Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Halal bi Halal 'HipHop'

Wednesday, August 12, 2015
Pantai Klayar, Pacitan.

Sungguh, tidak akan membuat anda kecewa meziarahinya. Pasir putih, karang dan tebing yang bagus, dan bibir pantai yang cukup luas. Anda akan mendapatkan banyak backgroud untuk berfoto selfie.

Perjalanan. Ini yang membuat anda semakin puas. Perjuangan dan kesabaran anda sangat menentukan. Dan sebaiknya jagalah mindset. Haha. Jauh, naik turun belak belok, jalan yang sempit dan aspalnya nggilani.

Jangan khawatir. Fasilitas sudah memadai: Kamar mandi, toilet, parkir, penjual souvenir, oleh-oleh, tukang ojek, rumah singgah, tempat makan. Semua ada.

Bagi anda yang berasal dari daerah yang jauh. Tenang, rumah singgah banyak, harga variatif, dan jangan lupa menawar. Kalau anda berniat kamping di pantai, silakan, bawa peralatan kamping sendiri. Kalau anda tidak punya duit, tidak bawa alat kamping, ingin menginap di pantai atau takut pulang, tenang, nggelar kloso saja. Haha paling mung masuk angin.

Pantainya cukup indah. Di atas rata-rata dibandingkan dengan pantai selatan pulau jawa. Karang. Ombak. Tebing. Garis pantai. Ada kayak green canyon begitu duehh. Kalau anda malas jalan kaki menyusuri pantai yang cukup panjang ini, tenang ada ATV. Mas-mas pribumi sana siap melayani.

***

Kini. Di kosan. Di tempat kerja. Di kampus. Di rumah. Kami terpisah lagi. Rak pateken.

Libur lebaran yang sepertinya lama ternyata masih kurang. Aduhai, manungso, kapan ora ngroso kurang.

Masih ada acara-acara yang tidak sempat diikuti. Masih ada pertemuan dengan si Anu, atau dengan mereka anu di tempat anu yang tidak sempat terlaksana. Masih ada obrolan-obrolan yang belum selesai. Huhuhu. Anu banget sih dunia mengekang manusia.

Macetnya perjalanan yang hampir-hampir membuat pak Sopir bete, kami mencoba mengambil hikmahnya. 7 jam apa ya? Kami manfaatkan untuk saling bertukar pengalaman, sharing, ngobrol atau bahasa ilmiahnya kami istilahkan dengan "ngrasani". Nikmat mana lagi yang kamu dustai?

Tema ngrasaninya tidak berubah sejak dari hulu sampai sekarang. Tetap, itu-itu saja tokoh utamanya. Haha. Siapa siapa hayo?

Full team kami sebenarnya 12 orang. Tapi yang bisa diangkut di mobil suzuki ertiga milik pak Haji scorpion itu cuma 7 orang. Inug, Ditya, Johan, Pyton, Nanda, Sandy dan Riki. Yang lain nggak usah disebut ya, wong nggak gelem melu.

Tapi sebaiknya disebutkan og ya. Pak koti, Punto Jaluargi. Audit Warga Kusuma, yang ijin karena nganu. Bona Ventura AG, yang rumahnya jauh di sebrang lautan sana. Pak Damas Aji Nugroho, yang masih sibuk open house, halal bi halal, atau hemmm jangan-jangan lagi uhuk, astaghfirullah, nggak suudzon kok Dam. Dan terakhir jeng jeng, nggak usah disebutin ya dunia juga udah tahu. Yaiyahlah Ismoyo gitu loh.

Janjian pukul 7 pagi. Kumpul di kos Pyton dan Sandy. Dulu, Inug kos di sana. Lalu Johan juga.

Inug, Nanda dan Sandy berangkat dari Magelang, mobilan bareng. Johan dari mBantul motoran sendiri pinjam motor pakliknya, sepaket sama helm, jaket, sarung tangan dan sepatu. Riki dari Boyolali, motoran juga, heuheu motornya baru gaes, honda scoopy hasil kerja kerasnya njahit lingerie. Tuwok bocah kae. Ditya dari Banyuanyar, Solo ajah. Dan Pyton, dari kemarin squint emotikon

Kami semua masih menjunjung tinggi budaya endonesia raya. Ontime makruh hukumnya. Bahkan bagi yang ekstrem di kalangan kami, ada yang sampai haram melakukannya! Beberapa saja yang sunnah. Dan minoritas yang menghukuminya wajib.

Akhirnya keberangkatan delayed sampai 2,5 jam-an. Jalanan sudah macet sejak keluar dari gang. Parah sekali. Tiada jalan yang tak macet. Kemenangan hanya bagi orang-orang yang mau bersabar. Maksudnya yaa rombongan ini. Apalagi sopirnya. Sabar gilaaak.

Rute Solo-Pantai Klayar Pacitan sangat mudah. Dari Solo ke arah Sukoharjo. Lalu ke Wonogiri. Lalu cari arah ke Pacitan. Sampai di jalan yang sudah masuk wilayah Pacitan, cari pasar Punung, lalu belok ke kanan ke arah Goa Gong atau Pantai Klayar. Lurus aja sampai mentok. Pantai Klayar sudah di depan mata.

Tapi tetap kami pakai GPS yang di tempel di kaca mobil. Kayak di taksi2 begitu. Belokan demi belokan. Tanjakan demi turunan. Bangjo demi bangjo kami lalap habis. Iya. Perjalanan terbilang mudah. Tidak ada masalah. Walaupun begitu tidak ada yang sempurna kecuali sang Maha sempurna.

Inilah,

Yang pertama, bukan kesalahan sebenarnya, hanya kami memilih jalan ke arah pracimantoro yang lebih jauh untuk tujuan Solo-Pacitan, karena harus memutari waduk Gajah Mungkur yang sering mbludaki Solo itu. Baiknya, saat kami sampai di Wonogiri, kami mencari arah ke Wonokromo, jalan yang di sebelah timur waduk, jadi tidak perlu memutari waduk, yang artinya perjalanan jadi lebih jauh. Tapi untungnya di Pracimantoro kami mendapatkan tempat makan yang enak. Nggak rugi pokoknya. Apalagi yang belum sempat iuran. Wkwkwk

Yang kedua, sempat kebablasan. Harusnya belok kanan di Pasar punung. Tapi kami mbablas saja setelah melewati pasar. Padahal pak Manajer HRD Perusahaan tinta Catridge, pyton, sudah melihat papan arah yang memberikan petunjuk untuk belok ke arah kanan, ke arah goa Gong/pantai Klayar. Tapi elahdalah tapi, dia salah memberikan instruksi. "Opo enek dalan meneh?", katanya saat melihat papan arah yang mobil begitunya berlalu. Harusnya dia langsung menggunakan kalimat perintah, karena teman2 lainnya tidak melihat papan arah itu. Juga, nggak ada satupun yang tahu daerah itu. Jadilah 7 km putar balik. Coba ada tulisan di layar "wrong way" kedap kedip. Lak kami nggak harus muter.

Sampai di jalan yang huekkk muacetnyaaa. Setiap belokan dan tanjakkan yang sulit terlihat oleh mata sopir selalu ada orang 'sana' yang membantu. Yang kita tahu sendiri harus berbuat apa. Dua ribu. Dua ribu. Dua ribu. Dong?

Anggep saja sudah sampai pantai. Nyari toilet. Foto selfie. Susur pantai. Selfie lagi. Susur lagi. Langit meredup. Nyari tempat jajan. Ada yang jajan es kelapa. Ada yang es susu. Ada yang ngepopmie. Ada yang kopi hitam, slaluuu~

Satu, dua, tiga. Diputuskan untuk menginap saja. Alasan menguatkan. Jalan masih macet-cet. Stamina sudah surut. Gelap. Jauh. Dan ini lho kesempatan buat ketemu barengan. Kapan lagi iya to?

Pak Pyton pun didaulat untuk mencari homestay. Sudah langka ternyata. Banyak yang sudah penuh. Tapi keberuntungan didapat. Kami mendapatkan 2 kamar untuk 7 orang. Per kamar 150rb. Kamarnya? Ya begitulah. Anak cowok mah cuek.

Dapat kamar. Pindah parkir. Bawa barang-barang ke kamar. Beres-beres dan bersih-bersih badan. SOLAT. Teruss turun ke pante, nyari makan. Alhamdulillah tinggal mie instan goreng.

Jalan-jalan malam dengan mereka ini hasyik. Mengingatkan dengan makrab dan villa. Didukung suara kembang api dan bertebarannya bintang-bintang di langit yang uhuk di Solo susah dilihat lagi, kecuali satu bintang ding. Haha uhuk uhuk bintang yang bersinar di hati. Eeaa

Bla bla bla. Bobok. Dan jam setengah 3 harus berangkat. Karena paginya Ditya ada acara uhuk.

Perjalanan pulang lancar jaya. Apalagi sopirnya Johan yang smooth itu ngedrivingnya. Perpisahan, setelah rebahan dan merem sebentar di kos Pyton, kami sarapan di sate mbek selatan stasiun Jebres. Gobyos-gobyos rek. Pedes dan dagingnya manteb. Tempat satenya rame poll padahal masih jam 7 pagi lho. Ncen kowe-kowe ki predator rek.

Haha hihi haha huhu. Sampai jumpa kawan. Mbuh kapan meneh yok!