Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Tak Biasanya

Friday, February 19, 2016
Tumpangan karyawan karyawati pabrik pulang pergi kerja. 

Seharian Semarang diguyur hujan. Hingga waktu makan siang, belum ada tanda-tanda hujan akan reda. “Wah, bakal banjir kosmu, Yah. Nanti muleh wae.” timpal salah seorang teman kerja. Tidak seperti biasanya, mereka yang terheran karena seringnya saya pulang, hari itu malah menyuruhku pulang. 

Namun benar, daerah tempatku tinggal memang agak resiko banjir saat hujan deras begini. Meski biasanya hanya sehari, lalu surut. Sebenarnya air tidak pernah sampai ke dalam rumah, hanya jalanan yang tergenang. Tapi bikin repot juga, kan. 

Ya sudah, sore itu saya akhirnya pulang ke rumah. Agak kesorean karena menunggu hujan tidak terlalu lebat. Seperti biasa saya menumpang bus Safari Deluxe Series berwarna hijau. Sejarah mencatat, selama 11 bulan bekerja di Semarang pasti setiap minggu dan bahkan 3 bulan pertama, dua kali dalam sehari saya naik bus ini. Sang sopir yang kebanyakan sudah usia paruh baya selalu menyetir dengan smooth dan bijaksana, ngebut tapi sumbut. Namun kali ini berbeda. 

Si joki kemudi terbilang masih muda dan terlihat terburu nafsu menancap gas dan menekan klakson berkali-kali. “Duh, mas. Berisik!” teriakku, hanya dalam hati. “Kalau ngebut tapi lanyah sih oke. Tapi kalau menginjak pedal gas saja masih sendat-sendut, mbok ya jangan belagu ngklaksonin pengendara lain.” batinku (lagi). 

Apalagi sambil nyanyi-nyanyi, sesekali diselani gelak tawa. Duh, bisa kamu bayangin kan bagaimana menyebalkannya sosok ini? “Setiap pekerjaan, selain keterampilan, attitude itu penting loh, mas.” namun hanya dibatin juga. Kesabaran saya agak dicoba selama 1 jam perjalanan kali ini. Kalau sampai tidak tahan uji kesabaran, bisa-bisa saya yang ambil alih kemudi (lebih belagu lagi). 

Saat hampir sampai tujuan, saya mendekat pintu depan dan ingin bilang pada kondektur tempat saya turun. Tak terduga. “Turun Tuntang, mbak?” tanya sang sopir dengan senyum lebar. Membuat saya agak terkejut. Spontan saya jawab, “Iya!” dengan gaya sok jutek. Aduh, kenapa ini pak sopir? Apa dia tau dari tadi saya mbatin de’e? Haha~ Entahlah.

***

Setelah perjalanan yang penuh tantangan itu, saya harus menempuh beberapa kilometer lagi untuk sampai rumah. Kira-kira pukul 18.00 WIB, saya menunggu jemputan adek saya di salah satu sudut jalan. Nah, ini inti ceritanya, bukan cerita sang sopir bus yang menghanyutkan tadi. Sebuah pemandangan yang menarik. 

Tempat saya menunggu pada jam segini banyak motor terpakir, dengan pengendara di atasnya seperti menunggu orang. Sebenarnya tidak mengherankan, memang saat itu para karyawan pabrik, yang kebanyakan wanita, waktunya pulang kerja. Sambil menunggu, saya hanya mengamati sekitar, siapa tahu ada yang saya kenal diantara mbak-mbak karyawan pabrik. Kan lumayan bisa jadi teman ngobrol sebentar. 

Jelajah pandang saya tiba-tiba terhenti saat seorang wanita muda berteriak dari sampingku, “Ayah!”. Dia sepertinya memanggil salah satu pengendara di seberang jalan. Seorang pria yang masih muda pula, menoleh dan tersenyum. Pasti suaminya, tebakku. Kemudian mase beranjak dari duduknya dan menyeberang. “Mau ngapain ya? Biasanya kalau yang dijemput sudah sampai, para penunggu langsung putar balik dan tancap gas.” pikirku.

Dia menghampiri mbak-nya dan digandenglah tangannya, diajak menyeberang jalan. Saat mulai menyeberang, sang suami di sisi kanan wanita dan setelah sampai di tengah jalan berpindah di sisi kiri wanita. Menurutku, itu hal kecil yang romantis. 

Sesampainya di motor, sang suami memberikan jaket untuk dipakai istrinya, memberikan masker dan terakhir mengenakannya helm. Mereka terlihat sedikit berbincang dengan beberapa kali mbak-nya tersenyum dan sesekali tertawa. Saya yang mengamati dari seberang tak bisa mendengarnya dengan jelas. 

Sang istri mungkin bertanya pada suaminya, “Si kecil udah tidur, Yah?”

Udah. Baru saja tidur. Oh iya, bun. Tadi ayah masakin si kecil orak arik telor. Lahap banget makannya. Ayah kan pinter masak, pasti enak. Lebih enak dari buatan bunda!” sang suami bercerita dengan bersemangat sambil menunggangi kembali motornya, bersiap tancap gas. Sang istri yang duduk di balik punggungnya hanya tertawa mendengar cerita sang suami.

Mungkin begitu percakapan mereka. Antara ayah rumah tangga dan ibu yang bekerja. 

Motor itu membawa mereka melenggang pergi dari sudut jalan. Meninggalkan pengendara lainnya menanti adik atau kakak perempuannya, anak gadisnya atau pun istrinya pulang. 

Daerah sepanjang jalan Solo-Semarang, tepatnya di daerah Bawen hingga Ungaran, merupakan kawasan industri dengan puluhan pabrik berjejer rapi. Sebagian besar pabrik bergerak di sektor tekstil dan garmen yang banyak menyerap tenaga kerja terutama wanita, dengan jumlah yang cukup fantastis. Hingga ratusan ribu karyawan. Dan wanita muda tadi pasti salah satunya. 

Warga sekitar yang meliputi para gadis, ibu muda bahkan yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi karyawan pabrik. Dengan hari kerja 6 hari dalam satu minggu, bekerja 8 jam setiap hari bahkan terkadang ditambah over time 2 - 4 jam. Mereka biasanya berangkat dari pukul 07.30 WIB yang normalnya pulang pukul 17.00 WIB bisa hingga pukul 21.00 WIB, tergantung kebijakan setiap pabrik. 

Terkadang terlihat tidak manusiawi. Lingkungan pekerjaan yang banyak memberdayakan wanita sebagai tenaga kerja namun tidak terlalu memperhatikan sisi kewanitaannya sebagai seorang istri sekaligus ibu. 

Karena bagi yang sudah menikah, otomatis akan jarang berada di rumah dan suami lebih banyak waktu di rumah. Bahkan banyak suami yang malah memutuskan untuk tinggal di rumah menjadi ayah rumah tangga. Mengambil alih mengurus keperluan rumah tangga dan mengasuh anak. Mungkin karena penghasilan istri dirasa lebih layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dari pihak wanitanya pun menjadi dua sisi yang sama-sama ngewuhke, antara kewajiban istri atau ibu untuk mengurus rumah tangga serta mengasuh anak dan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Kondisi seperti ini sebenarnya bisa terjadi pada keluarga manapun, namun hingga sekarang saya masih beranggapan hal tersebut akan sulit dijalankan. Pasti tidak mudah bagi seorang pria untuk tinggal di rumah dan mengerjakan peran domestik seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci dan sebagainya. Okelah, itu semua bisa dilakukan asalkan ada kemauan. 

Tapi, untuk urusan mengasuh anak? Seorang pria bahkan tidak terlalu memperhatikan anak mereka sudah usia berapa. Baiklah, sebenarnya kita, baik pria maupun wanita, memang punya insting yang kuat untuk mengasuh, memberikan kasih sayang, memperhatikan dan melindungi anak. Tapi, bagaimana dengan mendidik anak? Bukankah guru pertama bagi anak adalah ibu? Apakah bisa digantikan oleh ayah? Juga, apakah pantas wanita yang merupakan tulang rusuk pria menjadi tulang punggung keluarga? 

Hmmm. Pertanyaan-pertanyaan itu bergelayutan setelah sepasang suami istri tadi sekelebatan lewat di depan mata. Namun melihat mereka yang nampak bahagia, mungkin tidaklah terlalu sulit menjalani pergantian peran. Meski tak banyak yang seperti mereka, yang begitu paham sebenarnya peran masing-masing suami-istri adalah penyeimbang kehidupan berumah tangga.