Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Di Balik Secangkir Kopi

Thursday, February 11, 2016
sumber gambar

“Hari ini ada overtime?”
“Iya, ini aku masih di kantor, kenapa?”
“Okelah, nanti aku jemput jam 5 sore, kalau begitu?”
“Hey, mau kemana? Emang aku sudah bilang “iya”, ke kamu?”
Yaelah, kaya punya pacar aja, kamu”
Suara di seberang sana, kemudian terputus. Aku tidak tahu, dia akan mengajakku kemana, namun yang pasti, sulit bagiku untuk menolak ajakannya.

Aku yang kala itu masih dikantor, membereskan meja kerjaku dan berkemas untuk pulang. Aku sengaja pulang lebih awal. Karena menurutku, pekerjaanku sudah selesai. Jadi, aku tidak perlu berlama-lama lagi di kantor. Sebelum pulang aku berpamitan dengan salah satu Staff Administrasi, agar menghubungiku via telepon jika ada sesuatu permasalahan yang mengharuskanku untuk ke kantor lagi.

Aku melihat jam di tanganku, waktu kulihat ternyata masih jam 3 sore. Di luar masih panas, langit kali ini begitu cerah. Aku tidak langsung pulang, namun mampir dulu di sebuah warung di mana aku biasa nongkrong di sana, bersama teman-temanku. Aku memesan es tawar, serta meminta untuk dibuatkan indomie rebus pakai telur, dengan irisan cabai, untuk mengganjal perutku yang sepertinya sudah mulai lapar.

Sambil menunggu indomie rebus pesananku datang, biasanya aku lebih sering membuka social media melalui handphone-ku, sekedar ingin mengetahui apa yang sedang ramai di medsos. Atau terkadang malah hanya sekedar membaca artikel-artikel yang dibagikan di dinding facebook.

Selang beberapa saat, indomie rebus pesananku datang. Aku menambahkan sedikit saos sambal, kemudian menikmati indomie rebus yang masih panas. Indomie rebus yang mampu membuat diriku berkeringat dan terasa lebih segar, dan kenyang tentunya.

Setelah menikmati indomie rebus, aku pulang untuk beristirahat barang sebentar saja.

***
“Aku sudah di depan, buruan!” suara di seberang sana. Masih dalam keadaan handphone menempel di telinga, aku melihat dari jendela, ternyata ada sebuah mobil sedan tua, parkir tepat berada di depan rumahku. Kemudian aku mematikan sambungan telepon dan keluar. Aku tidak tahu ia hendak mengajakku kemana, sampai ia memakai mobilnya. Setahuku dia jarang memakai mobilnya, ia lebih sering mengendarai motor matic yamaha mio-nya.

Aku mengambil tasku yang biasa aku gunakan berpergian, kemudian berpamitan ketika hendak pergi.

“aku duduk dibelakang aja ya, mau tidur. Aku capek!”
“Enak aja, dikira aku supir!” jawabnya dengan sedikit nyengir. Aku masuk kedalam mobilnya, di atas dasbor mobil tidak ada apa-apanya, jauh berbeda dengan mobil milik wanita pada umumnya, yang biasanya diberi beberapa boneka yang menurut mereka lucu. Dan waktu aku melihat ke belakang, tak ada barang bawaan. Pikirku kali ini dia hanya akan mengajakku ngopi lagi.

“Ini kita mau kemana” aku mulai bertanya agar tidak semakin penasaran.
“Udah kamu duduk aja, nemenin aku ngobrol sambil nyetir” jawabnya yang semakin membuatku penasaran.

Mobil sudah berjalan dan mulai keluar dari gang, dan mulai masuk jalan Solo-Semarang. Aku ingin perjalanan ini tidak membosankan. Aku pun berinisiatif ingin menyalakan radio atau memutar musik yang tersimpan dalam flashdisk untuk menemani perjalanan kami. Namun dia malah melarangku “ndak usah nyalain radio atau musik, nanti yang ada kamu malah tidur lagi, percuma dong aku ngajak kamu. Kita ngobrol-ngobrol aja”

Sebenarnya aku sudah mulai capek, karena biasanya sepulang kerja aku lebih suka memanfaatkan waktuku untuk beristirahat di rumah. Entah itu hanya sekedar menonton telivisi ataupun baca-baca buku. Namun kali ini, aku terpaksa menemaninya, entah kemana. “Sekali-kali tak apalah menikmati udara luar” pikirku kala itu.

Kami berdua mulai mengobrol, terkadang kami tertawa lepas dengan candaan kami. Sejak meng-iya-kan ajakannya ke sebuah warung kedai kopi, ia sudah beberapa kali mengajakku untuk sekedar ngopi-ngopi lagi menikmati kopi di kedai yang berbeda-beda, namun aku selalu tidak bisa meng-iya-kan ajakannya, karena urursan pekerjaan.

Di tengah perjalanan, ia masih saja bungkam tentang tujuan kami kali ini. Yang aku tahu mobil menuju ke arah Semarang. Kemudian ia juga bercerita bahwa dulu ia tidak bisa menikmati kopi. Awalnya semua kopi itu sama, kopi adalah minuman hitam pekat. Kemudian ia mulai diajak oleh salah satu temannya untuk berkunjung dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Kemudian dari hasil kunjungan dari kedai ke kedai itu pula, semakin lama, ia semakin menyadari, bahwa ada perbedaan baik dari segi aroma serta rasa dari kopi itu. Setiap kedai memiliki keunikan rasa dan aroma kopi yang berbeda-beda.

“Termasuk dalam kesukaan kopi hitam tanpa gula, itu juga hasil dari perjalanan lidahmu tentang kopi?” Aku mulai menyela ceritanya dengan pertanyaan itu. Dan nampak ia sedikit kesulitan mengapa ia lebih suka dengan kopi hitam tanpa gula. Namun selang beberapa saat ia menjawab dengan singkat “Kan aku udah pernah cerita soal itu waktu di kedai yang dulu, halah yang waktu kamu hampir muntah waktu tahu kopi itu tanpa gula” Ia malah sedikit meledekku dengan jawabannya.

Aku yang sedikit kelelahan itu, tidak sadar bahwa aku malah tertidur.  Awalnya aku hanya samar-samar mendengarkan ceritanya, kemudian mak bless aku sudah tidak dengar, dengan apa yang diceritakannya, karena sudah tertidur pulas.

***
Ada seseorang yang mengoyah-nggoyahkan lenganku. Kemudian perlahan aku mulai tersadar, dan perlahan mulai membuka mata. Waktu aku mulai membuka mata, dan mulai mengumpulkan kesadaranku. Nampak musik MP3 masih menyala, ternyata selama aku tertidur, ia memutuskan menyalakan musik untuk menemaninya agar tetap terjaga selama menyetir mobil. Aku melihat kanan kiri, ternyata mobil sudah berada di parkiran di sebuah tempat yang benar-benar tak aku pahami.

Aku membuka pintu mobil, dan segera keluar dari mobil. Udara cukup dingin, aku melihat sekitar dan berusaha untuk mengenali tempat apa yang sedang kami kunjungi. Aku melihat jam, ternyata masih jam enam lebih, kami kemudian menuju ke sebuah mushola kecil untuk sholat magrib terlebih dahulu.

Dan barulah setelah selesai magrib ia mengajakan ke sebuah coffe house. Aku mulai menyadari bahwa ia sedang mengajakku ke sebuah kedai kopi yang terletak di perkebunan kopi. Dan ia mulai memesan kopi, aku masih sibuk melihat kanan kiri untuk mengamati sekitar. “Tempatnya nyaman, dan udaranya juga segar, kamu sering ke sini?” tanyaku.

“aku hanya sesekali saja ke sini, gila aja sering-sering ke sini, bisa habis gajiku belum sampai satu bulan” jawabnya dengan sedikit bercanda. Ia bercerita bahwa di sini merupakan salah satu tempat asyik buat ngopi. Tempatnya nyaman, adem, udaranya juga segar, dan tentu sangat tenang, jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang saling sikut hanya demi uang. Ia menceritakan bahwa manusia kini menjadi budak-budak materi, namun mereka kerja keras siang-malam, sampai tidak punya waktu menikmati hasil kerjanya. “Mending aku, kerja juga nggak bentoyongan, gaji pas-pasan tapi bisa punya waktu selo menikmati kopi kaya gini”

Pesanan kopi kami datang, seorang laki-laki datang dengan membawa nampan berupa dua buah cangkir kosong, gula, sebuah French press yang berisi kopi hitam yang terlihat masih sangat panas, serta dua potong roti bakar, dan mempersilakan kami. Segera ia menuangkan kopi dari French press ke cangkirnya, dan seperti biasa, ia tidak menambahkan gula, dan ia juga menuangkan kopi ke dalam cangkirku, kemudian ia seperti sudah paham dan menyodorkanku gula, agar aku menaruhnya sesuai seleraku.

Aku menuangkan gula secukupnya ke dalam cangkirku, kemudian mengaduknya. Dan ketika aku masih dalam keadaan mengaduk kopi dalam cangkirku, agar gula larut dalam kopi, aku kemudian mengamatinya. Seperti biasa! Ada ritual khusus sebelum ia mulai menyruput kopinya, ia memejamkan matanya, kemudian menghirup kepulan asap yang keluar dari cangkir kopinya. Aku hanya seperti memastikan apakah ia lupa atau tidak, dengan ritualnya sebelum meminum kopi. Aku kemudian juga segera menikmati kopi selagi masih panas.

Udara yang sejuk, dan agak dingin, roti bakar yang masih hangat, dan kopi, seakan menjadi pelengkap suasana sore menjelang malam itu. Ia bercerita kenapa ia sangat menyukai tempat ini. “Tempat ini mempunyai kenangan tersendiri bagiku, kami dulu sering pergi ke sini. Bahkan dia juga tahu betul kemana ia harus mencariku ketika hatiku sedang gusar” kemudian ia menyruput kopinya lagi. Aku tidak sedang ingin menyelanya, karena kali ini ia sedang berbicara dari hatinya yang terdalam. Ada sebuah beban yang ingin ia bagi, kali ini. Kemudian ia seakan tersadar bahwa ia tidak ingin menyeretku ke masa lalunya. Dan itu semakin nampak ketika ia mengatakan “Sudah lah, itu kan masa lalu” dan aku semakin yakin, terkadang kita akan teringat terhadap momen-momen tertentu ketika kita sedang menziarahi tempat-tempat masa lalu.

“Kamu lihat di sana” sambil menunjukkan arah, ia mulai menceritakan sedikit hal tentang tempat ini. “Di sini, kita berada tepat diantara kebun kopi, selain tempat buat ngopi di sini juga tempat buat berkumpul keluarga, di belakang gedung ini ada sebuah kolam renang, kemudian area bermain anak, ada juga tempat outbound” aku hanya menyimak saja penjelasannya, seperti halnya tour guide yang sedang memandu wisatawan.

Aku menikmati roti bakar dan sesekali menyruput kopi yang sudah mulai hangat. Dan dia nampak menikmati sruputami sruputan kopi di cangkirnya. Dan ketika ia menikmati kopi di cangkirnya ia kemudian bercerita lagi. “Tau nggak  kenapa aku suka dengan tempat ini?”
Aku hanya menggeleng-geleng kepalaku. “Bukan hanya kenangan yang membuatku senang mengunjungi tempat ini, tapi, lihat ini” ia menunjukan cangkir kopinya kepadaku. “Ada sebuah perjuangan sebelum akhirnya menjadi secangkir kopi ini”

“Pertama kopi di tanam di perkebunan itu, bahkan butuh perawatan yang ekstra untuk menghasilkan biji-biji kopi yang berkualitas, apalagi butuh waktu yang lama dari menanam pohon kopi hingga kopi itu bisa berbuah” Aku masih menyimaknya sambil menikmati roti bakarku dan sesekali menyruput kopiku.

“Kemudian buah-buah kopi itu di panen, disortir untuk memilih mana yang benar-benar kopi berkualitas, dan baru kemudian di jemur dengan panas matahari langsung, kemudian dipisah antara kulit buah dengan biji, barulah biji-biji kopi itu di simpan, dan tau nggak berapa lama biji-biji kopi itu disimpan? Bukan hanya satu-dua hari, kadang sampai beberapa bulan, konon semakin lama menyimpannya, jusru semakin baik” ia menghela nafas dan jeda untuk menuangkan kembali kopi ke dalam cangkirnya

“Dan secangkir kopi ini, aku rasa seimbang jika harus dibayar mahal, karena menurutku ada sebuah perjuangan, usaha, serta kerja keras dalam setiap cangkir kopi, ada usaha dan kerja keras petani dalam menanam, merawat dan memanen buah kopi, kemudian ada tangan-tangan ahli dari seorang barista dalam meracik kopi ini”

“Bukan hanya itu” ia mulai melanjutkan lagi.
“Usaha, serta kerja keras mereka adalah jerih payah yang penuh tanggung jawab dan keikhalasan, karena mereka menanam pohon kopi, merawatnya, kemudian memanennya, itu semua adalah bentuk ibadah juga, karena mereka bekerja adalah wujud tanggung jawab terhadap keluarganya. Dan tentunya, kita juga ikut membangun Negara kalau ngopi di sini, kan perkebunan kopi ini milik BUMN, yaitu PTPN” ia tertawa ketika menjelaskan bahwa ngopi juga ikut membangun Negara.

“Kamu harus sering-sering berkunjung ke kedai-kedai kopi agar tahu perbedaan cita rasa setiap kopi” sebuah kalimat yang bisa saja berarti anjuran, atau bisa jadi ajakan.


Dan dalam hati aku hanya bisa berkata “Aku akan kunjungi setiap kedai kopi dan menikmati cita rasa kopi setiap kedai itu, asalkan dengan kamu”