mencari lagi referensi buku dari perpustakaan satu ke perpustakaan yang lain. Penyebabnya sepele. Hanya masalah kutipan dan daftar pustaka. Tidak cukup mencari referensi sebanyak itu di perpustakaan kampus se-Surakarta. Saat pulang lebaran ke Jakarta pun dimanfaatkan untuk mencari ke perpustakaan di Jakarta seperti UI dan UNJ.

Padahal sebelumnya, saat revisi validasi Nugroho sudah mendapat tamparan keras dari dosen reviewer. Dia dinilai tidak menghargai dosen -juga menjabat sebagai Kaprodi. Dia hanya mengerjakan sedikit dari sekian coretan yang harus direvisi. Jadinya muncul kata-kata yang sangat menghentakkan hati. " Saya tidak mau menguji kamu lagi!" Dyaaaaar!!! Pada cover tertulis tebal, tinta merah, diberi garis bawah dan diakhiri tanda seru.

Tapi memang kalau orang sudah fokus. Memperbaiki hubungan dengan dosen reviewer tersebut bukan perkara yang sulit. Pelan tapi pasti hubungannya membaik. Skripsi dilanjutkan lagi.

Tidak heran jika harapannya langsung mendapatkan perkerjaan setelah lulus kuliah kesampaian. Saat jobfair berlangsung di UNS Solo, dia masukkan surat lamaran ke beberapa perusahaan peserta. Beberapa panggilan dan tes dia ikuti. Begitu bahagianya, beberapa hari setelah wisuda dia mendapatkan pengumuman diterima di BRI! Satu paket "suka cita" yang dia rasakan.

Karakternya yang ambisius tidak hanya bisa dilihat di kuliahnya. Apapun itu. Saat dia diorganisasi misalnya. Ingat saat menjadi panitia makrab. Ketua panitianya siapa yang banyak kerja siapa. Lihat juga saat dia main futsal. Dia tidak pernah berhenti berlari. Dari depan lari ke belakang. Dari belakang lari lagi ke depan. Hanya kehabisan nafas saja yang menghentikannya.

Itulah Nugroho. Satu-satunya cowok dari Jakarta teman satu angkatan saya. Cowok angkatan saya yang pertama lulus. Begitu ambisius. Apa yang dia kerjakan. Apa yang dia inginkan. Apa yang dia sukai. Dia selalu total mengerjakannya. Selain total dia juga fokus dan pantang menyerah. Tentu juga mengalami kemalasan, kegalauan, dan frustasi. Tapi itu manusiawi. Semua orang mengalaminya.

Akhir kata: Doa teman itu gratis. Tidak perlu traktiranmu untuk membayarnya! Good Luck Sob, every where every time :))
Powered by Blogger.