Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Menjiwai Tuhan

Tuesday, January 26, 2016
sumber gambar

Dalam postingan lobimesen dotkom kali ini aku akan mencoba mengurai pemahaman dalam kepalaku. Isinya mungkin pertanyaan-pertanyaan yang sudah terjawab dan jawaban-jawaban yang masih saja aku pertanyakan. Pikiranku tidak pernah puas dengan jawaban ‘pokoknya gini’. Selalu pikiranku akan bertanya ‘mengapa’.

Aku pernah membaca satu kalimat yang intinya pertanyaan ‘siapa yang menciptakan siapa’ akan berujung pada pertanyaan ‘siapa yang menciptakan Tuhan’. Itu adalah pertanyaan berasal dari hasutan setan. Dalam hati aku membenarkan pernyataan itu, namun pikiranku tidak. Jika memang dari setan mengapa pikiranku terus saja mempertanyakan itu dan hatiku terus saja gelisah? Pasti ada misteri yang akan aku temukan di balik pertanyaan itu.

Aku tidak puas dengan pemahaman ‘pertanyaan itu dari setan’. Lantas dengan begitu aku takut dan berpura bahwa aku telah memahaminya. Membohongi diri sendiri bukan cara penyelesaian yang baik. Maka aku pun mencari pemahaman-pemahaman baru. Pikiranku tidak bisa menerima begitu saja ke-superpower-an Tuhan dalam kenyataan hidup ini.

Jika diuraikan itu akan jadi penjabaran sangat panjang dan satu buku mungkin tidak akan cukup. Jadi aku akan coba menceritakan beberapa potong kejadian atau teori yang aku temukan. Menelaah literatur demi literatur dan mencoba menggabunghubungkan semuanya jadi pemahaman utuh. Pencarian yang mungkin tidak akan berhenti hingga aku berkalang tanah.

Aku mulai dengan kejadian yang membuatku benar-benar terpecut mencari Tuhan. Beberapa waktu lalu ketika Beliau tidak mengabulkan harapan terbesar dalam hidupku. Aku terjatuh begitu dalam. Aku sampai tidak percaya lagi kepada Tuhan. Tidak merasakan nikmatnya berdoa mengharap pertolongan-Nya. Semua aku coba tangani sendiri dan akhirnya egoku yang memerintah.

Bukan aku.

Kalap, aku protes terhadap Tuhan dengan berbagai cara. Meratapi kesedihan terlalu dalam, menganggap kehilanganku akhir dari segalanya. Tidak ada yang berharga di sekitarku selain harapan yang telah lenyap. Tidak ada yang bernilai selain ‘sesuatu yang sudah tidak mungkin aku miliki’. Dan
puncaknya, aku menganggap Tuhan itu tidak ada.

Tunggu, jangan menilai aku kafir atau sesat dulu. Aku rasa setiap orang pasti pernah mengalami masa di mana pertanyaan ‘mengapa Tuhan begini’ sangat membutuhkan jawaban. Jika aku menilai diriku sendiri kafir, maka selesailah hidupku. Aku tidak akan mungkin mau berjuang dan berusaha, karena aku sudah menganggap diriku sendiri buruk.

Selain itu, dalam hatiku masih menyala harapan agar aku bangkit dari kesengsaraan itu.

Meskipun, motivasi dan kata-kata penyemangat terdengar seperti omong kosong buatku. Tidak ada motivasi kuat selain dari dalam diriku sendiri. Aku harus mencarinya sendiri. Lantaran bagaimana aku memutuskan, ditentukan oleh energi hidup yang ada dalam diriku. Namun hidup tidak bisa sekehendak begitu saja dan tidak baik pula terlalu kuat memegang aturan-aturan.

Seluruh keputusan ada di tanganku, namun aku tidak tahu dengan apa harus memutuskan.

Akhirnya aku melahap semua buku yang menarik perhatianku. Mulai dari Psikologi Islam, Psikologi Tasawuf, Kecerdasan Emosi, Psikologi Perempuan, Psikologi Terapan, Psikologi Jawa, Puncak Makifat Jawa, Guru Sejati, dan bermacam buku-buku semi-langka lainnya. Terakhir aku mendalami buku Psikologi Raos. Intinya sama dengan Puncak Makrifat Jawa namun lebih ilmiah.
sumber gambar

Buku-buku itu mengantarkanku pada pemahaman Barang Asal dan Barang Jadi. Barang Asal itu ada dengan sendirinya dan Barang Jadi berasal dari Barang Asal. Ini teori merujuk pada Hukum Kekekalan Energi. Dan benang merahnya sampai pada jiwa yang ada pada manusia itu kekal. Badan itu tidak mati pula, ia dulu terbentuk dari mani dan tumbuh hingga menjadi tubuh lalu saat mati menyatu dengan tanah dan energinya akan dimanfaatkan tumbuhan dan seterusnya.

Aku menemukan suatu kontinuitas di mana pergerakan itu abadi.

sumber gambar
Setiap hembus angin, desir suara, gesekan bibir saat bicara, pancaran cahaya semua itu kekal. Terus bergerak dalam ritme yang tidak bisa kita baca dengan indera luar. Tidak ada yang berhenti, meskipun kita berusaha menghentikan. Tidak ada yang mampu kita cegah barang secuil pun. Kita hanya mampu mengalaminya, itu saja.

Dari situ aku paham apa arti kepasrahan sekaligus berserah.

Berusaha berhenti (ingat, berusaha berhenti!) berjuang dan bersikap pragmatis lalu berhenti percaya pada apa yang kita yakini, itu namanya menyerah. Kita mencari kepastian alih-alih menerima bahwa kepastian itu sebenarnya asumsi pikiran kita belaka. Tidak ada alur pasti seorang penjahat akan terus menjadi penjahat, pun seorang penyayang suatu saat bisa jadi pembenci. Pun seorang yang sekarang bodoh belum tentu selamanya akan bodoh, dan seterusnya.

sumber gambar

Tapi Tuhan tidak. Kehendaknya itu tidak akan memanjang. Kehendaknya sempurna. Tidak ada keraguan. Jadi maka jadilah. Dari situ kita memiliki celah yang masih diberikan untuk berusaha. Lantaran kita juga punya kehendak. Bedanya kehendak kita itu tidak mutlak. Berubah-ubah. Kita sekarang ingin mobil belum tentu esok masih ingin. Bisa jadi memanjang bisa jadi memendek.

Dari situ aku paham setiap manusia itu selalu berusaha. Tidak hanya kita yang bekerja, tidak hanya kita yang berkeluarga, tidak hanya kita yang menganggur dan memilih mendalami makna kehidupan. Bahkan menyerah pun butuh berusaha. Berusaha memadamkan api harapan dalam diri kita sendiri. 
Pada hakikatnya kita selalu berusaha, entah berusaha bangkit atau berusaha terus jatuh. Bila tanpa sadar hidup kita tidak berkembang, dan malah menurun mungkin usaha itu untuk terus jatuh.

Akan selalu ada awal dan akhir.

Dan cerita yang dibuat manusia selalu ada awal dan akhir, manusia mampu mengendalikan cerita, tentu hidup ini pun ada yang mengendalikannya. Beberapa tanda-tanda kecil kadang tidak kita perhatikan dan memilih mencari sesuatu yang pasti-pasti benar. Kita lupa memaknai segala penciptaan dan memilih menjalani hidup untuk memapankan diri.

Secara pragmatis kita pun turuti aturan tanpa melihat aturan itu memiliki sejarah, aturan itu memiliki cinta di dalamnya. Bukan hanya tulisan yang mutlak harus dipratekkan tanpa didalami lebih dahulu. Seperti sholat namun tidak tahu mengapa kita harus sholat. Atau ke gereja namun tidak tahu mengapa kita harus ke gereja.

Mungkin kamu berpikir, aku ini terlalu banyak pertanyaan.

Semakin tua kita akan semakin banyak mempertanyakan segala hal. Makin banyak memori masa lalu yang kita tampung di otak. Memori itu takkan hilang dan pasti akan muncul tatkala ada pemicunya. Pun bila kita berusaha menguburnya itu hanya perbuatan lari dari kenyataan. Semakin kita lari dari kenyataan kita akan semakin buta pada arti kehidupan. Lantaran kita akan tenggelam dalam angan-angan yang berasal dari kompensasi masa lalu yang tidak terselesaikan.

Pada akhirnya, aku harus menutup tulisan ini dengan meminta maaf untuk bahasa yang berat ini. Sungguh aku tidak tahu bagaimana menyederhanakan pemahaman yang ada di kepalaku ini. Semoga para pengunjung lobimesen dotkom bisa memahami setiap kata yang aku torehkan di sini. Tidak ada maksud lain kecuali untuk mengingatkan diriku sendiri.

Semoga kita bisa selalu belajar dalam rentang usia kita di dunia ini.

Kita tidak tahu kapan kita akan mati, pun kita tidak tahu kapan akan dihidupkan kembali. Seluruh hal yang kita ketahui sekarang bisa saja lenyap sekejap. Seperti halnya ia bisa masih tetap ada di hadapan kita. Maka hargailah apa yang masih ada itu.

Salam.

-WM-