Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Mereka Yang Bekerja Dengan Bahagia

Sunday, February 14, 2016
sumber gambar
Di bawah terik sinar matahari yang begitu menyengat, dua orang wanita yang usianya sudah tak lagi muda, kira-kira seusia dengan nenekku, sedang duduk di pinggir jalan raya Solo-Semarang. Kedua nenek itu nampak sedang menunggu bus, di samping kedua nenek tersebut ada barang bawaan yang lumayan banyak. Mereka nampak baru saja dari pasar menjajakan barang dagangan.

Sepertinya kedua nenek tersebut menyewa andong untuk membawa barang dagangan mereka dari jalan raya menuju pasar, begitu juga ketika pulang, mereka juga menyewa andong untuk membawa dagangannya dari pasar ke jalan raya. Sehingga baru ketika berada di pinggir jalan raya mereka dapat mencari tumpangan bus untuk pulang. Karena barang dagangan mereka berdua lumayan banyak, tidak mungkin jika diangkut dengan digendong, mengingat jarak dari jalan raya Solo-Semarang ke pasar lumayan jauh. Lagian tidak jauh dari mereka menunggu bus, terdapat terminal andong juga, jadilah andong, alat transportasi yang jauh dari kata modern itu, masih digunakan oleh pedagang-pedagang pasar untuk mengangkut barang dagangan.

Dan di saat kami sedang melewati jalan raya itu, tiba-tiba teman yang sedang membonceng dibelakangku mengeluarkan rasa iba kepada dua nenek yang sedang menunggu bus di bawah terik sinar matahari itu. “kasihan mereka ya, Kik” mendengar rasa iba itu, aku hampir saja meresponnya dengan jawaban singkat “Ndasmu” untungnya aku dapat menguasai diriku. Jadi aku tidak merespon apapun kepada orang yang sedang merasa iba, ketika melihat sebuah peristiwa yang mampu membuat seorang wanita dibelakangku mengeluarkan sisi emosionalnya.

Siang itu udara begitu panas, meski sudah beberapa hari kemarin lebih sering mendung dan hujan. “Kita minggir sebentar di es kelapa muda, di depan kayake ada penjual es kelapa muda” Aku mengajaknya untuk berhenti sebentar di pedagang pinggir jalan yang menjual es kelapa muda, kemudian ia hanya mengiyakan saja.

Dan ketika kami menikmati es kelapa muda, di bawah udara sinar matahari siang yang begitu terik, ia mencoba menunjukkan kembali rasa ibanya terhadap dua nenek yang sedang menunggu bus tadi. “Kamu tadi lihat dua nenek-nenek di pinggir jalan tadi? Kasihan ya? Sudah tua masak masih disuruh kerja?” Aku masih menikmati es kelapa mudaku, kemudian aku bertanya balik kepadanya “Emang yang nyuruh dia kerja siapa?”
“Lha, . . . Ya mana aku tahu? Emang aku anaknya?” Jawabnya yang sepertinya tidak menyangka dengan jawabanku yang terkesan biasa saja. Nampaknya ia juga mengharapkan respon iba ketika ia bercerita tentang apa yang ia lihat di pinggir jalan tadi.
“Bisa jadi, mereka itu (dua nenek di pinggir jalan tadi) lebih bahagia dari yang kita pikirkan”
“Maksdunya? Emang kamu nggak kasihan? Mereka sudah tua, harusnya mereka itu ya, di rumah, menikmati masa tua dengan cucu-cucunya”
“Tunggu dulu, itu kan dari pandanganmu, emang kamu pernah merasakan tua seperti mereka? Pernah kamu bertanya kepada mereka? Apakah mereka sebegitu kasihannya seperti yang kamu lihat?”
Hih, kamu itu, bener-bener ya

Aku hanya tersenyum ketika ia mulai jengkel denganku. Aku tetap saja menikmati es kelapa mudaku, sedangkan dia? Dia masih saja tenggelam dalam rasa iba, dan sedikit jutek oleh sikapku yang tidak se-iba dengannya.

Aku mulai menjelaskan dengannya kenapa aku bersikap begitu. Mungkin secara kasat mata, kedua orang tua yang sedang duduk di pinggir jalan tadi, mereka nampak kasihan. Namun aku tidak melihat bahwa dari mereka merasa perlu dikasihani. Mereka nampak menikmati panasnya sinar matahari, lelah dan letihnya adalah usaha yang bukan hanya bernilai materi. Tapi lebih dari itu, ada perasaan bahagia ketika mereka bisa tetap bekerja, dan tidak menyusahkan anak-anaknya. Mereka bahagia dengan apa yang mereka lakukan, meski terkadang diantara kita melihatnya dengan penuh iba.

Aku yakin, tidak ada seorang anak yang membiarkan kedua orangtuanya merasakan susah. Namun terkadang apa yang menjadi keinginan anak, tidak seperti apa yang diinginkan orangtuanya. Anak menginginkan orangtuanya agar istirahat saja di rumah, menikmati masa-masa tua dengan berkumpul dengan anak cucu, namun apa yang menurut si anak itu baik, apakah bisa diterima oleh orangtuanya?

Orangtua yang terbiasa bekerja keras sepanjang usia mudanya, begitu ia sudah tua, ia tetap saja merasa muda, tetap ingin bekerja berapapun hasilnya. “Tidak ingin merepotkan anak-anak” alasan yang biasanya mereka ucapkan ketika kita bertanya kepada mereka, “mengapa masih bekerja, padahal usia sudah tak lagi muda?”

Aku bercerita kepadanya tentang sesuatu yang mirip dengan apa yang ia lihat. Aku mulai bercerita tentang sebuah cita-cita dari seorang anak yang masih belajar tentang hidup. Anak itu menyarankan orangtuanya untuk istirahat saja di rumah, menikmati masa tuanya, karena si anak sekarang sudah lulus dan bekerja di sebuah perusahaan. Meski gaji si anak masih tidak seberapa, namun gaji itu sudah cukup untuk hidup bersama dengan ibunya. Si anak memberikan segala kenyamanan bagi si ibu, namun apa yang terjadi? Bahagiakah si ibu meski bisa hidup dengan segala kenyamanan yang diberikan oleh sang anak? Ternyata tidak seperti yang dipikirkan oleh sang anak.

Ibunya yang terbiasa bekerja, tiba-tiba hanya duduk dan berdiam di rumah dengan segala kenyamanannya. Terbiasa berdagang, berkumpul, dan berkomunikasi dengan pembeli-pembeli, kini hanya televisi yang menemaninya. Sontak hal itu membuat kondisi kejiwaan si ibu menjadi goyah. Ada niatan untuk kembali lagi hidup merantau dan bekerja seperti yang dulu pernah si ibu itu lakukan, namun justru orang-orang di sekitar malah tak ada yang mendukung, kebanyakan orang-orang di sekitar malah justru menakut-nakuti jika terjadi sesuatu di tanah rantau.

Kondisi si ibu justru menjadi-jadi, si ibu justru semakin merasa tertekan. Ia tidak bisa menyembunyikan tekanan dalam dirinya. Ibu itu benar-benar terpenjara dalam kenyamanan-kenyamanan semu. Dan disaat seperti itulah sang anak membuat keputusan yang membuat orang-orang di sekitar adalah keputusan yang “gila”. Ada omongan dari orang sekitar bahwa anak tersebut tega membiarkan orangtuanya hidup sendirian di tanah rantau. Namun anak tersebut lebih tahu apa yang terjadi pada ibunya. Dan dengan penuh keyakinan si anak membiarkan, bahkan mendukung keputusan ibunya untuk mulai hidup merantau lagi. “Persetan dengan omongan orang-orang yang begitu sok tahu, bahkan ada yang menganggapku sebagai anak yang gila” begitu ungkap anaknya seraya menyakinkan dirinya bahwa keputusannya adalah keputusan yang paling tetap, karena si anak lebih mementingkan kondisi kejiwaan si ibu.

Si anak sangat mendukung ibunya, ketika ibunya memutuskan untuk merantau lagi. Mengapa si anak bisa begitu? Karena si anak tahu, ketika bekerja membuat si ibu bahagia, kenapa si anak harus menghalanginya. Bukan hanya anak yang perlu didengar, orangtua pun juga perlu di dengar. Setiap orangtua pasti tidak ingin merepotkan anak-anaknya, namun justru si anaklah yang sering merepotkan orang tuanya. Lihat saja dari kecil hingga dewasa anak sudah terlalu sering merepotkan, ketika tua, justru anak merepotkan orangtua dengan bersikeras untuk memenjarakan orangtuanya dalam kenyamanan-kenyamanan semu.

Sama halnya dengan kedua nenek tersebut, apa yang kita lihat dengan mata kita, itu hanya apa yang nampak secara kasat mata, mereka bagi kita adalah orang-orang yang perlu dikasihani, namun sebenarnya mereka bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Mereka bahagia dengan apa yang mereka kerjakan, karena mereka yakin mereka bisa tetap hidup dengan keringat mereka sendiri, mereka tidak mengeluh dengan apa yang mereka dapatkan setiap harinya, karena tentu untuk seusia mereka hidup bukan soal materi, mereka bukan seperti kita yang masih muda ini, dimana segala pencapaian diukur dari materi.

Dan taukah kamu, bahwa si ibu yang pernah tertekan karena kenyamana-kenyamanan semu yang diberikan anaknya, kini sudah hampir satu tahun hidup di perantauan. Ia memberi kabar kepada anaknya lewat sambungan telepon, bahwa ibu itu merasa senang dan bahagia, meski hidup sendiri di tanah rantau. Ia kini hidup seorang diri, meski dulu awalnya ada keraguan ketika memutuskan untuk hidup merantau seorang diri. Namun anak-anaknya terus mendukung dan membuatnya yakin bahwa ia bisa hidup seorang diri di perantauan.


Dan taukah kamu, bahwa si ibu tadi, adalah ibuku. Dan aku? Aku adalah si anak yang telah berdosa memenjarakan ibunya dengan segala kenyamanannya. Dan ketika ibu memberi kabar melalui sambungan telepon, dadaku terasa sesak, ada rasa haru dan perasaan bersalah. Dan kini aku akan selalu mendoakan keselamatan dan kesehatan untuk Ibu.