Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Selamat Jalan Kawan, Di Sana Ada Kapal Van Der Wijk.

Wednesday, January 13, 2016



Ini aku tulis beriring dengan musik metal keluar dari speaker laptop sampingku. Lagunya benar-benar bikin kepala manggut-manggut. Kaki gedruk-gedruk. Hati lompat-lompat dan tangan mukul-mukul. Tapi untung gak bikin kenangan balik lagi #eak.

Akhirnya aku memotong nulis karena suasana di sekitarku semakin tidak kondusif. Dari yang curhat sampai pamer foto resminya, dari yang ketawa sampai gak berhenti-berhenti. Pokoknya udah gak kondusif dan aku balik ke kos dulu. Lalu menyiapkan diri untuk agenda selanjutnya. Cie... sekarang aku bisa bilang ‘agenda’ cie. Sok resmi banget sih!

Sekarang kita coba pokus ke satu hal.

Kemarin malam aku menemukan satu rasa dalam hatiku yang tiba-tiba terungkap. Gak tahu nih, kayaknya awan gelap dalam hatiku keluar sebagai mendung yang akhirnya menurunkan hujannya saat itu juga. Alah pret! Ini bukan rasa alay-alay yang ada di cerita GGS, Boy, atau Anak Menteng. Ini rasa seperti kamu makan masakan Prancis, sedikit tapi rasanya nempel dan kuat.

Tidak sengaja muncul saat mendengarkan lagu Selamat Jalan Kawan dari Bondan feat 2 Black, mataku seolah ingin mengeluarkan upil. Aku terdiam. Merasakan benar-benar suatu kesenyapan dalam diriku. Pikiranku berhenti, hatiku merasakan kemunculan cahaya. Lalu dalam senyap dan cahaya itu aku merenung.

Kapan aku mati?

Ya aku memang melupakan pertanyaan itu akhir-akhir ini. Sebab aku terpaku pada satu hal. Masa lalu. Kalau bicara masa lalu, pasti ingatnya mantan. Eh, kayak aku pernah punya aja. Gak! Bukan itu! Tapi segala hal yang aku lalui sejak bayi hingga bisa menuliskan ini. Ternyata semua itu membuatku terpaku gak maju-maju.

Akunya yang terlalu terbebani dengan masa lalu (emmasalalu biarlah masa lalu... tatak dung tak ces).

Ya memang pinginnya masa lalu itu yang baik-baik. Gak ada aib. Gak ada salah. Gak ada noda. Gak ada noktah merah perkawinan (belum kawin njir!). Gak ada hal yang membuatku terhalangi saat akan menikah. Ya, ini ngomonginnya tentang menikah! Jangan galau dulu, ini belum selesai. Masalahnya adalah saat berurusan dengan keluarga calon nih, aib itu bikin aku jadi gak pede.

Setiap keluarga punya aib, itu pasti.

Bukan masalah besar kecilnya, tapi keluarga si cewek itu mau nerima atau gak. Belum tentu pacaran lama, cinta udah sampai menggebu berderu-deru, udah ML pula kayak yang dilakuin para penganut empirisme (apa-apa harus kelihatan dulu), bisa menjamin kelanggengan sebuah rumah tangga. Ini kok malah ngomongin rumah tangga sih. Nikah dulu le!

Maksudku, aku sendiri tidak yakin dengan keadaan ini.

Kemarin aku sempat merasa mati lho. Hidup kayak gak ada gunanya. Mati hati ‘kan tuh. Because everything i can see is nothing! Apa yang sangat berharga buatku lenyap dan musnah (terdengar vokalis Andra and The Backbone nyanyiin tuh lagu). Benar kawan, kamu gak bakalan ngrasain hidup sebelum kehilangan sesuatu yang benar-benar kamu pegang kuat-kuat. Bangkit dari kehilangan itu pengalaman yang wow!

Nah, kempali ke topik. Menikah itu banyak yang mengartikan mempertahankan hidup. Mempertahankan kelangsungan spesies kalau bicara sains. Namun, menikah dari sisi agama, (dari yang aku tahu) bukan itu. Menikah itu mendekati mati. Lho kok bisa? (ini ciri khas ku kayaknya, pas tengah-tengah pasti pertanyaan ini keluar).

Menikah itu separuh agama. Benar? Agama itu tujuannya apa sih? Agama itu berlaku saat kita hidup atau mati? Jika ada yang menjawab mati, berarti dia menyembah agama (sori nih, gue gemes bener soalnya sama orang model beginian). Agama itu berlaku pas kita hidup di dunia. Saat mati wewenang ada pada Tuhan.

Nah sekarang kalau separuh agama itu sudah terpenuhi, berarti kita mendekati hidup atau mati? Bayangkan saja hidup dan mati itu sebuah garis lurus. Hidup itu di ujung kiri dan mati di ujung kanan. Nah kalau kita separuh agama sudah menjalani, berarti kita separuh lebih dekat kepada mati kan? Ya, gitu kalau menurut sama logika itu.

Kalau gak setuju, gak papa. Ini pemaknaan rasa gelisahku saja kok. Aku jadi bertanya matiku kapan dan tiba-tiba teringat kalau aku masih belum memenuhi separuh perjalanan yang itu. Menikah itu menguji keberanian lho. Ini bukan tentang cinta semata. Cinta itu semacam bumbu yang harus ada dalam hubungan suami dan istri, namun itu tidak dapat diciptakan.

Cinta hanya bisa didatangkan, dengan melapangkan hati dan pikiran.

Ya, jadi memang akhirnya mati itu suatu keniscayaan. Menghayatinya berarti men-zainuddinkan kehidupan (dua tokoh utama Tenggelamnya Kapal van Der Wijk). Memasangkan penghayatan pada kematian untuk memahami kehidupan. Memahami kehidupan saja tidak cukup, karena hidup itu tidak sempurna. Buat apa menghayati sesuatu terlampau dalam tapi pada saatnya akan kita tinggal?

Nah untuk ini penjelasannya bakalan panjang lebar. Jadi posting kedua di Lobi Mesen ini kucukupkan sekian ini saja. Terima kasih sudah ketawa dan geregetan. Terima kasih pada ‘rasa’ yang telah memberikan kehidupan pada tulisan ini. Mari kita lanjutkan apa yang sedang kita perjuangkan!

Sumber gambar:  http://akbideryfajarwati.blogspot.co.id/2012/01/sinopsis-novel-tenggelamnya-kapal-van.html