Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Angkringan Sebagai Alternatif Tempat Nongkrong Mahasiswa

Wednesday, October 14, 2015

Jika kalian memiliki waktu selo, coba googling deh dengan keyword angkringan, dan kalian akan menemukan bahwa angkringan juga dibahas di Wikipedia. Saya semakin penasaran bagaimana sejarah angkringan itu. Angkringan yang sebagian orang juga menyebutnya dengan HIK yang artinya Hidangan Istimewa Kampung bisa tersebar di gang-gang perkampungan, dan dipinggir-pinggir jalan dengan gerobak khasnya. Menu yang disajikan pun rata-rata sama, dan nasi kucing seakan menjadi menu wajib dalam sebuah warung angkringan, selain itu menu-menu pendukung lainnya seperti berbagai macam gorengan serta sundukan (sate ati atau usus ayam)

Saya sendiri juga telah melakukan googling sana-sini untuk mengetahui lebih pasti bagaimana sejarah angkringan. Angkringan yang semakin menjamur, mengalahkan dominasi warung burjo di area perkampusan, bahkan ritel sekelas alfamart maupun indomart. Hasil googling sana-sini setidaknya telah membuat saya sedikit paham mengenai sejarah warung angkringan. Agkringan yang berasal dari kata angkring atau duduk dengan santai. Biasanya warung angkringan berupa gerobak dengan tempat duduk di sekelilingnya sehingga pelanggan bisa leluasa untuk mengambil berbagai menu yang dihidangkan, Jika penuh sang penjual pun sudah menyiapkan tikar untuk lesehan.

Warung angkringan berawal dari seorang yang ingin mengais rejeki dengan berjualan di kota jogja. Dan perlu diketahui bahwa orang yang pertama kali berjualan angkringan berasal dari Cawas. Cawas adalah salah satu kecamatan di pinggir kota Klaten Jawa tengah, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukoharjo. Sebagai orang yang dilahirkan di cawas, saya pun patut bangga dengan hal ini, hehehehe Dahulu angkringan tidak seperti saat ini yang berjualan dengan menggunakan gerobak, melainkan dipikul. Semakin berkembangnya jaman kemudian beralih menggunakan gerobak. Kemudian angkringan tersebut diwariskan ke anak cucunya. Setelah sekian lama, angkringan seakan menjadi komoditi yang menggiurkan sehingga banyak orang yang beramai-ramai melirik bisnis ini. Saya menjadi heran, ini menunjukan bahwa orang jawa adalah orang yang suka berbagi, coba anda bayangkan jika orang yang pertama memperkenalkan warung angkringan hidup di jaman sekarang yang pemikirannya sudah tercampur dengan paham-paham kapitalis, saya yakin bahwa angkringan tak ubah menjadi sebuah merk dagang seperti industri waralaba-waralaba yang berkembang saat ini. Betapa orang jawa dalam hal ini tidak menunjukan sifat serakahnya, mungkin ia (pioneer angkringan) berpikir bahwa rejeki itu yang menentukan Allah, tak perlu lah jual nama segala karena takut tersaingi dengan munculnya warung-warung angkringan lain, dengan menjual brand angkringan.

Saya sendiri sudah terlampau sering mampir di warung angkringan, apalagi ketika masih menjadi mahasiswa, angkringan seperti menjadi alternative tempat nongkrong. Di solo dulu saya sering nongkrong di angkringannya Pak Hasan. Di angkringan Pak Hasan kami sering duduk lama di sana terkadang hanya berisi canda tawa, ditengah himpitan tugas-tugas kuliah, terkadang kami bermain kartu hingga larut malam. Meski kami hanya pesan minum dan beberapa goengan yang nilainya tak sampai 5ribu rupiah, sang pemilik angkringan pun tak harus pasang muka kecut. Betapa sabarnya sebagai pemilik warung angkringan, nongkrongnya sih lama, tapi jajannya tak seberapa, hehehe. Sabar dan tak pasang muka kecut lah yang membuat angkringan selalu ramai. Eh tapi warung angkringan yang sebrang BNI itu, meski sang pemilik angkringannya galak bin judes habis tapi ramai juga ding, apalagi tahu dan tempe bacemnya enak banget len, hehehe. Namun setelah mengalami pasang surut karena kadang buka, kadang tutup lama, kadang buka lagi, membuat saya dan teman-teman mulai mencari tempat tongkrongan baru. Dan angkringan samping PMI lah tempat baru kami. Nongkrong di warung angkringan samping PMI seakan menjadi agenda wajib setelah kami lelah bermain futsal. Angkringan samping PMI tempatnya asik dan yang pasti banyak pilihan menunya. Jika punya waktu selo, mari kita agendakan untuk sekedar wedangan di sana.

Masih banyak angkringan yang telah saya coba, dan dalam hal ini saya membuat riset kecil. Dan perlu anda ketahui mungkin antara angkringan satu dengan yang lain mengusung menu yang sama, namun ada ciri khas yang mungkin luput dri perhatian kalian. Saya sering mengamati mengapa warung angkringan dari klaten selalu menyuguhkan hal lain dari angkringan-angkringan lain. Dan saya lebih suka jika warung angkringan yang berasal dari klaten, entah itu cawas, ataupun bayat, bayat adalah salah satu kecamatan yang berada di barat cawas, terlepas asal-usul angkringan itu berasal dari cawas, tapi ketika menyuguhkan wedang teh panasnya berbeda dengan warung-awarung angkringan yang lebih ke duplikasi dari angkringan dari warga cawas itu sendiri. Karena saya suka minum teh panas, dan saya paham betul ini teh yang disuguhkan ke saya ini teh lama atau teh baru. Biasanya angkringan yang berasal dari cawas maupun bayat, teh yang mereka buat, mereka tidak langsung menyeduh teh ke dalam ceret atau teko besar, melainkan mereka membuat “cem-ceman” di gelas gembreng terlebih dahulu sehingga aroma teh yang sangat kuat akan terasa nikmat ketika disajikan dengan air panas, mak nyus pokoknya. Terlebih ketika kondisi badan yang sedang gembreges akan terasa segar ketika menikmati teh tersebut.

Menjamurnya angkringan, dan minat kalangan muda yang hobi nongkrong di angkringan kini sudah tak peduli dengan level sosial lagi, kini muncul lah “angkringan-angkringan” yang seakan khusus untuk kalangan menengah, tentu dengan harga-harga yang yang murah nan merakyat (untuk kalangan meengah). Sebut saja tiga ceret atau ceret telu di daerah ngarsupuro, sebuah tempat nongkrong yang mengadopsi angkringan, karena menu-menu yang coba mereka suguhkan adalah menu-menu khas angkringan. Selain itu ada juga angkringan solo yang berada di barat manahan sebelum colomadu, dari namanya saja sudah jelas, yaitu mengangkat harkat angkringan sehingga mereka para kelas menengah tak sungkan untuk mampir dan ngangkring. Dan angkringan yang selalu penuh hingga untuk parkir motor saja susah banget, yaitu cafedangan. Konsep angkringan juga diterapkan dalam cafedangan. Bahkan untuk memecah keramaian cafedangan sampai harus membuka cabang yang berada di seberang jalan. Namun jangan harap dengan uang tujuh  ribu rupiah kalian akan bisa menikmati 2 nasi kucing, 2 gorengan, segelas teh panas dan sebatang rokok tentunya.

Angkringan. Seperti asal katanya ngangkring yang berarti duduk dengan santai, memang tak perlu memandang kelas sosial. Siapa pun kamu ketika duduk di warung angkringan adalah sama, yaitu tak lebih dari seorang manusia yang ingin menjadi sebenar-benarnya manusia, saling bercerita, senda gurau sambil tetap memutar-mutar rokok di sela-sela jari mereka, tanpa perlu sibuk mengusap-usap layar gadget. Hari ini kita ketemu di angkringan mana?

Referensi : https://mysukmana.wordpress.com/2008/06/08/sejarah-angkringan-jogja-hiksolo/
 Sumber gambar :www.kumpulancerita.net