Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Mencari Kerja

Sunday, December 20, 2015
Mencari Kerja

Sarjana. Dari perguruan tinggi negeri ternama. Lulus cepat. IPK dengan pujian. Pun tidak ada yang menjamin segera mendapatkan pekerjaan. Harus tetap berusaha keras mencari kerja.

Banyak yang mengeluh demikian, kan?
Kebanyakan cowok lulus S1, langsung mencari kerja daripada melanjutkan S2 atau menikah. Walaupun ada. Nih, namanya Akhnan, langsung lanjut S2 (profesi). Aku banyak belajar dari sudut pandang cara berpikirnya (Kapan-kapan aku ceritakan tersendiri soal dia). Yang langsung menikah juga ada: Prapto.

Cewek pun banyak yang langsung mencari kerja. Tapi, prosentase cewek melanjutkan S2 lebih besar. Prosentase yang lanjut menikah lebih banyak (wong yang kuliah sudah menikah juga buanyaak). Yang nggilani, cewek, lulus kuliah, menikah iya, kerja iya. Memang benar woman is wonder.

Begitupun aku, mencari kerja juga akhirnya. Kok akhirnya? Iya, awalnya aku sangat ingin membuka usaha. Mulai dari semester 6, mencoba buka warung makan, tapi gagal. Banyak halangan yang sangat berlembar-lembar kalau dituliskan, heuheu. Setelah itu aku memutuskan untuk menyelesaikan kuliah dulu.

Selesai kuliah aku kembali dengan niat lamaku yang terpending. Buka usaha lagi.

Kebetulan Bulek ku di Bantul sukses dengan toko mebelnya. Aku lalu ditawari untuk membuka toko mebel. Di Bantul juga. Dengan nama toko yang sama tapi dengan pengurusan dan modal sendiri-sendiri.

Selesai sidang dan revisi skripsi, aku pindah ke Bantul. 100% jadi pedagang mebel. Bersama adik pertamaku, Putri (yang mandeg kuliah karena juga tergiur bikin usaha). Kami berkolaborasi sampai kira-kira 3 bulanan. Dan…gagal lagi!

Aku memutuskan untuk mencari kerja. Adikku kuliah lagi.

Kenapa sangat ingin membuka usaha? Haha, jujur karena kemakan kata-kata motivator. Dari buku-bukunya. Dari seminar-seminarnya. Sepertinya semua orang pernah merasakan.

**

Banyak yang merasa mencari kerja susah. Ke sana ke sini setiap ada job fair. Masukin banyak lamaran. Ada yang dipanggil, ada yang tidak. Kalau dipanggil, ikut psikotes, tapi tidak dipanggil lagi tahap selanjutnya. Uuuggh….

Tapi yang baru selesai sidang skripsi, nyoba-nyoba apply lowongan, terus ketrima, ada.

Bukaan PNS, mendaftar bareng teman sekampus. Melengkapi administrasi bareng. Berangkat tes bareng. Tapi teman kamu ketrima, dan kamu tidak. Padahal dia yang saat kuliah dulu setiap ujian, selalu nyontek ke kamu.

Iri? Wajar kok, namanya manusia. Itulah perjalanan hidup. Masing-masing memiliki ceritanya sendiri. Dan poin pentingnya, keberuntungan itu nyata!

Aku pernah merasakan itu , usaha kesana kesini membawa CV dan surat lamaran. Softfile dan hardfile. Nggak cuma sekali, tapi berkali-kali.

Setiap ada lowongan di internet, aku apply. Kalau tidak puas hanya mengirim via email, aku kirim via POS.

Berangkat setiap ada jobfair. Setiap hari rajin buka situs penyedia lowongan. Download jobstreet sampai linked di playstore. 

Sering-sering buka email, kalau-kalau ada email panggilan. Dan misal ada balasan pun, sungguh, senangnya bukan main. “Harapan” aku kira.

Yang selalu aku hindari dalam pikiranku adalah mengeluh. Pikiran bahwa mencari kerja itu susah. Capek. Buang-buang waktu.

Aku memakai prinsip petani. Tandur terus, masalah panen, kui kersane Gusti Allah. Begitu terus. Semua aku lakukan. Dunia maya dan dunia nyata 'ditanduri' semua. Masalah 'panennya' kapan dan seberapa hasilnya, itu baiknya buang-buang jauh dari pikiran.*

Aku percaya Allah melihat usaha hambaNya. Pada akhirnya juga dipertemukan, pekerjaan itu dengan kamu yang sedang mencari kerja.

Kalau sudah ketrima, lelahnya mencari akan terasa begitu nikmat. Tinggal, yang paling membuat bingung, adalah bagaimana caranya bersyukur. Pun seringnya malah lupa. Tabiat manusia!

**
Notes:
Aku punya pegangan (prinsip dasar pribadi). Tidak semua perusahaan aku lamar. Ada pertimbangan perusahaan apa, bidang apa, dan di mana tempatnya.

Sumber gambar: http://blog.lowongan.id/