Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Kamu dan Kopi

Saturday, January 23, 2016
sumber gambar

Aku bukanlah pecinta kopi, aku hanya suka minum kopi. Udah gitu aja! Aku tidak paham dengan kopi apa yang kuminum. Arabika kah? Atau robusta kah? Aku tidak paham itu! Yang kutahu hanya kopi, minuman hitam pekat, itu saja. Ketika pagi hari, entah itu sedang di rumah, atau ketika sedang dinas pagi di kantor aku akan menyempatkan waktu untuk ngopi, ya setidaknya secangkir kopi lah, meski perut masih dalam keadaan kosong sekalipun. Betapa bahagianya aku yang tidak memiliki riwayat sakit maag, sehingga aku tidak khawatir dengan asam lambungku akan naik ketika meminum kopi dalam keadaan perut masih kosong.

Awalnya aku mengenal kopi dari orang-orang terdekatku. Aku masih ingat betul, ketika itu aku masih kecil, orang-orang terdekatku, termasuk Ibu, memiliki rutinitas minum kopi atau ngopi di pagi hari. Dan di situlah aku mulai penasaran dengan kopi. Bagaimana rasanya minuman panas berwarna hitam pekat itu, hingga banyak orang yang menyempatkan waktu di pagi hari untuk meminumnya.

Namun ketika aku ingin mencobanya. Mereka selalu membuat alasan, bahwa aku tidak boleh minum kopi, karena aku masih kecil. “Besok kalau udah gede, baru boleh minum kopi”. Aku yang masih kecil pun hanya mengiyakan saja ucapannya. “Aku pengen cepet gede, biar boleh minum kopi”. Begitulah masa kecilku yang dikelilingi oleh mereka penikmat kopi, terutama ibuku, Ibu yang dari dulu tinggal di Sumatera, setiap pulang ke Solo tidak pernah lupa untuk membawa kopi dari Sumatera.

Pertama aku mengenal rasa kopi, aku meminum kopi hitam pekat yang sebenarnya untuk suguhan para tamu, namun karena yang membuat kelebihan satu, jadi aku yang meminumnya. Waktu pertama kali aku meminum kopi, yang kurasakan adalah manis. Jadi hingga aku dewasa pun, yang namanya kopi, ya rasanya manis. Ditambah lagi dengan banyaknya kopi-kopi yang beredar saat ini dengan variasi rasa, membuat keyakinanku semakin terpatri bahwa kopi itu manis. Bukan pahit!

Namun sejak pertemuan dengan seorang teman. Keyakinanku tentang kopi pun semakin runtuh. Ketika itu, aku diajak oleh temanku ke sebuah kedai kopi, aku yang kebetulan tidak ada agenda lain pun, menuruti keinginan temanku tersebut.

Seperti biasa ya, Mas ia mulai memesan kopi, Nampak ia sudah sering berkunjung ke kedai mungil itu. Kedai itu hanya berukuran kecil, hanya ada 4 meja kecil, yang setiap mejanya terdiri dari 4 kursi yang mengelilinginya. Bisa dikatakan kedai tersebut tidak begitu ramai, namun nampaknya sudah punya pelanggan tetap.

“Kamu suka kopi juga? Tenang kali aku yang traktir deh”
“Iya, sama aja”.
Jujur aku tidak tahu dengan kopi apa yang ia pesan, pikirku yang kami pesan adalah kopi hitam pekat seperti yang aku minum sehari-hari. Ia mulai bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, tentang hobi, kemudian tentang hubungan percintaannya, iya begitulah ketika orang sudah mulai nyaman, mereka akan secara tidak sadar sebuah obrolan itu akan menuju pada sebuah topik yang bernama “curhat”. Ya, begitulah wanita, dikasih pundak, langsung bersender. hehehe

Tiba-tiba pelayan pun datang seakan menyela obrolan kami. “kopinya” suara Mas-mas penjaga kedai yang membuat obrolan kami jeda sesaat.
“Diminum dulu kopinya yuk, mumpung masih panas”
Aku perhatikan ada ritual khusus yang ia lakukan sebelum menyeruput kopinya. Ia menutup matanya dan menghirup kepulan asap yang ke luar dari air kopi panas tersebut, seperti halnya dengan berdoa sebelum makan.

“Hey, malah bengong! Kopinya itu, keburu dingin” Ia sepertinya tahu bahwa aku sedang memperhatikannya ketika ia sedang meminum kopi.
“Nanti lah, masih panas”.
“Wah, kamu itu, sukanya menunda kenikmatan. Kopi itu akan semakin nikmat jika di sruput ketika dalam keadaan panas, coba anget atau dingin, pasti udah nggak senikmat ketika masih panas, coba aja deh”

Aku mulai menghirup kecil kopi di cangkirku agar bisa segera kunikmati. Dan ketika aku mulai menyeruput kopi itu, tiba-tiba rasa yang begitu pahit mulai masuk dan sampai pada lidah, aku pun agak kaget dan hampir aku muntahkan. “Ini kopi kok aneh ya, lupa di kasih gula ini”.
“Lho, kita kan pesennya sama, jadi yang begini rasanya, tempatku juga sama kali, coba rasain”. Jawabnya. Aku pun langsung memanggil pelayan untuk meminta segelas air putih.
“Ohiya, Mas, sekalian sama gula ya?” ia juga meminta gula. Ia sepertinya tahu, bahwa aku tidak terbiasa dengan kopi tanpa gula seperti dirinya.
“Kamu nggak ngerasa gimana gitu, minum kopi dengan rasa pahit yang seperti ini?”
“lah, yang namanya kopi ya kaya gini, aku kalau di kedai ini biasanya minum kopi seperti ini. Kopi tanpa gula”

Aku mulai mencampurkan sedikit gula untuk mengurangi rasa pahit pada kopi itu, sambil mencari tahu, kenapa ia bisa begitu menyukai kopi tanpa gula, yang akan lebih dominan dengan rasa pahit. “Kenapa sih, kamu malah suka dengan kopi tanpa gula”. Ia seakan sulit untuk menjawab pertanyaanku.
“Kenapa ya? Ya pokoknya beda aja, orang bilang bahwa ia suka atau katakanlah penikmat kopi, tapi kenapa ia tidak suka dengan rasa asli dari kopi itu sendiri? Ia memanipulasi rasa asli dari kopi dengan tambahan coklat, madu, cream, kemudian gula. Ia seperti halnya menginginkan kenikmatan hidup tanpa ingin merasakan kepahitan hidup itu sendiri”.  Kemudian berhenti sejenak untuk kembali menikmati kopinya yang sudah mulai dingin.

Aku pun mulai serius untuk mendengarkannya, karena ia nampak antusias dengan apa yang ia coba jelaskan, kemudian ia mulai melanjutkan kembali pembicaraanya “Jadi, sepertinya mereka hanya ingin merasakan effect dari kopi tanpa mau menikmati rasa kopi yang sebenarnya, mungkin kamu juga adalah orang-orang yang aku maksud, kamu mungkin suka minum kopi, kalau boleh tahu kamu minum untuk apa?”

Aku menghela nafas sebentar, dan ketika aku akan menjawab pertanyaannya, ia seperti tidak sabar dan mulai melanjutkan kembali pembicaraannya “Mungkin kamu minum kopi ketika sudah mulai lelah dan mengantuk padahal masih banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan kan? Karena aku tahu bahwa kamu bukan perokok, jadi bukan rokok yang kamu butuhkan ketika kamu sudah mulai lelah dan mengantuk kan. Tapi kopi!” Aku pun hanya bisa mengangguk dan sesekali meminum kopi yang sudah aku beri sedikit gula tersebut.

“Lagian dari segi kesehatan, terlalu banyak konsumsi gula juga tidak baik kan? Lihat saja dirimu sekarang, ngemil jalan terus, minum pun sering yang manis-manis, apalagi sekarang sedang ngobrol sama aku, bisa diabetes kamu kalau sering-sering kaya gini”
“Preeeeet” kami pun tertawa lepas seakan memecah suasana yang  tadinya serius.

Kopi yang sudah mulai dingin dan hanya masih beberapa sruputan lagi, seakan menjadi tanda bahwa hanya beberapa menit lagi kami akan mengakhiri obrolan di kedai kopi itu. Dan setelah ia menghabiskan kopi dalam cangkirnya, sebelum menuju kasir untuk membayar kopi kami, ia malah bertanya dengan nada yang sedikit mengejek, ”Ehiya jomblo terus, kapan mau nikahnya?”

Sambil menghabiskan kopi aku sedikit melototinya, “Ngomong apa sih?” jawabku. Dengan penuh canda ia malah seakan mengejekku

“Ohiya, pahitnya kopi aja nggak mau, apalagi pahitnya hidup”



Nb ; Tulisan ini diambil dari blog pribadi penulis, yaitu blogriki.com dengan judul yang sama, namun dengan sedikit revisi.