Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Geng prameks : role model kelompok sejati

Tuesday, March 15, 2016

Terkhusus bagi para pejuang solo-jogja Psiko 2008 entah masuk geng prameks atau tidak, Luluk, Wendi, Diwen, DP, Novel, Anggi, Desi.

Istilah “geng” (kelompok main, red) mungkin tidak cukup familiar bagi kalian yang masuk esdeh setelah Pak Harto lengser karena istilah ini populer di kalangan angkatan 80-90an pas jaman-jamannya tontonan lupus atau saras 008 masih berjaya. Saya sebagai anggota 80-an merasa wajib ‘ain memakai istilah geng ini, karena sebagai bagian dari meneruskan sejarah masa lalu. 

Masa lalu atau masa kini kalian tentu pernah punya geng, bagi kalian yang pernah ngaku sebagai anggota geng populer di kampus, geng alay tapi gaul, atau geng cabe2an jangan ngaku solid kalau belum ketemu geng yang satu ini. Bagi kalian yang mengaku sebagai mahasiswa paling terkenal di kampus, punya banyak teman yang mau aja disuruh, jangan sombong dulu sebelum kenal geng ini. Sebut saja Geng Prameks.

Geng ini sangat populer di kalangan manusia-manusia pecinta prameks, semacam kereta “under-ekonomi” jurusan pp solo-jogja. Geng yang cukup bahurekso di stasiun maupun prameks ini bukan main-main adanya. Saya yang notabene masih anak ingusan, hanya numpang sebagai outsider dari geng ini akan berusaha menggunakan metode analisis data fenomenologi (?) mengungkap tema umum (?) dari pembentukan geng ini.

Perlu jadi residivis
Geng ini pada dasarnya kumpulan manusia-manusia pelaku nge-pp prameks solo-jogja. Saking seringnya melakukan, sampai-sampai mereka jadi residivis nge-pp solo-jogja. Jarak solo-jogja yang sekitar 65 km dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam, bagi mereka yang sudah jadi residivis barangkali seperti berangkat ke les2an. Berangkat pagi pulang sore, makanya bagi anda yang berniat akan pergi ke jogja pagi2 atau pulang ke solo sore2, lebih baik persiapkan mental dan fisik karena anda akan bertemu dengan mereka para residivis. Ini merupakan prime time terjadinya senggol bacok bersama para residivis.

Bisa kerja dalam tim
Tentu yang namanya tim pasti ada pembagian kerja, hal yang sama terjadi pada geng ini. Eits...jangan salah, meskipun mereka nggak punya AD/ART tapi mereka paham betul tugas masing-masing. Berdasarkan pengamatan saya yang sering bengong kalau lagi nunggu kereta, ada beberapa di antara mereka (diperankan oleh ibu-ibu) bertugas membawa makanan dan satu dua orang bapak-bapak bertugas membeli tiket. Setengah jam sebelum keberangkatan, mereka akan berkumpul di salah satu spot favorit untuk melaksanakan tugas masing-masing, yang bawa makanan bagi-bagi makanan lumayan untuk sarapan, yang beli tiket bagi-bagi tiket sambil narik uang. Bahkan, yang lebih luar biasanya, kadang tiket itu dibagikan ketika mereka sudah di dalam kereta, bapak petugas pembeli tiket akan ngider membagikan tiket. Pembagian tugas ini bukan hal sepele, karena butuh keikhlasan dan emosi moral agar terjadi kontinuitas pelaksanaan tanggung jawab (halah).

Wajib Komunal
Geng ini sudah bisa dipastikan dipenuhi dengan manusia yang sangat komunal, anggotanya akan melakukan apapun agar anggota yang lain sejahtera. Ketika prameks dalam prime time senggol bacok, para anggota geng secara sigap memilih gerbong paling belakang dan bapak-bapak bertugas memastikan bahwa semua anggota geng memperoleh tempat duduk, jika tidak, mereka tidak segan-segan memberikan tempat duduknya. TOP. Merasa seperti keluarga antar anggota geng dan geng lain di dalam stasiun, seperti penjual warung.

Ibu A : waduh, tempeku lali... (waduh, tempeku lupa)

(singkat cerita Ibu A sedang membuka bekal nasinya di kereta, di samping saya).

(Ibu A  kemudian menelepon seseorang)

Ibu A : Bu, tulung mau tempeku ketinggalan neng warungmu, tulung mengko dititipke Pak B ya, deknen numpak kereto sing jam 7... (Bu, tolong tadi tempeku ketinggalan di warungmu, nanti tolong dititipin ke Pak B ya, dia naik kereta yang jam 7...)

Perlu Outsider
Nah, disinilah peran saya sebagai outsider berguna. Kalau kita baca tulisannya Bang Triplett soal fasilitasi sosial (?) maka geng ini bisa terbentuk karena adanya arousal dari outsider seperti saya. Saya sebagai outsider dipandang sebagai ancaman yang membahayakan keterjaminan memperoleh tiket prameks mengingat tiketnya yang terbatas. Untuk itulah, berdasar hasil analisis saya, inilah yang menjadi sebab musabab geng ini terbentuk agar bisa mencapai tujuan bersama lebih mudah : terjamin dapat tiket, terjamin dapat kereta tepat waktu, dan terjamin tidak terlambat masuk kerja.

Keempatnya bisa jadi alasan kenapa geng prameks patut jadi role model. Tak perlu cantik/cakep supaya masuk geng populer karena mereka hanya para residivis pp solo-jogja yang jadi geng karena perasaan senasib. Anda tertarik masuk geng ini?


Penulis : sikiki, pejuang mimpi, kebanyakan mimpi karena suka tidur