Ads Top

Memberi, Tanda Cinta yang Sukarela

sumber gambar 

Dulu, sewaktu masa kuliah, setiap kali saya hilang dari peredaran kampus, para sahabat pasti sudah tahu ke mana saya pergi. “Paling ke Graha UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) UNS”, pikir mereka. Kalau tidak, kemungkinan besar pergi mengikuti kegiatan yang bersangkutan dengan UKM. Dan UKM apa yang saya ikuti?

Saya pun tidak pernah terpikir akan bergabung dengan UKM ini sebelumnya. UKM yang dikenal dengan DIKLATSAR (Pendidikan dan Pelatihan Dasar)-nya selama berhari-hari, kalau mau ditotal sih tepatnya satu minggu. Dan jangan tanya diapain dan ngapain saja disana. Parahnya, fakta itu baru saya tahu setelah menjalani hari pertama DIKLATSAR. Apakah jadi alasan saya berhenti? Tidak! Kenapa? Alasannya hanya satu, eman-eman sudah terlanjur bayar uang pendaftaran. Alasan standar anak kuliahan apalagi perantauan

KSR PMI Unit UNS. Korps Sukarela Palang Merah Indonesia, Unit Universitas Sebelas Maret. Itu UKM-nya. Banyak mahasiswa yang masih asing dengan UKM ini. Malah masih pada tertukar dengan istilah yang mahasiswa banget, iya, KRS atau Kartu Rencana Studi. Tapi guys, itu jauh banget. Nih ya, KSR merupakan salah satu wadah relawan yang menginduk pada PMI, dan karena unitnya di UNS sehingga anggotanya adalah para mahasiswa UNS. Selain sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan, KSR PMI Unit UNS adalah tempat terhimpunnya relawan PMI Solo. Jadi, selain melakukan kegiatan yang UKM banget dan tetap berlandaskan kemanusiaan, para anggota organisasi ini juga bersiaga sebagai relawan.

Ada 3 jenis relawan di PMI yaitu PMR (Palang Merah Remaja), KSR (Korps Sukarela) dan TSR (Tenaga Sukarela). Secara kasat mata ketiga jenis relawan tersebut yang berbeda adalah rentang usia anggotanya, tapi itu hanya secara kasarannya, bukan hal mutlak juga. Ada kualifikasi lebih banyak lagi, tapi tidak akan saya bahas di sini. Bisa berlembar-lembar, malah akan jadi buku pedoman relawan nantinya. 

Oh iya, ada lagi relawan yang disebut DDS (Donor Darah Sukarela). Atau kalian bisa baca selengkapnya di pmi.or.id. Jika ingin lebih dalam belajarnya, daftar saja menjadi anggota di PMI Kota/Kabupaten kalian masing-masing atau semester depan daftar di KSR PMI Unit UNS saja ya! Haha

***

Sebelum lebih jauh, saya akan meluruskan sesuatu. Saya tidak akan membahas DIKLATSAR KSR yang mengasyikkan itu, ataupun tentang relawan PMI lebih dalam lagi. Saya hanya ingin berbagi satu hal, sesuatu yang saya curi dari sana. Sesuatu yang selalu bergelantungan di ingatan dan terpatri dalam hati, meskipun sekarang saya bukan anggota aktif lagi. 

Sebenarnya keanggotaan relawan PMI adalah seumur hidup. Namun secara AD/ART KSR PMI Unit UNS, sebagai alumni UNS saya tergolong dalam Anggota Istimewa. Tetap menjadi anggota namun yang membedakannya keterlibatan dalam berorganisasi, hak dan kewajibannya berbeda dibanding saat masih jadi mahasiswa UNS. Awal-awal menjadi anggota istimewa dan sudah pindahan dari Solo kembali ke rumah saya di Salatiga, terkadang saya masih bolak balik Solo-Salatiga untuk mengikuti kegiatan yang ada. Dan terlibat di dalamnya. 

Masih susah melepaskan apa yang sudah mengakar di hati. Mumpung masih sempat dan bisa menyempatkan, pikirku. Bahkan saat sudah bekerja, undangan untuk datang pun terkadang membuat hati galau. Jika tidak terlalu memaksakan diri, saya tetap datang. Saya juga heran, organisasi yang satu itu begitu kuat magnetnya, bahkan hingga ke Semarang tempatku sekarang tinggal.

Semenjak hari pertama DIKLATSAR, ada satu hal yang masih jelas dalam ingatan, doktrinasi yang memang benar mengena. Begini, “Jangan pernah menghitung seberapa banyak yang kamu dapat (disini) namun seberapa banyak yang bisa kamu beri.” Hal tersebut bukan tanpa dasar, mengingat organisasi ini adalah organisasi sosial, sebagai anggota nantinya kami akan banyak bekerja secara sukarela. 

***

Sebagian besar niat awal mahasiswa mengikuti suatu organisasi adalah mencari pengalaman, mendapatkan banyak teman, atau tujuan yang lain dan pasti yang bermanfaat serta menguntungkan untuk dirinya. Pun saat mendaftar di organisasi ini saya berniat seperti itu. Katanya dengan mengikuti organisasi akan meningkatkan soft skill kita sebagai mahasiswa, juga sarana belajar di luar bangku kuliah. Jadi saya mendaftar bukan karena organisasinya, juga bukan karena ingin menjadi relawan.

Saya yang agak "lola" alias loading lama, sedikit butuh waktu untuk memahami maksud tahap ini. Masih meraba-raba, mau ngapain sebenarnya saya di sini. Niatan memang bisa berubah di tengah jalan. Tapi bukan berarti tiba-tiba saya sepenuhnya ingin jadi relawan (untuk saya, itu cukup panjang prosesnya), namun setidaknya doktrinasi tersebut memaksa saya selalu mengingatnya. Bukan seberapa banyak yang kita dapat, tapi perhatikan seberapa banyak yang bisa kita beri. Karena katanya, tak kan terbayangkan betapa manisnya apa yang didapat setelah rela memberi. 

Begitulah organisasi ini memupuk loyalitas anggotanya. Seperti halnya menjalin hubungan dengan pasangan, memberi adalah kewajiban tanpa memperhitungkan apa yang kita dapat darinya, yang kita cintai. 

***

Saat memutuskan menjadi anggota suatu organisasi, setidaknya hati sudah punya niat berkontribusi di dalamnya. Memang bagi siapapun yang ingin meng-upgrade diri, organisasi adalah salah satu jalannya. Belajar bersosialisasi, menjajal ketahanan banting diri sendiri, melatih kemampuan berkomunikasi, meningkatkan pemikiran kreatif, dan melatih kepemimpinan. 

Namun bukan hal yang tidak mungkin terkadang harus ada yang dikorbankan. Masih ingat, pernah rapat hingga larut untuk persiapan suatu acara? Mondar mandir kesana kemari mencari sponsor dana? Mengumpulkan keberanian mendatangi pengisi acara yang bahkan kita belum tahu mampu membayarnya atau tidak? Dan melakukan berbagai cara lainnya agar kegiatan yang akan dilaksanakan berjalan lancar. Tidak hanya waktu dan tenaga yang dikorbankan, bahkan hingga materi. 

Eits, tapi tak ada kata pengorbanan dalam cinta, kan? Kalau sudah cinta, kenapa semua hal yang kita lakukan masih dihitung pengorbanan? Na na na na naa~ ilmu saya belum sampai untuk menjawab pertanyaan ini. Yang saya tahu, kita dapat menilai kemampuan untuk memberi. Sehingga nantinya, tidak akan mengungkit-ngungkit lagi yang sudah dinerikan. Dan ketika memberi dengan tulus bukan lagi pengorbanan yang diingat, namun kebahagiaan yang didapat. 

***

Mengenai memberi. Memberi bukan hanya soal materi, kan? Memberi bisa jadi memberikan bantuan, menyumbang tenaga, waktu, pikiran, melakukan hal positif lainnya untuk orang lain. Juga, memberikan senyuman. 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jika belum bisa, setidaknya tidak merugikan orang lain. Toh, melakukan kebaikan dengan memberi itu dapat membuat hidup sehat. Ya, nggak? Selalu berfokus pada seberapa banyak yang kamu dapat akan membuat diri menjadi seorang penuntut. Malah stres sendiri. 

Dan begitu, hukum memberi adalah menerima berlaku untuk saya. Ketika saya memutuskan untuk memberi yang saya bisa beri untuk organisasi tersebut, banyak yang saya terima. Mendapatkan banyak teman, pasti, bahkan sudah seperti keluarga. Tempat bertumbuh, tentunya, manis pahitnya membuat lidah semakin beraneka ragam mengecap rasa.

Meskipun bukan praktisi yang ulung, prinsip tersebut patut diterapkan dalam keseharian. Memberi tanpa mengingat-ingat, menerima tanpa melupakan. Siklus yang ajaib hitungan matematisnya. Mari kita coba!

Powered by Blogger.