Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Skripsi, Agama, Ras dan Antargolongan

Monday, March 14, 2016
Beberapa hari yang lalu seorang teman bertanya kepada saya tentang salah satu topik dari judul di atas. Yaaahh, sudah pasti bisa ketebak yang mana, You-Know-What. Apabila istilah di dalam sekolah para penyihir yang paling terkenal, yang bernama Hogwarts dengan tokoh protagonis utamanya adalah Harry Potter, sedangkan tokoh antagonis utamanya bernama Lord Voldemort, maaf, maksud saya You-Know-Who. Begitu pula dengan sekolah para mahasiswa yang paling terkenal, yang bernama Universitas, dengan tokoh yang ngakunya protagonis utamanya adalah kamu, iya kamu, sedangkan tokoh antagonis utamanya adalah Skripsi, eh maaf, maksud saya You-Know-What.

Kata-kata sakral tersebut sudah menjadi kata-kata terlarang yang diucapkan untuk dibahas dengan mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir seperti saya. Disinyalir kata tersebut memiliki tuah tersendiri yang bernilai magis, (red. mantra) sehingga dapat membuat lawan yang dilempar dengan mantra tersebut menjadi tertekan. Contoh;

Dia         : “Eh, Skripsimu udah sampe mana?”
Saya       : “…” *hening sesaat sambil bertahan*
Dia         : “…” *mikir*
Saya     : *tiba-tiba ngarahin pulpen ke dia sambil ngucapin* “Expecto Patronum ~~~ “ *sambil berharap dia terbang menjauh*

Kayak gini, ekspresinya sama persis

Nahh, seperti itulah ilustrasi fiktif apabila seorang mahasiswa tingkat akhir ditanyain perihal itu / Skripsi / You-Know-What. Sungguh mantra tersebut selalu berhasil membuat para mahasiswa akhir seperti mengalami freeze moment atau checkmate dalam permainan catur atau wasted, buat para pemain GTA pasti paham.



SARA

Sudah bukan lagi Suku, tapi Skripsi. Pertanyaan tentang ini sudah mulai menyinggung masalah SARA. Jadi, rasanya hampir sama ketika ditanyain tentang Skripsi dengan ditanyain tentang Suku, Agama, Ras, atau Antargolongan. Contoh;

Dia         : “Eh, Skripsimu udah sampe mana?”
Saya       : “…”

Sama dengan

Dia         : “Eh, lu orang Indo yak? Pantes item.”
Saya       : “…”

Atau

Dia         : “Eh, pelit banget sih lu, keturunan Cina yak?”
Saya       : “…”

Dan

Dia         : "Lu enak ganteng kayak gua, nah gua, jelek kayak elu!"
Saya       : "..." "Avada Kedavra~~~"

Apabila pertanyaan tersebut dilihat dari sudut pandang mahasiswa akhir (Saya), kurang lebih seperti itu. Ketika sebuah pembicaraan udah menyinggung-nyinggung unsur SARA emang ngga enak. Apalagi SARA yang sifatnya destruktif, alias menjatuhkan suatu pihak.

Tapi apabila SARA yang ini bisa dikelola menjadi SARA yang sifatnya konstruktif. Apabila pertanyaan tersebut dilihat dari sudut pandang penanya (Dia), kemungkinan besar maksudnya adalah untuk memotivasi untuk segera diselesaikan tanggungjawabnya, bukan bermaksud untuk menjatuhkan mental, ataupun semangat.

Kembali lagi kepada individu yang menyikapi, ambil sebagai Distress, atau Eustress. Kita semua saling mengingatkan untuk tanggung jawab yang masih kita emban amanahnya. Entah kepada agama, masyarakat, diri sendiri, ataupun orang tua. Yang jelas, menyelesaikan sebuah tanggung jawab itu hukumnya wajib, yang nanti akan dipertanggungjawabkan.

Terimakasih untuk kalian para penanya yang selalu mengingatkan dan senantiasa menaruh perhatian :’)

Dan, tetap semangat untuk kalian yang masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan =D

Innamal A’malu Binniyat, sesungguhnya suatu perbuatan itu tergantung pada niat. Yukk, awali dengan sebuah niat baik dan semangat, InsyaAllah akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik, Aamiin.



Deddy Suryawan – Mahasiswa Psikologi

stasiunkecil.wordpress.com