Ads Top

Menyendiri, Bermimpi Menjadi Pahlawan.


Beberapa waktu ini aku mulai suka anime konyol bin aneh tentang seorang ‘pahlawan biasa’. Nama anime itu ‘One-Punch Man. Kisah Saitama yang menjalani hidup sebagai pahlawan melawan monster dan penjahat. Ia tidak istimewa, tidak kelihatan. Ia bahkan selalu bilang pada musuhnya dia menjadi pahlawan sebagai hobi.
Saitama seperti gambaran kehidupan seorang yang tinggal sendiri di kamar kos 3x4m. Di kota metropolitan yang penduduknya padat. Nunggak biaya kos sampai berbulan-bulan. Kegiatannya di kos adalah menonton tivi dan membaca komik. Persis seperti aku beberapa waktu lalu. Ah, Saitama. Kecuali botaknya dia benar-benar mirip denganku.
Setidaknya aku menganggapnya begitu.
Dalam kurun waktu yang sangat lama kegiatanku adalah mencari puing-puing kepercayaan diri yang berserak di hatiku yang terdalam. Baca buku, nonton FTV, dan nonton film adalah kegiatanku sehari demi sehari. Selayaknya Saitama yang menganggur dan hanya keluar kos kalau ada bahaya atau orang butuh bantuan. Ah Saitama, sekali lagi aku merasa kisahku mirip dengan kisahnya.
Sendiri dan tidak peduli dengan sekitar. Aku hanya berpikir untuk memperbaiki diriku yang hancur. Namun lambat laun, itu malah membuatku pelit terhadap sekitarku. Pelit peduli, pelit memberi. Ya inilah bedaku dengan Saitama. Ia hidup sebagai pahlawan penyendiri dan aku penyendiri yang bermimpi menjadi pahlawan.
Aku bermimpi bisa berjasa untuk banyak orang dengan menjadi diriku.
Sampai sekarang aku berusaha menjalani impian itu. Apa aku sudah melakoninya? Sudah namun aku merasa sangat sendiri sekarang. Saat seperti ini sangat rentan buat setan menancapkan kuku hasutan dalam pikiran. Entah agar meraih kesombongan atau tidak bersyukur terhadap apa yang aku lakukan.
Aku merasa bukan siapa-siapa.
Dalam kehidupan nyata apa yang kita lakukan tidak selalu mendapatkan penghargaan. Seringnya malah cibiran. Dan itu berpengaruh pada diriku sekarang. Aku tidak mendapatkan penghargaan dari keluargaku terhadap apa yang kulakukan. Aku jadi merasa mimpiku ini tidak ada artinya. Hanya mimpi anak kecil yang kebetulan sudah berumur 28 tahun.
Apalagi kamu berhadapan dengan saat menjelang pernikahan.
Kamu akan melihat dirimu sendiri apa adanya. Kamu lihat dan terus mendalami hatimu hingga kamu sadar bahwa kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanya memiliki kesempatan dari Tuhan untuk melamar seorang yang kamu cintai. Kamu hanya memiliki kesempatan dari Tuhan sekali saja untuk menjadi suami.
Dalam memenuhi takdirmu kamu berharap akan ada orang yang membersamaimu.
Melihatmu apa adanya tanpa berharap kepada apa yang telah kamu lakukan. Ia hanya berharap kepadamu seorang dan percaya kepadamu seorang untuk menjaga hidupnya. Mungkin inilah tahap yang sedang aku jalani sekarang. Aku merasa tidak punya apa-apa. Tapi aku bersyukur telah mendapati semua hal di masa laluku. Bersyukur Tuhan masih memberikan makan meskipun masih numpang sama orang tua.
Bersyukur masih diberi hidup dan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum aku mati.

Akhirnya Saitama menjadi cerita penghibur untukku. Keteguhannya menjadi pahlawan bukan karena ingin dilihat orang. Keteguhannya yang tidak peduli apa omongan orang. Bukan ikhlas sih mungkin, hanya tidak peduli. Namun di situlah aku menemukan inspirasi agar mengurangi untuk mendengar komentar orang. Mau bilang apa itu urusan dia, urusanku adalah menjadi diriku sendiri dengan apa kubisa.
Menggunakan apa yang kumiliki untuk menolong sebanyak mungkin orang.
Menggunakan apa yang kumiliki untuk belajar sebaik mungkin menjadi orang.


Powered by Blogger.