Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Yang Tak Disangka-sangka

Sunday, January 3, 2016
Yang Tak Disangka-sangka

Mungkin cerita berikut ini bisa menggambarkan, tapi mungkin juga tidak ada hubungannya sama sekali.

Begini:

Seorang murid sedang menghadap gurunya. Duduk bersila saling berhadapan.

Suasana cukup sunyi. Di bawah lampu kuning yang remang-remang, di gazebo yang terbuat dari anyaman bambu.

Tidak banyak terdengar suara. Hanya beberapa kata terucap seperlunya.

Lalu,

Guru mengambil selembar kertas putih dan sebuah pulpen di belakang tempat dia duduk. Seperti sudah disiapkan sebelumnya.

Kertas itu kira-kira seukuran folio, masih bersih, belum ada coretan sama sekali. Putih.

Guru lalu membuat sebuah titik, dengan pulpen, tepat di bagian tengah kertas. Kebetulan tinta pulpen itu berwarna hitam.

Lalu kertas itu ditunjukkan kepada muridnya. “Apa yang kamu lihat?” tanya Guru.

“Titik” jawab murid. Tanpa pikir panjang, sekenanya.

“Apa yang kamu lihat? Tanya Guru lagi.

Mengira Gurunya kurang mendengar jawabannya. Dia menjawab dengan agak keras, dan jawabannya ditambah kalau-kalau karena jawabannya yang kurang lengkap.

“Sebuah titik berwarna hitam.”

Suasana kembali hening. Cukup lama. Murid tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Diam, menanti gurunya yang membuka suara. 

Beberapa saat kemudian, guru terlihat menyunggingkan senyuman, senyuman yang sangat tulus. Mengangkat sedikit dagunya, menatap dengan teduh ke wajah muridnya yang sedang bingung.

Dengan pelan, guru menggerakkan bibirnya, “Apa yang kamu lihat?” tanya guru untuk yang ketiga kali.

(Murid masih tidak paham sama sekali apa yang salah dari jawabannya.)

**

Saya lupa dari mana dan dari siapa mendapatkan cerita ini. Entah dari internet atau buku, juga lupa.

Banyak orang seperti itu, saya orang yang termasuk, dulu (sewaktu belum tahu akhir ceritanya).

Sebenarnya pada tahu kan maksud ceritanya? Simpelnya: kita cenderung melihat titik hitam saja. Tidak sadar ada bagian kertas yang putih bersih, yang tidak ternoda.

Kalau diterapkan kepada orang. Misalnya, seorang pejabat politik yang terkenal jujur dan bersih, suatu waktu di masa pemilu namanya diseret-seret kasus korupsi. Orang-orang lalu melihat dirinya sebagai tersangka korupsi, jasa-jasanya selama menjabat seakan-akan tidak pernah ada.

Kalau kata pepatah, “Nila setitik rusak susu sebelanga.”

Nah, benar kan, ceritanya tidak relevan dengan tema yang mau saya tulis.

Ndak apa-apa ya, terusin saja…

**

Ada tipe manusia yang kalau menginginkan sesuatu akan mengejar terus sampai dapat. Benar-benar fokus. Dikejar terus bagaimana caranya.

Nabrak-nabrak, kesandung, bahkan terluka pun tetap saja fighting. Tidak peduli. Tidak ada kata menyerah.

Ada tipe manusia yang lain, hidupnya memiliki rencana-rencana. Setiap rencana disusun bagaimana langkah-langkah untuk mencapainya. 

Misal, rencana ingin berlibur ke Lombok, tapi setelah dihitung-hitung uang tabungan tidak cukup. Maka rencana liburan dialihkan ke Bromo yang dirasa masih mungkin terjangkau oleh tabungannya. Fleksibel.

Dulu saya termasuk tipe orang yang pertama, sampai akhirnya mulai menyadari bahwa hidup penuh dengan yang tidak disangka-sangka.

Berusaha mewujudkan apa yang diinginkan tentu sesuatu yang baik. Apalagi jika usahanya dengan sungguh-sungguh dan kerja keras.

Tapi banyak hal juga, karena terlalu fokus pada apa yang diinginkan malah mengorbankan kepentingan orang lain. Menjadi tidak peka terhadap keadaan sekitar. Menjadi abai, bahkan bisa sampai menyakiti orang lain.

Belum tentu juga yang diinginkan baik bagi dirinya. Bisa malah sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.

Tapi sering juga, apa yang kita inginkan. Kita kejar terus-terusan. Kita anggap sesuatu yang terbaik. Justru Allah menunjukkan, mengarahkan, dan membawa kita ke suatu yang jauh lebih baik. Suatu yang tidak pernah kita sangka.

Banyak, tapi saya ingin menceritakan yang akhir-akhir ini saja.

Belum genap satu tahun kerja di Demak, saya sudah ingin pindah. Fokus saya ingin mendapatkan kerja di Jogja. ‘Romantisnya Indonesia’ itu.

Saya ikuti setiap jobfair yang diselenggarakan di Jogja. Sering-sering apply di jobstreet dan website info loker Jogja.

Rela-rela bolos kerja, dan PP Jogja- Demak. Tidak kenal lelah demi pindah kerja.

Tiba-tiba, siang hari, di hari jumat, saya mendapatkan info dari kakak tingkat. Isinya, ada lowongan di perusahaan pakan ternak terkemuka yang berlokasi di Sragen.

Tidak disangka-sangka, saya kejar-kejar terus Jogja. Eh, malah balik ke Sragen. Syukur saya sejadi-jadinya.

Novel paling saya cari tahun 2015. Kambing dan Hujan, karya Mahfud Ikhwan, pemenang sayembara menulis novel dewan kesenian Jakarta 2014. Dan baru saja nongol di portal berita detik(dot)com sebagai salah satu novel terlaris 2015.

Saya mencari-cari novel itu setelah peluncuran. Ke gramedia, ke togamas, dan ke bazar-bazar.

Hasilnya nihil. Semua tidak memiliki stok. Di komputer katalog tertulis in order

Tiba-tiba suatu siang, Mahfud Ikhwan membuat status di facebooknya. Bagi yang belum punya novel Kambing dan Hujan bisa order ke dia, masih ada 15 ekslempar.

Langsung saya chat Mahfud Ikhwan, masih sisa 1 buku. Akhirnya saya punya novelnya, malahan, mendapatkan bubuhan tanda tangan penulisnya langsung.

Terakhir, yang sangat tidak disangka-sangka. Ketika berusaha ingin sesegera mungkin lulus kuliah dan meninggalkan Solo, di waktu-waktu terakhir saya justru dipertemukan, dengan . . . .

**

Sungguh benar kalimat berikut:

Bisa jadi, suatu yang kita anggap terbaik, ternyata buruk bagi Allah. Sebaliknya, mungkin yang kita anggap buruk, justru adalah yang terbaik bagi kita. (*)