Ads Top

Masa Depan (Kita)




Secara materiil, dalam interaksi kita dengan dunia, hidup kita dilingkupi oleh dua hukum besar yang ada. Yang pertama adalah hukum alam yang merupakan suatu tatanan hukum yang mengatur atau melatarbelakangi kondisi dari alam semesta, dan yang kedua adalah hukum manusia yang merupakan tatanan tersendiri yang melingkupi kehidupan manusia sebagai individu. Kedua hukum ini menurut para pemikir kuno memiliki keterkaitan. Jika hukum alam sepenuhnya berlaku untuk hukum manusia, maka peristiwa yang terjadi antara kita sesungguhnya telah mampu diprediksi dari awal. Sejak pertama kali “kondisi awal” terjadi, kita bisa memprediksi apa yang akan benar-benar terjadi. Sehingga kita juga pasti akan tahu kondisi masa depan kita.

Mekanisme yang akan terjadi jika kita sebagai manusia sepenuhnya menurut pada hukum alam adalah bahwa kita akan bisa melanjutkan tiap fase demi fase kehidupan dengan sejalan. Menjelajahi garis edar kehidupan sesuai dengan tatanan normal kehidupan. Termasuk didalamnya setiap kondisi apapun yang kita anggap sebagai halangan atau rintangan yang membuat gerak kita menjadi sedikit melenceng dari garis edar yang ada. Kita akan mampu kembali menjalani garis kehidupan sebagaimana sebelumnya, karena hukum alam telah “mengatur” segalanya dan menganggap keadaan luar biasa tersebut sebagai kondisi atau siklus normal dalam kehidupan.

Namun, hukum manusia tidak sepenuhnya bisa disamakan dengan hukum alam. Manusia diciptakan dengan diberi “kehendak” yang menjadi pengecualian atas penciptaan makhluk-makhluk di muka bumi. Jika manusia menggunakan kehendak tersebut dengan berusaha “menuruti” hukum alam yang ada, maka prediksi masa depan akan jelas dan bisa ditebak. Namun jika kita menggunakannya untuk membuat perbedaan dari hukum alam yang ada, masa depan kita tentu tidak akan bisa ditebak.

Kemungkinan masa depan yang tidak sesuai dengan hukum alam dipengaruhi oleh sejauh mana penggunaan “kehendak” tersebut oleh kita. Jika hal ini diterima, maka apa yang benar-benar terjadi pada kita saat ini atau pada masa yang akan datang tidak akan bisa sepenuhnya diprediksi. Kondisi awal yang sekarang terjadi bisa memiliki beragam kemungkinan — yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian kita. Kemungkinan akan masa depan yang “sesuai” dengan hukum alam, akan jelas terlihat sejak kondisi awal sekarang. Mencakup kembalinya kita pada kondisi normal setelah setiap kemungkinan anomali yang terjadi, jika kita “menuruti” begitu saja hukum alam yang berlaku. Serta tentu saja menjalani masa depan yang telah tergaris sesuai dengan hukum alam yang berlaku antara kita.

Namun, karena kita telah diberi keistimewaan untuk berkehendak, kita bisa memilih apa yang akan kita lakukan. Kondisi awal di masa lalu hingga sekarang tidak akan menjadi penentu pasti kondisi kita di masa depan.

Hingga detik ini, kita mampu menjalani fase kehidupan dengan baik. Tapi mulai detik ini pula, kita tidak bisa memastikan lagi bahwa kita bisa hidup sejalan hingga di masa depan. Jika kita tidak memiliki masa depan yang sama, maka itu adalah konsekuensi yang harus kita terima sebagai pilihan atas kehendak kita saat ini. Dan jika suatu saat nanti kita bisa menjalani masa depan yang sejalan dengan angan kita di masa lalu, maka tentu kita berharap untuk memiliki masa depan yang terbaik untuk kita jalani bersama.

20160326 00.00
Powered by Blogger.