Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Pelatihan Adversity Quotient

Monday, January 18, 2016
Pelatihan Adversity Quotient




Kali ini saya ingin menulis catatan dari pelatihan 'adversity quotient' yang saya ikuti di Sidoarjo hampir seminggu yang lalu.

Anggap saja sebagai oleh-oleh. Wkwkwk

Apa itu advetsity quotient?
Yang anak psikologi pasti sudah tahu. Kurang lebih yaitu, kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan kesulitan.

Intinya: daya juang.

Pelatihan diawali dengan teori-teori. Mulai dari teori tentang struktur otak manusia (otak primitif, otak kecil, otak besar).

Lalu dimensi kecerdasan manusia: Intelegency Quotient, Spititual Quotient, Emotional Quotient, Creativity Quotient, Physical Quotient dan Adversity Quotient.

Lalu adversity quotient di-breakdown menjadi 4 dimensi yang disingkat dengan CORE: Control, Ownership/Origin, Reach, Endurance.

Sesi pelatihan ada teori, dan kasus. Di sela-sela pelatihan diselingi dengan coffe break dan ishoma.

**

Di sebuah sesi pelatihan, kami diputarkan sebuah film tentang perjalanan hidup Seorang penulis dan aktivis besar dari Amerika, bernama Helen Adam Keller.

Helen Keller lahir dengan keadaan normal. Namun ketika usianya menginjak 7 tahun dia mengalami demam yang sangat tinggi sehingga membuat dirinya buta dan tuli.

Helen Keller merasakan frustasi yang sangat. Dia menjadi sangat sensitif dan suka membanting barang-barang di sekitarnya.

Lalu orangtuanya memanggilkan seorang guru privat untuk dirinya. Guru itu dulunya pernah mengalami kebutaan, tapi akhirnya bisa melihat lagi setelah melakukan operasi.

Guru Helen mengajari dengan sangat sabar. Ketika Helen marah, guru membiarkannya sampai dia tenang baru kemudian dimulai lagi pendekatannya.

Helen diajari mengenali benda-benda di sekitarnya dengan rabaan dan ciuman. Mengajari Helen membaca dengan huruf braile. Mengajari Helen mengenali orang-orang yang ditemuinya dengan meraba wajahnya dan menghirup aroma tubuhnya.

Sampai akhirnya Helen menjadi percaya diri. Berbagai buku dipelajarinya. Berbagai bahasa asing dikuasai.

Helen menulis berbagai karya buku. Satu di antaranya: The Story of My Life. 

Helen menjadi seorang yang sangat sibuk. Diundang ke sana kemari untuk seminar. Dicari-cari dan didatangi banyak orang, pejabat penting dan artis-artis ternama.

Sebelum kematiannya, Helen sebuah membuat wasiat, semua harta yang dimilikinya disumbangkan untuk kepentingan riset tentang penyakit seperti yang dialaminya.

**

Setelah film itu diputar, Ibu trainer meminta tanggapan kami satu per satu. "Perasaan apa yang kamu tangkap dari kisah tersebut?" 

Semua jawaban harus beda setiap orang. Macam-macam jawabannya: pantang menyerah, bersyukur, tabah, iklas, sabar, dll.

Saya yang mendapat giliran terakhir. Untung saja, jawaban saya tidak ada yang menyebut: Penerimaan diri.

**

Sebenarnya saya punya dua pilihan jawaban. Jawaban pertama: penerimaan diri. Jawaban cadangan: frustasi. Mengantisipasi jika jawaban saya sudah disebut orang lain.

Pertama, penerimaan diri. Karena saya menyimpulkan bahwa kebangkitan Helen (tokoh film tersebut) dimulai setelah dia bisa menerima keadaan dirinya.

Baru setelah itu dia menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang banyak.

Kedua, frustasi. Kenapa saya punya jawaban ini? Saat film itu diputar, saya membayangkan jika itu terjadi pada diri kita. Saya benar-benar frustasi, tidak bisa membayangkan lagi jika harus kehilangan penglihatan dan pendengaran seperti sebuah mimpi yang sangat buruk. Suwung. Dunia begitu gelap dan sepi. Terasa sesak dada saya.

**

Ternyata jawaban saya benar. Ibu trainer menjelaskan bahwa kebangkitan Helen dimulai ketika Helen mampu menerima dirinya. 

Kisah Helen itu mirip dengan kisah Azka di film Tausyiah Cinta karya sutradara Humar Hadi. 

Azka adalah seorang pemuda tampan, soleh, dan memiliki karir yang bagus sebagai arsitek. Azka dikenal sebagai orang yang selalu berpikiran positif dalam kesehariannya. Sering memberikan nasehat kepada orang-orang sekitarnya. 

Tetapi suatu waktu Azka mengalami kejadian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia mengalami kebutaan setelah kejatuhan kaca jendela. 

Azka seperti bukan dirinya lagi. Dia mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan takdir yang menimpanya.

Karir dia tinggalkan. Teman dia jauhi...

** 

Jujur saya suka dengan film ini. Banyak makjleb-makjleb yang menusuk. Tergantung pengalaman dan sudut pandang penonton. 

Walaupun, film persembahan rumah zakat ini digarap dengan teknik yang sederhana, mirip-mirip dengan film pendek. Dan dibintangi oleh artis-artis yang tidak terlalu populer di layar lebar. Yang penting pesannya tersampaikan. 

Juga, saya jadi teringat salah satu kuis saat pelatihan. Apakah orang yang memiliki spiritual quotient tinggi juga memiliki adversity quotient yang tinggi? 

Kebanyakan kelompok menjawab iya. Dan langsung dipatahkan oleh Ibu Trainer. Beliau memberi contoh daya juang seorang maling ketika mencuri barang incarannya.

"Apakah maling memiliki spiritual quotient yang tinggi?" tanya Bu Trainer.

"Tidaaaakkkkk....!" Semuanya teriak seperti anak TK. (*)