Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Cinta Tak Pernah Kadaluarsa

Saturday, February 27, 2016


Malam setelah makan, biasanya keluarga saya berkumpul di depan TV. Selain mantengin layar televisi, lebih banyak kami ngobrol mengenai yang terjadi seharian. Mulai dari cerita Bapak soal pohon anggur yang kami tanam bulan lalu malah semakin layu, ayam yang lebih senang bertelur di kandang tetangga ataupun kucing kami yang lama tak pulang ternyata hamil lagi, hingga menginterogasi adik saya yang pulang sekolah agak telat sore tadi. Juga cerita Ibu, yang biasa kami panggil Mamake, hari itu jadwalnya periksa rutin ke rumah sakit. 
"Nduk, make tadi di RS ketemu lagi sama mbah kung yang dulu bareng kita." 
Saya agak meraba siapa yang dimaksud Make. Melihat saya masih berpikir, Make menambahi.
"Mbah kung yang ditemani mbah ti. Pake kursi roda. Pasiennya dr. Gama juga."
"Oh. He eh." saya teringat satu orang. "Ada apa Mak?" 
"Udah sehat sekarang. Bisa jalan, tapi memang masih agak susah. Gendutan juga. Nyenengke lihatnya." Make semangat sekali ceritanya. 

*Tentu Make menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian, jadi saya rasa perlu saya terjemahkan dengan sedikit saduran.*

***

Hampir 2 tahun lalu, tepatnya bulan Mei 2014, Mamak pernah mengalami serangan stroke ringan. Penyakit yang sering disebut silent killer ini, datang secara tiba-tiba dan tak bisa ditunda ataupun diulur penanganannya. Apabila sudah muncul gejala, harus segera dirujuk dan mendapatkan pertolongan. Begitu pun yang dialami Mamak. Lebih dari panik. Kejadian itu merupakan hal paling menakutkan yang pernah saya alami. Yang bisa kami lakukan hanya berupaya pengobatan sebaik mungkin dan pasrah. 

Syukur, Alhamdulillah. Semuanya membaik, dan semakin baik. Sumbatan pembuluh darah di kepala yang menjadi penyebab serangan stroke, dapat teratasi. Masa-masa yang mengkhawatirkan pun terlewati. Dokter dari awal sudah mewanti kepada keluarga agar bersabar, pasti butuh waktu bagi Mamak untuk pulih kembali. 

Untungnya, beliau punya semangat tinggi untuk sembuh. Dalam waktu sebulan, Mamak sudah bisa berjalan. Tangan sudah kuat untuk menggengam, mengangkat bahkan hingga gerak motorik halus seperti mencubit (haha). Dan yang paling penting, dapat mengontrol keadaan emosi. Hanya dalam sebulan. Hebat, kan? Make memang super "strong" women.

Semenjak itu, Mamak masih harus rutin ke rumah sakit. Meski hanya check up berkala, menebus obat yang sudah habis atau sekedar say hello dengan dokternya. Hipertensi yang menjadi faktor resiko tinggi untuk stroke, membuatnya harus terus minum obat pengatur tekanan darah. Jika orang tua kita sudah menginjak usia hampir atau sudah lebih dari 50 tahun, akan lebih baik memeriksakan kesehatan secara berkala dan meluangkan waktu untuk mereka meski hanya sekedar menjadi teman ngobrol

***

Dulu, sewaktu masih menyandang status mahasiswa tingkat akhir dan belum bekerja, saya tak pernah absen menemani Mamak ke rumah sakit. Dua minggu sekali, hari Senin atau Kamis, menyesuaikan jadwal dokter. Kian lama, ke rumah sakit menjadi jadwal rutin yang menyenangkan. Untuk Mamak, juga untukku. "Semua dibawa senang aja, lah." Begitu pikir Mamak. Dan untukku, kebersamaan dengan Make seperti mendekatkan kembali setelah selama ini jauh, dalam arti yang sebenarnya. 

Namun benar juga, tidak selamanya di rumah sakit itu menyedihkan. Saya malah banyak bertemu dengan teman-teman lama. Mulai dari mereka yang jadi perawat disana, juga koas di poli syaraf tempat Mamak periksa. Sayangnya semuanya perempuan. Terkadang malah jadi ajang reuni di rumah sakit. Dan tak selamanya di rumah sakit itu mengerikan. Bahkan disana akan banyak melihat cinta, kepedulian dan tempat bersyukur. Coba saja! 

Pertama kali bertemu dengan mbah kung, ketika kesekian kali saya mengantar Mamak. Beliau datang bersama istrinya, mbah ti. Keduanya kira-kira berusia 70 tahunan. Mbah ti yang berjalan pun sudah susah payah, mendorong kursi roda sang suami. Mengantarkan hingga sejauh ini, hanya berdua. 

Kami menunggu di poli yang sama waktu itu. Mamak yang duduk di sebelahku menyikutku pelan, memberi tanda agar saya memperhatikan sesuatu. Mbah kung dan mbah ti yang duduk berseberangan dengan kami. Mbah ti bertanya pelan pada mbah kung, "Mau minum, Pakmu?". Mbah kung mengangguk. Didekatkannya satu botol air putih dengan sedotan. Mbah ti menuntun pelan agar mbah kung minum perlahan. 

Tak lama, Mamak membuka pembicaraan dengan mereka. Mbah ti bercerita, mbah kung sudah 3 bulan ini menjalani terapi setelah serangan stroke yang dialami. Karena usia yang sudah lanjut, pasti menjadi salah satu faktor lamanya proses penyembuhan. Seperti saya, mbah ti juga rutin mengantar mbah kung datang ke rumah sakit. 

Bukan rasa kasihan saat saya melihat kedua sejoli ini. Ini namanya romantis, pikirku (duh, kata romantis lagi). Keduanya menikamti cinta yang tak pernah kadaluarsa hingga hampir masa kadaluarsa. Usia yang semakin lanjut tidak menyurutkan semangat mbah ti membersamai mbah kung yang sedang sakit. Setelah sudah lelah berlari bersama, di masa tua, jalan tertatih pun tetap bersama. Cinta itu memang bukan sekedar ucapan, namun berupa tindakan.