Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Nanda dan LGBT

Saturday, February 20, 2016
sumber gambar

Entah karena pengaruh obat yang aku minum sebelum tidur, atau karena faktor kelelahan, yang jelas sebelumnya aku merasa tubuh ini menunjukan gejala greges-greges disertai dengan gebres-gebres, seperti halnya gejala flu. Aku kala itu terbangun ketika matahari sudah mulai nampak arogan. Aku bahkan tidak mendengar alarm kedua handphone-ku. Entah, jin dan setan apa yang menutup dan mengencingi telingaku, hingga suara adzan subuh yang biasanya sempat membuatku terbangun, ditambah bunyi alarm dari kedua handphone secara bertubi-tubi, namun kala itu tak mampu membuatku terbangun. Aku merasa tidur sangat nyenyak, dan ketika bangun, baru aku sadar, bahwa aku kesiangan. Sholat subuh dengan penuh keraguan, karena bisa juga dikatakan kala itu sudah masuk jam sholat dhuha. Anggap saja ini adalah sebuah pengakuan dosa.

Hari itu adalah hari jumat, tentu aku masih merasa berkewajiban untuk sholat jumat. Aku seperti harus melakukan sesuatu untuk menebus dosa (terlambat) sholat subuh. Sebelum adzan berkumandang, aku segera berwudhu dan menuju masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat singgahku, paling sekitar dua kali sruputan kopi sudah sampai, mengingat jarak antara masjid dan tempat singgahku hanya beberapa meter saja, hanya dibatasi oleh jalan kampung.

Aku memasuki masjid. Nampak di dalam masjid masih sepi, aku sholat dua rekaat sebelum aku duduk untuk melantunkan doa-doa, serta dzikir selagi menunggu khotib berdiri di atas mimbar. Sengaja aku duduk di pojok depan, dan menjauh dari mikrofon, karena mendekat mikrofon itu sama halnya dengan mendapat jatah adzan dan iqomat. Maklum aku sadar bahwa suaraku sangat fals, aku sendiri merasa terganggu ketika mendengar suaraku sendiri, apalagi orang lain.

Khotib segera berdiri dan mengucapkan salam pembuka, kemudian selang beberapa detik diikuti adzan. Kemudian jamaah mulai merapat, dan semakin lama semakin keliatan penuh sesak hingga meluap ke serambi masjid.

Khotib sholat jumat kali ini adalah khotib tamu, kemudian ia mengeluarkan kertas dari sakunya, nampak ia sudah mempersiapkan isi khutbah jumat sejak dari rumah. Dan sang khotib ternyata update masalah isu-isu kekinian yang beberapa hari terakhir menghiasai berbagai media. Iya, apalagi kalau bukan Lesbian, Gay, Bisexsual, dan Transgender, atau lebih dikenal dengan LGBT. Tentu aku tidak akan menjelaskan pada posisi apa sang khotib dalam menyikapi masalah LGBT ini. Tentu beliau secara tegas menyatakan bahwa ia menolak LGBT. Menurut sang khotib, maraknya pemberitaan  tentang LGBT itu adalah wujud upaya dalam mensosialisasikan LGBT itu sendiri, tujuannya adalah untuk melegalkan perkawinan sejenis, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa Negara, sebut saja Amerika dan beberapa negera di Eropa lainnya. Sang khotib menjelaskan dengan sudut pandang agama, dalam menyikapi masalah LGBT. Aku hanya menyimak dengan seksama, bahkan tanpa diselingi oleh rasa kantuk seperti halnya jumatan tempo hari.

Di media sosial, kawan kuliahku yang bernama Nanda. Tentu ini adalah nama samaran, karena nama sebenarnya adalah Nanda Satriawan, dia adalah seorang yang baru akan menjadi lulusan psikologi, Nanda merasa harus berpendapat dalam hal masalah LBGT ini. Ada sebuah tanggung jawab sosial dalam menyikapi masalah LBGT. Dalam laman facebooknya ia membagikan potongan video youtube dari sebuah diskusi tentang LGBT yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Dalam laman facebooknya, Nanda membagikan video itu dengan sedikit statement “Bukannya menolak LGBT, karena memang sudah ada sejak dulu, hanya perlu diarahkan dan disembuhkan*emot senyum*” kemudian juga menambahkan sebuah pesan yang sangat bijak dari Nanda, yang seakan menunjukan ke-eksistensian-nya sebagai seorang yang baru akan menjadi lulusan psikologi ”Sehat itu FISIK, MENTAL, dan SPIRITUAL, ga bisa dipisah” begitulah kalimat terakhir dari status bijak Nanda dalam status facebooknya.

Video youtube yang dibagikan oleh Nanda, berisi tentang padangan seorang psikiater, yang menjelaskan bahwa LGBT adalah penyakit, dan bisa disembuhkan ketika dilakukan oleh orang yang tepat. untuk lebih jelasnya silakan lihat di youtube.

Dalam status facebooknya, Nanda secara tidak langsung sedang memplokamirkan dukungan kepada salah satu pihak yang sedang berseteru. Namun itu hanya sebatas perkiraanku saja, kalau mau tahu pasti, silakan hubungi Nanda, dan meminta jawaban dari hati yang paling dalam.

Bukan hanya itu saja, Nanda seperti sedang membuktikan atau bertabayun terhadap isi video yang dibagikan di laman facebooknya, dengan mem-posting lagi sebuah status diikuti dua gambar, mungkin agar nanda tidak dituduh hoax, karena di dunia media sosial kita mengenal hukum “No Pic Hoax”

Dalam postingannya, Nanda meng-upload sebuah gambar cover buku DSM-IV dan sebuah gambar yang menunjukan isi dari salah satu halaman dalam buku tersebut. Jujur, sebagai lulusan psikologi, aku lebih sering membuka PPDGJ daripada DSM-IV, karena PPDGJ jauh lebih tipis dan simpel daripada DSM-IV yang jauh lebih tebal. Mengingat PPDGJ adalah buku saku yang merupakan rangkuman dari buku DSM-IV, jadi membaca DSM-IV hanya akan membuatku ngantuk, karena sangat menggoda jika digunakan sebagai bantal.

Di postingannya Nanda meng-upload gambar cover buku dan isi dari salah satu halaman DSM-IV dengan memberikan tulisan, yang lagi-lagi sangat bijak dan benar-benar menunjukaan bahwa Nanda adalah benar-benar orang yang akan menjadi lulusan psikologi.  ”Begini temen-temen semua, mengenai F.66 gangguan heteroseksual dalam PPDGJ hanya digunakan utk melakukan diagnosis multiaksial. dan orientasi seksual memang terbagi 3 (heteroseksual, homoseksual dan biseksual) Sebatas hanya untuk itu. Bukan berarti heteroseksual juga masuk gangguan jiwa, hanya dalam heteroseksual pun, terdapat gangguan perilaku seks, mulai dari hyperseks, hipo, disfungsi ereksi, gangguan orgasme, sadis, masokis dll” tulis Nanda dalam status facebooknya kemudian ditambah lagi dengan kalimat penutup. “PPDGJ sendiri merupakan buku saku yg dibuat dari ringkasan berdasarkan DSM. Jadi untuk lebih lengkapnya, mohon baca buku DSM”
Postingan Nanda di akhiri dengan ucapan terima kasih diikuti dengan emot senyum.

Aku sangat heran ketika Nanda membuat status facebook yang nyikologi banget. Karena yang aku tahu dia hanya tertarik dengan hal-hal yang berbau game, atau anime, bahkan untuk film bokep pun, karena ia termasuk penikmat anime garis geras, Nanda lebih tertarik dengan bokep anime, seperti hentai.

***
Masalah LGBT ini, aku pribadi punya pengalaman digoda oleh seorang laki-laki dengan gaya gemulai, dengan rambut seperti gadis iklan shampo. Kala itu, sepulang kerja aku mampir di sebuah angkringan. Angkringan yang kala itu penuh dengan pelanggan, aku duduk dengan posisi sebagian pantat duduk dan sebagian lagi mengambang. Awalnya aku tidak menyadari bahwa tepat disampingku  ada dua orang laki-laki yang sedang duduk saling serong sehingga bisa saling berhadapan. Awalnya aku tidak peduli, namun aku risi ketika seorang laki-laki yang dengan kemayu mulai menyapaku, mulai bertanya soal handphone serta kecepatan koneksi internet kartu yang sedang kupakai. Dalam hati aku hanya bisa nggrundel Kampret!!! ada sinyal-sinyal modus ini”

Duh! apa ini alasan ke-jomblo-anku selama ini, karena paras sangar ini tidak mampu memikat wanita, justru wanita jadi-jadian itu yang mulai menunjukan sinyal-sinyal modus, semoga ini hanya perasaanku saja. Karena semenjak kejadian itu aku sudah tak mau mampir ke angkringan itu lagi. Kapok bos!


Dan untuk permasalah LGBT ini, aku akan memposisikan diri sebagai penonton saja lah, ibarat nonton pertandingan sepakbola, aku tidak mendukung salah satu pihak, dan hasil pertandingan itu juga tidak berpangaruh apa-apa terhadap tim favoritku, seperti halnya yang sedang bertanding Ac Milan vs Juventus, sedangkan aku pendukung Arsenal. Jadi ya, wajar lah kalau ketika menonton ada kalanya aku harus pergi dulu ke toilet, masak mie rebus dan disambi kegiatan lainnya. Jadi, bukan tidak mungkin aku akan kehilangan momen-momen penting.