Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Obrolan Angkringan (2) : Perjudian

Wednesday, March 16, 2016


Malam itu, aku datang terlambat untuk nongkrong di angkringan milik Mas hik. Ada sesuatu yang harus segera aku selesaikan (baca nyeterika), mengingat keesokan harinya aku harus dinas pagi. Dinas pagiku itu jam 05.00 pagi ya, sehabis shubuh aku langsung mandi dan segera bergegas. Betapa pekerjaan telah membuat pola tidurku menjadi sedikit teratur, ketika masuk pagi, dan menjadi amburadul lagi ketika masuk siang. Namun demikian, ketika masuk pagi, aku bisa mandi sebelum matahari terbit, yang menurut kaca mata kesehatan itu bagus. Apalagi mandi sebelum matahari terbit dan terbenam adalah salah satu cara hidup sehat ala Rosululloh Saw.

Kira-kira pukul 9 malam aku baru mengeluarkan motorku dan segera menuju angkringan milik Mas hik. Sesampai di sana, nampak tempat duduk angkringan sudah penuh. Setidaknya sudah ada sekitar 8 orang termasuk Mas hik si pemilik warung angkringan. Seperti angkringan pada umumnya, tempat duduk dibuat mengelilingi gerobak angkringan, sehingga semua pengunjung bukan hanya bisa saling menghadap pada menu-menu yang dijajakan di sana. Namun juga bisa saling mengobrol satu sama lain.

Ketika aku sedang memesan es jeruk kecut, Mas hik sudah hafal betul dengan es jeruk kecut yang aku maksud, yaitu es jeruk dengan sedikit gula. Bukannya mau diet, namun hanya sedang mengurangi konsumsi gula saja, mengingat selama bekerja telah membuat kemajuan besar dalam hidupku (baca; perut buncit). Ada dua orang yang nampaknya sudah saling kenal merasa terusir dengan kedatanganku, mereka langsung berkata kepada mas hik “itung, Mas hik” artinya mereka ingin menghitung semua yang telah ia nikmati. Nah! Dalam hal ini kejujuran sangat diutamakan. Jarang aku menemukan orang-orang seperti Darmaji (Dhahar limo ngaku siji, atau dalam bahasa Indonesia berarti; makan lima tapi cuma ngaku makan satu)

Aku duduk di tempat dua orang yang baru saja berpamitan untuk pulang. Di angkringan, seperti ada tata krama. Seperti halnya sedang meninggalkan rumahnya sendiri, setiap ada pelanggan Mas hik yang akan meninggalkan angkringan, setelah selesai membayar, mereka akan berpamitan kepada semua orang yang ada di angkringan tersebut. Mereka biasa berpamitan dengan tutur bahasa yang halus, khas orang jawa, seperti “Monggo Mas, Mba, Pak Dhe dipenake sedaya mawon”

Setelah pesananku datang, segera aku menikmati es jeruk kecut pesananku. Nampaknya keterlambatanku kali ini, membuatku terlewat untuk beberapa sesi “diskusi” angkringan. Namun demikian, tidak membuatku kecewa, karena dalam diskusi angkringan, tidak hanya membahas satu topik saja. Perpindahan dari topik pembicaran satu, ke topik pembicaraan lain, biasa tanpa ritme yang jelas, dan tanpa jeda yang pasti. Meski obrolan satu dengan obrolan yang lain tidak ada kaitannya sama sekali, kami semua sama sekali tidak kesulitan dalam menyimak setiap obrolan. Ingat, dalam diskusi angkringan, semua orang berhak untuk menjadi narasumber dan tidak mengenal namanya moderator. Segalanya berjalan natural, tanpa ritme yang terstruktur.

Awalnya aku hanya sebagai pendengar saja, karena aku lebih suka menyimak ketika diantara mereka mengeluarkan pandangannya dalam menyikapi suatu masalah atau obrolan yang sedang kami diskusikan. Dan semakin menarik, ketika datang seorang lagi. Aku lupa namanya, tapi lebih tepatnya tidak tahu namanya. Maklum ini diskusi angkringan, bukan sebuah seminar yang harus memperkenalkan diri terlebih dahulu, meski hanya sekedar untuk bertanya. Orang tersebut, sekilas nampak sangar, dengan perawakan kurus, namun ia terlihat seorang pekerja keras. Dia sambat kepada kami semua, bahwa ia baru saja kalah judi. Ternyata ia adalah seorang pemilik bengkel las, modal yang ia peroleh untuk mendirikan bengkel ia peroleh dari pinjaman bank. Ia bercerita betapa ia sering telat ketika membayar angsuran bulanan.

Singkat cerita, orang yang memiliki kesenangan bermain judi. Dan sering menghabiskan malam di pos kamling untuk duduk bersila dan khusyuk memandangi kartu-kartunya, sambil sesekali bergumam seperti sedang melafalkan mantra-mantra keberuntungan itu, bercerita bahwa beberapa hari yang lalu menangkap basah pencuri sepeda motor milik anaknya yang sedang bermain di warnet.

Ia bercerita kronologisnya dengan runtut, ketika anaknya pulang dan mengatakan bahwa sepeda motornya yang dipinjam oleh teman yang dikenalnya di sebuah warnet game online, tidak dikembalikan juga. Merasa ditipu, segera sang bapak mencari informasi keberadaan si anak yang meminjam motor anaknya tersebut. Sempat juga sang bapak melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Namun, sepertinya ia tidak puas dengan kinerja polisi yang menurutnya terkesan berbelit-belit dan tidak segera melakukan tindakan.

Sebagai orangtua tentu juga tidak bisa menyalahkan anaknya yang meminjamkan motornya ke sembarang orang. Menurut keterangan anaknya, orang yang pinjam motornya sudah seperti teman sendiri, sama-sama suka main di warnet.

Atas informasi dari salah satu teman judinya, ia menemukan identitas pencuri sepeda motor milik anaknya. Dan ternyata anak yang mencuri sepeda motor itu adalah anak jalanan yang suka mengamen di salah satu lampu merah jalanan Kartasura. Kemudian ia juga menemukan alamat lengkap si anak itu. Pencuri yang ternyata masih anak-anak itu, ternyata berasal dari keluarga yang tidak mampu. Si anak itu putus sekolah karena kondisi ekonomi keluarga yang mengakibatkan anak tersebut hidup di jalan. Ketika bertemu dengan orangtua si anak, orang tua anak itu hanya bisa pasrah “Terserah, anakku ameh diapakke, ameh di laporke polisi trus di penjoro yo monggo, aku wes pasrah” artinya orang tua si pencuri sudah pasrah, terserah anaknya mau diapakan, mau dilaporkan ke polisi kemudian dipenjara juga tidak apa-apa.

Dan seperti karakter seorang penjudi pada umumnya, ia akan dengan mudah merelakannya apa yang sudah lepas dari gengamannya. Yaiyalah, berjudi bersila hampir setiap malam, sering kalah saja masih bisa senyum bahagia, dan pas menang judi hasilnya juga untuk hal-hal yang sifatnya foya-foya. 

Dibalik sikapnya seorang penjudi, ada sesuatu yang membuatku sedikit respect dengan beliau. Beliau akan tetap memprioritaskan nafkah untuk keluarganya. Dan tentu dia bukan tipe orang yang mudah sambat tidak punya uang kepada keluarganya, karena meskipun punya hutang ia akan membayarnya sendiri tanpa istri dan anaknya tahu. Intinya, ada yang diprioritaskan. Namun ia juga seperti ada budget khusus untuk bermain judi. Karena judi sudah menjadi kesenangannya. Aku curiga ia bermain judi bukan untuk menang, namun hanya untuk mencari kesenangan, karena ia juga punya usaha bengkel las untuk mencari penghasilan, bukan hanya bisa berjudi dan menyuruh istrinya bekerja.

Sebulan setelah anaknya kehilangan motornya, si anak juga telah dibelikan motor baru yang sama dengan sebelumya, yaitu Yamaha Jupiter. Namun, si anak lebih dibatasi lagi dalam penggunaannya.

Dan ternyata ada kabar dari salah satu temannya, bahwa anak yang mencuri motor anaknya, kalau pas hujan sering menjadi penyemprot sampo di kaca-kaca mobil di lampu merah Kartasura. Dia pun ternyata penasaran juga dengan sosok si pencuri motor milik anaknya.

Dengan segera ketika Kartasura sedang dirundung gerimis, ia bersama seorang kawannya mencari pencuri motor milik anaknya. Dan ketemu! Si pencuri segera dibawa ke rumahnya. Dan sesampai di rumah, adiknya yang masih muda dan memiliki emosi yang menggebu-nggebu langsung menghunjam dengan beberapa pukulan ke wajah si pencuri, hingga wajah si pencuri itu besem-besem.

Dia malah tidak tega melihat kondisi si pencuri itu. Dan ia memisah adiknya yang masih dalam keadaan emosi itu. Justru tanpa dendam ia malah melontarkan beberapa pertanyaan untuk memastikan apakah benar ia mencuri motor milik anaknya. Dan ternyata benar! Ia yang awalnya hanya ingin meminjak motor milik anaknya, kemudian karena tuntutan ekonomi ia justru menjualnya via online. Sebagai anak jalanan, ternyata pencuri tersebut cukup melek teknologi juga. Jadi wajar juga ia sering bermain di warnet untuk bermain game online.

Meski menurut penuturan atau pengakuan anak tersebut, bahwa mencuri bukan hanya satu kali itu saja. Meski dia adalah orang yang suka bermain judi, namun ia masih memiliki hati nurani. Ia justru menawarkan pekerjaan kepada si anak itu untuk membantunya di bengkel las miliknya. “Wes, kowe melu aku neng bengkel las wae piye, perkoro mangan aku iso ngopeni kowe, tapi nek kowe pengen lungo ko kene, yo monggo, tapi pamit mbi aku” begitu ia menerangkan kembali kepada orang-orang yang sedang nongkrong di angkringan.

Di balik kesenangannya bermain judi, ia masih memiliki hati nurani. Rasa iba, yang membuatnya justru ingin merawatnya dan menampungnya untuk membantu pekerjaannya di bengkel las miliknya. Aku sempat heran dengannya, ia yang memiliki perawakan sangar, begitu mudah merasa kasihan. Ia lupa bahwa ia sudah kehilangan materi, yaitu motor milik anaknya yang dicuri dan dijual oleh anak itu.

Dan aku masih ingat betul dengan perkataannya “Aku melihat dia (anak yang telah mencuri motor anaknya) aku malah kasihan, pas tak ajak makan, ia seperti belum pernah makan makanan enak, padahal cuma lele goreng, dan waktu aku lihat, aku merasa kasihan ketika ia menikmati lele gorengnya dengan sedikit-sedikit agar tidak cepat habis” tentu ia mengatakan hal itu dengan bahasa jawa khas seorang penjudi.

Dia, meski seorang penjudi, namun tahu bagaimana ia harus memperlakukan orang lain, termasuk orang yang telah men-dzolimi-nya. Tentu kalian pernah mendengar kajian ketika masih sering TPA di masjid atau langgar dulu, bagaimana Rosulullah Saw memperlakukan orang-orang yang membencinya. Saya kira ini ilmu fikih dalam kehidupan sehari-hari yang luput kita terapkan pada kita yang mengaku sebagai muslim. Sedangkan dia? Dia adalah penjudi. Seorang penjudi yang justru telah mengajariku bagaimana memperlakukan orang yang telah men-dzolimi kita.

Dan sebelum aku dan yang lainya mulai mengantuk meninggalkan angkringan dan mulai “itung” dengan Mas hik, setelah ia menghabiskan minuman dalam gelasnya, ia mengakhiri obrolannya dengan sebuah kesimpulan. Apa yang dia lakukan ibarat sebuah perjudian. Kehilangan motor milik anaknya, seperti halnya kalah dalam perjudian. Dan sekarang, ia sedang berjudi lagi. Jika anak yang mencuri motor anaknya bisa berbenah diri, dan syukur-syukur bisa berubah menjadi lebih baik dan bisa bermanfaat bagi keluarga dan orang lain. Itu berarti, dia sedang menang dalam perjudian ini. Tapi, kalau anak itu kabur, dan membawa barang-barang kepunyaannya, tentu akan menimbulkan kerugian lagi. Itu artinya, dia sedang kalah judi!


Kemudian ia mulai “itung” dengan Mas hik, dan meningalkan angkringan menuju tempatnya sering duduk bersila menghabiskan malam dengan berjudi.