Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Mau Copy-Paste? Belajarlah dari Kisah Inug

Saturday, January 16, 2016


Kemaren saya harus menghapus sebuah status facebook yang sudah saya bagikan di kronologi facebook saya. Karena waktu saya baca, ternyata isinya mirip dengan tulisan “Surat Cinta Untuk ISIS”, tulisan seorang blogger bernama Denny Siregar sebagai respon pasca tragedi di Sarinah. Tulisan satire yang dikemas dengan gaya penulisan yang enak dibaca lagi jenaka. Namun dalam status facebook yang sempat saya bagikan itu tidak mencantumkan sumber tulisan tersebut ataupun penulis aslinya, padahal ketika saya sandingkan kedua tulisan tersebut memiliki banyak kemiripan, dan bisa dikatakan hampir sama.

Tidak begitu penting siapa dan apa nama akun facebook itu, karena kita tidak boleh membenci orangnya, tapi perilakunya saja. Ketika saya ngepoin melihat tentang facebook-nya ternyata ia adalah seorang lulusan S1. Sebagai lulusan S1 bisa dibilang ia orang yang berpendidikan.

Sebagai lulusan S1 tentu sudah mengerjakan skripsi pastinya, dan di bagian akhir skripsi pasti ada yang namanya daftar pustaka. Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana seorang lulusan S1 mengutip sebagian besar tulisan orang lain, meski dari sebuah blog sekalipun, kemudian dipublikasikan di sosial media seolah-olah menjadi tulisannya sendiri, karena tidak mencantumkan sumber tulisannya. Apakah yang demikian bukan plagiat namanya?

Sebenarnya saya tidak mau serius dalam menanggapi media sosial, karena saya masih ingat dengan kata Johan, teman saya yang nggapleki itu “Medsos jangan diseriusin, cukup anak gadis orang saja yang diseriusin”

Namun melihat begitu gampangnya orang mem-posting tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumbernya, sehingga seolah-olah tulisan tersebut adalah tulisannnya sendiri. Saya jadi teringat bagaimana dugaan plagiasi bisa membuat kawan kami Nugroho Pamungkas atau lebih sering dipanggil Inug, terjegal langkahnya karena harus mengulang sidang pendadaran, padahal bisa dibilang tinggal selangkah lagi gelar sarjana sudah tersemat di belakang namanya.

Kala itu, Inug yang keluar dari ruang sidang, nampak wajah lesu lagi pucat. Saya kala itu tidak segera menghampirinya. Ketika ia menoleh ke kami, ia memberikan kode dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Saya dan teman saya segera mendekatinya dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang sidang. Dan kami harus menerima kabar buruk itu, ketika ia harus melakukan revisi lagi terutama pada sumber pustaka yang harus merujuk pada buku-buku yang shahih, bukan hanya copas tulisan dan daftar pustaka. Dosen penguji menduga adanya plagiasi dalam karya ilmiah tersebut, dan meminta Inug untuk segera merivisi lagi pada bagian landasan teori agar merujuk pada buku-buku yang shahih.

Kala itu, misi kami adalah menyelamatkan kondisi kejiwaan Inug. Jiwanya yang merana karena cinta, kemudian jiwanya yang goyah karena bisa dibilang langkahnya untuk menjadi sarjana harus mendapat tackle keras dari dosen penguji.

Kami semalaman menghiburnya dengan menemani apapun yang hendak ia lakukan. Bersyukur ia tidak mengabiskan berbotol-botol bir untuk mengilangkan frustrasi dan melupakan kejadian pagi hari, ketika ia gagal sidang dan harus mengulang. Inug hanya ingin main PES semalam suntuk. Main PES sambil misuh-misuh, ternyata membuatnya lupa bahwa pagi tadi ia baru saja gagal ketika sidang pendadaran.

Inug memang orang yang bakoh. Ia menganggap apa yang sudah lalu biarlah berlalu, yang terjadi biarlah terjadi, yang mencret biarlah mencret. Ia segera bangkit lagi, dan membuat kehidupan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tetap bermain futsal bersama kami sebagaimana biasanya, serta main PES di kos Python setiap malam.

Bahkan Inug tidak sampai mutung atau menghilang dari peredaran, karena ia masih bisa terpantau di kampus. Tidak lama kemudian, ia mencari referensi lagi hingga berkeliling perpustakaan dari kampus ke kampus. Bahkan ketika pulang ke Jakarta pun ia tetap pergi ke kampus-kampus di Jakarta demi melengkapi referensi skripsinya.

Dan semua hasil kerja keras itu terbayar juga, sidang kedua skripsinya berjalan lancar, bahkan tidak memerlukan banyak revisi lagi. Dan yang membuatnya semakin sumringah adalah ketika si dia yang sudah bekerja di Jakarta tiba-tiba datang memberi kejutan, rela mbolos kerja demi sidang kedua Inug.  

Ditambah lagi adanya sebuah MMT yang bergambar Inug bertuliskan “Gua udah sarjana mau apa lu” sengaja dibuat oleh sahabat-sahabatnya untuk menyambut Inug saat keluar dari ruang sidang.

Dan tidak luput pula ia membagi kebahagian kepada teman-temannya dengan mentraktir kami semua futsal dua jam, sampai kami ngos-ngosan. Dalam hal futsal Inug adalah partner saya di lapangan. Mungkin dia sudah lupa bahwa kami berdua pernah berebut nomor punggung 12 ketika kami hendak memesan kostum futsal. Tapi kala itu, saya yang lebih tua harus mengalah dengan menggunakan nomor punggung 23.

Kabarnya Inug sekarang sedang meniti karier di salah satu Bank milik BUMN, sebuah cita-cita yang pernah ia ucapkan di salah satu sesi kuliah, saya lupa saat mata kuliah apa itu, kala itu Inug berkata “Ingin menjadi pegawai BUMN” sepertinya apa yang ia cita-cita tercapai juga. Tinggal kita tunggu kisah asmaranya saja.

Kejadian Inug adalah salah satu contoh bagaimana plagiasi bisa menggugurkan sebuah karya ilmiah, dan harus merevisi lagi serta mengulang sidang pendadaran. Pernah juga saya mendengar ada seseorang yang dicopot gelar doktor-nya gara-gara kasus plagiasi. Apapun bentuknya, plagiasi adalah kejahatan intelektual, yang merupakan perilaku orang-orang yang malas berpikir. Tidak cukupkah kejadian Inug dan kasus plagiasi lainnya sebagai pelajaran bagi kita semua?

Masihkah ingin mengutip tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumber tulisan? Mbok mikir dulu, dikira yang nulis nggak pakai otak apa? Situ enak tinggal CTRL + C trus CTRL + V