Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Pejuang Skripsi

Tuesday, August 11, 2015
“Sebuah catatan seorang mahasiswa yang ingin lulus dari cobaan di dunia perkuliahan”
Sang Pejuang skripsi
Sang pejuang skripsi, iya nama yang sangat arogan dan sangat membakar semangat bagi mereka yang niat mau cepet lulus kuliah. Tapi jangan salah, cepet lulus kuliah bukan berarti cepat nikah. Karena jaman sekarang, ini sudah jarang calon mertua yang doyan ama ijazah Strata satu atau gelar sarjana kita. Sekarang calon mertua lebih mementingkan kepribadian si calon mantu, misalnya penghasilan pribadi, rumah pribadi (bukan masih ngontrak apalgi kos-kosan), serta mobil atau kendaran pribadi bukan kendaraan bersama macam angkot. Hehehehe
Pejuang skripsi terinspirasi dari salah satu dari bio di twitter teman saya yang kebetulan secara nggak sengaja kepencet iseng-iseng kepoin akun twitternya eh, malah ada kata-kata tentang pejuang skripsi. Mungkin dulunya dia ingin menjadi pahlawan di medan perang buat ngusir penjajah, berhubung penjajah udah nggak ada mungkin sekarang dia baru sadar, bahwa penjajah sekarang bukan berasal dari bangsa luar, melainkan penjajah yang sesungguhnya saat ini berasal dalam diri kita, yaitu rasa malas. Jadi mungkin pejuang skripsi adalah sebuah pahlawan melawan penjajah yang bernama “rasa malas” dalam dirinya selama dia mengerjakan skripsinya, karena baru saya sadari bahwa mahasiswa tingkat akhir yang lagi ngerjain skripsi kalo malas nggak bakalan selesai thu skripsi, kalo nggak percaya coba aja, jangan ding kasian dosennya kalo kelamaan lihat muka kalian di kampus, bisa-bisa malah dikira jadi penunggu kampus.
Pejuang skripsi adalah kerjaan iseng-iseng saya sebagai pengisi waktu luang selama menunggu hasil revisian dari dosen pembimbing. Semua catatan ini saya ketik huruf demi huruf yang tertata rapi membentuk kalimat-kalimat yang sedikit enak dibaca, karena banyak muntahnya kalo baca ini (kenapa masih baca? yaudah terusin baca aja kalo kalian maksa buat baca ini terus, jangan lupa siapin cemilan, hehe J) semua yang tulis hanya keisengan saya selama menjadi mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan negeri (harus banget ya pake kata universitas negeri?) yang lagi sok sibuk ngerjain skripsi. Dan insyaAllah endingya sampai saya menjadi sarjana dan doakan agar saya konsisten tetap nulis kejadian saya sehari-hari. Hahaha (terima kasih buat yang ngaminin, buat yang nggak ngaminin saya ucapkan matur nuwun *sama aja dong).
Pejuang skripsi ini berawal dari yudisium semester tujuh, mengapa semester tujuh? Karena penulis baru pengen nulis pas semester tujuh, maklum uda 7 semester jadi anak rajin jadi fokus dulu sama kuliah. Dan terus kenapa sekarang nggak sibuk ngerjain skripsi? (siapa juga yang nanya, hehehe) selama nulis ini saya tetep ngerjain skripsi dan pada saat saya mulai nulis ini saya sudah mulai bab 2, maklum sisa-sisa kerajinan saya (baca anak yang rajin) masih tersisa di semester ini (mulai sombong). kembali lagi (mulai serius lagi) pejuang skripsi akan  bercerita sedikit mengenai pengalaman mengerjakan skripsi beserta kelucuan, suka duka (meski belum nemui sukanya, tapi pasti ada sukanya dan banyak dukanya), dll *dan yang lain lupa maksudnya.
 Selamat menikmati cerita saya, salam lulus buat kalian para mahasiswa pejuang skripsi.
Yudisium semester 7
Sudah sekitar tiga setengah tahun lebih saya bergulat dengan materi kuliah, bagadang demi segelintir lembar tugas kuliah dan demi jajaran huruf yang bernama nilai. Sudah yang ketujuh kalinya saya menerima lembaran-lembaran, tapi sayangnya bukan duit, tapi bernama KHS alias kartu hasil studi selama beberapa semester. Semua perjuangan ini akan ditutup dengan tugas suci bagi para mahasiswa yang ingin menyelesaikan studinya dengan cepat pastinya, kalo pun ada yang lama selesai salahkan bapak yang terlalu banyak memberi uang saku jadinya anak nggak mau ngelarin kuliah karena takut uang jajannya berkurang.
Semester tujuh bukanlah semester yang krusial menurut saya, karena berdasarkan riset yang saya lakukan dengan satu nara sumber, kebetulan saya sendiri juga yang menjadi responden, semester tujuh ibarat malaikat penyelamat, penyelamat IPK tentunya, karena rata-rata IP semester tujuh berada dalam zona cumlaude jadi nggak heran kalo pas semester tujuh KHSnya pada di laminating terus dikasih figura, maklum buat pamer ama anak cucu. Saya sendiri juga merasakan hal yang sama bahwa IP semester tujuh saya 3,56 bro. Untuk pertama kalinya saya pamerkan ke orang tua saya terutama ibu saya, dan hasilnya sangat signifikan uang jajan saya mengalami kenaikan sebesar 25 persen perbulannya.  Gimana pengen coba juga???
Selesai yudisium sebagai pelampiasan saya habiskan waktu liburan saya semaksimal mungkin tanpa satu haripun bergumel dengan dengan materi-materi kuliah. Liburan bagi mahasiswa seperti lepas dari penjara perkuliahan, jadi tidak heran kalo habis liburan langsung lupa semua materi kuliah semester lalu.
Semester tujuh juga merupakan semester akhir mengambil materi kuliah untuk mahasiswa yang rajin seperti saya (sombong dikit) karena untuk beberapa mahasiswa yang sedikit malas semester tujuh adalah ajang untuk make-up mata kuliah, meski pada dasarnya hanya sebagai modus untuk mendekati adik tingkat, terus kerja sampingannya adalah kuliah untuk memperbaiki nilai.
Namun bagi saya semester tujuh adalah masa penghabisan materi kuliah, jadi untuk semester delapan saya ambil full 6 sks dengan satu mata kuliah yaitu tugas akhir yang bernama skripsi. Ada satu alasan saya tidak mengambil make-up atau perbaikan pada semester delapan ini, bukan berarti nilai saya bagus-bagus nggak ada C nya, sebenarnya masih ada beberapa nilai C namun saya anggap itu sebagai masa lalu kelam saya, karena saya sudah move on  jadi yang lalu biarlah berlalu dan saya buka lembaran baru bernama skripsi J
Mulai akrab dengan kata skripsi
Selama liburan semester tujuh, ada segelintiran umat mahasiswa yang tidak mau menghabiskan liburan dengan banyak bermain. Mereka sudah mengambil skripsi sejak semester tujuh, jadi tidak heran jika liburan mereka seperti hanyalah mitos belaka, covernya aja yang liburan tapi kesehariannya mulai disibukan dengan mencari bahan buat tugas suci bernama skripsi.
Tongkrongan semester satu sampai tujuh mungkin hanya dikantin dan di loby sambil sok-sokan ngerjain tugas padahal asyik dengan jejaring sosialnya. Jika ke perpus itu pun cuma karena ingin ngadem dan kepaksa karena bahan tugas kuliah nggak ada di  google.
Sedikit demi sedikit kebiasan nongkrong itu berubah yang mulai dari kantin menjadi di depan ruang dosen sambil nunggu sang dosen pembimbing. Dan saya sangat salut kepada mereka yang rajin menungggu meski sering di PHP-in, itu semua bukan Karena setia dengan dosbing-nya karena tuntutan pengen cepet lulus.
Saya mulai mengakrabkan dengan dunia perpustakaan dengan cara ngadem dulu diperpus terus sampai ketiduran kemudian bangun-bangun keluar dari perpus muka udah lecek kaya tampang kelelahan secara otomatis orang yang baru liat saya jadi sangat prihatin dan sangat kagum dengan saya dari pagi hingga sore ampe lecek ni muka di dalam perpustakaan karena ingin cari materi skripsi, padahal di dalam cuma tidur.  Tapi semua itu bukan berarti nggak ada hasil, namun setidaknya saya tidak alergi yang namanya perpustakaan.
Setiap hari saya lalui dengan nongkrong di perpus tanpa hasil kecuali pegel-pegel karena tidur dikursi. Semakin hari saya mulai akrab dengan tumpukan-tumpukan skripsi di rak perpustakaan, meski belum ada niat buat ngerjain tapi setidaknya kata skripsi uda terekam dialam bawah sadar.
Semakin hari suasana kampus mendadak aneh semua teman seangkatan menjadi perhatian sama temen-temen seperjuangan. Dan anehnya semua memiliki pertanyaan yang sama “Sudah sampai Bab berapa?” Semua kalimat  yang mudah diucapkan dan sangat sulit untuk dijawab oleh kaum mahasiswa tingkat akhir. Dan semua berkreasi dengan jawaban mereka dari pertanyaan simple itu, sebagai mahasiswa psikologi saya bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan skripsinya, dan dari sepuluh jawaban ada 9 jawaban yang meleset atau dengan kata lain tebakan saya benar hanya satu, itupun karena kebutulan aja, hehehe, Misalnya jika ada yang menjawab dengan kata-kata “baru bab 2 nih, doain semoga diberi kemudahan ya?” ini menunjukan bahwa mahasiswa tersebut tidak mengalami masalah selama skripsian, jika jawabannya “Bab...blas (baca bablas) itu menujukan bahwa mahasiswa itu hampir frustrasi Karena sering di PHP dosbing, kemudian jika ada yang tidak menjawab atau diam seribu bahasa, itu artinya dia belum dapet judul, Atau masih galau dengan tema skripsinya, hehehe J  dan itu semua juga sudah  pernah saya alami,
Sudah Mulai Tobat
Hari-demi hari dikampus saya lalui dengan cuma nongkrong nggak jelas hingga suatu ketika saya mulai tersadar bahwa apa yang saya kerjakan adalah sesuatu tidak ada gunanya, judulnya aja seminggu full rajin ngampus namun tidak ada perkembangan dengan tugas akhir saya. Jangankan sampai dengan mengerjakan Bab satu tema untuk skripsi pun aku belum punya. Hingga pada akhirnya saya mulai mencari-cari tema yang pas dan mulai mencari jurnal pendukung, yah meski semua jurnal hanya saya baca abstraknya saja, namun cukup memberi pencerahan mengenai apa itu skripsi.
Saya mulai merenung bahwa jika saya terus begini pasti kuliah saya tidak akan kelar dan saya harus berubah, bukan untuk berubah menjadi super hero macam iron man maupun super man atau super mie sekalian, namun saya harus mengubah pola pikir saya bahwa saya tidak akan menjadi apa-apa ketika saya hanya memutuskan untuk diam.
“Saya tidak akan menjadi apa-apa ketika saya memutuskan hanya untuk diam”  
Btw kenapa untuk yang ini sudah mulai melo-melo gini??? Yaiyalah lo liat aja judulnya aja sudah mulai tobat, jadi jangan pada pingsan kalo bagian ini  saya kasih quote segala, apa lagi kalo nggak buat kita semua biar nggak hanya cuma diem dan terus bermimpi, karena nggak bakalan terjadi kalo kita cuma diem aja, terus bangun tidur kita sudah akan wisuda, itu nggak mungkin. Dan skripsi juga nggak bakalan selesai kalo Cuma di pikirin, lulus nggak pusing iya. Sebenarnya intinya dikerjain, karena selama kita ngerjain otomatis kita juga akan berpikir, setuju? Setidaknya kalo pusing ka nada bekasnya, kalo dikerjain itu.
Mulai mengajukan judul
Setelah mengalami beberapa kali pertapaan dan perenungan yang dalam saya memutuskan untu mengajukan judul saya kepada koor skripsi. Karena memang begitulah  prosedur mengajukan judul skripsi, dan saya hanya mengikuti apa kata teman saya saja, maklum saya masih awam dengan dunia yang seperti ini. Sebelum mengajukan judul saya sudah dirasuki dengan perasaan yang ragu dan grogi, bibir pecah-pecah, panas dalam dan susah buang air besar,  akhirnya saya tunda lagi karena saya agak cemas, karena saya takut kalo pas cemas saya kebelet boker broo, hahahaha
Akhirnyas saya bertanya dengan teman seperjuangan, tentang apa aja yang dibutuhkan ketika mengajukan judul skripsi, dan jawaban teman saya macam-macam pula. Ada yang menyerankan membawa bakso biar lancar, terus ada yang bilang juga harus bawa nyali dobel biar nggak muntah waktu dibrondong pertanyaan, namun saya ikut saran teman saya bahwa jika ingin mengajukan judul harus nekad. Hadapi aja yang terjadi, paling kalo salah cuma diusir, hahahaha
Dan benar judul saya di tolak, karena udah terlalu banyak, dan dianggap jadul mungkin.
****
Setelah melalui sebuah meditasi yang panjang (baca tidur) akhirnya pikiran menjadi fresh lagi, dan saya mulai googling untuk mencari materi agar saya keliatan kompeten dengan tema penelitian yang akan saya jadikan sejarah dalam kelulusan saya. Keesokan harinya saya beranikan diri untuk mengajukan judul saya. Ternyata sebelum mengajukan judul saja perlu perjuangan yang panjang karena masih ada anak bimbingannya yang lagi ngantri mau curhat mengenai skripsinya (konsultasi) Dan saya juga harus antri, semakin banyak yang antri semakin membuat saya menjadi deg-degan (deg-degan itu tanda kalo saya masih hidup). Setelah pada giliran saya, saya langsung ditanya ada keperluan apa, dan saya jawab dengan suara pelan bahwa saya akan mengajukan judul skripsi, ada sekitar 3 judul yang saya ajukan. Dan apa yang terjadi? semua judul ditolak  karena dianggap tidak relevan dan saya diarahkan kepada dosen muda untuk diajak berdiskusi, dan apa yang terjadi? saya tambah bingung karena mungkin beliau adalah dosen baru jadi masih sangat amat kritis dan saya disuruh untuk mencari-cari lagi judul yang relevan.
Setelah beberapa hari, saya udah mulai buntu dengan judul apa yang harus saya ajukan untuk penelitian saya, hingga akhirnya saya curahkan semua apa yang ada dikepala saya. Dan apa yang terjadi? nggak tahu apa itu karena tanggal muda, saya dikasih alternative beberapa judul kira-kira ada 3 judul, dengan senang hati saya terima dan saya pilih satu yang saya anggap menarik.
Dan saya semakin yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, hal itu saya alami sendiri bahwa sesuatu yang sudah saya perjuangkan meski tema skripsi saya sedikit melenceng tapi setidaknya subyeknya tetep sama, dengan kata lain semua variabelnya diganti heheheh J
Akhirnya semua perjalanan saya di dunia maya (baca googling) terbayar sudah dengan fixnya judul saya meski diawali dengan penolakan tapi itulah skripsi, terkadang dalam hidup juga begitu, sekarang mungkin kita sedang ditolak oleh cewek yang menurut kita adalah cewek yang terbaik, mungkin itu justru karena bukanlah cewek yang terbaik, lagian itu kan menurut kita, ingat apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah, dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya, bukankah pacaran itu nggak baik? << kata ustadz Felix. Jadi Allah masih sayang ama kita biar terhindar dari dosa zina kecil, karena sebaik-sebaiknya pacaran kan pacaran setelah menikah jadi ditolak jadi pacar nggak papa? Mungkin dia tidak menolak untuk dijadikan istri/suami. Eits kenapa aku jadi ngomong ke situ,duhh khilaf aku,  sory ya sengaja, hehehehe J
Mencari Pembimbing Skripsi
             Judul sudah dapat lampu hijau dari bagian koordinator skripsi, barulah petualangan mencari guru sebagai pembimbing agar tidak tersesat selama mengerjakan tugas suci bernama skripsi.  Mencari dosen pembimbing seperti mencari guru spiritual, karena selain membimbing mengerjakan skripsi juga akan membimbing mahasiswanya agar tetap konsisten mengerjakan skripsi serta sedikit member pertolongan kepada kita, pada saat sidang tentunya.
            Sebelum saya memutuskan untuk dibimbing oleh dosen siapa, saya terlebih dahulu mengobrol dengan teman-teman mengenai siapa saja dosen yanhg enak untuk dijadikan pembimbing agar saya tidak semakin tersesat dalam mengerjakan skripsi. Baru kemudian dari beberapa nama yang saya seleksi, akhirnya saya meumutuskan pembimbing satu dan dua.
            Proses mencari pembimbing satu dan dua bukanlah hal yang sulit, namun baru saya sadari bahwa kedua pembimbing, baik pembimbing satu dan dua, keduanya memiliki sifat yang berbeda, jika pembimbing satu sulit ditemui karena kesibukan beliau, lain halnya dengan pembimbing dua yang sangat mudah untuk ditemui, dan sekali konsultasi biasanya langsung dikoreksi sehingga tidak perlu proposalnya menginap terlebih dahulu. Perbedaan kedua pembimbing skripsi saya bukan lah perbedaan yang prinsip sehingga jalan kedepannya tidak akan menemui perbedaan pendapat dalam membimbing skripsi saya, dan itu salah satu mengapa saya lebih memilih beliau berdua untuk menjadi pembimbing saya. Dan waktu saya temui satu persatu beliau keduanya sama-sama mau untuk menjadikan saya sebagai anak bimbingannya. Akhirnya lega rasanya.
            Dan pesen terakhir dari dosen saya adalah satu “Ndang garapen, Ndang lulus” artinya segera kerjakan , maka kamu akan segera lulus.
Start skripsi
Pembimbing satu dan dua yang menurut saya ibarat guru spiritual dalam mengerjakan skripsi sudah fix, dan kini tinggal memulai mengerjakan skripsi. Mengerjakan skripsi dimulai dari niat dan diakhiri dengan wisuda.
Pertama yang saya laukan adalah mulai niat dulu mengerjakan skripsi, kemudian target saya adalah mengerjakan BAB 1 terlebih dahulu, ow iya untuk pembimbing dua saya lebih suka bimbingan per-BAB sedangkan pembimbing satu langsung berujud proposal atau BAB 1, 2, dan 3. Saya mulai mengerjakan BAB 1, target mengerjakan BAB 1 ini selama seminggu karena harapan saya tiap jumat, sesuai jadwal bimbingan saya, saya harus maju agar segera direvisi lagi. Awalnya berjalan lancar seminggu sekali bimbingan namun hal itu tidak bertahan lama karena seiring dengan perubahan mood yang semakin tak menentu.
Hamper 5 kali saya bimbingan untuk BAB 1, kenapa lama? Karena untuk BAB 1 Ini benar-benar kemampuan menulis sangat diuji, artinya tulisan-tulisan tersebut harus mencerminkan latarbelakang mengapa saya akan melakukan penelitian itu. Selain hanya berdasarkan teori juga harus menampilakn realita atau fenomena yang terjadi sekarang ini, sehingga penelitian akan terkesan fresh from the oven.
Bab 1 setelah bimbingan lima kali baru di acc dan saya harus mulai melanjutkan BAB 2, mengerjakan BAB 2 hanya sekedar mengumpulkan teori-teori yang berasal dari beberapa buku. Kesulitannya adalah harus menemukan buku-buku tersebut, jadi tidak heran jika dalam seminggu bisa 3 ato 4 kali pinjam buku perpustakaan.
Dan kunci mengerjakan skripsi hanya satu yaitu:  “Kerjakan!”
Revisi, Revisi, Revisi!
Revisi, kata yang selama ini tidak asing lagi dalam benak saya, kenapa skripsi itu ada? Karena kesempurnaan mengerjakan skripsi hanya miliki dosen pembimbing, kerjaan mahasiswa tidak ada yang sempurna, sehingga masih perlu ada revisi.
            Revisi seperti menjadi makanan sehari-hari bagi mahasiswa skripsi seperti saya ini. Dan skripsi pula sudah menjadi alasan mengapa saya harus begadang. Begadang adalah kegiatan rutin saya sebelum maju bimbingan, entahlah sepertinya mengerjakan tugas satu hari sebelum deadline adalah hal yang mampu menciptakan kekuatan yang sangat besar. Sebenarnya ini tidak baik karena hasilnya pun juga akan kurang maksimal, namum lagi-lagi kebiasan sudah sulit untuk diubah.
            Kembali ke masalah revisi. Revisi sudah bukan menjadi sesuatu yang aneh, namun sudah menjadi kewajiban mahasiswa skripsi agar proposal segera di acc untuk maju seminar proposal. Namun sehabis bimbingan seperti ada saja yang masih harus direvisi, lagi, lagi, dan lagi. Sepertinya memang sudah menjadi tempat salah sebagai mahasiswa karena yang paling benar itu cuma ada tiga pertama dosen, kedua pembimbing dan yang terakhir adalah penguji, sedangkan kita adalah pelaku sekaligus korban, hahaha kita yang bersalah, kita yang harus merivisi dan kita pula yang capek dan pusing.
            Tak perlu merisaukan revisian, jadikan revisi sebagai teman terdekatmu, jadikan dosen pembimbing sebagai malaikat penolongmu dan jadikan perpustakaan sebagai sandaran skripsimu. #halah.
Ketika harus selingkuh dari skripsi
            “Konsisten dalam mengerjakan skripsi” kata itulah yang sekarang menempel di dinding kamar saya, iya kata yang ditulis tebal itu semacam alarm pengingat kepada saya agar tetap konsisten dalam mengerjakan skripsi. Dan apakah hal itu efektif? Awalnya sangat efektif, saya mulai taat dengan tulisan “Konsisten dalam mengerjakan skripsi”. Namun kata tersebut seakan luntur dari bayang-bayang kepala saya. Kata-kata itu sekan sudah lepas dari dinding kamar padahal jelas-jelas masih nempel, namun seakan tak ada makna lagi. Kata itu seakan hanya coretan yang tak memiliki arti. Hal itu hanya masalah sepele, yaitu uang.
            Ketika niat awal untuk konsisten dalam mengerjakan skripsi sudah luntur karena masalah uang, hal ini seperti uang sudah menjadi pemain utama sedangkan skripsi? Hanya sekedar pemain figuran yang dikerjakan ketika ingat saja. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bermula dari tawaran salah satu teman saya untuk menjadi tim survey dalam sebuah penelitian, tentu ada bayarannya. Bayarannya lumayan besar menurut saya, sehingga saya terima tawaran tersebut, karena bisa sekalian menambah pengalaman. Tapi ada yang saya kurbankan juga, dan korbannya adalah skripsi.
            Menurut saya ini adalah pilihan dan setiap pilihan ada resikonya, saya memilih ikut survey dan salah satu resikonya adalah saya jadi tidak seperti dulu lagi yang sangat perhatian dengan skripsi saya. Iya, saya selingkuh dari skripsi.
            Selingkuh dengan skripsi ternyata menyenangkan tapi banyak juga sedihnya, karena ketika saya mulai aktif lagi, ternyata sudah banyak dari teman-teman saya yang selesai sidang, iya mereka sudah lulus dan sibuk dengan kesibukan barunya. Disaat saya masih sibuk nyari dosen mereka telah sibuk mencari pekerjaan, inilah sebuah risiko yang harus saya jalani karena selingkuh dari skripsi.
            selingkuh itu indah, ternyata itu hanya berlaku dalam sebuah lagu, dan tidak berlaku bagi kita yang menjalankan tugas suci bernama skripsi. Kalo kita bisa selingkuh dari yang namanya skripsi padahal sudah jelas bagi mahasiswa tingkat akhir skripsi adalah tugas yang sejatinya kewajiban yang harus diselesaikan untuk merampungkan kuliah, kenapa kita tidak bisa selingkuh dari semua bentuk kesenagan kita kemudian berselingkuh ke ksripsi saja? Paling kita semua jadi gila karena diombang-ambing dari semua bentuk PHP dari dosen pembimbing. Iya dosen terkadang PHP kelas wahid, ditunggu dari pagi hingga siang tidak kunjung datang, tapi pas tidak ada perlu malah sering banget nongol. Pernah suatu ketika saya sedang menunggu dosen pembimbing dan saya tunggu sudah hampir 2 jam kebetulan beliau lagi nguji, dan ketika saya merasa haus saya pergi ke kantin untuk membeli air mineral, dan apa yang terjadi setelah saya selesai membeli minuman? Mobil dosen pembimbing saya sudah menghilang entah kemana, ternyata beliau sudah pergi meninggalkan kampus. Dosen pembimbing harus tidak boleh lepas dari pandangan karena lenggah sedikit saja, langsung hilang entah kemana.
Proposal sudah jadi dan harus ganti variable
            Setelah sekian lama lembur dengan ditemani segelas kopi pait dan dengan beberapa cemilan, proposal pun jadi. Bab 1, 2 dan 3 sudah selesai sudah. Sudah waktunya saya untuk mengajukan kepada pembimbing agar tahu apa yang kurang dari proposal skripsi saya, sehingga dapat segera saya revisi.
Sebenarnya proposal sudah jadi namun sebelum saya membuat alat ukur, saya berinisiatif untuk memasukan dulu biar nginep di tempat pembimbing dan selama menunggu hasil revisi saya gunakan untuk membuat alat ukur.
            Dan kalian tahu apa yang terjadi? Setelah saya berpikir keras untuk membuat alat ukur, sebelumnya saya mencari-cari penelitian yang variabelnya sama dengan variable saya, sehingga dapat mempermudah dalam pembuatan alat ukur. Dan setelah saya cari ternyata belum ada yang meneliti baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Meskipun ada namun penelitiannya adalah kualitatif sedangkan penelitian saya bersifat kuantitatif.
            Saya mengalami kebuntuan dalam membuat alat ukur ini, saya menjadi semakin frustrasi dan tak tahu apalagi yang akan saya lakukan. dan hal itu pula yang membuat saya mandek dan tidak lagi mengerjakan skripsi. Ada salah satu teman saya agar segera mengambil sikap untuk lanjut dengan judul itu atau ganti variable saja yang kiranya mudah untuk pembuatan alat ukurnya. Dan setelah saya berpikir, ternyata benar apa yang dikatakan oleh teman saya, saya harus segera mengambil sikap untuk segra ganti judul.
            Betapa sedihnya ketika proposal yang sudah jadi, dan harus ganti variable, dan itu saya lakukan karena itu adalah pilihan yang harus saya ambil. Pilihan ganti variable saya curhatkan kepada pembing skripsi dan sekaligus laporan kepada koordinator skripsi, agar kedepannya tidak ada masalah.
            Pergantian variable sudah mendapat lampu hijau dari semua pihak, dan sudah waktunya saya untuk mulai lembur lagi, dan mulai sibuk mencari referensi lagi. Mungkin ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua dalam mengerjakan skripsi untuk memperhitungkan sebelumnya agar masalah-masalah seperti ini tidak akan terulang lagi, lagi dan lagi.
            Saya juga tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini, karena semua ini murni karena salah saya sendiri yang kurang dalam membaca berbagai referensi atau penelitian-penelitian sebelumnya, bisa jurnal atau skripsi dari kakak tingkat karena hal itu bisa mempermudah dalam mengerjakan skripsi.
            Dan semoga kedepannya tidak ada halangan yang berarti dan bisa konsisten dalam mengerjakan skripsi. Semangat
Di acc karena kasihan
Proposal hasil lemburan dua hari dua malam akhirnya bisa jadi juga setelah mengalami pergantian variable, pergantian variabel sebenarnya tidak terlalu menyimpang jauh dari judul semula, sehingga tidak begitu sulit untuk memperbaiki serta mencari sumber referensi. Setelah selesai saya print, barulah kemudian saya pagi-pagi pergi ke kampus, meski mata masih merah dan muka masih muka bantal karena kurang tidur. Hari itu saya tahu betul bahwa dosbing kedua hari itu berada di kampus, dan saya juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sesampai dikampus ternyata antrian bimbingan beliau udah banyak, mau pulang ke kos nanggung karena sudah di print dan siap maju.
Menunggu antrian bimbingan sudah layaknya pasien yang nunggu antrian ketika mau berobat ke dokter. Antrian tertib dan lamanya bimbingan tergantung penyakit yang diderita, hehehe maksudnya tergantung kesulitan yang di alami selama proses skripsi.
Hampir tiga jam saya antri sambil main-main dan bercerita sana-sini untuk menghilangkan kejenuhan. Akhirnya tinggal satu mahasiswa lagi, masuk giliran saya untuk bimbingan. Dalam hati saya, akhirnya setelah sekian lama antri bisa juga bimbingan, tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba dosbing izin keluar sebentar karena masih ada urusan lain, dengan senyum yang dipaksa ikhlas saya menyanggupi dan harus menunggu lagi. Menunggu dengan sabar inilah yang dinamakan bagian dari usaha, jadi ya harus bersabar.
Dosbing yang dinanti pun akhirnya kembali lagi, sudah waktunya saya menyerahkan proposal saya, sambil berdoa dalam hati agar segera di acc dan maju validasi proposal dihadapan reviewer. Entah karena kesabaranku atau si dosbing sudah mulai bosan melihat tampang saya lagi, beliau hanya baca-baca sebentar kemudian mengatakan bahwa proposal sudah layak untuk maju validasi proposal. Saya tahu betul bahwa sebanarnya beliau kasihan dengan saya karena beliau tahu betul saya harus ganti variabel padahal proposal sudah jadi. Namun saya disuruh agar lebih mendalami materi serta segera menyerahkan proposal kepada dosbing pertama.
Atas dasar rasa kasihan proposal saya sudah di acc oleh pembimbing 2, lantas saya segera meminta jadwal kepada dosbing pertama, untuk memastikan kapan kira-kira bisa ditemui. Dan beberapa menit kemudian terdengar suara ring tone dari HP, saya buka ternyata berasal dari dosbing pertama. Saya baca ternyata dua hari lagi saya disuruh untuk menghadap dan menyerahkan proposal agar segera bisa dikoreksi.
***
Dua hari telah berlalu dari pagi saya sudah menunggu dosbing pertama yang kebetulan ada jam mengajar pagi, setelah saya lihat mobil sudah masuk parkiran saya buru-buru menemui karena saya tahu betul bahwa beliau dapat ditemui langsung tanpa harus menunggu beliau masuk keruangan, karena biasanya beliau tidak masuk ke ruangannya terlebih dahulu melainkan langsung masuk ke kelas.
Saya temui beliau dan beliau langsung menyapa, saya balas sapaan dan saya sampaikan bahwa saya sudah melakukan perubahan pada skripsi karena pergantian variabel, dan saya juga jelaskan bahwa saya tidak melakukan perubahan yang banyak mengingat waktu yang semakin mepet.
Setelah saya serahkan proposal saya, ternyata seperti biasanya, beliau tidak langsung mengoreksi namun ditinggal dan satu minggu lagi saya suruh mengubungi beliau untuk menagih koreksian.
Seminggu sudah proposal saya nginep di tempat dosbing pertama, saya beranikan sms beliau namun tidak dibalas, mungkin karena kesibukan beliau diluar kota. Sehari kemudian saya sms lagi namun, beliau malah meminta maaf karena masih diluar kota dan besok saya disuruh untuk menemuinya di fakultas lain, karena kebetulan beliau tidak hanya mengajar di satu fakultas saja. Saya temui namun, jawaban beliau malah meminta maaf karena beberapa hari itu beliau sangat sibuk dan belum sempat untuk mengoreksi. Saya sebenarnya sangat sungkan karena sering menagih namun beliau nampak juga tidak enak karena sudah janji. Kemudian saya mengatakan kepada beliau bahwa saya dapat memaklumi kesibukan beliau, kemudian beliau mengatakan bahwa minggu depan akan diderahkan hasil koreksiannya.
Jika dihitung-hitung sudah hampir satu bulan proposal skripsi saya nginep di tempat dosbing, lagi-lagi sabar adalah salah satu bentuk ikhtiar, meski tidak dapat melakukan apa-apa, karena menunggu adalah salah satu yang bisa saya lakukan.
Seminggu berlalu hingga hari yang sudah beliau tentukan itu datang juga, sesampai di kampus saya menemui beliau, namun apa jawaban beliau? Ternyata sama, proposal saya belum dikoreksi, dan dalam hati saya mencoba untuk sabar. Namun, beliau berkata kepada saya, menanyakan kepada saya apakah dosbing dua sudah acc? Saya jawab bahwa dosbing dua sudah acc tinggal menunggu dari Ibu. Tanpa basa-basi Ibu langsung mengatakan, lya sudah kamu langsung maju saja, nanti jika da yang kurang bisa ditambahin lagi pas validasi. Dalam hati saya, ini di acc karena hasil kerjaan saya atau karena kasihan dengan saya, yang sudah berkali-kali di PHP? Yang ada dalam pikiran saya saat itu yang penting sudah mendapat restu, kalo banyak yang salah ya tinggal diperbaiki pas validasi, karena tidak ada proposal yang sempurna, karena lanjut proposal dengan revisi sudah harga mati. hehehhe
Detik-detik seminar Proposal
Setelah mendapat restu dari kedua dosbing, segera lah saya menyusun rencana, hehehe sudah kaya mau perang aja. Proposal sudah di acc, penguji sudah ada, tinggalah menetukan hari baik untuk maju validasi proposal.
            Mencari hari baik validasi proposal bukan seperti halnya mau nikah yang harus berdasarkan hitung-hitungan jawa, namun harus sesuai dengan jadwal kedua pembimbing dan kedua reviewer. Artinya semua harus bisa dalam waktu yang sama atau dengan kata lain tidak ada yang bentrok jadwal. Saya cukup beruntung karena jadwal yang saya tentukan tidak berubah-ubah karena semua tidak ada yang bentrok, karena pengalaman dari teman saya, dia hampir sebulan kebingungan menentukan jadwal karena belum sulit untuk menetapkan jadwal mengingat kesibukan masing-masing dosen.
            Mempersiapkan validasi proposal ternyata tidak sesimpel ketika mau akan presentasi proposal saja, selain menyiapkan segala berkas yang perlu disiapkan untuk presentasi ternyata juga harus menyiapkan snack, segala perlengkapan presentasi seperti LCD dll, dan yang paling penting adalah menyiapkan hati ini agar selalu kuat serta mental.
            Hari yang ditunggu-tunggu datang juga, malam harinya saya tidak bisa tidur nyenyak karena saya sedikit cemas akan terjadi sesuatu ketika validasi. Untuk menenangkan perasaan ini saya lakukan latihan presentasi atau semacam simulasi validasi didalam kamar kos, terutama agar waktu yang diberikan untuk presentasi dapat tercapai, karena saya hanya diberi waktu 10 menit untuk memaparkan proposal skripsi saya. Kemudian selanjutnya adalah acara pembantaian masalah (Tanya jawab J).
            Hari itu tepat jam 9 pagi, semua teman-teman yang ingin menonton validasi saya, karena syarat dilaksanakan validasi harus minimal ada 4 atau 5 peserta. Kedua dosbing dan kedua reviewer sudah duduk di tempat yang telah disediakan, saya sudah berdiri di depan dengan selalu berdoa agar diberi kelancaran serta menguatkan mental saya agar tidak cemas ketika dibrondong beberapa pertanyaan.
            Prsentasi bisa saya laukan tanpa ada sedikit gangguan, barulah ketika pertanyaan dari reviewer yang membuat saya merasa menyadari akan kesalahan saya, hingga itu membuat mental saya down, pertanyaan memang menyudutkan saya, karena itu memang tugas reviewer agar penelitian saya kuat baik secara teori maupun secara metode penelitiannya.
Singkat cerita selesai sudah validasi itu, yang mampu membuat saya sedikit down dan hampir putus asa. Terlebih ada celutukan dari salah satu reviewer yang mengatakan bahwa penelitian atau proposal ini tidak layak dan harus validasi ulang, namun atas kebijaksanaan dosbing pertama saya, beliau sanggup mengembalikan moral saya hingga saya tidak down lagi. Ketua sidang kebetulan, dosbing pertama saya, menyatakan bahwa proposal skripsi saya boleh lanjut dengan catatan harus merivisi atau memperbaiki lagi dalam kurun waktu dua bulan atau dengan kata lain, lanjut dengan revisi dua bulan. Betapa leganya ketika mendengar keputusan itu. Dalam hati saya meski masih ada sedikit rasa cemas, bersyukur bahwa setidaknya saya telah melewati salah satu tahap dalam menyelsaikan skripsi yaitu sidang validasi.
Senyum itu wujud defend dari Counter attack  reviewer.
Ingatan yang masih teringat selama satu jam lebih diruang sidang adalah, ketika senyum adalah jawaban atas sulitnya pertanyaan dari dosen selaku reviewer. Secara teori dan pengalaman memang mahasiswa semacam saya ini masih cethek ilmunya terutama dalam melakukan penelitian. Jujur saya juga baru kali ini melakukan penelitian secara Individu (ya iyalah, mana ada skripsi dikerjakan secara kelompok), kalopun pernah itupun tugas kelompok yang masih sangat sederhana, karena sifatnya hanya tugas kelompok.
            Pertanyaan dari reviewer bisa dibilang sangat spesifik dan yang menjadi kelemahan proposal saya, akan dihabisi dan hanya berfokus pada kelemahan itu saja, mungkin hal itu dilakukan agar saya paham tentang kesalahan saya dan berharap dapat memperbaiki saya. Meski terkadang yang terjadi bukannya saya paham, namun malah menjatuhkan mental saya. Dan disaat banyak pertanyaan yang saya tidak pahami dengan kata lain saya tidak tahu jawabannya, saya hanya tersenyum, sesekali saya menjawab sepengetahuan saya saja.
            Senyum itu indah, senyum itu sedekah, mungkin hal itu yang membuat saya selalu tersenyum ketika tidak tahu apa yang harus saya jawab, memang aneh, saya lah yang seharusnya paling tahu tentang penilitian yang akan saya lakukan, namun saya malah jadi kalang kabut ketika ditanyai tentang penelitian saya. Penelitian yang saya anggap hanyalah penelitian yang sangat sederhana ternyata ditangkap oleh reviewer menjadi seolah penelitian saya itu adalah hal yang sulit dan rumit, itulah mengapa saya malah menjadi bingung sendiri tentang apa yang harus saya jawab atas pertanyaan tersebut. Senyum, senyum, dan senyum itulah jawaban andalan seorang mahasiswa ketika berhadapan dengan para algojo dalam ujian baik validasi proposal maupun sidang pendadaran.
Hampi Putus Asa
            Setelah dinyatakan lanjut dengan revisi dua bulan, saya segera merivisi apa yang menjadi kelemahan dari proposal skripsi saya. BAB 1 dan BAB 3 adalah kesalahan yang paling besar dalam proposal skripsi saya. Merivisi BAB 1 membuat saya harus melakukan prapenelitian lagi ke tempat saya melakukan penelitian, yaitu sebuah SMP di pinggiran kota sukoharjo. Dan survey prapenelitian harus tertunda karena dampak letusan gunung kelud membuat saya memutuskan untuk menunda beberapa hari melaukan prapenelitian lagi untuk melengkapi kekurangan data pada BAB 1. Setelah selesai BAB1, kini segera saya merivisi BAB 3, yang merupakan metode penelitian, tidak butuh waktu lama untuk merivisi BAB 3 karena tidak harus melakukan survey prapenelitian lagi seperti halnya revisi BAB 1. Meski hampir dua minggu pasca validasi proposal saya tidak pernah menyentuh revisian karena belum menemukan mood yang pas untuk memulai revisi karena saya sudah malas dan tidak tahu apa yang akan direvisi lagi. Perasaan putus asa dan keinginan mengakhiri skripsi sempat terbesit di pikiran. Namun ada juga teman, keluarga terutama Om yang selalu saya ajak mengobrol baik masalah kuliah maupu masalah pribadi mampu menguatkan saya serta mendorong saya untuk segera menyelesaikan skripsi.
            Karena orangtua yang selalu mengirim uang dan dengan suka rela membayar uang semesteran tiap semester serta uang jajan tiap bulan, serta karena Om selalu memotivasi, teman-teman yang dengan sikapnya karena saya banyak belajar dari sikap teman-teman saya dalam menyikapi skripsi, karena merekalah saya dapat kuat dan membulatkan tekad untuk menyelesaikan tugas suci ini, ia apalagi kalau bukan tugas suci bernama skripsi.
Ketemu Ibu Teman lama (mantan) Pas Proses pengambilan data
            Ini adalah sisi lain dalam proses pengerjaan skripsi saya. Bisa dibilang selama pengambilan data semua berjalan sesuai rencana, pihak sekolah juga sangat membantu dalam menyediakan tempat serta dengan mudahnya memberikan izin kepada murid-murid untuk sejenak meninggalkan pelajaran sebentar untuk mengisi beberapa kuisioner yang telah saya buat sebagai alat pengumpulan data.
            Terlepas dari semua proses pengambilan data yang sesuai dengan rencana, meski ada beberapa subjek yang kebetulan tidak hadir namun data yang terkumpul sudah cukup reprensentastif sebagai subjek penelitian. Namun ada kejadian yang membuat saya sedikit malu dan bisa dibilang juga sangat heran. Kejadian itu bermula ketika saya sedang meminta izin petugas atau bisa dibilang kepala perpustakaan untuk meminjam ruangan baca untuk digunakan mengumpulkan siswa-siswa yang akan saya mintai bantuan untuk mengisi kuisioner. Setelah saya amati baik-baik, sesosok Ibu-ibu yang berada di tempat duduk perpustakaan, saya merasa bahwa saya sangat tidak asing dengan beliau. Saya amati baik-baik dan ketika mengobrol lebih dekat dengan beliau, ternyata beliau sangat mirip dengan seseorang yang dulu pernah saya kenal. Siapa beliau? Tidak lain, beliau adalah Ibu dari teman baik saya (dulu). Mungkin kebanyakan orang menganggapnya dengan istilah mantan, namun saya menganggapnya teman, karena saya mengawalinya dengan berteman, meski sempat berhubungan atas dasar suka-sama suka (lho, jagan berpikir macem-macem) dan saya akhiri juga dengan menganggapnya teman, terlepas rasa sakit dalam hati L. Karena sakitnya thu di sini!
            Ibu yang diperpustakaan tersebut adalah Ibu dari mantan saya, jadi Ibu itu bisa dikatakan Ibu mantan, bukan mantan Ibu lho, katanya tidak ada yang namanya mantan Ibu, apalagi mantan teman, jangan sampai ada, karena lebih baik jadi mantan musuh dari pada mantan teman.
            Memang pada akhirnya saya lebih suka tidak menyapa beliau lebih intens, karena saya tahu betul beliau tidak begitu mengenal saya, dan saya pun hanya sebatas tahu, bahwa beliau adalah Ibunya si Itu (mantan L).
            Sekarang saya baru sadar bahwa ini adalah bumbu skripsi, dan pertemuan dengan Ibu itu setidaknya mampu membangunkan memori yang sekian lama tertidur pulas tanpa ada seorang pun yang berusaha membangunkannya. Dan setelah memori itu terbangun meski sudah di timang-timang tak mau tidur lagi, kampret!
SPSS itu Seharusnya Memudahkan
Dan kini akhirnya sudah memasuki, tahap selanjutnya. Yap, setelah data sudah terkumpul barulah saya memulai hitungan-hitungan yang mengharuskan saya berhadapan dengan angka-angka setelah sekian tahun sudah mulai lupa dan move on dari matematika, lebih tepatnya statistic. Bayangkan saja jika kalian sudah move on dengan pacar kemudian disuruh bertemu lagi karena ada suatu urusan yang harus diselesaikan. Begitu juga dengan apa yang saya alami. Saya sudah bertahun-tahun move on dari statistik meski saya pernah mengulang statistik karena tidak lulus. Saya tidak lulus bukan karena bodoh, tapi emang karena nggak mudeng dan terlalu rajin, karena ketika ujian ada soal dan saya kerjakan semua, padahal perintahnya hanya disuruh mengerjakan satu soal. Dan untuk dosen yang sangat killer seperti beliau, saya sudah dianggap menyalahi aturan dan dianggap tidak memperhatikan perintah soal. Dan semester berikutnya saya memilih kelas statistik yang tidak diajar oleh beliau, mungkin saya sudah trauma.
Data yang saya inginkan sudah saya ambil dan sudah saya input ke dalam Ms excel untuk mempermudah dalam proses analisis selanjutnya. Berita baik ketika saya tahu bahwa semua perhitungan tidak dilakukan secara manual. Namun demikian selalu ada berita buruk di balik berita baik. Iya, saya tidak begitu paham dengan apa yang dinamankan dengan SPSS, sebuah program statistik yang digunakan dalam proses analisis data penelitian kuantitatif. Aneh memang ketika sebuah teknologi diciptakan tentu dengan maksud untuk mempermudah, bukan malah membuat bingung hingga nampak menyulitkan.
“SPSS itu memudahkan, jika malah membuatmu bingung dan terkesan sulit, itu berarti kesalahan pada user”
Inilah yang dinamakan ketidaktahuan akan menimbulkan kebingungan serta malah mempersulit sesuatu yang seharusnya mudah. Seperti halnya dengan SPSS, SPSS adalah suatu temuan yang dimaksudkan akan mempermudah analisis data yang seharusnya dilakukan hitunga-hitungan statistik secara manual. Dengan adanya SPSS, analisis data dapat dilakukan hanya dengan input data serta menjalankan sesuai dengan kebutuhan.
Berangkat dari ketidaktahuan saya mulai bertanya kesamana-kemana baik dari buku, belajar dari blog seorang konsultan statistik serta dari teman-teman yang sudah lulus. Alhamdulilah dari situ saya semakin sadar bahwa SPSS adalah teknologi yang diciptakan untuk mempermudah analisis data kuantitatif.
Tidak hanya itu, berkat ketidaktahuan saya akan penggunaan statistik saya akan dengan suka rela akan membantu teman saya yang merasa kesulitan dengan penggunaan statistik, karena saya tahu betul bahwa bingung karena tidak tahu akan membuat sesuatu yang seharusnya mudah melah nampak menjadi sulit.
Inilah yang satu dari sekian banyak proses skripsi yang mengajarkan kepada saya, bahwa tolong menolong untuk kebaikan bersama sangat diperlukan, karena jika dilihat kita adalah sama. Kita sama-sama berjuang untuk lulus jadi tidak sepatutnya membiarkan teman seperjuangan kita kesususahan dan sudah sepatutnya dalam proses skripsi ini kita harus saling membantu.
Kini setidaknya meski hanya langkah kecil, tahapan analisis data sudah saya lampui. Saya masih harus berjuang untuk mengumpulkan sisa-sisa semangat yang ada dalam diri untuk segera merampungkan BAB IV, tentu dengan harapan agar segera masuk kedalam medan perang yang sesungguhnya, yaitu ketika pendadaran di ruang sidang. Semoga selalu bersemangat dengan segala kondisi serta apapun yang terjadi harus tetap konsisten dalam mengerjakan skripsi.

Galau Pembahasan
            Setelah sekian alam, kurang lebih hampir satu bulan saya sudah tidak care lagi dengan skripsi saya. Saya sudah punya pacar baru, sebagai orang yang masih dibilang cowok matre, saya lebih memilih kerjaan sebagai freelance dalam urusan tes-mengetes. Perlu diketahui bahwa saya bukanlah tester untuk urusan percintaan, jadi jangan berharap saya bisa mengetes kesetian calon atau pacar anda sendiri, jangan!
            Saya sebenarnya sudah selesai pada pemaparan hasil penelitian, namun ada sedikit masalah dalam penelitian saya. Berdasarkan hasil hitungan melalui uji hipotesis, ternyata penelitian saya hipotesisnya ditolak. Hipotesis ditolak jangan bayangkan betapa galaunya, bahkan lebih galau jika ditolak oleh gebetan. Mungkin!
            Saya menjadi semakin bingung karena saya tidak tahu harus berbuat apa agar meyakinkan para penguji kelak saat sidang bahwa metode yang saya gunakan sudah sesuai dengan prosedur, hanya saja semua yang saya kemukan harus berdasarkan teori. Ditolak cinta mungkin masih bisa diterima alasannya, karena cinta tidak perlu alasan, dan penolakan selalu ada alasan, *eh maaf selalu khilaf jika bahas cinta-cintaan J
            Pernah aku coba konsultasikan dengan dosen pembimbing, dan saya disarankan untuk mencari penelitian-penelitian yang sama entah itu pada jurnal atau skripsi di seluruh alam semesta. Tidak perlu meditasi hanya sekedar mengetahui apakah penelitian serupa pernah dilakukan sebelumnya atau belum, cukup semudah mengetikan keyword dan tekan tombol enter. Iya karena mahasiswa punya dukun yang lebih sakti dari eyang subur yang selalu menunggu bisikan ghaib, dan dukun sakti para mahasiswa seluruh alam semesta adalah eyang google. Semua bisa dicari di google kecuali satu hal, yaitu jodoh. Karena saya pernah menulis jodohku dan ternyata yang keluar malah jodohku- by Anang-ashanti.
Singkat cerita penelitian serupa dengan penelitian serupa belum pernah dilakukan oleh peneliti lainnya. Sebagai peneliti amatir saya sedikit bangga karena penelitian tersebut hanya saya yang meneliti, hehehe tapi saya juga prihatin dengan diri saya sendiri yang tak kunjung menyelesaikan Karena menunggu mood yang baik untuk memulai mengerjakan skripsi yang terus menerus tertunda dari semester ganjil berganti dengan semester genap, dan entah sampai kapan roda semester akan terus berputar hingga berhenti ketika saya sudah dinyatakan diusir secara terhormat, bisa sidang skripsi dan menyelesaikan perkuliahan entah dengan hasil pas-pasan atau lulus karena kasihan sekali pun, aku juga tidak akan peduli, karena saya hanya butuh pengakuan, yaitu “LULUS”.
            Kegalauan pembahasan ini ternyata terus berlarut-larut hingga tak kusangka hampir sebulan skripsi sudah tak pernah kusentuh, jangakan sekedar baca atau mengedit, membuka folder skripsi pun sangat enggan. Tidak sampai disitu karena adanya kerjaan sebagai freelance juga hanya sebagai pelarian yang bisa dibilang sangat produktif karena bisa sejenak menghilangkan kepenatan atas kegalauan pada pembahasan namun juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, karena lumayan juga hasilnya untuk membeli paket data internet setiap bulannya. Hehehehe
            Bukanlah hal yang baik untuk menyalahkan orang lain, tetapi melalui instropeksi dirilah yang menjadikan akan selalu berhati-hati dalam melangkah, sebenarnya adanya kegiatan yang bisa menghasilkan uang ketika masa-masa skripsi juga sudah menjadi bayanganku sejak dulu, namun tak pernah aku pikirkan sedikitpun bahwa dalam melakukan segala hal butuh focus untuk menghasilkan yang terbaik, sesuatu yang dilakukan dengan setengah-setengah jangan berharap akan menghasilkan yang sesuatu yang maksimal. Dari situlah aku mulai belajar memahami diri bahwa aku adalah orang yang bisa melakukan banyak hal dalam satu hari, keculai menyelsaikan satu persatu tugas-tugas itu. Kini saya hanya berusaha agar menjadikan skripsi pada skala prioritas, karena roda semester akan terus berputar dari semester ganjil ke genap, tidak menunggu apakah saya sedang mood mengerjakan skripsi atau tidak. 
Doakan dalam sebulan ini saya bisa mengerjakan skripsi dan menyelesaikan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ruangan segi empat yang berisi 2 pembimbing dan 2 penguji untuk memaparkan hasil penelitian saya, entah apa hasilnya akhirnya, saya tidak berani berpikir lebih jauh lagi, tapi seseram apapun itu, masa sidang skripsi akan saya jadikan sebagai latihan untuk menghadapi dan meminta restu untuk meminang kamu, , . . .  iyaaaa kamuuuuu. *pake dodit style J

Dua kali puasa, dua kali lebaran, Skripsi tak kunjung usai
            Sekarang ini sudah memasuki bulan Ramdhan kedua, dan hampir sebentar lagi akan lebaran, namun seperti layaknya lagu bang toyib yang dua kali puasa, dua kali lebaran yang tak kunjung pulang, hampir senasib dengan nasib skripsi saya. Skripsi saya sudah memasuki dua kali puasa dan sebentar kali memasuki dua kali lebaran dan tetep belum kelar-kelar juga.
            Emang beginilah jika tidak menjadikan sesuatu pada skala prioritas, menulis skripsi tak layaknya menulis blog yang lebih enjoy tanpa harus peduli apakah setiap kalimat yang kutulis berdasarkan teori atau tidak. Terlalu sering menulis blog juga membuat bahasa tulisku menjadi semakin liar, dan menjadi bingung ketika harus memulai tulisan-tulisan ilmiah seperti tugas suci bernama skripsi ini.
            Menulis skripsi juga tidak seperti berpuisi yang tinggal menuliskan apa yang sedang dirasakan dalam jiwa ini.  Aku juga bingung mengapa mood untuk mengerjakan skripsi ini sulit sekali muncul dan setiap mood itu ada selalu ada saja permasalahan dalam proses pengerjaan skripsi yang membuatku merasa tidak tahu harus berbuat apa jika sudah terbentur apa-apa yang berbau teori.
            Skripsi mengapa kau tidak bisa berkerja sama dengan moodku ini? Disaat mood lagi bagus namun teori yang sulit didapatkan memaksa mood berangsur-angsur pudar dan lebih memilih melakukan pelarian-pelarian kecil yang membuatku lupa dengan skripsi. Skripsi yang bisa dibilang tinggal pembahasan agar bisa mencapai tahap kesimpulan namun hingga kini tak ada niat untuk menyelesaikannya.
            Bulan ramadhan adalah bulan yang seharusnya penuh diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah, jika skripsi adalah sebagai kewajibanku, dalam hal ini akan kukerjakan skripsi ini dan akan kuniatkan sebagai ibadah, karena saat ini skripsi adalah kewajiban bagiku untuk mempertanggungjawabkan kepada orangtuaku. Orangtuaku yang tak pernah menuntutku agar aku segera lulus, orangutan yang selalu memberiku uang semester tanpa pernah menanyakan untuk membayar semester keberapakah uang itu, dan orangtuaku yang selalu mendoakan kebaikan untukku namun tak pernah menuntut apa-apa dariku.
            Boleh dibilang sekarang saya sudah memasuki semester sebelas dan jangan ditanya sudah berapa teman seangkatanku yang sudah lulus, adek tingkatku pun sudah banyak yang lulus. Sudah ingin kuselesaikan kegalauan masalah skripsi ini.  Galau masalah skripsi adalah galau yang hanya berujung pada kemalasan untuk mengerjakan, beda halnya dengan galau urusan hati *eaaaaa ujung-ujungnya bisa bunuh diri *Upsss J

Sidang Skripsi
            Akhirnya segala kegelisahan selama proses skripsi ini berakhir ketika skripsi saya sudha mendapat restu dari kedua pembimbing skripsi saya untuk maju sidang. Sebenarnya masih bertepatan dengan bulan ramadhan saya sudah bisa maju sidang, namun karena alasan mental dan ingin focus dengan lebaran, iya saya mau focus lebaran dulu, akhirnya saya putuskan sidang skripsi saya undur hingga setelah lebaran.
            Memilih sidang lebaran ternyata bukanlah pilihan yang tepat, karena suasana lebaran menjadi agak terganggu karena masih terbayang-bayang masalah sidang, makan ketupat menjadi tak enak, karena pikran masih terpikir masalah sidang, ditambah lagi mengenai momen-momen silaturahmi dengan keluarga besar, pertanyaan “Sudah lulus kuliahnya?” membuat saya semakin cemas dengan sidang skripsi, ingin rasanya saya meng-Skip proses sidang pendadaran dan langsung revisian. Namun apa hendak dikata saya hanya mahasiswa biasa yang masih berjuang untuk lulus.
                                                                        ***
            Tepat setelah lebaran saya langsung memilih untuk kembali ke kosan dan saya anggap lebaran sudah selesai, dan menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan sidang. Untuk berkas-berkas sidang sudah saya print jauh-jauh hari dan untuk masalah konsumsi juga sudah saya serahkan kepada teman saya yang terbiasa mengurusi konsumsi sidang, hingga ia dijuluki sebagai EO Sidang pendadaran, karena entah sudah berapa mahasiswa yang konsumsinya ia urusi. Semua persiapan, baik itu administrasi dan konsumsi sudah bisa dibilang fix, saya hanya tinggal menyiapkan mental saja.
            Menjelang sidang berkas-berkas saya serahkan kepada pembimbing 1 dan 2, serta penguji 1 dan 2. Namun adala masalah dengan jadwal yang sudah saya tetapkan jauh-jauh hari. Penguji 2 ada acara keluar kota sehingga bisa dipastikan tidak bisa hadir. Saat itu juga pikiran saya sudah menjadi tak menentu, ingin mengatur ulang jadwal tapi pembimbing satu selaku ketua sidang tidak bisa memberi kepastian mengenai jadwal kosong.
            Hingga pada akhinya melalui proses birokrasi yang rumit saya bisa sidang sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sepertinya ketakutan saya akan sidang pendadaran menjadi pudar, karena terfokus pada penentuan jadwal tadi.
            Malam harinya sebelum keesok harinya sidang saya sudah layaknya calon pengantin yang sedang dipingit, tidak kemana-mana dan hanya bertapa di dalam kamar kos untuk mempelajari skripsi saya, sebenarnya bukan perkara sulit untuk memahami isi dari skripsi saya, karena skripsi itu yang membuat saya sendiri, tapi justru pikiran-pikiran mengenai kemungkinan terburuk yang akan terjadi yang membuat mental saya semakin ciut.
                                                            ***
            Pagi harinya sebelum sidang, meski sidangnya siang namun saya memutuskan datang ke kampus paginya, seperti halnya pasukan mau perang, saya mempelajari medan dengan harapan akan membuat saya lebih tenang.
            Sesuatu yang ditunggu pun kahirnya datang juga, detak jam sepertinya tidak bersahat dengan saya, karena entah kenapa jarum jam kini berputar lebih cepat dari biasanya. Perasaan sudah semakin tak menentu, apalagi ditambah dengan kehadiran pembimbing pertama yang datang agak terlambat, perasaan ketakutan akan ketidakhadiran pembimbing pertama dan menjadikan hal itu semacam ketakutan tersendiri bagi saya.
            Akhirnya setelah beberapa saat kemudian pembimbing pertama datang juga dan saya persilakan masuk ke ruang sidang. Ketika semua sudah masuk ke ruang sidang perasaan takut pun semakin pudar menjadi ketanangan bagi saya, suasana santai yang ditunjukan oleh pembimbing dan penguji membuat saya lebih nyaman dalam mempresentasikankan hasil dari penelitian saya.
            Kurang dari 2 jam akhirnya sidang berjalan lancar, tidak ada gesekan pendapat yang membuat diskusi di dalam ruang sidang menjadikan susana panas.   Dan setelah saya selesai sidang di skors dan saya dipersilakan keluar sebentar untuk menanti pengumumanan.
            Beberapa saat kemudian saya dipanggil ke ruang sidang lagi dan setelah berbicara panjang lebar, ketua sidang mengumumkan bahwa saya dinyatakan lulus dengan revisi. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya merasa bahagia dengan hal itu, namun perasaan kebahagiaan itu tidak membuat saya ekspresif untuk meluapkan kebahagian saya, karena yang ada di dalam pikiran saya kala itu, ternyata apa yang terjadi tidak seperti yang saya pikirkan. Justru pikiran saya sendiri yang menciptakan ketakutan-ketakutkan yang justru membuat saya semakin jatuh mentalnya. Pelajaran bagi kita semua bahwa sidang hanyalah perkara yang kecil jika kita bisa melihat betapa luasnya hidup ini, namun sidang menjadi perkara yang besar ketika hanya terfokus pada permasalahan yang kecil tersebut.


*Tulisan ini saya dedikasikan buat teman-temanku yang masih atau sedang berjuang untuk lulus atau sedang mengerjakan proses skripsi. Tetap semangat buat kalian semua.