Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Anak Kos, Begadang dan Angkringan

Monday, March 28, 2016
Anak Kos, Begadang dan Angkringan


Sebagai anak kos, aku suka begadang. Juga nongkrong di angkringan. Menemani malam dengan keterjagaan. Terlalu sayang jika malam berlalu begitu saja dengan mata terpejam.

Aku suka berkumpul dengan teman-teman. Apalagi jika ditemani kopi. Kopi hitam, cukup secangkir kecil, yang pekat dan sedikit gula. Tidak harus kopi sebenarnya, tapi seringnya kopi.

Bisa juga teh, aku suka teh tubruk yang direbus di panci langsung. Ketika air mendidih, teh ditaburkan ke panci. Lalu dituangkan ke gelas yang sudah diberi gula. Agak sepet dan pait-pait begitu yang aku suka. Juga yang tidak terlalu manis.

Aku suka yang sederhana. Tidak banyak dicampur macam-macam. Susu misalnya, juga sukanya susu murni saja. Yang masih tercium bau amis-amisnya. Kalau bisa malah yang tanpa gula.

Aku suka dengan sate kambing. Dagingnya paling mantab jika dibandingkan dengan hewan ternak lain. Paling suka memang sate daripada tongseng atau gulai. Alot dan prengus, yang justru menjadi nilai beda pada sate kambing.

Menjadi anak kos memang menyenangkan. Boleh begadang sampai pukul berapa pun tidak ada yang menegur. Kalau tidak ada tanggungan kuliah atau tugas, sampai shubuh pun ayo.

Banyak teman-teman kos lain juga suka begadang. Para gamer itu paling kuat melek. Teriak-teriak kalau main PES. Tidak sadar terkadang, kaos sudah dilepas karena kepanasan. Tidak masalah kalau tanding PESnya di kosan yang bebas seperti kosanku dulu dekat ISI. Sebaliknya akan bermasalah kalau kosannya menjadi satu dengan yang empunya rumah. Apalagi ibu kosnya kayak nenek lampir, cerewet dan galak.

Aku tidak suka bermain game. Alhamdulillah. Aku hanya suka mengobrol saja. Mengobrol sana sini, dan ini itu. Ngrasani teman mahasiswa yang ujungnya dia-dia saja. Dan dosen yang itu-itu juga. Sok ngobrol politik yang kadar ke-embuh-annya ternyata sudah sangat akut saat ini. Politik kampus apalagi. Membicarakan masa depan? Mengobrol idealis diri yang ternyata kini bisa jadi bahan ketawaan.

Idealisme kita saat ini sangat mungkin menjadi bahan tertawaan sendiri di masa depan. Seperti dulu aku sangat idealis dengan pikiran ini itu. Anti begini dan harusnya begitu. Tapi idealis yang dulu sangat dipegang erat, menjadi sangat lucu dan geli rasanya jika melihatnya dengan logika pikiran sekarang.

Hal ini berkaitan dengan kotak (batas) jangkauan pikiran dan pengalaman kita. Kita terbatasi oleh kotak kita sendiri. Saat idealis itu muncul, kita tidak bisa melihat (memiliki referensi atau kemampuan) melihat yang di luar kotak kita. Karena secara logika kita tidak bisa membantah idealis kita sendiri itu. Sehingga muncul perasaan sangat yakin benar terhadap hasil pikiran kita saat ini. Padahal...badalahhh.

Mengobrol berjam-jam aku bisa tahan. Apalagi pada suasana sunyi malam. Sampai menjelang fajar pun kuat-kuat saja. Malah kadang eman kalau akhirnya harus beranjak pulang. Bukan karena diri sendiri sudah mengantuk, tapi bisa sebab teman-teman harus mengambil jatah tidurnya.

Sungguh, aku bukanlah orang yang takut dengan kesunyian, hanya tak tahan jika harus hidup sendirian.

Sunyi itu sangat baik untuk berkontemplasi. Melihat diri dari banyak sudut pandang. Melihat diri dari luar diri sendiri. Menertawakan tingkah perilaku diri sendiri. Membebaskan pikiran berkeliaran ke mana-mana. Beristighfar mengetuk pintu, menjenguk jiwa yang sering lupa diri. Kalau sendiri? Ngapa-ngapain serba suwung. Mau makan unak-unuk sendiri. Sangat menyiksa. Makanya aku tak tahan sendiri dan akhirnya segera rabi.

Sebaliknya aku tidak terlalu betah jika mendengarkan kuliah atau khutbah. Sejam saja sudah terasa berjam-jam. Dulu sering kalau sedang kuliah aku sambi corat-coret kertas. Gambar apa saja. Di cover buku. Di atas catatan. Di kertas materi. Sampai di sekujur dan telapak tangan.

Kalau saat mendengar ceramah lain lagi, sering iseng-iseng ngitungin berapa jamaahnya. Berapa yang sudah tua. Berapa yang anak muda. Berapa anak-anaknya. Berapa yang pakai peci. Berapa yang nguap berkali-kali. Berapa yang pakai koko. Berapa yang kaosan saja. Berapa yang beneran memperhatikan. Macam-macam tingkahnya para jamaah. Iseng-iseng biar tidak mengantuk.

Aku suka dengan angkringan. Dalam khasanah masyarakat Solonan akrab disebut HIK. Atau sebut saja wedangan. Angkringan biasanya buka sore hingga larut malam. Banyak malah yang sampai pagi. Sampai dagangan yang dibawa habis. Angkringan menjual nasi kucing, lauk gorengan, dan aneka minuman: kopi, teh, dan jahe.

Aku sangat suka nongkrong di angkringan. Duduk lesehan beratapkan bintang-bintang. Menikmati malam dengan secangkir kopi hitam. Terkadang aku suka beberapa gorengan, semisal pisang goreng atau tahu bakso. Kadang kalau lapar, beli nasi kucing dan lauk tempe mendoan. Dan sesekali memesan mie goreng dengan sedikit nyemek.

Wedangan berbeda dengan minum. Pun menikmati secangkir kopi tidak seteguk langsung habis. Sesruput demi sesruput, lalu berhenti. Mengobrol. Mengambil gorengan. Lalu menyeruput lagi. Sampai seruputan terakhir adalah ketika akan beranjak pulang ke kosan.

Masyarakat angkringan adalah masyarakat apa adanya. Tidak merasa harus misalnya mau memakai sepatu atau sandal jepit, mandi dandan wangi atau baru bangun tidur. Angkringan, bukan peradaban pembangun gengsi, bukan peradaban pemuas lidah. Apalagi untuk selfie-selfie.

Maka aku menyukai angkringan. Teman hidup yang sederhana. Hidup yang sekedar mampir ngombe. Wedangan…(*)