Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Jedug Cetar Pemberitaan Media Daring Menyambut Tahun Baru.

Tuesday, January 12, 2016

Meski tahun 2016 sudah menginjak hari ke 12, namun tidak ada salahnya saya memposting tulisan ketika saya lebih memilih merayakan tahun baru dalam kesunyian, menjauh dari keramaian dan sumpeknya jalanan.

Ternyata bukan hanya jedug cetar kembang api dan tiupan terompet yang mewarnai perayaan untuk menyambut tahun baru kemaren. Tetapi ada juga beberapa pemberitaan yang ramai di linimasa menjelang awal tahun baru kemarin. Mungkin hal ini juga masih dibicarakan hingga saat ini, entah itu masih di linimasa juga, obrolan-obrolan di angkringan, atau setidaknya di pikiran saya sendiri yang seperti belum bisa move on dari tahun 2015. Pemberitaan-pemberitaan tersebut diantaranya adalah:

Tulisan Pak Bre Redana yang berjudul “Inikah Senjakala Kami. . . ” yang dimuat dalam harian kompas di penghujung tahun 2015 kemaren, ramai dibicarakan, bahkan tidak sedikit yang mengkritik tulisan tersebut. Tulisan tersebut adalah kegelisahan seorang wartawan senior terhadap nasib media cetak ditengah gerusan media digital, atau media dalam jaringan (media daring). Kegelisahan yang wajar menurut saya, ditengah zaman yang menuntut serba cepat, media cetak dianggap tidak mampu memenehui hal tersebut. Sebut saja mingguan tempo yang menghentikan versi cetaknya, dan kini hadir dalam bentuk pdf. Kemudian Harian bola, bahkan sudah jauh-jauh hari kukut, disusul Jakarta Globe, kemudian Sinar Harapan. Hal ini mengingatkan saya, bagaima kaset yang perlahan tapi pasti diganti dengan kepingan CD, kepingan-kepingan CD berganti dalam bentuk musik digital yang bisa kita download, bahkan secara gratis. Dan saat ini banyak artis yang lebih memilih mengeluarkan album digital yang kemudian dijual di i-tunes, meski tidak memungkiri pula ada juga yang masih berjualan CD di warung ayam goreng.

Kasus Saut Situmorang yang dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik, sebagai akibat dari komentarnya di facebook mengenai buku “33 Sastrawan yang paling berpengaruh di Indonesia” yang menjadi polemik, karena “diduga” ada penumpang gelap dalam buku itu. Sengaja saya menggunakan kata “diduga”, main aman Bos, maklum cicilan motor saya belum lunas. Kini memasuki babak baru yang sebentar lagi akan memulai persidangan. Bahkan minggu lalu seniman-seniman Jogja menggelar aksi pengumpulan dana dengan tajuk #SaveSaut untuk membantu dalam proses advokasi, yang kemungkinan akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena menurut mereka, perdebatan sastra tidak sepatutnya diselesaikan di meja hijau, namun juga harus diselesaikan di wilayah sastra.

Kemudian menjelang tahun baru, publik juga digegerkan oleh terompet, tapi saya sedikit bisa bernafas lega ketika terompet itu bukanlah terompet sangkakala. Penemuan sampul Al Quran di terompet seperti sudah menjadi bagian dari polemik tentang meniup terompet saat tahun baru itu sendiri. Jadi bukan hanya pesta kembang api yang akan menyambut tahun baru, namun ada sebagian manusia kurang piknik sibuk ngurusi orang niup terompet.

Dan yang membuat saya sedikit sumringah, ketika Chelsea yang belum bisa menemukan performa terbaiknya hingga terpuruk di klasemen sementara liga Inggris, yang berakibat pada pemecatan sang pelatih The special one. Sebagai fans Arsenal karbitan pun, saya hanya ingin mengucapkan turut bersuka cita.


Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya tulis, namun saya sedang tidak ingin menulis kaleidoskop tahun 2015. Dikira saya pengangguran? Saya juga punya kesibukkan! Sebagai seorang buruh di balik meja yang sedang sibuk mikirin man power. Iya, sebagai HRD, tentu saya sedang sibuk mencari karyawan untuk memenuhi kebutuhan SDM perusahaan di tempat saya bekerja, hingga lupa mencari pendamping hidup saya sendiri.

sumber gambar; kembangapiku.com