Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Menjiwai Tuhan 2: Damai dalam Hati.

Thursday, April 7, 2016

Tulisan ini mungkin sedikit sensitif buat pembaca lobimesendotkom. Sebab ini bukan tulisan ringan. Siapkan energi, siapkan napas panjang karena beberapa paragraf di depan mungkin butuh energi lebih. Topik ini aku angkat untuk mengingatkan diri sendiri. Penjabaran pengalaman pribadi dan karena itu, aku tidak ada keinginan untuk menyanggah atau menentang pemahaman pembaca.

Tulisan ini coba mendedah segala pendapat tentang Tuhan yang kucoba hubungkan menjadi satu pemahaman yang utuh. Sumber dari tulisan ini tidak aku cantumkan karena benar-benar random. Beberapa memang lebih mengarah kepada tasawuf, jadi setidaknya frame pembaca bisa diarahkan ke sana lebih dulu.

sumber gambar

Aku tidak akan membahas benar atau salah tentang Tuhan. Tulisan ini murni pemahaman yang lahir dari telaah bertahun-tahun dan bukan hasil renungan semalam. Namun tetap, apa yang kuuraikan ini belum tentu benar dan karena itu belum tentu juga salah. Aku hanya mencoba memahamkan diriku tentang sosok Tuhan, bukan membahas baik atau buruk.

Lantaran sesuatu hal bisa jadi buruk bila si manusia tidak menginginkan dan jadi baik bila sesuai keinginan. Kadang jika hal ‘buruk’ terjadi, kalimat yang sering muncul “Tuhan berkata lain.” Kalau dapat yang sesuai keinginan, bilang ‘aku berhasil’. Aku kadang geli jika musibah datang Tuhan yang disebut-sebut, tapi kalau kebaikan lebih sering orangnya bangga akan capaiannya sendiri. Menyebalkan, tapi memang begitulah kecenderungan manusia.

Lalu, bagaimana peran Tuhan dalam hidup kita?

Di suatu pelatihan singka empat tahun lalu, aku diberi kalimat bahwa kehidupan dunia ini 99% diserahkan kepada manusia. Seorang teman, bilang bahwa peran Tuhan dibanding manusia itu separuh separuh alias fifty-fifty. Pandangan berbeda itu membuatku sempat bingung. Menghitung-bandingkan peluang kekuatan antara takdir Tuhan dan manusia. Tapi kini aku sadar, tidak bisa menghitung peran Tuhan di alam semesta ini.

Pikiranku yang terus menghitung dan mempertanyakan itu .

Pikiran yang terus haus akan pengetahuan. Tapi karena hausnya takkan terobati, pikiran takkan mampu memutuskan satu pemahaman. Hati yang memutuskan paham yang kita pilih jadi pegangan. Apa paham yang kita putuskan itu pasti benar? Tentu tidak, meskipun itu berasal dari penggabungan teori dengan sudut pandang segala aliran. Sebab tentu, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan.

Nah, lantas kita-kita ini hidup untuk apa jika Tuhan mutlak atas segalanya?

Ada berbagai hal yang manusia tidak tahu, dan itu harus dicari. Tuhan memang Penentu mutlak segalanya, tapi Dia tidak memberi tahu skenario kita terang-terangan. Kita yang memilih skenario apa yang akan kita jalankan. Apa itu dalam lingkup kekuasaan Tuhan? Jelas. Tapi kita ‘kan tidak bisa menghitung seberapa kekuasaan Tuhan itu.

Jadi pilihan yang kita miliki tidak terbatas, karena tidak ada hitungan pasti seberapa Tuhan berkuasa.

Yang sekarang jadi masalah, Tuhan dalam pandangan manusia itu jumlahnya lebih dari satu. Masing-masing kepercayaan memiliki Tuhannya masing-masing. Semua percaya tuhannya itu pencipta alam semesta, penentu segalanya. Masing-masing kepercayaan menyatakan yang paling benar. Meskipun dalam kepercayaan mereka mengajarkan untuk menghormati kepercayaan orang lain.

Ini yang jadi membingungkan.

Kepercayaan mana yang paling benar? Tuhan kepercayaan mana yang sebenarnya ada? Jika kita memilih satu kepercayaan dan menyembah tuhan bernama A, kita sebenarnya percaya kepercayaannya, bukan Tuhan. Ini cara memilih yang rapuh, sebab kepercayaan bisa berubah-ubah sesuai penafsiran pemuka kepercayaan masing-masing.

Agamaku mengenal Tuhan bernama Allah.

Aku selalu bertanya, mengapa Tuhan harus bernama? Padahal nama itu fungsinya untuk membedakan. Semisal kita melihat satu benda berkaki empat dan atasnya berupa papan, kita namai dia ‘meja’. Kita melihat benda berkaki empat lain namun atasnya ada mata, perut, ekor, juga moncong, kita sebut dia ‘sapi’. Syarat penamaan adalah kemajemukan dan fungsinya sebagai diferensiasi dalam satu ekosistem.

Nah, apa Tuhan itu banyak hingga harus dinamai?

Jika Tuhan hanya satu, buat apa Dia harus memiliki nama? Apa Tuhan saja tidak cukup? Dalam pemahamanku sekarang sebenarnya penamaan Tuhan saja, cukup. Sebab bila kita katakan, umat A menyembah tuhan A dan umat B menyembah tuhan B jelas dua kepercayaan itu benar semua. Dengan kata lain, tuhan juga lebih dari satu karena kepercayaan C, D, E dan seterusnya punya tuhan sendiri. Secara tidak sadar kita mengakui ada tuhan-tuhan lain selain Tuhan Yang Maha Esa.

Ini aneh, karena Tuhan itu absolut, berkuasa atas segala sesuatu, tidak memiliki batas. Mengapa harus dibanyakkan? Manusia tidak bisa mengangkat satu ton beras sendirian, jika memakai tenaga manusia itu butuh berpuluh bahkan beratus orang mungkin. Nah, kalau pikiran kita linier ya jadinya seperti ini. Tuhan yang absolut kita lihat sebagaimana manusia dan memiliki bermacam-macam nama.

Penamaan Tuhan sebenarnya tidak perlu, bila telah memahami hakikat kekuasaan-Nya atas semesta. Kita mengakui satu Tuhan, udah itu aja. Tuhan bukan lagi sesuatu yang harus didiferensiasi. Lantaran Tuhan itu unik, satu. Jika harus didiferensiasi dengan manusia, itu jelas perlu. Lantaran manusia itu ciptaan dan Tuhan itu Pencipta. Derajatnya jelas berbeda dan kemampuannya tentu tidak layak dibandingkan.

Tuhan itu satu, tapi mengapa kepercayaan jadi banyak?

Nah, ini karena manusia secara subjektif menafsirkan Tuhan menurut imajinasinya. Sementara dalam imajinasi, manusia bergantung pada nafsu. Manusia butuh nafsu sebagai bahan bakar imajinasi. Tuhan hasil imajinasi itu pastilah sesuai keinginannya sendiri. Bukan tidak mungkin tuhan itu ditafsirkan jadi banyak dan ‘berwujud seperti apa’. Wajar bila kita ingin tahu bagaimana wujud Tuhan, tapi membuat rekaan bentuk dan wujud? Itu bukan wilayahnya kita

Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak terbatas apa bisa dibayangkan wujudnya seperti apa?

Kekuasaannya saja kita tidak bisa menghitung dan memperkirakan, apalagi wujud. Nah, jadi pertanyaannya sekarang bagaimana kita tahu wujud Tuhan? Aku menangkap ini bukan tentang wujud Tuhan sebagai individu, tapi wujud Tuhan melalui apa saja yang telah diciptakan-Nya di alam semesta ini. Air, pohon, angin, dan bahkan diri kita sendiri.

Semua benda di semesta ini memiliki energi kehidupan. Energi kehidupan yang mengisi daya bagi setiap benda sehingga memiliki guna. Energi yang terkandung dalam elemen-elemen kehidupan di semesta ini. Air memiliki energi, tumbuhan juga, angin, burung-burung, semut di liangnya, semua memiliki energi. Energi yang terus bergerak tanpa pernah berhenti.

Sebuah kesinambungan getar kehidupan dan terhubung satu sama lain.

Dalam diri kita saja contohnya, jantung kita terus berdetak tanpa henti. Angin di sekitar kita terus berdesir. Air terus mengalir dan berubah bentuk menurut aturan alamnya, api yang berupa energi panas terus mengisi ruang di Galaksi Bima Sakti lewat matahari, tanah sebagai landasan tumbuhan untuk hidup mengisi nutrisi buah, buah dimakan manusia dan seterusnya.

Energi itu terus bergerak..

Itulah wujud Tuhan. Salah satu tanda yang diciptakan-Nya untuk membuat manusia paham akan keberadaan dan wujud-Nya. Bukan berdasarkan imajinasi dan sesuatu yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Hanya bisa dipahami dengan kepekaan hati membaca pergerakan alam. Sekarang mungkin kita belum paham sepenuhnya, namun suatu saat kita akan dipaksa paham.

Saat mendekati akhir, yakni kematian.

Mau tidak mau, bisa kita baca atau tidak tandanya, manusia pasti akan mati. Mati dalam hal ini tentu mati raga. Jika kita percaya Tuhan, kita tidak akan berpikir bahwa hidup di dunia ini tidak ada gunanya karena toh akan mati. Justru, hidup ini jadi ada gunanya karena mati di dunia ini hanya mati raga. Hati kita, jiwa kita, roh kita tidak akan mati.

Bagaimana kita membaca roh?

Itu tentang membaca pergerakan dalam hati dan jiwa –yang akhirnya melahirkan ilmu psikologi. Pengamatan terhadap pergerakan dalam batin manusia. Terlalu aneh apabila manusia jantungnya berdetak, otaknya berpikir tapi tidak ada energi yang menggerakkan. Makanan hanya sebagai bahan bakar, seperti mesin harus ada yang mengoperasikannya. Nah, siapa yang ‘mengoperasikan’ organ-organ dalam tubuh manusia?

Tuhan, lewat ruh yang ditiupkannya.

Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak percaya Tuhan. Mungkin kita pernah jauh dari Tuhan, tapi itu tidak berlangsung selamanya. Kebutuhan mendekat itu akan muncul seiring kesepian yang kita rasakan. Kebutuhan bergantung karena menyadari diri ini begitu lemah. Menyadari ada yang tidak mungkin kita ubah dan menerima apa yang ada meskipun kita tidak menyukainya.

Musuh kita saat seperti itu adalah kesombongan. Rasa gengsi tidak mau mendekat kepada Tuhan. Karena mendekat kepada-Nya berarti merasakan sakit dalam hati yang luar biasa. Kita merasa masih memiliki daya untuk mengubah dan meminimalisir rasa sakit. Padahal sesuatu itu sudah ditetapkan dan agar terus belajar, kita yang harus berubah. Bukan memaksa untuk mengubah keadaan.

Hati itu sumber segala pengetahuan yang dibutuhkan manusia.

Setiap pengalaman pasti membutuhkan usaha. Sakit dalam hati itu usaha untuk mendekat kepada Tuhan. Semacam pengalaman dalam dimensi psikologis-spiritual. Kita tidak mungkin terus menghindar dari rasa sakit. Rasa sakit dalam hati yang dalam pemahamanku disebut cinta. Cinta yang berupa keinginan yang kuat untuk memberi. Bila sudah cinta, tidak sulit untuk pasrah terhadap berbagai macam hal yang tidak mungkin diubah. Lantaran kita hanya ingin memberi bukan ingin diberi dan menerima pengabulan dari Tuhan lagi.

Soal kita menerima sesuatu dari Tuhan, sebenarnya Tuhan itu selalu memberi kita.

Darimana kita tahu? Membaca pergerakan di alam tadi. Kepekaan merasakan pergerakan setiap energi dari sekitar kita. Rasakanlah detak jantung, aliran napas, perubahan dalam pikiran, gerak keinginan dalam hati, semua itu pemberian Tuhan. Rezeki yang tidak kita minta namun selalu mengisi hari-hari kita. Dari sini kita akan merasakan syukur kepada-Nya. Merasa bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Bila sudah sampai sini, tidak sulit menumbuhkan damai dari dalam hati.

Proses pemaknaan sampai ini mungkin masih belum cukup.

Aku sekarang masih hidup dan tentu ujian masih akan terus berlangsung. Mempertahankan pemahaman dan kepercayaan ujian yang pasti kita lalui dan pembelajaran tanpa henti adalah kuncinya. Proses itu sungguh membutuhkan kerja hati yang luar biasa. Tidak heran Tuhan menghadiahkan surga dengan segala rupa kenikmatan di dalamnya. Tapi surga tidak bisa jadi ‘pegangan’ untuk mempertahankan pemahaman dan kepercayaan itu.

Sebab ini tentang kita kepada Tuhan, bukan kita kepada surga.

Analoginya seperti ini, saat kita baik sama orang karena mengharap imbalan berbanding saat kita baik karena memang kita mencintainya. Jelas keduanya benar-benar akan menumbuhkan keikhlasan yang berbeda. Fokus saat baik karena imbalan adalah pada imbalannya, sedangkan karena cinta fokus kita kepada orangnya. Saat kita baik karena mengharap surga, fokus kita ya surga. Saat karena cinta ya fokus kita kepada Tuhan.

Penting mana surga sama Tuhan?

Baik karena cinta itu tidak akan mengharap imbalan, karena pada hakikatnya cinta itu energi yang ingin terus memberi. Keinginan diberi dan dibalas itu akan sirna tatkala kita menyadari bahwa kita ini terus diberi, itu juga bagian dari cinta. Cinta yang ikhlas menerima dan memberi. Kesadaran bahwa manusia itu lemah dan hanya memiliki apa yang Tuhan ingin manusia miliki.

Yah sepertinya uraian di atas sudah cukup padat.

Sekali lagi aku tidak ingin menyerang siapa pun dalam tulisan ini. Bila dari para pembaca ada yang terbersit pemahamanku ini salah, simpan dulu. Bukan aku tidak mau menerima pendapat orang lain, namun karena aku tahu pembaca memiliki kebebasan dan hak untuk memaknai Tuhan dengan cara berbeda-beda. Yang terpenting, percayalah hanya kepada satu Tuhan.


Bila ada yang ingin berdiskusi tulis saja di kolom komentar. Bisa juga via fesbuk Wildan Muhammad. Terima kasih sudah membaca. Semoga tulisan ini membuka kejernihan dalam pikir dan hati pembaca. Maafkan apabila ada pemahaman yang keliru. Ini hanya usaha saya untuk berbagi dan bila ada yang mau berbagi kembali aku membuka hati untuk itu. Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan naungan kasih sayang-Nya.