Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Diskon

Wednesday, March 2, 2016
Sumber gambar

Beberapa hari yang lalu, ada tamu besar di perusahaan tempatku bekerja. Tamu besar itu, selain orangnya benar-benar tinggi besar, beliau adalah salah satu penggede perusahaan tempatku bekerja, yaitu salah satu pimpinan pusat di Hongkong. Kedatangan tamu besar itu, salah satu agendanya adalah mengenalkan General Manager baru. Iya, kurang lebih satu bulan ini, perusahaan sedang dalam proses transisi kepemimpinan baru.

Dan setelah acara perkenalan itu, ada email yang sengaja dikirim kepada semua karyawan. email itu berupa sosialisasi tentang dresscode yang harus dikenakan oleh setiap karyawan, terutama untuk level staff ke atas. Inti dari email itu adalah, karyawan untuk level staff ke atas diwajibkan untuk memakai kemeja rapi, dengan celana bahan halus, no denim. Jujur, selama bekerja aku lebih sering menggunakan celana jeans, dengan atasan kemeja, atau terkadang dengan kaos berkerah, pas overtime hari sabtu aku malah sering memakai kaos oblong, tanpa kerah.

Namun setidaknya aturan baru tentang dresscode masih ada kelonggaran, yaitu hanya berlaku pada hari senin hingga kamis. Sedangkan hari jumat dan sabtu (kalo ada overtime) bebas namun tetap sopan dan rapi. Setidaknya kemeja batik masih bisa lah dipadukan dengan celana jeans warna gelap. Dan koleksi celana jeans tidak hanya tersimpan di lemari dan pas dibuka tahu-tahu sudah mengecil, seperti celana bahanku yang dulu waktu aku pakai buat wisuda masih longgar, namun kini, ketika akan aku pakai, kemarin tiba-tiba sudah mengecil dan tidak muat lagi untuk perut buncitku.

Email tentang dresscode sempat ramai jadi bahan perbincangan oleh rekan-rekan kerjaku. Betapa tidak, kami yang biasanya lebih sering menggunakan celana jeans harus menyisihkan sebagian dari gaji khusus untuk shopping celana bahan dan kemeja rapi. Sebagian malah justru membanding-bandingkan dengan GM yang lama. Memang benar, GM yang lama lebih fokus pada kinerja karyawan. Bahkan ada yang menganggap bahwa GM yang lama seperti halnya dengan Ahok, selain dari etnis yang sama, bisa dibilang sangat tegas, ibarat kata Ahok “Sekalang lu maunya apa gua kasih, tapi lu juga harus kasih kinelja bagus ama gua” Artinya beliau memberi sesuatu terlebih dahulu, misalnya menambah budget man power, kemudian beliau menagih sesuatu, biasanya menginginkan target efisiensi bisa tercapai lebih dari yang ditargetkan sebelumnya. Sebagai contoh dalam pengajuan overtime hari sabtu misalnya, beliau akan approve overtime dengan catatan harus bisa mencapai efisiensi diatas 70%.

***
Sekitar pukul enam sore, aku mendapat sms dari 3355, aku membuka dengan penuh suka cita, karena sms dari 3355 adalah kabar baik, bahwa gaji bulan februari sudah diteransfer ke rekening masing-masing karyawan. Di tempat kerjaku, untuk staff gaji ditransfer setiap akhir bulan, sedangkan untuk workers tanggal lima.

Agenda setelah gajian adalah mentranfer sejumlah uang untuk diamankan terlebih dahulu, kemudian menyisihkan uang untuk menyumbang kepada Negara, karena bulan maret ini, sudah waktunya membayar pajak motorku. Sebagai warga Negara yang baik tentu aku harus taat membayar pajak.

Kemudian agenda jalan-jalan dengan membeli celana bahan pun dimulai. Aku memilih pusat perbelanjaan yang terkenal dengan promo beli 2 dapat 3, dan bonus voucher 50ribu setiap pembelian diatas 150ribu, untuk barang bertanda biru dengan minimal harga 100ribu. Sebut saja tempat perbelanjaan itu Matahari department store.

Di Matahari tentu yang aku tuju adalah tempat-tempat diskon, aku menuju pada sebuah ranjang celana bahan, dengan label diskon 50% aku mencari-cari celana bahan warna hitam atau gelap, karena warna itu mudah dipadukan dengan kemeja-kemejaku di lemari. Namun, setelah membongkar-bongkar, dan beranjak dari rak satu ke rak yang lain, aku belum juga menemukan celana bahan yang cocok. Sekali pun dapat yang cocok, ukuran yang sesuai dengan perut buncitku pun tidak ada.

Sibuk mencari celana bahan buat kerja, aku justru memperoleh celana bahan chinos warna coklat tua di rak dengan label diskon 50%, kemudian aku mencobanya di kamar pas. Dan pas! Celana chinos warna coklat itu sesuai dengan perutku yang sixpack bagian punggungnya ini. Dan waktu aku lihat banderol harganya, sekitar 250ribu, jika dipotong disikon 50% jadinya hanya 125ribu, pikirku “Cocok iki!”

Kemudian aku mencari celana bahan di deretan celana yang di pasang di sudut ruang, aku memilih salah satu yang menurutku cocok, aku kemudian mencobanya di kamar pas. Dan lagi-lagi pas! Sesuai dengan yang aku inginkan baik model, warnanya, selain itu juga harganya, karena selain cocok dengan warna dan modelnya harga juga menjadi bahan pertimbanganku.

Dan ketika masih di kamar pas, logikaku sedang bergelut dengan egoku. Aku yang dari rumah tujuannya adalah membeli celana bahan untuk bekerja, kemudian aku tertarik dengan celana chinos warna coklat dengan label diskon 50%. Sebenarnya aku bisa saja menuruti egoku dengan membeli semuanya, namun sepertinya menuruti ego hanya akan membuat dompetku sekarat ketika masih di pertengahan bulan. Selain itu berbelanja lebih dari 150.000 di Matahari pasti dijamin akan belanja lagi karena sayang dengan voucher 50ribu.

Aku pun keluar dari kamar pas, dan daripada gelo aku memutuskan untuk membeli keduanya, aku membiarkan ego berkuasa atas diriku, dan membeli semuanya, baik celana bahan maupun celana chinos warna coklat dengan diskon 50% itu. Namun, sepertinya celana chinos itu belum menjadi jodohku, celana itu aku tinggal ditumpukan keranjang ketika aku mencoba celana bahan di kamar pas. Dan ketika aku kembali lagi, tiba-tiba celana itu sudah tidak ada. Awalnya aku berpikir bahwa celana itu terkubur bersama celana-celana lainnya karena biasanya tempat ranjang diskon sering diacak-acak oleh pembeli yang terkadang malah tidak jadi beli.  Ya, begitulah nasib barang diskonan, ditinggal meleng sebentar saja sudah kalap diambil orang.

Waktu coba aku cari lagi celana itu benar-benar sudah tidak ada. Mungkin sudah dibeli oleh orang lain, pikirku kala itu. Kemudian aku menuju kasir untuk membayar celana yang sudah ditanganku, dan ketika menuju kasir aku menuju ke tumpukan kaos dengan diskon absurd, diskon 50% + 20% aku mengambil satu kaos warna merah, karena merah adalah warna kesukaanku.

Aku menuju kasir dan ketika melihat total yang harus aku bayar. Aku baru tersadar bahwa aku benar-benar khilaf dengan godaan diskon yang terkutuk. Total belanjaku diatas 150ribu, itu artinya aku bakal mendapat voucher 50ribu. Dan itu artinya aku harus belanja lagi, karena sayang 50ribu kalau tidak dimanfaatkan. Tanpa pikir pun aku mengambil satu kemeja lengan panjang yang bertanda biru, kemudian tak sampai 10 menit aku mendapatkan ukuran yang sesuai dengan badanku, kemudian sebelum jauh tersesat dalam tumpukan diskon-diskon di Matahari, aku segera pulang.

Ketika hendak keluar, aku bertemu dengan salah satu kawan SMA, kami mengobrol sebentar untuk sekedar saling sapa dan tanya kabar. Kemudian karena perutku sudah perih menahan lapar, aku menyudahi pertemuan dengan kawan semasa SMA-ku itu dan berpamit untuk segera pulang.

Dalam perjalanan pulang itulah, aku benar-benar menyadari bahwa malam itu aku benar-benar khilaf dan diperdaya oleh label-label diskon. Dan aku menyadari satu hal. Ada pelajaran penting yang bisa aku ambil dari kejadian celana chinos warna coklat yang hilang di ambil orang itu. Malam itu celana chinos warna coklat dengan diskon 50% benar-benar memberikan pelajaran bagi kita semua, setidaknya bagi diriku sendiri. Bahwa, ketika kamu sudah yakin dengan pilihanmu. Kamu harus segera ambil sikap dan buang jauh-jauh segala keraguan, sebelum kamu akan menyesal ketika tidak mendapatkan apa yang sudah kamu yakini.


Seperti halnya dalam kisah asmara, jika kamu sudah yakin dengan seseorang, segera ambil sikap, tunjukan bahwa kamu mencintainya dengan mendatangi orangtuanya, sebelum kamu menyesal ketika tahu dia sudah menjadi istri orang. Dan ingat! Saling tikung terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, namun juga karena ada kesempatan. Waspadalah waspadalah!