Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Energi dan Skripsi.

Friday, March 4, 2016
Pagi ini lumayan cerah. Berbeda dari pagi-pagi sebelum yang dinginnya melebihi biasanya. Membuat badan kesulitan menyesuaikan suhu akhirnya bersin-bersin dan napas sedikit berat. Cerah seperti ini, jarang sekali terjadi saat hujan sedang deras-derasnya. Perlahan sekarang udara mulai sejuk. Mengundang kupu-kupu dan capung mengorbit di sekitar bunga dan tetumbuhan di kebun belakang.

Sungguh suasana nyaman bagi penulis mood-mood-an sepertiku.

Beberapa waktu ini intensitas menulisku berkurang. Energiku banyak terpakai dalam perjalanan dan menahan kantuk jam kerjaku sampai tengah malam. Meladeni pelanggan warung yang memesan kopi, coklat, atau ice blend. Ritme kerja yang menyita waktu tidur dan menuntut perubahan siklus fisik menjadi lelaki setengah nocturnal.

Namun ini hanya masalah waktu.

Aku mengambil parttime di dua warung juga baru sebulan. Badanku –yang dua tahun ini tidak banyak gerak –hanya sedikit kaget. Energi yang dulu banyak tersita untuk berpikir, sekarang harus kubagi untuk mengasup gerak otot. Mau tidak mau intensitas menulis pun berkurang meskipun sudah kupaksa terus menulis.

Mungkin ini juga dialami beberapa teman lobimesendotkom.

Tapi ini hanya masalah pembiasaan kok. Namanya energi tidak bisa dimusnahkan dan tidak bisa diciptakan. Jadi jangan khawatir akan kehabisan energi. Badan capek karena memang ada batas gerak. Pikiran lelah karena ada batas intensitas. Pintar-pintar mengambil istirahat saja agar badan dan pikiran bisa tetap berjalan maksimal.

Namun aku tidak akan membahas tentang pola makanan atau pola hidup sehat. Sebenarnya yang mau aku sampaikan tentang energi itu. Sebab energi itu yang bisa menyelamatkan kita namun menjerumuskan bila tidak dikelola dengan baik. Harus ada kemampuan akal yang cukup untuk mengelola energi bawaan kita ini.

Ya, energi itu adalah nafsu.

Saat aku masih mengerjakan skripsi dulu—lebih tepatnya saat mencari semangat mengerjakan –sebuah tulisan berhasil kubuat. Tulisan tentang menjadikan skripsi sebagai kebutuhan. Mirip-mirip yang akan aku bahas dalam tulisan ini. Eh, tapi tunggu. Mengapa aku tiba-tiba membicarakan skripsi? Ini karena kemarin aku baru ngobrol dengan adik tingkat tentang pengerjaan skripsinya yang berhenti.

Penulis, alias aku, jadi ingat bagaimana proses pengerjaan skiripsiku dulu –yang benar-benar tidak filosofis. Asal-asalan dan cenderung pakai pemikiran ‘yang penting jadi’. Padahal idealisme awalku pada tugas akhir itu ingin memberikan sesuatu yang berguna demi orang lain. Eh akhirnya malah aku buru-buru lulus. Poin-poin kemanfaatan untuk orang lain terdesak oleh kemanfaatan bagi diri sendiri.

Dan well, itu berhasil mengubah mindset-ku sampai sekarang.

Egoislah sudah diriku setelah itu—lebih tepatnya makin egois dari sebelumnya. Segala hal jadi berlebihan kuperhitungkan, tingkahku tiada lagi natural, hati dan pikiran tidak sejalan. Naluri tidak lagi jadi pegangan dan akhirnya logika mengambil kuasa. Ketakutan dan kecemasan lebih aku utamakan alih-alih keberanian. Hal kecil kulihat besar dan hal besar malah kulihat kecil. Sungguh sebuah perubahan kognitif yang regresif.

Kini aku sedang menyeimbangkan mentalku lagi, keberanian aku sambangi kembali.

Sebenarnya bila aku merenung, muara dari semua kekacauan itu hanya satu. Ketidaktahuan. Ketidaktahuan mengenai apa yang dihadapi. Kekerdilan akal dalam memperhatikan seputar. Keluguan yang jadi kelebihan bila didukung dengan keberanian mencoba, namun jadi kekurangan bila malah membuat takut menghadapi dunia nyata.

Saat mengerjakan skripsi contohnya. Itu hal baru dari segala tugas akademik yang pernah dikerjakan mahasiswa. Tidak heran itu menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Mahasiswa tiba-tiba harus berinteraksi intensif dengan dosen, bersinggungan dengan masyarakat, berkonflik dengan logika sendiri,kompromi terhadap kejadian demi kejadian—yang pastinya tidak mesti sesuai harapan.

Semua itu dihadapi mahasiswa sendiri.

Kaget, pasti. Tersandung, berkali-kali. Menangis bisa jadi setiap kali. Skripsi bukan tugas yang bisa memenuhi idealisme kita sepenuhnya, namun bila tanpa idealisme jadi tidak ada artinya. Proses di dalamnya akan memperlihatkan seberapa berani kita dalam membuat keputusan. Untuk mundur, menahan laju peningkatan, atau maju dengan apa saja yang ada.

Loh, mengapa mundur masuk dalam pilihan?

Menurutku, ini menurutku lho ya, jadi jangan diikuti bila kalian merasa pemikiranku ini sesat: Skripsi tidak wajib dikerjakan. “Loh kok gitu?” mungkin pertanyaan itu yang akan keluar dari suatu tempat di kepala kalian. Sekali lagi, ini pendapat, karena doktrinasi akademik jelas mengharamkan mahasiswa tidak mengerjakan skripsi.

Skripsi, menurutku hanya satu tahapan yang tidak menentukan segalanya dalam hidup kita. Skripsi ibarat sebuah jalan yang boleh kita pilih boleh tidak. Skripsi itu hanya jalan untuk mendapatkan ijazah, tidak lebih. Skripsi itu hanya satu syarat untuk ikut wisuda—yang biayanya kadang malah lebih mahal dari skripsi itu sendiri.

“Loh, tapi kita ‘kan juga wajib membanggakan orang tua?”

Gini gaes, saat sudah dewasa, kebanggaan orang tua itu bila kita bisa menjadi ‘orang’. Maksudnya diri kita mampu menempatkan diri dalam sebuah tatanan sosial. Kita memiliki peran terhadap  sesuatu dan mampu menjalankannya dengan baik. Kita eksis dengan apa yang telah mereka didikkan kepada kita.

Sekarang kutanya, apa untuk mengakui keberadaan diri sendiri, bersyukur terhadap apa yang dimiliki, bermanfaat untuk orang lain, mampu menjalankan peran di masyarakat, dan memiliki pengaruh untuk orang banyak, itu ditanya dulu mengerjakan skripsi atau tidak? Apa kalau ingin menjadi eksis harus melalui pemasangan gelar sarjana dulu?

“Loh, nanti kan ijazah itu untuk melamar pekerjaan. Dari pekerjaan itu kita berperan di masyarakat, bisa membanggakan orang tua, dan jadi ‘orang’,” mungkin protes kalian. Benar, tapi cobalah berpikir lebih sederhana. Ijazah pada akhirnya hanya selembar kertas yang berisi foto dan nama kita. Yang berharga itu bukan ijazahnya, tapi perjuangannya.

Sekarang mengapa kita berpikir skripsi itu berat?

Lantaran kita memandang skripsi itu bagaikan batu maha besar yang menghalangi kita dari segala hal. Skripsi kita pandang wah, padahal di luar skripsi masalah-masalah kita lebih wah. Malah wow. Skripsi seperti akhir dari segalanya, padahal ia hanya satu jalan saja. Bukan penentu apa nanti kita akan diterima di instansi, lalu mapan dan hidup bahagia.

Namun bila skripsi dimaknai sebuah jalan dan lulus sebagai tujuan, perasaan kita akan berubah. Prioritas manusia bukan melulu sekolah, kuliah, kerja,menikah, punya anak, punya cucu saja. Itu standar hidup manusia modern yang sebenarnya tidak apa-apa bila tidak diikuti. Lantaran standar itu kita jadi ketakutan bila tidak memenuhi bahkan hanya salah satu saja. Padahal itu hanya pendapat masyarakat.

Ada waktunya kita akan tahu: segala hal dalam hidup ini sebaiknya dijalani saja.
Gak perlu ngoyo, ngejar sesuatu secara berlebihan atau menghindari sesuatu berlebihan pula. Jika memang harus skripsi, karena itu jalan yang kalian pilih, ya lakukan. Jangan sekali-kali ingin menyelesaikan skripsi namun tidak mau merasakan kesusahannya, kerepotannya, tangisdarahnya, kegigihan dan pengorbanannya. Segala hal itu ada harganya, tidak instan.

Orang kita buat menjadi manusia utuh saja harus menjalani inkubasi dalam kandungan selama kurang lebih sembilan bulan. Setahap demi setahap kita dijadikan elemen-elemen. Dari segumpal darah, segumpal daging, seperangkat tubuh, lalu ditiupkan ruh. Bila kita bisa memaknai itu kita akan paham hidup ini adalah proses dari satu tahap ke tahap yang lain.

Perjuangan adalah cara demi melompat dari satu proses ke proses lain.

Lompatan itu akan membuat kita semakin maju dan semakin maju. Semakin baik dan semakin baik. Itulah hakikat orang beruntung, yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. ‘Lebih baik’ itu bukan dinilai dari apa yang dilakukan atau dapatkan, namun apa yang kita syukuri hari demi hari. Dari waktu ke waktu, hingga mati dan hanya penantian yang kita miliki.

Energi dalam diri kita terkelola, bila akal telah memahami: proses adalah kesinambungan. Tidak akan berhenti bahkan jika kita mencoba berhenti. Menyerah hanya bahasa keputusasaan untuk menunda laju waktu –yang sebenarnya tidak mungkin.


Teruslah bergerak karena tidak ada pernah alam ini diam barang sedetik pun. Bergerak walaupun tertatih, terseret, ngesot, merayap, bahkan tertikam. Jangan sekali pun berpikir untuk berhenti. Andai pun telah berhenti, segera bergeraklah. Dunia tidak menanti kita untuk bisa, namun menanti kita untuk mau.