Ads Top

Merasa Termotivasi

Merasa Termotivasi

Pak Hou mengambil secarik kertas, lalu menulis di bagian yang masih kosong, 3 huruf besar-besar: M-A-U.

“Coba kamu baca ini!”, perintah Pak Hou sambil menunjuk 3 huruf yang membentuk sebuah kata yang ditulisnya.

“Mau”, baca saya.

Lalu Pak Hou menambahkan sebuah garis di antara huruf A dan huruf U.

“Sekarang kamu baca!”

“Malu”

“Benar, hanya karena sebuah garis ini (sambil menunjuk garis yang dimaksud), ‘mau’ berubah menjadi ‘malu’.”

**

Percakapan itu terjadi akhir November lalu antara Pak Hou dan saya.

Siapa Pak Hou itu?

Hou adalah singkatan dari Head of Unit. Jadi, Pak Hou adalah orang yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan tempat saya bekerja untuk unit/cabang Sragen.

Saat itu saya sedang membuat rekapan penilaian kinerja seluruh karyawan. Perlu saya sombongkan, bahwa penilaian kinerja ini sifatnya rahasia setiap karyawan. Yang boleh tahu hanya karyawan yang bersangkutan dengan atasannya, dan…saya. Haha

Bagi karyawan yang kesulitan dalam membuat PK (karena ada format baru), maka saya lah yang membantunya.

Tibalah saatnya. Pagi itu, hari jumat, saya ditelpon Pak Hou diminta untuk ke ruangannya. Intinya, saya dimintai tolong untuk membuatkan PK Beliau.

Dari tulisan tangan, saya diminta untuk membuat print out-nya sesuai dengan format.

Lalu saya turun, membuatkan PK Pak Hou di ruangan saya. Setelah selesai saya naik lagi ke ruangan Beliau.

Saya diminta duduk.

“Karena kamu baru, maka aku mau kasih nasehat ke kamu”, Beliau membuka percakapan.

Dan terjadilah percakapan yang lumayan lama dan berisi. Dan salah satu isi percakapannya seperti di atas itu.

Saya khusyuk menyimak. Sesekali mengangguk dan memberikan umpan balik.

Intinya…

Pak Hou bercerita tentang jejak hidupnya. Beliau selalu berusaha jadi yang terbaik.

Beliau lahir dari keluarga yang tidak mampu. Tapi keinginan sekolahnya menggebu-gebu.

Beliau cerita sewaktu SD pindah sekolah 3 kali. Itu permintaan beliau sendiri untuk mendapatkan sekolah yang benar-benar terbaik.

Prinsipnya, harus bisa menjadi juara satu. Kalau tidak memungkinkan (karena saingannya terlalu ketat di sekolah favorit), targetnya diturunkan, harus bisa 5 besar. Kalau masih ketat lagi, turun lagi, harus bisa 10 besar.

Beliau juga memberikan nasehat dalam bekerja.

Jangan sampai malu bertanya. Kalau tidak bisa, atau ragu dengan pekerjaanmu, bertanyalah. Ke atasanmu atau ke rekan kerjamu yang lebih tahu.

Beliau menjelaskan akibat dari rasa malu, seperti di awal tulisan ini.

Rasa malu akan menghambat. Harusnya kamu bisa mencapai banyak hal, tapi karena kamu malu, jadinya kamu tidak tahu banyak dan tidak bisa banyak. Padahal dalam dirimu sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa.

Kamu harus selalu aktif. Kamu harus mau disuruh kerja apa saja. Kalau sudah selesai dengan pekerjaan, datangilah atasan, minta pekerjaan yang lebih menantang.

Jangan terpengaruh dengan teman-temanmu yang santai-santai kalau sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya. Kamu harus punya prinsip.

Beliau juga bercerita, bahwa dulu mulai bekerja dari bawah. Lalu bisa seperti sekarang, jadi Hou. Sudah masa pensiun tapi masih dipercaya untuk memimpin.

**

Sebenarnya masih banyak yang beliau ceritakan. Tapi 3 poin itu yang saya catat. Mau melakukan apa saja, tidak malu melakukan apa saja (tidak malu bertanya juga), dan menjadi yang terbaik.

Saya beranikan diri untuk menyela Pak Hou. Saya ada rekruitmen pukul 9. Saya katakan akan kembali lagi untuk menyelesaikan PK beliau sebelum jumatan.

Lama saya merenungkan nasehat Pak Hou itu.

Poin mau dan malu sangat mudah diingat dan diterapkan. Setiap saya mengalami kendala dalam pekerjaan, saya langsung ingat nasehat itu.

Jangan malu bertanya!

Segera saya tanyai siapa saja. Termasuk orang di luar departemen saya.

Pada poin menjadi yang terbaik saya merasa agak terganggu. Kok bertentangan dengan ngajiku selama ini ya (wkwkw ngaji?).

Yang saya pegang selama ini. Menjadi terbaik maka harus ada orang yang dikalahkan, harus ada orang yang tidak lebih baik.

Saya mencari sudut pandang yang lebih tinggi, agar poin nasehat itu tetap menjadi ilmu.

Saya ingat potensi diri yang luar biasa karena kemauan dan tidak malu. Lalu saya coba terapkan untuk menjadi yang terbaik.

Jadi yang harus dilakukan adalah terus berusaha sebaik mungkin yang bisa dilakukan. Berusaha sekeras mungkin melebihi batas kemampuan.

Menggali diri sedalam-dalamnya agar potensi-potensi yang tersembunyi bisa terlihat. Lalu mengasah potensi itu terus-menerus,

Dan kalau akhirnya berada pada posisi yang terbaik, bukan lagi karena mengalahkan orang yang paling baik, tapi karena telah menemukan dan mengenal diri sendiri.

Poin menjadi yang terbaik pun tidak bertentangan lagi. Justru cocok dengan hadist ‘Man arafa nafsahu,…’. Barang siapa mengenal dirinya…

**

Saya tersanjung mendapatkan nasehat privat dari orang nomor satu di perusahaan.

Sudah lama saya tidak bersemangat menaklukan dunia. Sampai saya dikatakan hidupnya datar.

Buku dan kata motivator sudah tidak ngaruh lagi bagi saya. Tapi, kini tiba-tiba saya ‘melek’ lagi, merasa termotivasi…(*)
Powered by Blogger.