Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Kos

Tuesday, January 5, 2016
“Tak Pernah Mengutuk Keramaian, Hanya Butuh Ruang Untuk Menikmati Kesunyian”


Jika Dyah Maya (DM) menemukan jati dirinya ketika memutuskan untuk hidup merantau, meski aku sendiri masih meragukan apakah dia bisa dikatakan sebagai anak perantauan atau tidak. Karena menurutku, yang namanya merantau itu bekerja atau hidup di luar kota yang jauh, bahkan hingga ke pulau seberang, seperti halnya yang dilakukan oleh ibuku yang hidup di Kerinci, Jambi. Tapi biar nggak gelo, tak apalah aku menyebut DM sebagai anak perantauan. Karena setelah sudah beberapa kali aku menagih tulisan terbaru, baru kemaren ia mengirim tulisan postingan terbarunya. Ya syukur-syukur bisa seperti Johan di tengah kesibukan membuat daftar undangan pernikahannya mulai membuat semacam agenda menulis untuk blog yang tidak begitu kondang ini, dengan #sundaynight-nya.

Lain DM, lain pula denganku. Aku yang sejatinya adalah anak rumahan ini, harus dipaksa untuk hidup sebagai anak kos, meski jarak antara rumah dan tempatku kuliah kurang lebih hanya satu jam perjalanan, itu pun sudah termasuk mampir di angkringan pojok, untuk menyruput kopi dan ngemil beberapa gorengan.

“kamu sebaiknya nge-kos saja, kalau perlu nanti aku akan hubungi temanku yang di solo untuk mencarikan kos buat kamu, dia lebih tahu tentang lingkungan kos di sana, kalau kamu tidak mau nge-kos, lebih baik kamu hidup di Boyolali saja” Begitu kira-kira saran kepadaku yang lebih kepada tuntutan itu, ketika aku sudah resmi diterima sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Dengan banyak pertimbangan aku lebih memilih untuk nge-kos saja, meski pada akhirnya aku juga sering pulang ke Boyolai ketika sedang bosan di kos-an.

Aku sadar kenapa orang yang peduli dengan masa depanku itu, lebih menyarankan agar aku nge-kos atau hidup di Boyolali saja. Karena ada beberapa alasan, terutama kondisi lingkungan di Sukoharjo (tempat tinggalku) yang sepertinya tidak kondusif, dan yang ditakutkannya adalah aku tidak bisa menyelesaikan kuliahku.
***
Aku lebih suka mencari kos sendiri saja, sekalian jalan-jalan sambil menghafal jalan-jalan yang ada di kota Solo. Kala itu aku mencari kos dengan temanku yang kuliah di D4 Kesehatan Kerja. Dia  adalah temanku bermain bola dan futsal. Dan atas informasi dari temanku itu pula, bahwa aku kelak akan berkampus di Tirtomoyo, yang lokasinya bersebelahan dengan kolam renang Tirtomoyo. Di kampus Tirtomoyo digunakan untuk kuliah D4 Kesehatan Kerja, D3 Hyperkes, serta Psikologi. Pertama kali aku melihat kampus Tirtomoyo, gensiku sebagai mahasiswa langsung runtuh ketika melihat kampus yang lebih mirip dengan kantor kelurahan itu. Dan ternyata kampus itu telah membuat banyak kenangan. Di kampus kecil itu justru nuansa keakraban begitu tercipta, tidak seperti saat ini, antar angkatan saja sudah tersekat-sekat, bukan hanya tersekat antar tembok ruang kuliah, bukan! Tapi sudah tidak ada nuansa keakraban diantara mahasiswa antar angkatan, kecuali mereka yang memilih jalan hidupnya sebagai begundal kampus.

Karena kampusku di Tirtomoyo, aku tidak mencari kos-kosan di daerah kampus pusat, Kentingan, namun mencari di daerah dekat kampus Tirtomoyo. Awalnya aku mencari Kos-kosan di daerah Kandang sapi, Jebres, namun setelah berkeliling, aku tidak mendapatkan kos-kosan. Meski ada kamar kosong, ternyata kamar tersebut habisnya masih satu bulan lagi, karena penghuni yang lama sudah lulus dan barang-barangnya belum di kemasi.

Aku dan temanku menuju ke daerah Petoran, tepat di gang belakang Asia motor, ada kos-kosan di sana. Kos tersebut menjadi satu dengan rumah pemilik kos. Kamar kos-nya ada di belakang, ada dua lantai dengan total 9 kamar; 4 kamar di lantai bawah, dan 5 kamar di lantai atas. Kamar mandinya ada 3, semua di lantai bawah. Aku mulai masuk ke salah satu kamar kosong yang terletak di lantai atas. Kamar yang berukuran kira-kira 3x3 meter itu lumayan adem, ada jendela besar di sisi timur, sehingga cahaya matahari pagi bisa langsung masuk ke kamar. Meja yang berukuran lumayan besar ada di sudut kamar. Di dalam kamar itu sudah ada juga lemari kecil dan tempat tidur kayu dengan kasur masih tergulung di atasnya. Aku langsung membuat kesepakatan dengan Bapak pemilik kos. Dan kesepakatannya aku harus membayar 3 bulan pertama terlebih dahulu, baru untuk bulan selanjutnya aku bisa membayar setiap bulannya.

Kebanyakan penghuni kos di sana adalah anak-anak dari SMK Warga Surakarta, di samping kamarku ada mahasiswa UNS juga, dia mahasiswa D4 Kesehatan Kerja, angkatan 2008, dan ia berasal dari Boyolali. Sedangkan kamar yang lain diisi oleh anak SMK Warga, di lantai bawah hampir semua diisi anak-anak SMK Warga juga, kecuali kamar dari barat nomor 2, aku tidak begitu akrab dengannya, karena aku jarang melihatnya di kos. Katanya dia mahasiswa semester akhir, jurusan teknik, Universitas Surakarta .

Aku teringat ketika awal-awal menjadi anak Kos, seminggu pertama setelah masa orientasi, aku sakit. Mungkin aku belum bisa menyesuaikan diri. Masa-masa itu pikiranku hanya untuk melihat tanggal dan berharap segera hari jumat, agar aku bisa segera pulang ke rumah. Tidak jarang ketika keesokan harinya kuliah agak siang, sehabis kuliah aku langsung pulang ke rumah dan baru kembali ke solo lagi esok harinya. Terkadang juga aku bisa pulang ke rumah dua kali dalam seminggu. Dan apa yang aku lakukan ketika di rumah? Tidak ada yang spesial, kecuali sorenya aku bisa bermain sepak bola dengan teman-temanku dan setelah itu santai-santai di depan televisi hingga aku mengantuk.

Aku hanya kurang lebih satu tahun di kos-an itu, ada yang membuatku mulai tidak nyaman dengan lingkungan kos tersebut, kemudian aku menghubungi temanku yang kuliah di D4 Kesehatan Kerja, yang dulu pernah bersebelahan kamar denganku, mengatakan bahwa ada kamar kos yang kosong di kos-annya saat itu. Dia Nampak ragu untuk menawariku, namun aku agak memaksa untuk melihatnya terlebih dahulu.

***
Waktu aku lihat di jalan, aku tidak meyangka di balik rumah tua itu ada bangunan kamar kos. Aku mulai masuk melewati rumah tua itu, dan di belakang rumah tua itu ada 4 kamar kos, dan tepat di depan deretan kamar kos itu ada pohon mangga yang begitu rindang, pohon mangga itu pula yang kelak akan menjadi makanan kaya akan serat yang bisa aku petik sewaktu-waktu ketika musim mangga. Kemudian di sisi timur ada kamar mandi, yang waktu pertama kali aku lihat, kamar mandinya lumayan bersih. Aku melihat salah satu kamar yang kosong, agak lembab memang, karena kamar yang kosong itu tidak bisa mendapat cahaya langsung dari matahari. Kala itu karena kos-ku yang lama sudah hampir habis, jadi aku memutuskan untuk sementara waktu nge-kos dulu di sana. Karena bisa dibilang lokasinya sangat dekat dengan kampus Tirtomoyo, kurang lebih hanya lima menit, itu pun dengan jalan kaki.

Di kos-kosanku yang baru itu, bisa dibilang suasana yang begitu sepi, dan membuatku merasa tenang. Dan aku suka dengan ketenangan, jauh dari kebisingan dan kegaduhan. Di sana awalnya 4 kamarnya penuh, ada aku yang di kamar paling timur dekat dengan kamar mandi, di sebelah kamarku ada orang Kediri yang sudah bekerja sebagai pemadam kebakaran, kemudian sebelahnya lagi ada mahasiswa D4 kesehatan kerja, temanku di kos -an yang lama, dan kamar paling barat, ada mahasiswa D4 Kesehatan Kerja pula yang sebentar lagi lulus, dan di kamar itu pula Johan pernah singgah sementara.

Ibu kos-nya pun juga sangat baik, beliau adalah seorang janda yang tidak memiliki anak, jadilah ia hidup sendiri yang terkadang juga di temani oleh keponakannya. Bisa dibilang ia sangat jarang dirumah, karena aktititas dan urusan pekerjaannya. Beliau tidak pernah menagih uang kos selama bertahun-tahun nge-kos dari kuliah semester 3 hingga lulus, meski kami sering bayar telat uang kos. Beliau juga sering membagikan makanan kepada anak-anak kos. Pernah juga ketika sedang bulan puasa, ketika aku sedang keluar hendak membeli makan buat sahur, beliau memanggilku dan memintaku untuk mengambil makan buat sahur di tempatnya. Terkadang ketika ada makanan sisa, beliau juga tidak luput membagikan kepada anak-anak kos.

***
Semuanya berbalik 180 derajat, aku yang awal-awal nge-kos lebih sering pulang, kini aku menjadi semakin betah di kos-kosan, aku jadi semakin jarang pulang, jika pulangpun aku seperti orang yang (sok) sibuk, dengan pulang sabtu sore, kemudian aku kembali ke solo lagi minggunya.

Kos-kosan yang awalnya penuh itu pun mulai sepi, diawali dengan salah satu penghuninya yang sudah lulus kuliah. Aku pun kemudian pindah ke kamar yang di tengah, dari barat nomor 2, dan kamarku yang lama dijadikan untuk gudang. Kemudian tak lama setelah itu, salah satu temanku pun juga lulus, dan ia pun juga berkemas untuk meninggalkan kos-kosan itu.

Hingga hampir dua tahunan kos-anku hanya ditempati oleh dua manusia saja, aku dan temanku yang sudah bekerja di pemadam kebakaran itu. Pernah terbesit untuk pindah namun aku enggan untuk pindah, meski kampusku juga turut pindah dari Tirtomoyo, ke Kampus Mesen, namun aku enggan untuk pindah. Jarak antara kos-anku dan kampus Mesen juga tidak begitu jauh, kurang dari 1Km. Selain itu, di tempat itu aku sudah mulai nyaman, dan yang pasti mampu membuatku merasa tenang. Meski ada beberapa juga teman-temanku yang meledek bahwa kos-kosanku hampir mirip dengan sarang teroris. Betapa tidak, siapa yang akan mengira bahwa dibalik rumah tua, yang mungkin sebagian orang akan menganggap angker, ada tanda-tanda kehidupan di sana.
***
Meski aku sudah bekerja di Boyolali aku masih enggan untuk mengemasi barang-barangku, biarkan saja tetap di sana, dan aku akan tetap membayar uang bulanannya. Karena sewaktu-waktu aku bisa menginap di sana ketika aku sedang ingin bernostalgia di Solo. Namun ada kabar dari ibu kos, bahwa tanah, rumah sekaligus kos-kosannya sudah laku. Padahal kerabatku yang pernah mengunjungi kos-anku pernah rasan-rasan ingin membelinya jika tanah itu hendak dijual, tapi mungkin tanah itu belum jodohnya.

Aku pun mulai mengemasi barang-barangku, tapi kala itu aku hanya berpamitan via telepon dengan ibu kosku, karena beliau sedang berada di luarkota.

Aku pernah iseng-iseng lewat di gang menuju kos-kosanku dulu itu, dan sekarang kos-kosan yang dulu dianggap oleh sarang teroris oleh teman-temanku itu, sudah berubah menjadi bangunan megah berlantai dua, dan sepertinya kenanganku akan kosku pun juga terkubur dalam bangunan berlantai dua itu.
***
Aku lebih menikmati diriku sebagai anak kos, karena bagaimana pun juga aku akan belajar mengambil keputusan-keputusan kecil dalam hidupku, mengatur pengeluaranku sehari-hari, dan tentu hal ini akan membuatku lebih bertanggung jawab. Dan karena itu pula, aku sekarang memutuskan untuk menjadi anak kos (lagi), meski pada awalnya tidak ada yang menyetujui keputusanku itu. Dan untuk kali ini, aku agak ngengkel dalam mengambil keputusan. Karena bagiku, itu hanya masalah waktu, aku harus lepas dari orang-orang yang sebenarnya begitu peduli denganku, karena aku tidak mau “mati” dalam kenyamanan

Aku sekarang menyewa kamar kos yang sangat sederhana berukuran 2x3 meter, meski pada kenyataannya aku juga sering pulang, entah itu ke Boyolali atau ke Sukoharjo. Di kamar kos baru ini, hanya ada kasur yang beralasankan langsung dengan karpet, satu lemari kecil dan sebuah meja kecil yang biasa aku jadikan meja kerjaku. Dan di meja kecil itu pula aku mulai menulis apapun yang ingin aku tulis. Di samping meja itu ada dispenser yang bisa aku gunakan untuk memanaskan air untuk menyeduh kopiku. Entah kopi pagi, atau kopi soreku, karena waktu pagi dan sore menurutku adalah golden time untuk ngopi.


Kos baruku ini sangat dekat dengan masjid, hanya terpisah oleh jalan, sehingga suara adzan begitu jelas aku dengarkan ketika memasuki jam-jam sholat. Setidaknya aku lebih sering sholat berjamaah ketika sedang di kos-an. Serta suasana kos-an yang mampu membuatku nyaman dengan segala ketenangannya, dan hal inilah yang membuatku lebih produktif. Dan karena aku suka dengan ketenangan, bukan berarti aku mengutuk keramaian, karena aku “Tak Pernah Mengutuk Keramaian, Hanya Butuh Ruang Untuk Menikmati Kesunyian”