Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Temon Holic, Sebuah Fenomena Sosial

Tuesday, January 12, 2016

Saya baru mengetahui Temon Holic atau yang sering disebut TH, ketika acara jalan sehat pas tahun baru kemaren. Saya yang biasanya lebih memilih untuk tidur ketika di tempat saya ada hiburan dangdut.  Namun kemarin, sebagai panitia jalan sehat dalam rangka menyambut tahun baru, sepertinya tidak ada alasan bagi saya untuk lebih memilih tidur.

Agar semakin meriah dari pihak panitia mengundang biduan-biduan kampung sebelah untuk memeriahkan acara jalan sehat tersebut.

Pertama hanya lagu-lagu kenangan yang sering dimainkan. Namun di saat Via Vallen KW Super bernyanyi diatas panggung, menyanyikan lagu yang berjudul “Sayang”, giliran yang muda yang mengambil alih area depan panggung untuk bergoyang. Di tengah keramaian bergoyang, ada yang menarik perhatian saya ketika di samping panggung, ada yang bergoyang seperti orang senam SKJ dengan satu orang sebagai ketuanya.

Ketika saya bertanya kepada salah satu teman, ia memberitahu bahwa yang berjoget itu adalah Temon holic atau TH. Pikirku “Temon holic atau TH, kui opo?” Setauku Temon itu ya temannya Abdel yang bersama Mama Dedeh setiap pagi itu.

Melihat TH berjoget, saya jadi teringat dengan seorang supeltas (Sukarelawan pengatur lalulintas) yang ada di pertigaan dekat Kota barat, Solo. Jauh sebelum joget fenomenal “buka dikit joss” yang terkenal ketika acara sahur itu. Acara tv yang berlanjut hingga setelah lebaran dan hampir setiap hari diputar di jam regular. Kemudian bosan dengan buka dikit joss-nya berganti dengan goyang “oplosan” yang berujung pada surat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI. Di solo sudah ada seorang supeltas yang begitu fasih bergoyang. Supeltas yang nampak selalu bergembira ketika mengatur lalu lintas kota Solo. Dengan earphone di telinganya, bergoyang mengikuti irama, sambil mengatur padatnya lalulintas di pertigaan itu. 

Ohiya, ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya orang yang didaulat sebagai si Raja goyang oleh salah satu stasiun tv itu ya? Atau mungkin setelah menikah, dia sudah kembali ke jalan yang benar? Entahlah, saya tidak mau jadi ahli ghibah.

Kembali lagi soal TH. Saya yang mulai penasaran dengan TH, mulai mencari-cari informasi di internet. Dan saya menemukan sebuah video dokumenter di youtube, tentang sejarahnya TH. Dari video itu saya jadi sedikit tahu tentang sejarah TH.  Berawal dari seorang pemuda Klaten, yang bernama Muchtar Setyo Wibowo dan biasa dipanggil Temon. Temon seperti kebanyakan orang, ia hobi menonton musik dangdut. Menonton dangdut tanpa goyang, itu ibaratnya malam tahun baru tanpa kembang api. Dia yang begitu fasih berjoget mengikuti irama gendang itu, mulai sering mendatangi dari kampung ke kampung, acara-acara yang ada hiburan musik dangdutnya. Dan ketika salah satu OM Sagita Nada mulai tertarik dengan keunikan goyangan Temon. Temon pun sering diajak ketika OM Sagita Nada sedang ditanggap warga masyarakat. Kemudian salah satu temannya mulai tertarik dan mengikuti gerakan Temon di belakang. Kemudian semakin ia sering berjoget di mana-mana, semakin banyak pula yang mulai tertarik mengikutinya dari belakang. Kemudian sekitar awal tahun 2013 ada yang berinisiatif membentuk komunitas yang bernama Temon holic, sebagai wadah orang-orang yang suka goyang dangdut. Jadilah Temon Holic atau TH seperti saat ini.

TH seperti menjadi sebuah fenomena sosial yang luput dari pengamatan saya. Namun TH saat ini bisa dibilang begitu menjamur, terutama di wilayah karisidenan Surakarta, Seperti Solo, Klaten, Sukoharjo, Boyolali, Sragen dan Karang Anyar. Jika ada hiburan dangdut saya berani jamin bahwa TH akan ada di acara itu.

Goyangan TH bisa dibilang adalah goyangan yang ekspresif, dan bisa jadi lagu dengan judul yang sama sekalipun goyangannya bisa berbeda-beda, hal ini tergantung yang di depan. Karena ini goyang, bukan senam SKJ yang musiknya itu, goyangan juga itu.

TH adalah suatu fenomena yang alami, bukan merupakan settingan seperti halnya goyang fenomenal yang pernah menghiasi layar kaca itu, yang merupakan settingan sang produser acara. Mungkin syarat untuk melihat langsung adalah harus mau bergoyang mengikuti goyangan (yang menurut mereka sebut sebagai) Si Raja Goyang. Dan tentu mereka mau-mau saja bergoyang, lha wong ada hadiahnya juga je.

Adanya TH, setidaknya dalam setiap hiburan musik dangdut, akan ada dua hiburan sekaligus yang bisa dinikmati. Pertama panggung musik dangdut itu sendiri, kedua para TH yang bergoyang mengikuti irama gendang. Dan setidaknya dengan adanya goyang yang sedikit terkonsep seperti itu, tingkat tawuran antar pengibeng juga berkurang. Ngibeng itu apa? Ngibeng itu sama halnya dengan berjoget atau bergoyang.

Dan mungkin tidak semua orang mengetahui apa itu Temon holic atau TH, terutama mereka mendaulat dirinya sebagai orang yang modern, atau menganggap musik dangdut adalah musik kampungan, hiburan bagi orang-orang kelas ekonomi bawah. Tapi tidak dosa juga lho kalau sesekali mencoba melihat di youtube dengan keyword “Temon Holic”.


Dan jika ingin lebih tahu tentang TH atau Temon Holic silakan lihat video tentang Joget Damai Temon Holic

sumber gambar : solopos.com