Ads Top

Yes, You Do. Selamat!


Siang itu, mumpung meliburkan diri saya berniat untuk pergi ke salah satu toko buku di kota kecil dekat tempat saya tinggal. Kesempatan kali ini saya mengkhususkan berkunjung untuk mencari sesuatu yang khusus pula. Bingkisan kecil untuk Johan. (Setelah dua kali gagal ke toko buku yang cukup besar di Semarang karena hujan, kali ini saya pasrah dengan toko buku yang seadanya).

Dari pertama saya sudah mengantongi judul buku yang saya akan beli. Setelah memasuki pintu masuk, saya mantap berjalan menuju rak buku dengan tulisan di atasnya “agama”. 

Saya pun menebar pandangan pada rak buku yang menjulang dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Mana ya? Saya paham betul warna covernya, besar bukunya, jadi sepintas mata menyeleksi dengan otomatis setiap buku yang tertangkap mata. Pindah ke rak sebelahnya. Rak selanjutnya. Dan rak terakhir. Tak kunjung saya temukan.

Mas-mas sama mbak-mbak petugas tokonya tak bisa banyak membantu, sistem stoknya belum online (pun mereka lebih banyak nggak paham tentang buku). Apalagi saat saya sebutkan pengarang yang cukup terkenal itu, yang membuat saya semakin tercengang, mereka tidak tahu. “Njenengan mungkin kurang terkenal di kota ini, Pak.” batin saya. Duh, duh, alamat nggak dapet ini. (FYI, itu toko buku satu-satunya di kota ini.)

Benar saja! Saya pulang dengan tangan hampa. Agak kecewa. Eh, sangat kecewa ding. Kekecewaan itu membuat saya berpikir keras. Apa yang seharusnya saya lakukan? Atau apa yang bisa saya lakukan? 

Dan akhirnya, terlintas sosok yang agak ganteng di benak. Bukan bintang iklan sih, tapi bisa saja kalau tak sengaja saat dia menunggui tumpukan buku dagangannya, tiba-tiba ada agensi yang menawari dia jadi bintang iklan. Bisa saja. 

Buduk. Nama aslinya yang terlalu mainstream membuat kami memanggilnya demikian, Buduk. Usia 24 tahun, pedagang buku Gramedia dan sedang mencari tambatan hati. (Siapa mau? haha) Dia, saya mintai tolong untuk mencarikan buku yang saya maksud, dan besok pagi sebelum acara saya akan ambil bukunya. Begitu rencananya. 

Namun belum jodoh kali ya, buku itu pun out of stock disana. Bagaikan membeli kucing dalam karung, saya akhirnya asal pilih buku yang ada. Setelah browsing stock buku Gramedia secara online, saya memutuskan untuk memilih buku lain dari pengarang lain. Tanpa membaca sinopsisnya, tanpa mencari resensinya. Saya jatuh cinta pada judul dan covernya. Itu saja. Deal, saya ambil. 

Penasaran, saya akhirnya men-download contoh e-booknya di play books yang saya punya. Duh duh, membaca satu halaman dua halaman sampai halaman kesekian puluh, hanya mengaduh yang saya bisa. 

Jo, pesan untukmu. Bukannya ingin membuat khawatir dengan isinya. Jujur, saya belum tahu akhir ceritanya. Namun satu yang saya tahu dari buku ini, selesaikan rasamu dengan satu orang di masa lalu, untuk kemudian mencintai satu orang lainnya untuk masa depan. Semoga kalimat-kalimat cintanya tidak terlalu menye-menye dibaca (dan bisa dipakai untuk merayu mbak-nya). Atau setidaknya bisa menambah koleksi buku di rak. Semoga ada manfaatnya. Haha

Satu deret paragraf yang menarik hati. Begini. 


Jatuh cinta adalah perjalanan disesaki koma. Bertahan mencintaimu dan bersama adalah titiknya. Mencintaimu adalah proses belajar yang tak pernah usai. Bersamamu, ada tenang yang menjalar di setiap kedip mata dan detak rasa. Sekian. #IDo

Dan diantaranya terselip doa. 


Baarakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakumma fii khair.

"Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan."

Sekian.

Ada lagi. Kali ini hujan membawaku pada buku sang penulis yang suka sekali hujan. Lain kali mungkin hujan membawaku pada jodoh (yang juga suka sekali hujan). Eh! Haha

Powered by Blogger.