Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Untuk Teman-temanku.

Friday, February 26, 2016
Tanpa pernah kita ragukan dan herankan, waktu terus berlalu.

Lembut mengawal hari demi hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Dan semua berawal berakhir silih berganti. Seperti silih bergantinya malam dan siang. Musim kemarau berganti hujan lalu kemarau lagi kemudian hujan lagi. Bila kita perhatikan semua itu, sungguh tidak ada yang lebih sia-sia dari berpura-pura tidak peduli terhadap kejadian di semesta kita ini.

Memanglah tidak bisa kita mengawal waktu dan segala kejadian dalam kurunnya.

Aku sendiri masih berusaha memaknai waktu. Dalam jatah umurku di bumi, yang entah masih berapa lama tersisa, banyak hal yang belum kupelajari. Tentang arti memiliki, arti ketiadaan, kesunyian dalam diri, ilmu kehidupan dan sifat-sifat mahkluk hidup. Ah semua itu, aku sungguh ingin menguasainya.

Jiwaku selalu haus akan ketidaktahuan.

Lantaran dengan ketidaktahuan aku akan mencari tahu. Lalu aku akan berusaha dan melakukan sesuatu demi mendapatkan apa yang aku cari itu. Mau ada kesulitan apa bila rasa penasaran masih menggelayut  di pikiranku, akan selalu ada niat untuk mencari tahu. Membaca dan menelaah tulisan-tulisan pengarang bijak membawa sedikit angin segar untuk rasa ingin tahuku.

Dan beberapa hal kutemui tidak ada jawabannya.

Ilmu tentang menjalani hidup sebagai diri sendiri. Itulah yang tidak kutemukan dalam buku-buku mana pun. Ada ilmu yang mengantarku untuk mendekati jiwaku sendiri. Alhamdulillah itu mampu mengangkatku dari rasa putus asa yang mendera beberapa waktu ini. Lantaran aku kehilangan diriku sendiri dan lupa akan harapan-harapan yang kubangun selama ini.

Namun,masih saja ada yang belum terjawab.

Rasa kehilangan masih menggatalkan hatiku untuk terus mengingat memori waktu lalu. Ia tidak mau membiarkanku berjalan tanpa membawa beban masa lalu yang telah berakhir. Rasanya masa lalu itu membuat lubang besar seperti ceruk terbakar. Melahirkan bara yang tak pernah padam meski waktu terus menggilas diriku yang akan hidup entah sampai kapan.

Lalu, saat kembali melihat kenyataan, waktu-waktu ini yang terberat dalam hidupku.

Dalam sekali tepuk aku berusaha memenuhi tiga hal. Kebutuhan, tanggung jawab, dan harapan. Tidak elak, kadang aku ingin satu orang saja mampu melihat usahaku dalam memenuhi tanggung jawab ini. Lantaran aku membuat diriku sendiri terjun terlalu jauh dalam hidup orang lain. Sementara orang itu tidak tahu. Rasanya ada yang kurang saat memenuhi sesuatu untuk orang lain, namun ia bahkan tidak mau melihatnya.

Ah, tapi aku pikir waktu terberat itu akan selalu ada. Lantaran kita tidak mungkin dicoba dengan masalah yang sama ‘kan? Masalah selalu meningkat dan dan kedewasaan kita mengiringinya. Masalah tidak datang tergantung level kesabaran dan akal kita dalam menerima. Justru ia datang kadang di saat-saat terlemah. Dan saat itulah imanku benar-benar diuji.

Iman kepada Tuhan. Apa yang telah Ia lakukan kepadaku sungguh luar biasa. Apa yang telah kulewati bukanlah hal remeh. Hidup yang sedang kujalani bukan sesuatu yang dalam sekali kayuh lantas sampai. Ada proses dan ketika aku jatuh, kadang aku bertanya siapa yang akan mengangkat. Siapa yang akan membantuku berdiri.

Saat itulah aku benar-benar butuh teman.

Teman yang mau mendengarkan jerit tangis yang keluar dari dalam samudera hati yang tidak kuasa lagi menahan badai. Teman yang mengangkat sedihku dengan tatapan tulusnya memberikan perhatian kepadaku. Teman yang bersedia memberikan sela dari rutinnya demi menyerap energi emosi dari dalam diriku.

Teman seperti itulah yang belum aku temui lagi sekarang.

Ada beberapa hal yang tidak bisa aku ungkapkan kepada orang tua. Ibuku sudah terlalu banyak menanggung beban hidup. Aku tidak bisa menambah lagi ketakutan dan kekhawatiran yang pasti akan meroket begitu tahu ada apa-apa denganku. Pun Simbahku pasti langsung panik begitu tahu apa yang aku hadapi.

Aku tidak lagi mengurusi hal-hal kecil seperti pertengkaran karena cemburu, rasa iri karena orang lain lebih dihargai daripada aku, masalah kebimbangan melangkah karena tidak ada yang mendukung, dan lain serupa. Tapi kadang ada trenyuh muncul tatkala melihat diriku berjalan sendirian menapaki jalan kosong tanpa lampu penerang.

Teman kadang muncul mengawal namun sekejap kemudian pergi.

Tidak ada lagi teman yang berjalan bersama. Kadang aku merasa ada teman yang menggandeng tanganku namun ia tidak terlihat. Apa itu hanya imajinasiku atau karena kepekaan hati, entahlah. Pastinya aku tahu tidak ada yang pasti di dunia ini. Semua selalu bergerak dalam ritme nada simfoni harmonis Sang Pencipta.

Aku memiliki cara sendiri dalam menangani ini.

Menuliskannya dalam buku harian. Seperti sedang bercerita kepada seorang teman. Menangkap apa yang tertuliskan dan menggunakannya untuk memahami apa yang terlewati. Mengungkap semua kejadian yang telah membuat lubang besar dan bara yang takkan pernah padam. Ya, tapi semua itu tiada berarti tatkala muncul rasa sepi.

Kadang aku berpikir untuk mengakhiri semua ini saja.

Haha, tapi aku selalu mendapatkan pertolongan saat aku merasa benar-benar sendiri dan sepi. Beruntunglah aku masih memiliki segelintir teman setia. Mereka yang tidak pernah menyingkirkanku dari daftar prioritasnya. Mereka yang mau membagi sedikit kasih sayangnya walau mereka sendiri butuh kasih sayang itu. Mereka yang mau membantu dan mengerti bagaimana sesungguhnya kesusahanku.

Dalam teman yang sedikit itu kini aku hidup.

Mereka yang masih mau berbagi waktu untuk bercanda dan bercerita. Kadang berbagi duka lalu saling menghibur. Kadang kesulitan pun mereka alami dan aku berusaha membantu semampuku. Aku merasa hidup, tatkala tahu masih ada teman seperti mereka. Tidak memandangku atas apa yang aku lakukan, namun apa yang aku rasakan.

Jarang ada teman seperti itu.

Meskipun mereka tidak terjun sepenuhnya dalam hidupku, aku tahu mereka peduli kepadaku. Mereka pun menghargai peduliku kepada mereka. Walau hanya sedikit senyum dariku mereka berterimakasih. Walau ada yang hanya bertegur sapa lewat surel namun itu mereka lakukan terus. Kadang cerita tertumpah di situ dan tidak sedikit yang kita maknai bersama.

Tulisan ini aku persembahkan untuk mereka yang masih setia membersamaiku walaupun mereka telah memiliki kehidupan sendiri. Mereka yang selalu mau aku ajak berbagi. Mereka yang berusaha mengerti tanpa menghakimi. Mereka yang terus peduli walaupun aku sering melukai. Mereka tahu bagaimana sesungguhnya orang kesepian itu.

Salut untuk mereka, para penolongku.

Aku bersyukur memiliki kalian. Jelas masing-masing dari kalian takkan tergantikan. Meskipun masa telah mengganti musim, mengganti tahun, mengganti abad, kalian akan tetap jadi teman setiaku. Semoga kalian pun menganggapku begitu. Tidak ada keindahan di dunia ini selain menjadi seseorang yang mencintai dan dicintai dengan apa yang dimiliki.

Terima kasih telah memberi warna dalam hidupku yang abu-abu ini. Jelas aku masih belum mampu menunjukkan keberhasilan kepada kalian. Aku masih belum mencapai apa yang kuinginkan. Aku sedang berusaha sekarang. Kuharap kalian tidak meninggalkanku dulu. Andaikata sudah tiba waktu, biar aku yang pergi lebih dulu.


Agar kalian melihat senyumku, di akhir hidupku.