Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Obrolan Angkringan: Usus Buntu

Monday, February 29, 2016
sumber gambar

Sehabis sholat isya, aku langsung mengambil kunci motor dan mengambil dompet yang masih tersimpan di dalam tas. Tanpa harus berdandan dan menyemprotkan parfum terlebih dahulu, aku langsung pergi ke angkringan meski diluar masih gerimis tipis. Hujan sejak siang membuat malam itu menjadi terasa dingin. Aku segera absen di angkringan lebih dahulu. Pikirku, menikmati teh panas mampu menghangatkan tubuhku.

Awalnya hanya ada aku dan Mas hik (sebutan untuk Mas-mas penjual angkringan), aku memesan teh panas dengan gula batu, kemudian aku juga menyuruh Mas hik untuk membuatkan indomie rebus pakai telor. Indomie buatan Mas hik tidak kalah enaknya dengan indomie rebus ala burjo, apalagi dinikmati di tengah suasana gerimis seperti saat itu.

Sambil menunggu indomie rebusku matang, aku menikmati gorengan, serta tahu bacem sebagai cemilan. Tahu bacem Mas hik sudah terkenal di kalangan setempat, agak malam sedikit pasti sudah tidak kebagian lagi.

Meski saat itu kondisi masih gerimis, angkringan lumayan ramai, namun kebanyakan dari pembeli lebih memilih untuk membungkus dan menikmati hidangan khas angkringan di rumah. Warung angkringan yang awalnya sepi itu, kemudian satu persatu pelanggan datang untuk sekedar wedangan dan menikmati beberapa nasi kucing serta gorengan.

Saat itu ada sekitar empat orang termasuk aku dan Mas hik duduk mengelilingi gerobak angkringan. Kami berempat terlibat dalam obrolan santai. Obrolan santai itu seakan sebuah forum diskusi tanpa embel-embel narasumber dan moderator. Semua orang berkesempatan untuk menjadi narasumber, dan yang lain berhak untuk berkomentar. Dan itu adalah aturan tidak tertulis dalam sebuah “diskusi” di angkringan.

Tema diskusi angkringan pun selalu berubah-ubah, tergantung isu yang sedang ramai. Terkadang membahas tentang apa yang sedang heboh di media, berita politik, gosip selebriti, masalah hobi (kebanyakan mereka adalah pecinta burung) dan tentunya saling senggol warga sekitar atau dalam bahasa jawa sering disebut ngrasani. Dan untuk yang terakhir, kami rela disebut ahli ghibah.

Kala itu, salah satu dari kami membicarakan salah satu anaknya yang mengeluhkan rasa sakit pada perut. Beliau bercerita bahwa anaknya merasakan sakit perut yang membuat anak tak bisa tenang dan terus menahan rasa sakit. Tidak tega melihat anaknya kesakitan, sang ayah pun segera membawa ke dokter. Kemungkinan sakit yang diderita anaknya adalah usus buntu, begitu menurut sang ayah menjelaskan kondisi anaknya

Masalah sakit perut, aku juga memiliki riwayat sakit perut, yang menurut diagnosa dokter kala itu terjadi karena kram perut, dan dikhawatirkan usus buntu. Aku masih ingat kejadian itu, karena hari itu tepat ketika motor baruku, baru tiba di rumah. Aku yang masih sibuk dengan motor baruku itu  pun ditawari mie ayam keliling yang kebetulan lewat di depan rumah. aku menambahkan sambel sebelum menikmati mie ayam hingga habis.

Sehabis sholat magrib, aku merasakan perutku terasa kembung dan seperti mau buang air besar namun tidak bisa. Kemudian setelah itu, aku merasakan sesuatu yang membuatku tidak nyaman lagi. Perutku tiba-tiba terasa sangat sakit, dan rasa sakit pada perutku menjalar hingga pinggang. Aku hanya bisa tidur dalam posisi miring sambil memegang perutku dan menarik paha mendekati dadaku.

Awalnya aku mengira hanya sakit perut biasa, artinya hanya dikasih minyak angin akan sembuh dengan sendirinya. Namun aku seperti sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit pada perutku. Om-ku yang tidak tega melihat aku kesakitan, segera mengeluarkan mobil dari garasi, dan tanpa ganti baju terlebih dahulu, aku yang kala itu hanya memakai kaos dan celana kolor pun langsung dimasukan ke dalam mobil untuk segera di bawa ke dokter.

Di dalam mobil aku hanya bisa tertidur di jok belakang, tetap pada posisi miring, tangan memegang perut dan menarik paha hingga mendekati dada. Sedangkan om-ku sudah nampak tergesa-gesa, sambil menyetir om-ku menyuruhku untuk selalu istighfar. Dan jujur aku tidak tahu bakal dibawa ke dokter mana, mengingat pada waktu itu kartu BPJS kesehatanku belum jadi.

Mobil parkir pada sebuah rumah dokter yang membuka praktek, dan waktu sampai di sana aku hanya menunduk dan tetap memegangi perutku. Ketika om-ku akan mendaftarkanku, Om menyuruhku untuk selalu istighfar dan bersabar, karena harus antri. Namun hanya selang beberapa saat, aku segera  dipanggil untuk segera ditangani. Dokter hanya menanyakan keluhanku dan tanpa memberikan suntikan segera dokter memberikan resep serta disuruh untuk segera meminum obatnya, dan disarankan segera dibawa ke rumah sakit jika masih merasakan sakit lagi, karena dikhawatirkan usus buntu.

Mendengar usus buntu aku jadi takut, karena harus operasi. Aku jadi seperti orang paranoid. Aku kemudian melakukan browsing segala hal tentang usus buntu, baik tentang gejala, dan cara penyembuhannya. Dan semakin membuatku merasa takut karena jalan satu-satunya harus dioperasi.

Selang beberapa hari aku masih merasakan nyeri pada perutku. Kemudian aku meminta saran kepada dokter poliklinik di tempatku bekerja saat ini. Dokter poliklinik menyarankan untuk di USG. “Bawa BPJS aja, Kik, nanti gampang tak bikin emergency” kata dokter tersebut. Kebetulan aku memang kenal betul dengan dokter tersebut, namun saat itu aku belum didaftarkan BPJS oleh perusahaan, karena ada kesalahan dengan data-data yang sudah aku serahkan.

Kemudian aku segera mengambil keputusan. Aku ijin kepada managerku untuk berobat ke rumah sakit, tentu aku mendaftar sebagai pasien umum. Karena aku harus tahu, sakit apa aku sebenarnya.

Di rumah sakit aku langsung menuju ke IGD, diperiksa oleh dokter muda yang cantik. Setelah diperiksa, ada perasaan tenang ketika dokter muda dan cantik itu berkata “Kemungkinan ini bukan usus buntu, untuk lebih jelasnya mending tes lab” Dan ketika hendak tes ke lab, aku bertemu dengan dokter yang mengobatiku ketika aku dibawa om-ku malam itu, ternyata dokter tersebut juga berdinas di rumah sakit tersebut.

Ada dua hal yang akan di tes laboratorium; pertama tes darah, untuk mengetahui apakah terjadi infeksi atau peradangan pada salah satu organ perutku, dan kedua, tes urine, yaitu untuk mengetes apakah ada masalah dengan ginjal, karena bisa juga sakit kram perutku terjadi karena adanya batu ginjal. Dan ketika sudah selesai diambil darahnya, kemudian aku diberi botol kecil sebagai tempat air kencing. Dan ketika petugas lab, yang lagi-lagi masih muda dan cantik memberikan botol kecil itu, dengan polosnya aku bertanya “Lha aku ndak merasa mau kencing gimana terusan?” petugas lab pun menjawab “Minum yang banyak aja, Mas” Jawab petugas lab. Dan lagi-lagi aku yang polos ini pun bertanya lagi “Kalau sekalian makan, boleh?” Dengan ramah petugas lab itu menjawab dengan senyum “Boleh, Mas” dalam hati aku sedikit nggrundel “Pliss Mba, jangan senyum gitu, kecantikanmu itu lho”

Setelah dilakukan pengambilan sampel darah dan urine, atau bahasa jawanya uyuh, Kemudian aku harus menunggu beberapa saat untuk mengetahui hasil lab. Dan baru setelah beberapa saat aku diberikan hasilnya oleh petugas lab, yang memberikan hasil lab berbeda dengan yang sebelumnya. Jujur aku tidak bisa membaca hasil lab, dan aku bertanya dengan petugas lab “Maaf, ini hasilnya bagaimana?” petugas itu pun menjawab “Untuk hasilnya nanti silakan dibawa ke dokternya lagi, biar dokternya saja yang menjelaskan”

Aku membawa hasil lab dan menunjukan kepada dokter yang memeriksaku. Dan membuat aku jauh lebih tenang ketika doker muda yang cantik itu menjelaskan bahwa hasil lab menunjukan baik, artinya tidak terjadi apa-apa, jadi aku hanya diberi obat saja untuk tiga hari kedepan. Alhamdulillah aku tidak sakit apa-apa, dan sekarang tidak merasakan lagi sakit perut yang luar biasa sakitnya, kalau pun sakit perut itu akibat kebanyakan makan cabai dan mencret.

***
Obrolan di angkringan seputar usus buntu pun berlanjut. Kebetulan ada juga salah satu diantara perserta “diskusi” angkringan yang pernah operasi usus buntu. Orang tersebut menjelaskan bahwa usus itu sekarang sudah dihilangkan, karena sebelumnya pada usus buntu itu terjadi peradangan.

Mas hik ternyata dari tadi juga mempehatikan obrolan kami, Mas hik termasuk orang yang memiliki kemampuan multy tasking, karena selain sibuk melayani pembeli ia juga memperhatikan obrolan kami. Mas hik pun melemparkan pertanyaan kritisnya “Lha, ususe kui fungsine opo? Kok dijupuk?” dan orang yang pernah operasi usus buntu pun menjawab pertanyaan Mas hik “Usus kui nggak enek gunane, makane dijupuk nggak popo

Sepertinya Mas hik tidak puas dengan jawaban orang yang pernah operasi usus buntu tersebut, Dan Mas hik pun akhirnya mengeluarkan pandangannya mengenai usus buntu. Menurut Mas hik, tidak mungkin organ tubuh manusia tidak memiliki fungsi, dan Mas hik dalam hal ini lebih menyakini bahwa hal itu belum ada yang tahu fungsinya, bukan tidak ada fungsinya. “Mosok Gusti Allah gawe usus nggak enek fungsine? Terus usus kui mung asesoris? mesti enek, mung durung ngerti wae fungsine” ujar Mas hik.

Aku lebih banyak mendengarkan kala itu. Mendengar pernyataan Mas hik, bahwa usus pasti memiliki fungsi, dan hanya belum ada yang tahu akan fungsinya, menurutku itu adalah sesuatu yang benar, karena segala sesuatu itu diciptakan pasti ada manfaatnya. Dan mengganggap usus buntu tidak ada fungsinya juga bukan berarti salah, mengingat ketika usus itu diambil dari tubuh kita, hal itu juga tidak terjadi apa-apa. Bahkan ketika usus itu sudah mengalami peradangan justru tindakan yang paling tepat adalah mengabil usus buntu dari perut.

Suasana malam itu pun menjadi lebih hangat dengan “diskusi” diantara kami. Aku yang dari tadi hanya diam pun, diam-diam mulai penasaran apakah benar usus itu memiliki fungsi, kalau memiliki fungsi kenapa ketika usus itu diambil tidak terjadi apa-apa dan dibenarkan secara medis ketika ada peradangan pada usus buntu. Kalau usus itu tidak berfungsi kenapa usus itu ada dalam tubuh kita?

Kemudian dengan sigap aku pun mengeluarkan handphone dan langsung bertanya kepada ahlinya. Dokter spesialis? Bukan! aku bertanya langsung kepada eMbah Google. Aku pun bertanya kepada google dengan menuliskan keyword “fungsi usus buntu” Dari sekian banyak hasil pencarian google, aku membuka salah satu artikel di wikipedia tentang usus buntu dan membacanya hingga selesai. Menurut salah artikel yang aku baca, usus buntu awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak memiliki fungsi, namun saat ini telah diketahui bahwa usus buntu mampu berperan dalam immunnologlobulin atau suatu kekebalan tubuh yang berisi kelenjar limfoid.

Dan dari referensi yang sudah aku baca, serta setelah mendengarkan semua pandangan yang ada mengenai usus buntu, baik pandangan dari Mas hik, selaku pemilik tempat “diskusi”, dan pandangan dari orang yang pernah operasi usus buntu, aku memberikan kesimpulan dalam “diskusi” di angkringan malam itu. Usus buntu itu memiliki fungsi, karena pada dasarnya Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya. Kemudian kenapa ketika usus buntu terjadi peradangan harus dioperasi dengan cara mengambil usus tersebut dan tidak terjadi apa-apa? Bisa jadi fungsi usus buntu yang sudah dijelaskan dalam artikel di wikipedia tersebut, juga bisa dihasilkan oleh organ lain, jadi jika usus buntu terpaksa harus dihilangkan masih ada organ lain yang berfungsi sama dengan usus buntu. Dan tentu ini adalah diskusi diantara orang-orang yang tidak kompeten dalam bidang medis, untuk lebih jelasnya, silakan tanya langsung kepada ahlinya, atau dokter saja.


Mas hik pun segera memecah suasana “Daripada mumet mikir usus buntu sing awake dewe kie yo mung mudeng-mudengan, hambok iki sate ususe disambi, pengen dibakar meneh yo siap”