Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Badai Itu Melemparkanku ke Pulau Tujuan.

Thursday, December 31, 2015

Namaku Umar, mahasiswa jurusan matematika, namun aku lebih suka dengan buku-buku filsafat dan tentang hal-hal berbau agama. Aku mengambil jurusan matematika, karena aku suka dengan hitungan, dan aku suka baca buku-buku agama dan filsafat, karena aku sadar bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa aku hitung dengan rumus matematika. Dan Riki, dia adalah sahabatku, sekarang ia sudah bekerja, sebagai lulusan psikologi, ternyata ia sama halnya dengan tai yang mengalir di sungai. Mengikuti arus! Sebagai lulusan psikologi dia seperti kebanyakan orang, berkarir di dunia HRD, bersyukur ia bisa menikmati pekerjaannya, meski ia masih berusaha mencari kebahagian di tempat lain. Sudahlah, bagamana pun juga Riki adalah sahabatku. Sahabat yang sempat aku lupakan.

Tahun ini adalah tahun terberat selama aku menjalani roda kehidupan ini. Skripsiku yang tak kunjung selesai, ditambah lagi dengan hubungan asmara yang selama ini aku bangun dengan penuh keyakinan, kini malah hancur begitu saja.

Tak kukira, semua yang aku perjuangkan kini hanya akan menjadi kenangan. Kenangan pahit! Dan dalam kondisi seperti ini, aku seperti menjadi pelaku sekaligus korban, karena aku yang memulai semua ini. siapa yang salah? Aku! Siapa yang yang menderita? Aku! Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu. Hidupku kini benar-benar hancur, pikiranku menjadi kacau.

“Rik, bunuh diri, dosa nggak” begitulah kira-kira pesan singkat yang kuketik dan kukirim kepada sahabatku, Riki.
Ndasmu” balasan pesan darinya seakan mengutuk apa yang aku pertanyakan.
 “Aku bingung, bro, rasanya pengen mati aja, tapi kepiye? Bunuh diri dosa”
“Besok kalau selo kita ketemu saja, kamu cuma lagi gila, banyak istighfar” jawaban Riki yang sepertinya menyakini bahwa aku akan baik-baik saja.

Sebagai lulusan psikologi, besar harapanku agar ia bisa membantu mengurangi beban di kepalaku.
***
Aku mengirim pesan singkat kepadanya untuk bertemu dengan Riki di tempat biasa aku berkumpul dengan teman-teman yang lain.
“Hik, tempat biasa bro” aku mengirim pesan singkat kepada Riki
“Sopo wae?” balasan dari Riki, aku sudah malas lagi untuk mengetik pesan singkat, segera aku meneleponnya.
Opo?” Terdengar suara Riki dari seberang ketika mengangkat teleponku
“Aku, dewean iki, cepet mrene
“Okey, segera meluncur”
Aku tahu Riki. Dia sebentar lagi akan datang, karena dia memang orang yang tidak suka menunggu, apalagi membiarkan temannya menunggu lama. Dan selang beberapa saat, suara sepeda motor terdengar, ternyata Riki baru memarkirkan sepeda motornya. Ia segera menghampiriku dan mengajakku untuk turun saja dan menempati tempat lesehan, dengan beralasan tikar. Aku memesan kopi hitam pekat tanpa gula, dan Riki memesan susu panas dan meminta Ibu penjual Hik untuk membuatkan indomie rebus.
“Gimana?” Sepertinya Riki sudah tidak sabar ingin mendengarkan apa yang menjadi beban pikiranku selama ini.
“Remuk, bro”
“Maksud e?”
“Aku putus?”
“Terus? Dulu nggak ada dia, semuanya juga masih tetap berjalan kan?”
Ndasmu!, Kamu nggak tau sih, Rik”
Aku memulai menceritakan dari awal hingga akhir perjalanan cintaku, perjalanan cinta yang membuatku lupa dengan sahabat-sahabatku, perjalanan cinta yang membuat waktu berkumpul dengan teman-temanku berkurang, semuanya aku jalani. Dan aku menikmati perjalanan cintaku, namun semua yang aku yakini sebagai masa depan, menjadi sesuatu yang menjadi kabur, aku seperti tidak memiliki masa depan. Ingin rasanya aku mati saja, tidak kuat aku menanggungnya.

“Mie rebusnya, Mas” suara dari penjual Hik yang mengantarkan indomie rebus pesanan Riki, seakan menjadi jeda bagiku yang sedang bercerita tentang segala hal yang menjadi beban di pikiranku.

Riki hanya mendengarkan saja, sambil menikmati indomie rebusnya, ketika aku bercerita. Dan ia malah mencoba untuk menasehatiku dengan segala pengalamannya tentang cinta, meski aku tahu bahwa pengalamannya tentang cinta masih sangat minim. Aku tahu Riki, dia masih latah dalam hal cinta.

“Kalau menurutku, cobalah untuk memaafkan semua, dan cobalah untuk merelakan meski itu berat, kalian sudah pacaran lumayan lama, apalagi kamu sudah kenal dengan keluarganya juga, dan aku yakin dia akan kembali lagi ke kamu”
“Sakit kamu, Rik” dia hanya tersenyum, ketika aku mengatakan hal itu
“Kalo menurutmu gimana?” dia mencoba bertanya kepadaku tentang apa yang aku lakukan dalam kondisi yang sudah “gila” ini.
“Aku hanya mengenal dua prinsip, Rik, kejar dia, atau hapus tentang dia, dan sepertinya aku lebih suka yang kedua”
“Tunggu dulu, maksud kamu, kamu akan “meng-install ulang” semua memori tentang dia?”
“Iya, ibarat komputer,  aku sudah terkena virus, pikiranku kacau, aku sudah tak bisa berpikir, logikaku benar-benar sudah tumpul. Dan jalan satu-satunya back up data-data yang penting terlebih dahulu, baru install ulang, dan aku juga akan meninggalkan kota ini, karena di kota ini adalah kota kenanganku dengan dia. Aku harus segera pergi dari sini” Ada sedikit keraguan di wajah Riki ketika aku mengatakan hal itu, aku tahu Riki orang yang sedikit lemah ketika menghadapi hal-hal yang sangat emosional. Nampaknya dia bukan hanya memikirkan keadaanku, tapi juga tentang dia, dia yang sudah membuatku benar-benar “gila”.

Malam itu aku dan Riki seperti sedang berdiskusi, dan karena diskusi itu juga kepalaku kini sedikit lebih ringan. Berbeda dengan sebelumnya, karena beratnya pikiranku hingga aku mengalami sakit kepala yang hebat dan aku mengirim pesan singkat kepada Riki agar dia menginap di kosanku, aku membaca surat yasin dan nampak Riki seperti sedang sibuk dengan laptopnya. Kala itu aku belum bercerita dengan Riki tentang apa yang sebenarnya terjadi.

***
Aku dan Riki menjadi lebih sering bertemu dan berdiskusi. Entah itu hanya sekedar nongkrong, maupun jalan-jalan ke gramedia atau toga mas. Sesekali pergi ke Kartasura untuk nobar di salah satu kafe dekat UMS.

Aku mulai menata kembali hidupku. Setidaknya aku harus membuat badai ini, bukan badai yang menghancurkan perahuku, namun badai ini membuat perahuku terlempar jauh ke sebuah pulau, dan pulau itu adalah pulau tujuanku. Aku menganggap apa yang terjadi padaku adalah sebuah pelajaran, aku menjadi teringat dengan hal-hal apa saja yang pernah aku lakukan terhadap orang-orang yang pernah pacaran denganku (mantan). Mungkin ini adalah karma yang harus aku jalani. Aku meminta maaf kepada orang-orag terdekatku, baik itu keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-temanku, dan orang-orang yang sering kutemui di kampusku, seperti tukang parkir dan penjaga kantin sekalipun.

Aku teringat dengan Riki, dia bahkan membuat project pribadi menuliskan segala hal tentang kegelisahan yang selama ini ia alami dan ia simpan rapat-rapat, dengan membuat semacam  kumpulan cerpen. Meski itu awalnya hanya untuk konsumsi pribadi, sebuah kumpulan cerpen dalam bentuk pdf yang berjudul “Ketika Jemariku Bercerita Menyatakan Cinta” itu, kini sudah ia publish di blog pribadinya. Menurutku ini sebuah pencapaian, karena ia sudah berani melakukan hal itu. Bercerita tentang kehidupan cinta pertamanya, sahabat semunya, kehidupan keluarga yang sebenarnya. Dan bagaimana ia mengalami kegelisahan ketika jatuh cinta dengan seorang wanita, hingga mengungkapkan cintanya melalui jemarinya yang menari-nari di atas keyboard laptopnya. Dan karena itu pula, aku membuat blog anonim untuk menuliskan semua ini, agar aku terbebas dari kegelisahan-kegelisahanku. 

Aku juga mulai mencoba untuk memulai lagi skripsiku yang sudah lama kutinggalkan. Kali ini aku memasang target agar aku segera lulus, dan bisa segera pergi meninggalkan kota ini. Aku mulai membaca buku lagi, hobi yang sempat kutinggalkan. Kini aku jadi lebih sering ke perpustakaan, atau pergi ke toko buku untuk mencari bahan bacaan yang menurutku menarik, apalagi kalau bukan tentang filsafat dan agama.
***
Badai itu ternyata benar-benar melemparkanku ke pulau tujuan, skripsi yang bisa dikatakan awang-awangen untuk mengerjakannya, ternyata bisa kelar juga dan tinggal mencari hari baik untuk melakukan sidang pendadaran. Aku sudah tak sabar lagi untuk sidang dan segera menyelesaikan kuliahku, dan tentu dengan itu aku bisa segera meninggalkan kota ini. Sepertinya kota ini adalah kota penuh kenangan, dan karena itu, kota ini adalah bagian dari install ulang yang harus aku lakukan.

Selesai sidang dan masih dalam proses revisi, sepertinya aku sudah bisa menjalani kehidupan dengan normal lagi. Dan ada yang membuatku merasa harus tetap di kota ini, meski pada awalnya aku merasa harus segera meninggalkan kota ini. Aku menceritakan kepada sahabatku Riki. Aku mengirimi pesan melalui BBM
“Sepertinya aku jatuh cinta lagi, Bro”
“Ha? Edan kamu, tunggu dulu” Riki membalas seakan tidak mempercayai hal itu, kemudian selang beberapa saat dia menelponku
“Eh, kamu jangan pernah coba menjadikan seorang wanita sebagai pelarian ya?” suara di seberang penuh dengan amarah. Aku tahu betul maksudnya, mungkin dia menganggapku bahwa aku melakukan tindakan yang menurut Riki adalah sebuah kesalahan, dia mengira bahwa aku mencoba melupakan seseorang dengan menghadirkan orang baru, dengan kata lain, mencari pelarian”
“Santai, bro, tenang, aku lanang, aku tahu rasanya sakit hati, aku tak mau membuat wanita sakit hati” Aku mecoba menjelaskan kepadanya.

Aku mulai menjelaskan kepada Riki, bahwa aku tetap pada keyakinanku bahwa aku harus segera meninggalkan kota ini, dan meyakinkannya bahwa aku serius, bahwa aku jatuh cinta lagi, dengan seorang wanita yang membuatku merasa adem ketika bertemu dengannya. Dan kalau dia jodohku, maka aku akan mengundang dan mengenalkannya kepada Riki bukan sebagai pacar tapi istri.


Aku mulai menyadari, bahwa takdir itu memang terkadang terasa pahit, namun bagaimana pun juga kita harus menjalaninya. Karena dibalik kepahitan itu akan ada saatnya berganti dengan yang manis.  Aku hanya mengikuti saja ketika badai itu datang, dan ternyata justru badai itu lah yang melemparkanku ke pulau tujuan. Karena itu, apapun yang terjadi aku nderek Gusti saja.

sumber gambar; laziswahdah.com