Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Cerita Tentang Membuat Resolusi Tahunan

Sunday, January 10, 2016
Cerita Tentang Membuat Resolusi TahunanSudah melewati 2 hari minggu di tahun 2016, resolusinya sudah ada yang tercapai? Atau, minimal sudah mulai jalan?

Pengen tahu resolusi saya apa? Haha, silakan kecewa karena saya tidak punya resolusi.

Pernah punya resolusi, dulu, tahun 2014. Hanya 3 poin, tapi yang kesampaian hanya satu saja. Itu pun harus penuh drama untuk mencapainya. Tahukan apa?
Yups. Lulus kuliah!

Yang dua poin lainnya rahasia. Hehe

Tahun 2015 tidak punya resolusi. Saya lebih fokus untuk menata hidup yang sempat tidak berarah, lebih tepatnya, mengkonversi pelajaran-pelajaran hidup menjadi ilmu dan hikmah. Eaa~

Tahun 2015, bagi diri saya pribadi merasa sangat nyaman. Saya mengasingkan diri dari huru hara dunia ‘luar’.

Menjauh dari politik. Menjauh dari fanatisme golongan. Menjauh dari teman-teman. Dan menjauh dari rumah, tentunya, yaa...saya merantau.

Satu lagi, meminimalisir penggunaan media sosial.

Dampaknya, luar biasa sangat sangat menyenangkan. Hidup sangat ringan rasanya. Sumpret dueh... wkwkwk

Tahun 2014 yang begitu ramai oleh drama di panggung politik masih berlanjut di tahun 2015. Media sosial super duper berisik. Beruntungnya, saya sudah diberi ‘hidayah’ kembali ke jalan yang benar. Jadi santai-santai saja dengan semua itu.

(Yang ingin tahu caranya agar tidak 'gatal' ingin berkomentar di media sosial, lain waktu saya akan ceritakan)

**

Kembali ke tahun 2016…

Tahun 2016 harapannya lobimesen bisa menampung banyak penulis lagi. Lobimesen ini elastis kok, bisa menampung banyak orang.

Lobimesen tidak berekspektasi yang tinggi-tinggi. Saya yang punya hobi membaca dan menulis, daripada menulis sendiri dibaca sendiri, mendingan mengajak lainnya menulis juga, di satu wadah yang sama. Lumayan kan ada orang lain yang membaca.

Itu bukan resolusi kan?

Tahun 2016 harapannya lagi, banyak teman-teman yang menjadi sadar untuk tidak terbawa arus media, khususnya media sosial.

Media sosial tidak usah diseriusin yaaak. Anak orang aja yang diseriusin, cukup :D

Media sosial untuk iseng-iseng saja. Misal, buka facebook kalau sedang menunggu prameks yang tidak datang-datang, atau saat mulai mengantuk mendengarkan ceramah dosen, begitu, boleh. Haha

2016 pengusaha media cetak seperti ketar ketir karena banyak orang beralih ke media digital. Akhir tahun 2015, harian bola ‘pamit’, disusul oleh media cetak berbahasa inggris The Jakarta Globe. Awal tahun koran legendaris Sinar Harapan juga tutup. Ada yang mengatakan inilah senjakala media cetak.

Jujur, saya pribadi lebih marem kalau membaca tulisan di atas kertas daripada di layar gadget.

Saya sering mengunduh e-book, tapi jarang yang saya baca sampai selesai.

Kalau misal menemukan status facebook atau artikel bagus saat browsing dengan hape, biasanya saya baca lagi ketika membuka laptop. Apalagi kalau tulisannya cukup panjang, kurang puas sepertinya kalau membacanya di hape.

Bagaimana dengan buku, apakah menuju senjakalanya juga?

Dalam hati saya katakan, “Jangan sampai. Jangan sampai buku senasib seperti kaset dan CD.” Saya masih ingin mengoleksi buku-buku. Saya masih ingin punya perpustakan pribadi. Sekamar lah minimal.

Mengenai buku, saya sering ‘khilaf’ kalau sedang pergi ke bazar atau toko buku. Sebelum berangkat sudah punya incaran sendiri buku apa yang akan dibeli, tapi sampai di toko buku, okelah nambah mungkin satu buku lagi. Tapi kalau yang dicari tidak ada malah yang dibeli jadi lebih banyak, bisa tiga bisa empat, kadang lebih.

Semua dibaca? Tidaaaakkk!!! Namanya juga khilaf.

Saya sendiri punya target pribadi, satu bulan beli satu buku. Kenyataannya sulit tercapai. Apalagi kalau bukan disebabkan oleh alat tukar untuk membeli buku itu, alias uang.

Di tahun 2015 kemarin, sebenarnya saya jarang beli buku. Mungkin beberapa kali saja, kalau sudah tidak tahan bosan di Mess, saya lari ke Semarang. Ke Gramedia Pedurungan, belakang Masjid Baiturahman simpang lima itu.

Ke sana pun tidak pasti membeli buku. Alasanya, buku yang saya cari kadang tidak ada. Gramedia Pedurungan, Semarang, kalah lengkap dari Gramedia Slamet Riyadi, Solo. Togamasnya Semarang juga, masih lengkap togamas di Solo.

Tapi terkadang, sekali ke sana (ke Gramedia Pedurungan itu) langsung beli banyak. Begitulah…

Saya baru membeli buku banyak lagi di akhir tahun 2015 lalu setelah pindah kerja ke Sragen.

Pertama, ketika ke Gramedia bersama teman SMA saya, yang sangat berambisi bisa poligami dan menjadi pengusaha sukses dunia akhirat itu. Saya harus berhutang hanya untuk membeli satu buku saja karena saat itu belum gajian.

Kedua, gara-gara Riki Sholikin yang mengajak ke bazar buku di Goro As Salam. Riki yang baru saja (bermimpi) menikah dengan gadis berkerudung merah yang dikenalnya baru sebulan itu, membuat saya kembali khilaf, cukup banyak buku yang saya beli.

Tidak hanya itu, dari Goro As Salam lalu diajak mampir lagi ke togamas, karena buku ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’ incarannya tidak ketemu di sana.

“Sudah jatuh tertimpa tangga” begitu kata pepatah.

Saya mengira di togamas itu terakhir saya membeli buku di tahun 2015. Ternyata dugaan saya salah. Saya merasa harus membeli buku ‘Kambing dan Hujan’ karya Mahfud Ikhwan.

“Fix, ini yang terakhir!” tegas saya kepada diri sendiri saat memantapkan diri membeli novel Kambing dan Hujan.

Tahun 2015 berakhir, saya lega tidak menambah buku lagi.

Dan di awal tahun 2016, di bulan Januari ini, saya tidak berencana menambah buku dulu. Insya Allah Februari nanti, mulai dari dua buku itu . . . (*)