Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Saikou no Omoide Wo...

Sunday, March 6, 2016
ilustrasi: cdn.playbuzz.com


Kemarin salah satu kontributor lobimesendotkom yang baru menjalani ospek posting cerita seram saat aku masih mengerjakan skripsi. Salah satu unforgetable momen yang kulalui bersama itu mahkluk yang ternyata mengikuti jejakku jadi mahasiswa legend. Selamat Ded, kau mahasiswa sejati! Tinggal banyak tepe-tepe sama adik tingkat biar tambah legend.

Nah, aku gak nyangka ternyata Dedi mengawali cerita yang mau kusajikan dalam #sundaynight kali ini. Jadi waktu itu, sebenarnya selain Dedi ada dua penghuni lain yang sering nongkrong sambil download dan main game gitu. Nah, dua orang ini Sabtu kemarin baru saja merayakan kelulusannya sebagai sarjana. Walau sebenarnya aku gak nyangka dua orang ini bisa juga melewati cobaan skripsi.

Sebab mereka dulu, termasuk jenis mahasiwa yang gak mau repot.

Bukannya malas lho ya, tapi kalau soal tugas kuliah memang dua orang ini prokrastinasinya ngalah-ngalahin koala. Aku jadi merasa punya kesamaan dengan mereka. Tidak kusangka kita bertiga cocok dan pernah mengalami masa-masa indah waktu kuliah. Dua orang yang akan aku ceritakan ini,adalah inspirasi persahabatan yang tulus.

Nanda dan Ista.

Pastinya kalian familiar dengan dua nama ini khaaan... khann. Mereka sering kalian ledekin karena sering kemana-mana berdua. Ah kalian tidak tahu saja kami dulu pernah bertiga. Nanda dan Ista ini pernah jadi saksi cerita sedihku waktu kehilangan semangat mengerjakan skripsi. Mereka berdua juga yang sering menemaniku di ruang HIMAPSI dulu dengan kekonyolan melebihi manusia normal.

Kami bertiga sering bercanda-bercanda tidak jelas dan tak tentu arah. Ketawa sampai perut sakit bahkan menangis. Settingnya aku mengerjakan skripsi sedang mereka berdua mengerjakan tugas –baca: buka file tugas lalu mantengin IDM. Mereka berdua yang menjadi saksi perjuanganku membuka lembaran demi lembaran berkas skripsi di komputer HIMAPSI –yang setelah membaca satu paragraf langsung kutinggal.

Kami dulu begitu akrab, meskipun tidak pernah main bareng.

Makan bareng ke tempat nongkrong pun belum pernah. Tapi entah mengapa rasanya sekarang rasa dekat dengan mereka masih mengisi hatiku. Nanda adalah cowok tanpa bulu, suka keliling-keliling muter-muter gak jelas, tulus dan penyayang. Ista lebih sering diam, tapi kalau udah ngomong harus didengar sampai selesai –kalau gak bisa kena tabokan dan gigitannya yang menyakitkan namun legend. Aku kadang heran mengapa bisa akrab dengan dua manusia aneh ini.

Cerita punya cerita, aku lulus lebih dulu daripada mereka.

Waktu itu kita sudah jarang ngobrol. Nanda mulai ambil parttime di sebuah lembaga hipnoterapi –yang akhirnya malah jadi asisten tim sukses salah satu capres. Ista mengambil parttime di suatu toko perlengkapan outdoor. Aku sendiri sudah mulai jarang ngampus dan kita akhirnya jarang ketemu. Rasanya waktu memang harus memisahkan kami kala itu.

Lalu kita dipertemukan kembali di kedai Lambemoo. Kedai yang dibuka Paul sejak Desember 2015 lalu. Di sini aku merasakan kembali hawa saat kami masih bersama dulu. Bercanda , marah-marahan, saling cerita pengalaman dan apa saja yang kita tahu. Aku kembali dekat dengan mereka. Rasanya aku memiliki kembali waktu yang dulu pernah hilang.

Ada sebuah cerita yang kami simpan dan selalu membuat kami tertawa.
Kau tahu itu Ded! Karena kamu saksi hidup kekonyolan kita dan aku tahu kamu gak bisa berhenti ketawa sampai berhari-hari. Kurang ajar benar si Dedi ini, cuman liat doang dan menikmati pertunjukan dengan muka tanpa dosa. Sambil sok lugu mantengin monitor kompi HIMAPSI padahal sebenarnya nguping.

Kala itu aku sedang beristirahat dari kepusingan menerjemahkan buku elektronik demi melengkapi teori bab 2 skripsiku. Aku berbaring di tumpukan tikar dekat pintu dengan posisi telentang. Ala cowok lagi di pantai gitu. Nanda dan Ista seperti biasa, bercanda seperti anak SD. Tabok-tabokan, cubit-cubitan, dan pasti akhirnya Nanda yang jadi korban.

Aku ketawa-ketawa saja melihat pertunjukan komedi realiti itu. Ceritanya Nanda lalu pamit mau beli makan. Sambil ledek-ledekan sama Ista dan waktu mau sampai pintu akhirnya kembali lagi buat bales ledekannya Ista. Akhirnya tabok-tabokan lagi dah. Buat info saja, Ista ini memang agak hiperkinetik kalau udah on. Tapi akhirnya Nanda pun mantap buat pergi. Ista meledek tapi tidak dapat respon.

Gak tahu ya, mungkin karena pingin diperhatiin Ista mengambil segelas Aqua lalu melempar ke arah Nanda. Sementara ia tidak tahu dan aku menahan tawa, bersiap buat adegan selanjutnya yang pasti lebih lucu. Kayak Saitama yang kepalanya dipukul monster tapi cuma goyang-goyang gitu bayanganku dulu –eh One Punch Man dulu belum ada ding.

Aku tidak tahu dapat perintah dari siapa, gelas Aqua itu tahu-tahu berbelok meliuk ke arah tengah pangkal pahaku yang terbuka. “Bugh!” gelas Aqua itu jatuh menimpa ‘si adik’ yang masih lugu belum pernah dipakai. Kontan aku mengaduh dan meringkuk. Rasanya dunia seperti sudah berakhir. Rasa sakitnya sampai kepala.

Dedi, yang tadinya diam sambil kedip-kedip mata tahu-tahu ketawa aneh kayak ditahan-tahan gitu. Nanda yang belum sampai pintu malah berguling-guling sambil memegangi perut. Ista menutupi wajahnya sambil ketawa tanpa suara, tangannya menepuk-nepuk lantai. Aku sendiri sebenarnya juga mau ketawa. Tapi kalau ketawa jadi aneh orang masih nahan sakit.

Baru setelah nyerinya sedikit berkurang, aku melepas pegangan tanganku. Kami liat-liatan lalu terbahak-bahak bareng lebih keras daripada tadi. Nanda entah masih lapar atau tidak malah menambah durasi ketawa kami dengan candaannya yang wagu. Kami tambah gak bisa berhenti ketawa. Aduh, aku nulisnya ini juga sambil ketawa coba.

Bentar, mari kita kasih jeda buat ketawa. Sudah? Kalau sudah mari lanjut baca lagi.

Ah, Nanda dan Ista –juga Dedi tentunya yang numpang beken di tulisan ini. Sumpah, itu salah satu kenangan paling indah yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku kadang masih merindukan saat-saat itu. Momen waktu aku belum memikul banyak hal seperti sekarang. Momen-momen di mana aku bisa tertawa lepas, sedih, marah seperti anak kecil yang polos.

Aku mungkin takkan menemukan sahabat sebaik mereka. Nanda yang tulus, sabar, lemah terhadap perempuan, selalu tampak ceria dengan senyum dan tawanya yang mirip anak kecil. Ista yang ramah,tegas kalau sudah punya komitmen, suka ngebosi tapi kalau sudah tersentuh berubah jadi sangat penyayang.

Ah, kalian benar-benar takkan tergantikan.

Kita akan terpisah karena kita menjalani hidup di kota berbeda. Tapi kuharap lagu Secret Base- Kimi Ga Kureta Mono yang dinyanyikan Kayano Ai, Tomatsu Haruka dan Hayami Saori ini mampu menjaga kenangan kami. Lagu yang kemarin sempat dikutip tautan suaranya di soundcloud sama Dedi. Lagu ini menceritakan perpisahan dua orang dengan harapan mereka agar bertemu kembali. Lagu yang sangat kami sukai bahkan sampai sekarang sudah di-cover dengan berbagai versi.

Kau, dan akhir musim panas

Dan mimpi-mimpi masa depan

Harapan besar kita, aku takkan melupakannya

Aku percaya kita akan bertemu 10 tahun lagi di bulan Agustus


Aku tahu kau berteriak :”Terima kasih” dari dasar paling dalam hatimu.

Sebuah perpisahan ketika kau menahan air mata dan senyummu yang kesepian.

Itu kenangan terindah kita.

The best memories... Saikou no omoide wo...