Ads Top

Menjinakkan hati

Gambar ilustrasi

Salam,
Setiap orang pernah kehilangan. Pernah menghilangkan. Pernah juga menghilang. Entah sengaja atau tidak. Aku pernah melakukan semua itu. Jadi panggil saya cah ilang. 

Punya tuiter dan fesbuk? Aku yakin di jaman kekinian ini tidak memiliki akun di kedua jejaring itu adalah kejahatan yang luar binasa. Bagaimana tidak? Mereka salah satu sarana mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dan tadi malam, topik pembahasan di kedua jejaring tersebut sungguh menarik. Tuiter membahas pemblokiran situs porno bernama tumblr. Fesbuk membahas tentang LGBT. Riuh ramai orang-orang hebat menyuarakan pendapatnya. Aku bosan. Jenuh dengan ke-aku-an yang mereka lontarkan. 

It’s okay. Everyone have their own way to think. I would not disturbed the way they thinking.
Aku memilih mengurung diri, menonton film sederhana. Tentang seorang pilot yang terdampar jatuh di tengah gurun sahara. Berusaha bertahan hidup sambil memperbaiki pesawatnya. Yap le petit prince atau pangeran cilik. Pernah baca novelnya? Aku yakin kau akan merasa beruntung membaca novel itu. 

Buku tipis sederhana berhalamankan tidak lebih dari 120 halaman ini sungguh sarat makna. Tenang. Aku tidak akan membuat resensi buku disini. Aku tertarik pada percakapan antara pangeran cilik dan seekor rubah. Tentang menjinakkan. Tentang membuat ikatan. Pertama kita harus sabar. Kemudian tetap sabar. Hingga pada akhirnya kita mengenal dan memahami apa yang kita jinakkan. Dan dalam hal ini, aku teringat kepada hatiku. Hati adalah makhluk yang paling sulit dijinakkan. Meskipun itu milikmu sendiri. 

Menjinakkan berarti memberikan tali pada sesuatu yang kita jinakkan. Membuat jembatan penghubung dimana kita akan menerima kejutan yang datang dari sisi lainnya. Menjinakkan hati berarti kita mengenal tentang takut, sedih, harap, bahagia. Menjinakkan hati berarti kita berdamai dengan takut. Menjinakkan hati berarti kita mengendalikan bahagia. Yang pada akhirnya, menjinakkan hati adalah tentang berserah. Pada takdir yang telah ditulis dengan pena langit. Dan belajar menjinakkan hati adalah belajar menjadi sebaik-baiknya diri. 

Ada sebuah mantra rahasia yang diucapkan oleh sang rubah ketika pangeran cilik akan meninggalkannya. “Hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.” 

“Yang terpenting tidak tampak di mata.” Ulang Pangeran cilik agar tidak lupa.
Powered by Blogger.