Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Kepada Senja dan Langit Ungu Tua

Tuesday, March 1, 2016
Ilustrai

Beberapa kali aku diajak untuk naik gunung oleh temanku. Setiap kali itu pula aku menolaknya meski mereka menunjukkan keindahan pemandangan di atas sana. Hamparan langit biru beserta iring-iringan awan yang melaju mengikuti angin yang mengendarainya. Ya, anginlah yang menjadi sopir dan awan adalah kendaraan lalu tumpahan-tumpahan air hujan adalah muatannya. Mereka berkeliling dunia menyuplai air di tempat kering dan menjadikannya tanah yang subur. Itu yang ada dipikiranku. Imajinasiku. Ahh.. abaikan semua itu. Kebanyakan orang tak suka hal-hal berbau imajinatif. Terutama untuk orang yang seusia denganku. Mereka lebih menyukai kehidupan yang pasti, ada dan nyata. Bukan sesuatu yang fiktif, yang hanya ada dalam pikiran segelintir orang yang katanya naif.

Semua orang ingin naik ke atas sana. Menikmati dingin dan indahnya. Sejenak menghilang dari hiruk-pikuk dunia. Tapi aku tidak. Bukan karena aku takut atau tak mampu. Ada tali yang memintaku untuk menunda itu sampai tiba waktunya. Entah kapan. Aku ingin menjelaskan bahwa setiap orang berada pada suatu tempat karena sebuah alasan. Mereka berada di atas gunung karena sebuah alasan. Berada di pantai karena sebuah alasan. Aku, ada disini karena banyak alasan. Karena itulah aku tinggal. Aku hanya berharap suatu saat nanti pergi ke atas gunung bersama seseorang yang spesial. Berkemah. Memasak bersama. Saling berbagi cerita tentang kehidupan yang telah dan akan dijalani. Berjuang bersama untuk mencapai tujuan. Puncak sebuah gunung. Untuk pertama kalinya seseorang melakukan sesuatu, ia pasti ingin melakukan yang terbaik bersama orang yang dia ingini bukan? Aku pun begitu.

Salah seorang temanku pernah bercerita padaku bahwa naik gunung adalah suatu cara untuk memahami kehidupan. Berjuang menghadapi banyaknya rintangan. Berjalan setapak demi setapak. Terperosok jatuh, lalu bangkit lagi. Lelah. Tapi tetap berjuang demi sebuah harapan. Seperti itulah kehidupan. Semua orang hidup dengan rintangannya masing-masing. Menjalani hari demi hari untuk menuju tempat terakhir yang diingini. Kadang kala terjatuh dalam kegagalan. Namun hidup memaksa bangkit lagi untuk orang yang dikasihi.

Dan saat itu terjadi. Ketika waktu yang ditentukan telah tiba, aku akan mengajakmu mendaki sebuah gunung bersama. Menapaki jalan-jalan kehidupan, melewati rintangan, berjalan setapak demi setapak, menulis harapan, menjalani kehidupan, merangkai cinta.

Aku akan menjadi kaki-kakimu ketika kaki-kakimu lelah, aku ingin kau bersandar padaku dikala dirimu hampir menyerah. Aku tak memaksamu untuk melakukan hal yang sama. Karena aku dan kamu dicipta untuk saling melengkapi, menjadikan kita sempurna atas ridho-Nya. Aku akan melengkapimu dengan caraku dan begitu pula kau melengkapiku dengan caramu. Lalu kita berbincang tentang inginmu dan inginku. Merencanakan masa depan. Tentang apa yang akan kita lakukan di puncak. Menemui matahari terbit atau menunggu senja mereda.


Kepada langit yang berubah jingga,
dan perbatasan ungu tua yang menandakan malam tiba.