Ads Top

Makrab. Dingin yang Selalu Menghangatkan


Di atas rumput yang sedikit basah karena kabut yang turun menjelang maghrib tadi, aku merebahkan tubuh, sendirian. Sengaja aku menetes ketahanan tubuhku, hanya kukenakan kaos saja, tanpa baju hangat atau jaket. Kepalaku kuarahkan ke langit. Cerah sekali. Berjuta-juta bintang bertebaran. Lukisan malam yang sudah tidak lagi bisa dilihat di Solo, kini.

Sengaja aku menyepi, menikmati dingin, mencari kesunyian di antara teman-teman yang sedang asyik di tempatnya masing-masing setelah acara api unggun. Memang, jujur aku lebih suka sepi daripada keramaian. Lebih nyaman, menentramkan hati.

Dalam lamunan, di atas kepalaku, berseliweran adegan demi adegan kehidupanku yang lalu-lalu, tentang prinsip-prinsip hidup yang aku pegang erat, tentang kebimbangan-kebimbangan identitas yang menuntun kepada pencarian makna sejati, dari kecil terus sampai dewasa ini.

Puas melamun dan melihat bintang-bintang, sempat melihat bintang jatuh, setengah menggigil aku berganti posisi menjadi duduk. Kuusap punggungku yang terasa basah, untuk menghilangkan rumput-rumput kering yang menempel di punggungku. Lalu, pandangan mataku kualihkan ke bawah, ke tempat api unggun tadi dinyalakan.

Terlihat masih ada beberapa teman yang belum beranjak dari sana. Samar-samar aku melihat dua orang kakak tingkat, laki-laki dan perempuan sedang membolak-balikkan jagung di atas sisa-sisa bara api yang masih menyala. Di sampingnya, seorang lagi memainkan gitar, dan beberapa lainnya, yang tidak terlalu terlihat jelas siapa saja itu, mengiringi suara dari hasil petikan gitar dengan bernanyi. Terdengar sebuah lagu yang sangat aku kenal. Sheila on 7...!!!

Dari tempat api unggun, pandanganku beralih lagi. Ke atas, di villa, berkumpul di sana semuanya, yang mahasiswa baru sampai yang sudah tidak aktif di perkuliahan lagi, dan ada beberapa alumni juga datang. Ada yang mengobrol-ngobrol saja. Ada yang sudah mapan tidur, lengkap dengan jaket dan tas untuk bantal. Di bagian tengah ruangan terlihat sekitar 7 orang membuat sebuah lingkaran, sepertinya bermain kartu UNO.

“Unoooooo…!” Teriak salah seorang. Lalu semua tertawa keras-keras. Sangat seru nampaknya.

Beberapa saat kemudian, seorang kakak tingkat, perempuan, masuk ke ruangan itu, membawa satu teko berukuran besar berisi kopi hitam yang masih mabul-mabul kepulan asapnya. Teman-teman yang sedang khusyuk bermain, begitu melihat mbak itu datang, segera saja berhamburan, mengambil cangkir atau gelas, sedapatnya. Beberapa karena tidak kebagian gelas, lalu mengambil gunting untuk memotong bagian atas bekas botol aqua yang sudah kosong. Lalu berebut meminta jatah kopi.

Di sini aku senyam-senyum sendiri melihat mereka dari kejauhan. Kami sengaja selalu mencari tempat yang lapang, masih hijau dan dingin. Villanya tidak berbentuk kamar-kamar, tapi lebih yang berbentuk ruangan besar, yang bisa untuk tidur bersama, acara, dan muat untuk berkumpul semuanya. Karena kebersamaan tanpa sekat seperti ini adalah cara ampuh untuk mengkrabkan teman-teman yang sehari-hari terpisah oleh dinding kelas di kampus, kakak tingkat-adik tingkat-an, karyawan-dosen-mahasiswa.

Mumpung di sini. Sebuah kesempatan dan awal yang baik untuk menyambut dan membuka tangan lebar-lebar, keluarga baru kami. Membiaskannya, meleburkannya, dan menghangatkannya. Dengan obrolan, canda tawa, dan ngakak-ngakak bareng, tanpa spaneng. Ditambah, hawa dingin khas lereng gunung Lawu seperti ini, pas sekali untuk modus, menarik hati lawan jenis yang sedang kesepian, bagi mereka jomblo-jomblo yang mau berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan. 

Waktu begitu cepat berlalu. Sudah hampir tengah malam saja, terdengar dari atas suara beberapa langkah kaki. Beberapa teman yang kembali dari tracking, menyiapkan jalur dan pos untuk muhasabah sebelum shubuh nanti.

Mereka langsung kembali ke villa, mungkin mencoba untuk tidur agar staminanya tetap terjaga. Tapi dari arah villa, aku melihat dua teman bagian dari yang kembali dari tracking tadi, berjalan menuju ke arah tempat aku duduk sekarang. Sesampainya di hadapanku, mereka mengajak untuk tidak tidur malam ini. Berjaga dan ngobrol-ngobrol di dekat pintu gerbang saja.

Aku mengiyakan ajakan itu, tapi meminta mereka agar duluan berangkat ke gerbang. Aku mau mengambil jaket dulu, dan menyeduh kopi.

sumber gambar: kampoengjawi.com
Powered by Blogger.