Ads Top

Doa Untuk Pak No

Gambar diambil dari google
Bagi warga Mesen, khususnya warga kampus psikologi UNS, tidak akan asing dengan sosok yang bernama Pak No, beliau bukan seorang dosen, bukan pula seorang pegawai staff tata usaha, apalagi seorang Kaprodi. Bukan! beliau adalah seorang kepala seksi kebersihan kampus.

Saya sendiri tidak tahu siapa nama lengkapnya, namun orang-orang biasa memanggilnya dengan Pak No. Katanya beliau dulu adalah seorang pemain sepak bola, jadi tidak heran jika hingga usia yang sudah tidak lagi muda, badannya masih bugar. Hampir semua keluarganya saya kenal, mulai dari Bu No, karena beliau juga bekerja di kampus psikologi Mesen, beliau berjualan di kantin kampus, kemudian anaknya, saya kenal betul dengan anaknya Pak No dan Bu No. Namanya Anjar, ia juga sangat suka dengan olahraga, jadi tidak heran jika ia kuliah mengambil jurusan pendidikan olahraga. 

Hampir sebagian waktunya keluarga Pak No dihabiskan di Mesen, jadi tidak heran banyak mahasiswa-mahasiswa yang akrab dengan keluarga Pa No, termasuk saya ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa.

Beberapa hari yang lalu, melalui grup WA saya mendapat kabar bahwa Pak No sedang dirawat di salah satu rumah sakit di solo, yaitu di RS Moewardi. Saya pun berencana untuk menjenguk, karena kebetulan saya libur dua hari, yaitu libur hari minggu dan libur hari Kemerdekaan RI. 

Saya janjian dengan teman-teman yang di Solo untuk menjenguk Pak No hari senin bakda Magrib. Namun karena saya perjalanan dari Sukoharjo saya datang agak telat. Setelah semua sudah siap, kami segera menuju RS Moewardi.

Sesampainya di sana, kami menuju ke sebuah ruang, tempat Pak No dirawat. Dan ketika sampai di sana, saya melihat kondisi Pak No yang masih tergulai lemas di tempat tidurnya. Sangat berbeda ketika beliau masih sehat. Beliau yang biasanya sangat bugar kini hanya bisa terbaring lemas di tempat tidurnya. Saya jadi tidak tega ketika akan mengambil foto beliau. Awalnya saya akan memfoto namun niat itu saya urungkan lagi.

Saya juga sempat mengobrol dengan Bu No, kebetulan yang jaga saat itu adalah Bu No, sedangkan anaknya Anjar ada di rumah, mungkin sedang mandi dan ganti baju. Bu No terlihat sabar merawat suaminya yang sedang sakit. "Ini sedang dicoba, jadi kudu sabar", katanya dengan nada yang lirih

Ketika saya bersalaman dengan Pak No, ia sempat menyapa saya dengan suara lirih. Saya hanya bisa menjawab, “Sabar, Pak, semoga segera diberi kesembuhan."

Saya tidak tahu sakit apa yang sedang diderita oleh Pak No. Ada kemungkinan gejala stroke, namun itu masih dalam pemeriksaan. “Ini masih terus dilakukan observasi untuk mengetahui sakit yang diderita oleh pasien, jadi sementara harus dirawat inap” Bu No menirukan penjelasan dari dokter mengenai kondisi sementara Pak No.

Bagi teman-teman warga Mesen mari kita doakan untuk kesehatan Pak No. Semoga Pak No tetap bersabar menjalani proses pengobatan ini, dan segera diberi kesembuhan. Agar bisa bekerja lagi di kampus Mesen. Amin
Powered by Blogger.