Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Wisuda

Saturday, September 5, 2015
Gambar diambil dari google
Orangtua mana yang tidak senang melihat anaknya diwisuda. Dengan baju kebesarannya (besar dalam arti yang sebenarnya) lengkap dengan topi yang ada kucirannya. Saya rasa hampir setiap orangtua pasti akan bangga ketika anaknya berhasil menyelesaikan studinya. Bahkan untuk menghadiri acara wisuda saja, orangtua sudah mempersiapkan banyak hal jauh-jauh hari sebelum datang hari sakral itu, baik mengenai baju yang digunakan, transport yang akan digunakan, serta tempat penginapan untuk yang berasal dari luar kota. Bahkan pengalaman teman saya sendiri, terutama teman-teman cewek yang akan wisuda, harus rela antri dari jam 3 pagi hanya untuk berdandan di salon. Dan saya tidak kebayang jika sudah rapi dengan kebayanya, sudah cantik dengan make up tebalnya, tiba-tiba ada panggilan alam dari dalam perutnya. Betapa apesnya, ketika baju kebaya yang sudah rapi harus diacak-acak lagi, make up tebal yang mampu membuat orang sangat berbeda dengan aslinya mulai luntur karena keringat. Beruntungnya saya jadi lelaki yang tidak ribet ketika mau diwisuda. Jangankan nyalon, baju sama sepatu aja minjem. Hahaha J

Bagi wisadawan/ti sendiri, wisuda seperti halnya sebuah pintu, pintu untuk keluar dari segala permasalahan akademik, entah itu bernama mata kuliah, maupun dari tugas akhir seperti skripsi. Selain itu, pintu itu juga bermakna bahwa setelah wisuda akan ada pintu kehidupan baru dan tentu dengan tantangan baru pula.

Masa kuliah, yang kita hadapi adalah materi-materi kuliah yang lebih banyak bersifat teoritis, serta ditambah dengan beberapa materi yang sifatnya langsung terjun ke lapangan. Dan menurut saya itu kombinasi yang bagus, disamping kita belajar yang sifatnya teoritis, kita juga harus merasakan terjun ke lapangan. Namun dalam hal ini mungkin bobotnya saja yang perlu ditinjau lagi.

Dalam perjalanan studi saya, justru masa-masa skripsi lah yang paling menentukan. Kenapa bisa begitu? Karena jika kita tidak mengerjakan skripsi sangat mustahil kita bisa lulus :-P Meskipun ada juga salah satu teman dekat saya yang gagal wisuda karena cuma kurang mata kuliah 2 SKS. Bisa dibayangkan 2 SKS itu bernilai sebesar biaya satu semester, bukan hanya masalah biaya, namun juga masalah waktu, harus rela ditunda wisudanya selama satu semester. Jadi jangan heran jika beliau sekarang jadi Bapak Manager HRD, sesuai lah dengan pengorbanannya.  Dan rasa-rasanya kita semua perlu berterima kasih dengan teman saya tersebut. Dengan adanya kasus itu, pihak pengelola program studi juga melakukan evaluasi kinerja dan pelayanan kepada mahasiswa.

Skripsi menjadi sangat menentukan karena kita dituntut untuk membuat karya ilmiah sesuai yang kita ajukan, membuat deadline sendiri, meski pada akhirnya diingkari sendiri juga. Dalam proses skripsi yang kita hadapai bukan hanya dosen penguji yang killer bin kritis namun juga diri kita sendiri, terutama rasa malas. Sekali menunda skripsi efeknya luar biasa, bisa sampai satu bulan baru sadar mau membangun mood lagi untuk mengerjakan lagi. Nah, itu pengalaman pribadi saya sendiri. hehehehe

Kembali lagi masalah wisuda. Wisuda (katanya) adalah sebuah ceremonial yang sangat sakral. Bahkan karena sakralnya, wisudawan yang terlambat datang dilarang masuk, mungkin karena akan akan menganggu jalannya prosesi wisuda yang sudah dimulai. Namun masih ada slentingan-slentingan yang menodai kesakralan wisuda. “Wisuda, sebuah ceremonial yang seperti halnya acara launching pengangguran” komentar yang membuat saya “makjleb”. Betapa tidak, kami yang telah berjuang untuk bisa lulus, dan mendapatkan predikat sebagai orang yang (dianggap) terdidik karena berhasil menyelesaikan masa studi S1-nya, masih harus berusaha lebih keras lagi untuk menghadapi dunia luar yang penuh ketidakpastian ini. Namun hal itulah yang membuat kita agar lebih terus berusaha lagi. Tetep semangat mbuh piye carane.

Wisuda adalah sebuah pencapaian, pencapaian atas segala hal yang telah kita mulai. Berawal dari berebut kursi untuk bisa kuliah di perguruan tinggi yang dicita-citakan, kemudian menjalani proses kuliah, SKS demi SKS kita babat habis tiap semesternya, dan skripsi sebagai gong dari serangkaian proses akademik ini. Namun tidak akan berhenti di situ saja, wisuda adalah awal sekaligus ucapan selamat datang kepada dunia luar, dunia yang menawarkan segala keindahan yang dibalut dengan kerumitan-kerumitan.

Dan bagi teman-teman yang wisuda hari ini, saya ucapkan selamat kawan. Semoga ilmunya bermanfaat. Dan yang belum wisuda, semoga segera menyusul. Mau sampai kapan kalian terus bersembunyi. Sampai kapan pertanyaan sensitif “kapan wisuda?” masih menjadi momok bagi kalian? Kerjakan. . .kerjakan . . kerjakan!