Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Di Kereta Itu. . .

Thursday, January 21, 2016


Suara di seberang sana tiba-tiba terputus di tengah percakapan kami. Waktu aku lihat, ternyata kami sudah lumayan lama mengobrol lewat sambungan telepon, kurang lebih sekitar 20 menit. Ada dua kemungkinan kenapa tiba-tiba sambungan telpon kami terputus, kalau bukan baterainya habis, ya pulsanya yang habis. Dan aku tidak akan menelponnya balik untuk memastikan hal itu. Karena haram bagiku ketika sedang di rumah membicarakan headcount, man power plan dan masalah turn over. Iya, apalagi kalau bukan masalah pekerjaan. Kala itu, aku juga ada agenda ke togamas, Solo untuk mencari sebuah buku. Pikirku masalah pekerjaan akan lebih baik jika dibicarakan di tempat kerja saja.

Tidak jarang juga aku tidak membalas pesan singkat dari karyawan yang tiba-tiba sms nyelonong tanpa permisi atau memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Bukannya sombong atau apa, tapi aku menganggap bahwa masalah pekerjaan akan lebih baik jika diselesaikan ketika di tempat kerja.

Sore itu, aku segera memasukan barang-barangku, seperti handphone, powerbank serta dompet, ke dalam tas kecil yang biasa aku bawa ketika bepergian. Aku segera menuju ke togamas, Solo dengan mengendarai motor matic-ku. Kali ini, aku sedang tidak ingin mampir-mampir, ke tempat teman yang masih di Solo, mampir ke kedai roti bakar Lambemoo, atau sekedar ke warung susu segar. Aku sedang tidak ingin menziarahi masalalu dan tenggelam lagi dalam kenangan, seperti kala Hujan, Kedai lambemoo dan kenangan. Aku hanya ingin ke togamas saja, mencari buku yang aku inginkan, kemudian pulang.

Kali ini aku lewat jalan Kartasura. Jalanan sedang tidak begitu ramai, hanya ramai dan macet ketika berada di lampu merah pertigaan dekat pasar Kartasura. Kemudian dari depan Solo Square sampai di pertigaan dekat RS Panti Waluyo juga terlihat penuh sesak oleh kendaraan. Aku terus melaju dengan kecepatan yang tidak begitu cepat, namun juga tidak pelan juga. Sedang-sedang saja, rata-rata hanya dengan kecepatan 60 km/jam.

Perjalananku sedikit terganggu ketika palang kereta tiba-tiba menghadang laju kendaraanku dan pengendara lain. Aku berhenti tepat di belakang palang kereta api. Kala itu, aku tidak menyumpal telingaku dengan headset untuk mendengarkan lagu-lagu yang tersimpan di handphone-ku. Suara sirine saat palang kereta menghadap terdengar begitu jelas. Aku melihat arah dari kanan dan kiri, memastikan dari arah mana kereta itu tiba. Aku melihat ke arah stasiun purwosari, nampak sorot lampu kereta yang hendak melaju, yang semakin lama semakin mendekat. Kereta lokal menuju Jogja dengan laju tidak begitu cepat, perlahan melintas memotong jalan. Iya, kereta prameks dengan gerbong yang tidak panjang namun terlihat penuh sesak oleh penumpang.

Melihat deretan gerbong prameks yang tidak begitu panjang dengan laju yang bisa dibilang pelan itu. Aku jadi teringat dengan perjalananku menuju Jogja kala itu. Perjalanan yang merupakan pengalaman pertamaku pergi ke Jogja dengan kereta. Karena biasanya aku lebih suka mengendarai motor ketika hendak ke Jogja.

Aku masih ingat ketika aku hendak pergi ke jogja, sorenya aku membeli tiket, kemudian aku berangkat sehabis sholat magrib. Aku menghubungi Johan yang kala itu singgah di Bantul, tepatnya pada sebuah ruko yang terlatak di jalan Parangtritis.

Aku menghubungi Johan, agar berkenan menjemputku di stasiun tugu, serta berkenan untuk memberiku tumpangan barang semalam saja. Dan tentu aku juga berharap ia mau mengantarku pagi-pagi untuk ke stasiun tugu lagi, karena aku mendapat telepon dari rumah agar segera pulang keesokan harinya. Keesokan harinya, ibuku akan mengadakan acara syukuran. Aku tidak tahu dalam rangka apa syukuran itu. Kelulusan kuliah kah? Rasa-rasanya bukan!

Aku sampai di stasiun lima menit sebelum keberangkatan. Ketika aku sedang memarkirkan motor, nampak sudah ada kereta di barisan keberangkatan. Sengaja aku datang menjelang keberangkatan saja, karena menunggu adalah hal sangat melelahkan. Sepertinya halnya rindu kepada sang kekasih.

Aku memasuki gerbong kereta, dan terlihat masih sepi. Aku menuju di tempat duduk yang masih kosong. Aku duduk di dekat jendela kereta. Tak lama kemudian ada dua Bapak-bapak duduk tepat di depanku, nampak mereka baru pulang bekerja. Waktu aku tanya, pulang pergi dengan kereta adalah bagian dari rutinitas yang harus mereka jalani. Nampak wajah-wajah sedang kelelahan. Mereka sering  memanfaatkan waktu di kereta untuk beristirahat. Ia memilih tidur ketika kereta sudah mulai berjalan pelan menuju Jogja.

Kereta berhenti lagi di stasiun purwosari. Penumpang mulai ramai, ada yang pulang kerja, nampak juga mahasiswa-mahasiswa yang sedang merindukan rumahnya, serta tidak sedikit pula orang-orang yang hanya sekedar main ke Jogja seperti yang kulakukan.

Seorang wanita yang usiaku kira-kira seusia dengan kakakku, tiba-tiba dari depan menuju ke tempatku, yang kebetulan kursi di sebelahku masih kosong. Aku yang awalnya menyumpal telingaku dengan headset untuk mendengarkan lagu-lagu sendu untuk mengiringi perjalananku pun harus aku lepaskan. Ia berkata “Permisi, Mas, kursinya masih kosong?” aku hanya menganggukan kepalaku sambil melempar senyum sebagai isyarat mempersilakan duduk di kursi sampingku yang masih kosong.

Awalnya aku tetap menyumpal telingaku dengan headset dan ia sibuk dengan smartphone-nya. Dan nampak seorang yang duduk bersampingan namun memiliki dunia yang berbeda. “Satu kursi dua dunia!” Pikirku, yang kemudian aku mulai melepas headset di telingaku dan mulai mengajaknya untuk saling mengobrol.

“Pulang kerja atau kuliah?” pertanyaanku yang mencoba untuk memulai obrolan serta berusaha untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia sosial!

“Owh, dari UNS Mas, ambil legalisir sekalian main sama teman-teman kampus” Jawabnya dengan ramah kepadaku.

Kami berdua menjadi saling ngobrol lebih akrab, nampak ia adalah seorang wanita yang supel. Sesekali kami tertawa lepas karena terbawa obrolan, hingga lupa bahwa di depan kami sedang tertidur pulas karena kecapekan. Kami mulai saling bercerita, dan aku banyak mengetahui tentang dirinya.

Ia adalah orang asli Magelang yang bekerja di Galery Indosat, Jogja, sebagai Custumer Service. Kebayang bagaimana standar tampang harus diterapkan untuk posisi itu bukan? Ia adalah lulusan Ekonomi Akuntansi UNS. Ia juga bercerita bahwa ia diterima di UNS lewat jalur undangan PMDK. Menambah lengkap sifat duniawi yang tersemat pada dirinya. Cantik dan cerdas!

Ia mulai bercerita bagaimana ia awalnya hidup sebagai anak kos di Solo, kemudian mulai nyaman di kota kecil itu. Selain itu, ia juga tipe cewek yang pekerja keras. Karena ia juga bercerita bagaimana ia memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang produktif, yaitu bekerja part time di Starbuck Coffe, Solo Paragon.

Kemudian setelah lulus ia mulai menjadi joobseeker, yang terus mendatangi dari jobfair ke jobfair. Ia bercerita bagaimana ia pergi ke jobfair hanya sekedar untuk ajang berkumpul dengan teman-teman kuliahnya. Pamitnya aja ke jobfair, namun di jobfair paling hanya satu jam, apply CV kemudian setelah itu berjam-jam malah main dengan teman-temannya. Dan di jobfair UGM ia menemukan pekerjaannya saat ini, yaitu sebagai CS di Galery Indosat, Jogja.

Kemudian ia juga menasehatiku yang kala itu bisa dibilang masih pengangguran yang bersembunyi di balik status mahasiswa, “Sering-sering main ke jobfair aja, di sana malah banyak peluangnya, daripada masukin lamaran informasi di koran, hanya ditumpuk tanpa jelas ujung pangkalnya bagaimana nasib CV kita”

***
Kereta sudah mendekati stasiun tugu, nampak penumpang sudah berdiri dan segera turun. Aku masih di tempat duduk menunggu agak sepi, Johan juga sudah sms, bahwa ia sudah menunggu di luar. Aku keluar dari kereta dan nampak Johan sudah menunggu di ujung stasiun. Sebelum aku menuju ke tempat Johan menungguku, aku menghampiri cewek itu, karena meski kami sudah ngobrol akrab kami belum sempat berkenalan. Aku mulai berkenalan dengannya. Aku mengenalkan diriku, dan dia juga mengenalkan dirinya pula. Namanya Nadia. Dan hanya itu saja. Mungkin hanya itu saja pertemuanku dengannya. Setelah itu? aku tidak tahu!

Aku menuju tempat Johan yang sudah nampak bosan menunggu. Ia kemudian mengajakku mampir di sebuah warung angkringan untuk menikmati malamnya Jogja sambil menyruput kopi joss, beberapa nasi kucing, serta gorengan. Di angkringan pinggir jalan, kami mendapat hiburan khas jalanan, yaitu seniman-seniman jalanan yang menjual lagu secara eceran. Namun ada juga yang sengaja request satu lagu full, tentu dengan imbalan yang berbeda.

Bisa dikatakan aku tiba di jogja terlalu malam. Apa yang menjadi rencanaku, aku urungkan. Jadilah kami hanya muter-muter sebentar di malioboro, kemudian mengambil motor di parkiran untuk kemudian menyusuri jalanan Jogja di malam hari, sebelum kami memutuskan untuk berisitirahat di sebuah ruko, di jalan Parangtritis. Iya, aku numpang tidur di sana, sekaligus dengan fasilitas mengantarkanku ke stasiun tugu lagi pagi-pagi. Aku merasa sebagai tamu yang kurang ajar kali ini, karena hanya merepotkan saja.

***
Pagi-pagi aku dibangunkan oleh suara alarm handphone, waktu kulihat sudah pukul 04.30. Aku sholat subuh, kemudian sekalian numpang mandi. Pagi-pagi aku sudah menuju ke stasiun tugu, pikirku aku bisa menggunakan kereta prameks yang paling pagi.

Sampai di stasiun tugu ternyata aku harus menunggu untuk beberapa saat. Calon penumpang di stasiun tugu pagi itu tidak terlalu ramai, di stasiun masih terlihat sepi. Sebenarnya aku sudah lapar dan ingin membeli sarapan terlebih dahulu, namun sepertinya sebentar lagi kereta akan tiba.

Kereta prameks yang kutunggu nampak sudah tiba di jalur keberangkatan. Aku dan penumpang lainnya masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk. Ketika aku masuk ke gerbong, ada kursi kosong di dekat pintu, langsung saja aku menempatinya.

Kereta yang awalnya masih sepi itu pun, tiba-tiba menjadi ramai ketika berhenti di stasiun berikutnya, aku tidak begitu memperhatikan nama stasiun tersebut. Ada seorang laki-laki dengan style Islami lengkap dengan baju koko sampai lutut, peci, serta jenggotnya. Jujur di tengah pemberitaan tentang aksi teroris, aku sebagai orang islam ternyata juga terpengaruh terhadap pemberitaan media.

Kemudian laki-laki itu, mengucapkan salam dan segera aku jawab salam darinya. Awalnya kami tidak bertegur sapa, aku yang sibuk dengan handphone-ku karena aku sudah tidak tahu mau mengobrol dari mana, mengingat pengetahuanku tentang agama masih sebatas hafalan tanpa tahu maknanya.

Aku melihat ke samping, nampak ia sedang ber-dzikir, aku lihat di jari telunjuk kanannya ada semacam cincin, dan waktu aku perhatikan ternyata semacam tasbih digital.

Laki-laki itu, kemudian mengajakku ngobrol, ia mulai bertanya kepadaku “Kemana, Mas?”
“Mau kembali ke solo”
“Kuliah atau kerja?”
“Cuma main, kok, Mas”
“Maaf, sampeyan, Islam?” Dan pertanyaan yang membuatku langsung berpikir negatif tentangnya. Aku bahkan sempat mengira bahwa dia adalah bagian dari Islam radikal seperti apa yang diberitakan media. Namun segera aku mengembalikan kesadaranku dan berusaha berpikir lebih positif untuk menghilangkan ketakutanku.
“Iya, Islam!” jawabku dengan penuh keyakinan. Namun kemudian ia bertanya kepadaku lagi
“Sholat?” Ia seakan menyakinkanku tentang ke-Islamanku.
“Sholat, lah” Jawabku
“Alhamdulillah”

Lelaki itu kemudian bercerita, bagaimana kondisi saat ini banyak orang yang mengaku islam, namun masih aras-arasen dalam menjalankan ibadah wajib, seperti sholat. Dan yang membuat aku sedikit tahu tentangnya ketika ia mulai bercerita tentang kehidupannya di masalalu.

Ia bercerita kepadaku betapa ia pernah merasakan manisnya dunia. Sering berganti-ganti mobil, motor sport, seperti kawasai Ninja. Dia juga bercerita bahwa betapa gampangnya ia dulu mencari uang. Ia bekerja sebagai bartender, bukan hanya di Indonesia, pernah sebagai bartender di pelayaran, serta di luar negeri, tepatnya di Italia.

Ketika ia memutuskan pulang ke kampung halamannya, ia merasa sudah punya segalanya, seperti mobil, rumah, motor sport. Namun, dia tidak pernah merasa bahagia. Dan titik baliknya adalah ketika rumahnya terbakar, kemudian menyadari apa yang ia punya begitu mudahnya habis begitu saja. Dan di sela-sela itu ia bercerita “Bersyukur juga, hartaku terkuras bukan karena sakit, tapi karena hal-hal lain, dan hingga saat ini aku masih diberi kesehatan”

Dia semakin sadar, bahwa jalan hidup yang ia jalani selama ini, salah!. Pekerjaan sebagai bartender yang dekat dengan kemaksiatan, ternyata menghasilkan harta yang menurutnya tidak berkah. Dia juga mengatakan bahwa ia tidak menyesal jika kondisi ekonomi saat ini berbeda jauh ketika ia bekerja sebagai bartender. Justru ia malah bercerita kepadaku bahwa saat ini tidak begitu silau dengan harta, alasannya ia pernah memiliki segalanya. “Aku sudah nggak silau lagi dengan harta, mobil? bahkan aku pernah ganti-ganti mobil, motor ninja? sama aja sama motor lainnya, malah sekarang di hati tenang meski hanya memakai motor bebek Supra X 125”

Ia bertemu dengan temannya dan diajak untuk mengikuti pengajian, dan di pengajian itulah ia memperdalam ilmu agama Islam, aku lupa apa nama jamaah pengajiannya. Dan di dalam pengajian itu pula ia mulai belajar berdakwah dengan cara mengajak. Berdakwah di dalam lingkungan keluarganya agar senantiasa menjaga sholat lima waktu. Kemudian ia sengaja bertamu di tetangga ketika menjelang magrib, dan ketika terdengar suara adzan magrib barulah ia mengajak yang punya rumah untuk pergi ke masjid sholat magrib berjamaah. Dia berpikir dakwah itu yang simpel-simpel saja, yang penting ajeg.

Kemudian ia juga bercerita, pernah membantu temannya menjaga warung makan di dekat kampus UGM, ia dipercaya sebagai kasir di warung makan tersebut. Awalnya dia sangat cocok bekerja di sana, karena ada sebuah aturan yang tidak tertulis, bahwa ketika jam sholat segera saja ke masjid sholat berjamaah. Dan sebelum pergi ke masjid, biasanya ia akan memberitahu pengunjung terlebih dahulu untuk menunggu sebentar. Kalau tidak mau menunggu, dipersilakan untuk membeli makanan di warung lain saja. Dan anehnya, justru warung itu malah semakin ramai. Ia juga heran ketika menceritakan hal itu kepada aku. Dan ia juga bercerita bahwa ia harus keluar dari pekerjaan di warung makan hanya karena ia sering bertemu dengan pengunjung wanita. Bisa dibilang, semakin lama, kebanyakan pengunjung di warung itu adalah mahasiswi. 

Dia juga bercerita bahwa saat ini sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang masih kecil. Sekarang ia memilih usaha menjual mainan anak-anak. Dan kali ini, ia ke Solo untuk belanja kebutuhan tokoknya. “Rejekinya kecil tidak apa-apa, yang penting barkah” begitu katanya.

Terlalu asik mengobrol tak terasa sebentar lagi sudah sampai stasiun purwosari. Sebagian besar penumpang di gerbong tempat aku duduk, segera berdiri serta mempersiapkan diri untuk turun. Laki-laki yang duduk di sampingku pun juga segera turun ketika sampai di stasiun purwosari. Dia mengucapkan salam dan menjabat tangan aku. Dan aku lupa siapa nama laki-laki tersebut.

***
Aku terkaget oleh klakson dari mobil di belakangku, aku tersadar dari lamunan dan segera menarik gas menuju ke togamas.  Jalanan yang ramai lancar, aku merasa berutung karena selalu bertepatan dengan lampu hijau. Ketika sampai di perempatan dekat RS Slamet Riyadi, segera aku mengambil kanan dan ketika tepat lampu hijau, segera aku masuk ke togamas.

Sekitar satu jam aku di togamas, mencari-cari buku yang sedang kucari serta membaca-baca buku lain yang sekiranya menarik untuk dibaca, sebagai bahan bacaan di waktu selo. Namun, kala itu aku tidak menemukan buku yang kucari. Aku memutuskan untuk langsung kembali pulang.