Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Tentang Memimpin Tentang Belajar

Friday, April 22, 2016
Cerita atau artikel dari Wildan Muhammad kali ini mungkin akan sedikit berbeda. Ini salah satu kegeramanku saja sih. Kejadian yang berulang pada beberapa teman dan kekacauan kecil terjadi. Dibilang kecil juga karena skalanya sebatas persahabatan, geng atau struktur kurang dari sepuluh orang. Namun bila dalam instansi ini sudah jadi perkara besar.

Hal yang membuatku geram itu adalah ketidakacuhan seseorang terhadap kesulitan orang di sekitarnya. Hmm, mungkin aku yang lebai sih. Buat apa ngurusin orang yang tidak peduli? Tulisanku ini mungkin juga takkan dipedulikannya. Sebenarnya aku tidak mau juga ngurusin orang macam ini. Biarkan saja keegoisan membunuhnya perlahan dan tahu sendiri akibatnya.

Aku hanya ingin menyampaikan kegundahan dalam hatiku.

Aku tidak bilang diriku ini layak memberi kritikan kepada mereka yang kusindir dalam tulisan ini. Tapi aku rasa perlu menyuarakan pendapat kepada teman-temanku yang sudah menjalani ‘puncak karirnya’. Agar ia tidak melupakan teman-teman dan orang-orang di belakangnya. Entah teman, anak buah, sahabat, saudara, mantan (eh). Siapa saja yang pernah ada dalam hidup orang-orang yang pernah ‘kecil’ itu.

Sebab sangat kusayangkan, beberapa teman yang sudah ‘di atas’ kejaimannya meningkat 100x.
Hmm, iya sih kalau sudah menjabat satu posisi, pekerjaan banyak, tanggung jawab bertambah, teman-teman pun pasti juga ‘naik tingkat’. Dulu teman-temannya biasa-biasa saja, bercanda layaknya anak TK, makan di warung kaki lima, hidup dengan apa adanya. Saat sudah berkedudukan ia banyak bergaul dengan pejabat, direktur, artis, dan orang-orang sekaliber itu. Hidupnya pun tidak apa adanya, tapi apa-apa ada.

Teman-teman yang sebelumnya membersamai –dan masih biasa-biasa saja, tergeser kedudukannya. Saat ketemu, hawa Si A sudah berubah, tidak secair dulu. Teman-teman main masa SMA atau kuliah saat bersama seperti ‘tidak ada levelnya’ dibandingkan Si A. Dia –entah sengaja atau tidak –membuat jarak dengan membatasi bicara, menjauh, dan bahkan membuat blok sendiri. Orang pun jadi sungkan bicara dengannya.

Ini yang sebenarnya ingin aku soroti dalam tulisan ini.

Aku tergelitik, dan merasakan perang itu dalam diriku juga. Saat bicara dengan yang lebih muda, lugu, belum mengalami banyak hal, ada sekelumit ‘rasa tinggi’ dalam hati. Itu selalu terjadi bahkan saat bicara dengan siapa pun. Aku merasa memiliki pengalaman lebih. Akhirnya, saat bicara aku menggurui dan memaksa.

Aku tidak memakai hati, tapi ego.

Kalau pakai hati, cara bicara dan bahasaku akan kusesuaikan dengan orang yang kuajak bicara. Taraf pemahamannya berbeda denganku, maka aku akan lebih banyak mendengarkan. Di saat masalahnya ketemu barulah umpan kuberikan. Biarkan dia menyimpulkan sendiri solusinya. Aku hanya sebagai perantara dan pelayan agar dia merasa nyaman.

Nah, kalau pakai ego banyakan aku memaksa ‘kamu beginilah biar begitu!’. Pengalaman-pengalamanku di masa lalu kuceritakan. Aku menganggap sama apa yang dialaminya saat itu. Kupaksa dia mengikuti yang kuarahkan, lalu kusalah-salahkan saat dia gagal –padahal dia sudah melakukan apa yang kukatakan. Aku tidak melihat apa yang diusahakannya. Hanya mengritik hasil usahanya –karena tidak sesuai harapan.

Pola ini sebenarnya terjadi kapan saja.

Bisa dalam rumah tangga, organisasi, orang tua-anak, anak-orang tua, bahkan hubungan persahabatan atau asmara. Setiap interaksi kita di dunia ini adalah tindakan kepemimpinan. Setiap tindakan kita akan diminta pertanggungan jawab, termasuk sikap kita terhadap orang lain. Bila kita semena-mena tentu balasan terhadap kita juga akan semena-mena. Bila kita berbuat baik balasan yang kita dapatkan juga baik.

Tanggungjawab besar datang seiring kekuatan yang besar.

Satu kutipan kalimat dari film Spiderman yang dibintangi Tobey Mc Guirre. Semakin besar kekuatan yang kita miliki maka tanggung jawab kita juga semakin besar. Kita akan lebih bersusahpayah, lebih banyak menangis, lebih sering mengeluh kepada Tuhan, dan sebagainya. Kita akan semakin banyak membutuhkan pertolongan. Lho, kalau punya kekuatan mengapa malah lebih banyak membutuhkan pertolongan?

Mas, mbak, pemimpin itu bukan Tuhan. Ia hanya dipercaya memimpin karena dianggap memiliki ‘koneksi lebih’ dengan Tuhan. Seperti raja-raja zaman dulu yang beri wewenang sebagai wakil Tuhan di dunia ini. Nabi-nabi dan para rasul semua memimpin karena memiliki kelebihan berupa kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Orang-orang jadi tidak segan memercayakan diri mereka kepada pemimpin-pemimpin itu.

Pemimpin yang merasakan sakit berjuta kali lebih banyak dari yang dipimpin. Pemimpin yang pertama kali mengambil risiko demi penyelesaian masalah. Pemimpin yang berani mengambil beban terberat tanpa memaksa keinginannya. Pemimpin yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Pemimpin yang mau menyadari kelemahan dan ketidaksanggupannya. Pemimpin yang tidak segan meminta maaf dan berterimakasih kepada para siapa saja.

Memimpin adalah tentang peduli.

Pemimpin yang memimpin itu memikirkan kelangsungan hidup seluruh yang dipimpinnya. Bukan berarti ia menjamin semuanya, tidak. Ia berpikir dan melebarkan hatinya untuk segala yang baik bagi yang dipimpinnya. Seperti saat Muhammad berkata lirih, “Ummatku, ummatku, ummatku,” pada penghujung hidup. Beliau lebih memikirkan ummatnya dibandingkan dirinya yang kesakitan didera sakaratul maut.

Atau kisah Isa, Ibrahim, Nuh, dan lainnya yang tidak lain berjuang demi manusia.

Miris kala melihat ada pemimpin menyalah-nyalahkan para penggerak organisasi atau wadah yang dibuatnya. Hanya karena mereka tidak bisa memenuhi apa yang pemimpin itu arahkan. Jerit tangis dan keluhan mereka pun tidak ia dengarkan. Saat ditanya tentang suatu masalah ia diam. Para ‘anak buah’ kehilangan arah karena pemimpin mereka tidak available menerima masalah.

Pemimpin seperti ini harus mau belajar mendengarkan. Sebab tidak mau mendengarkan orang lain bukanlah sikap seorang pemimpin. Pemimpin yang baik itu peduli kepada apa saja yang dihadapi ‘anak buah’-nya. Memimpin bukan berarti memerintah dan keinginannya harus dituruti. Pemimpin tidak menggunakan posisinya demi memaksa orang lain.

Pemimpin siap menjadi apa saja yang dibutuhkan ‘anak buah’-nya. Bukan berarti ia harus jadi sempurna, namun ia bisa karena berusaha. Pemimpin yang baik itu mampu membuat koneksi hati dengan bawahannya. Bukan hanya membuat hubungan diplomatis formal dengan jenjang antara pemimpin dan bawahan yang kentara. Ia lebarkan hati untuk peduli bukan malah meninggikan diri.

Memimpin itu bukan pekerjaan main-main, tidak heran banyak orang menghindarinya. Tapi bila sudah dipilih lalu menghindar, saat melakukan kesalahan tidak minta maaf, itu bukan sikap ksatria. Ketika bawahan melakukan kesalahan bukankah sebagian juga karena menyontoh pemimpinnya? Pemimpin yang pertama kali disalahkan atas kekacauan yang dibuat anak buahnya.

Lantaran mendidik juga salah satu tugas pemimpin.

Ia harus sadar dirinya menjadi contoh. Apabila anak buahnya bersikap A besar kemungkinan karena pemimpinnya juga bersikap A. Jadi bukan tempatnya bila pemimpin malah mencari pembenaran demi mempertahankan pendapatnya. Sikap anak buah seperti apa itu juga terkandung ‘karakter’ mencontoh diri pemimpinnya, “Ing Ngarsa Sung Tuladha”.

Pemimpin yang baik mau belajar, bukan menuntut orang lain belajar.

Setiap jiwa adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Aku ingin menghormati semua orang secara merata. Namun pada kenyataannya, orang-orang model jaim seperti yang kusebutkan di atas semakin banyak saja. Hanya sedikit temanku yang peduli pada ‘orang-orang tertinggal’. Mau menanyai kesulitan, bukan nyuruh-nyuruh tanpa mendengarkan lebih dulu.

Bagiku yang sudah lulus sarjana ini pun sebisa mungkin tidak sok nyuruh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir agar menyelesaikan skripsinya. Kenyataannya, cara seperti itu tiada berguna dan membuat mahasiswa makin insecure. Itu hanya contoh kecil hubungan kakak-adik tingkat. Kalau sesama sahabat, pacar, suami-istri, ketua-staf pasti double insecure. Lalu baiknya gimana?

Pertama, jangan merasa tinggi.

Merasa tinggi membuat proses belajar jadi tidak mungkin. Bagaimana mungkin orang akan belajar kalau sudah merasa mampu, merasa bisa. Pemimpin memang di atas dalam tulisan struktur, namun posisi sebenarnya di bawah. Ia menopang, bukan menarik-narik orang di bawah agar bisa berpikir sepertinya. Merasa tinggi karena memimpin hanyalah sikap seorang arogan yang bangga dengan dirinya sendiri.

Kedua, berusaha rendah hati.

Sebisa mungkin jangan memamerkan apa saja yang telah dicapai dengan mengatasnamakan diri sendiri. Ambil contoh saja artis yang mendapatkan penghargaan di salah satu award. Apa mereka menyebutkan diri mereka saja? Tidak. Mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan lalu terima kasih kepada semua orang yang selama ini mendukungnya, satu per satu.

Pun bila pemimpin diakui prestasinya dalam suatu bidang kepemimpinan. Pemimpin yang rendah hati akan merasa capaian itu bukan miliknya. Itu milik teman-teman yang membuatnya sampai kepada apa yang diinginkannya. Dalam hati si pemimpin itu sendiri mungkin malah merasa tidak pantas mendapat pengakuan itu. Dia merasa capaian itu hasil kerja keras semua orang yang selama ini membantunya.

Ketiga, berusaha sejajar dengan semua manusia.

Menundukkan diri di hadapan yang dianggap lebih tinggi, di sisi lain semena-mena kepada yang dianggap lebih rendah, itu namanya sombong dan pamer. Kepada para guru cukup menghormati mereka selayaknya, berbuat baik dan mendengarkan nasihatnya. Kepada yang dianggap lebih rendah jadilah pengayom, bukan penindas. Carilah guru yang mengayomi bukan menggurui. Sikap guru akan menular kepada muridnya. Cari guru yang mau menyejajarkan diri dengan muridnya agar kita juga mampu menyejajarkan diri dengan mereka yang kita pimpin.

Keempat, banyak-banyak merenung dan bertobat.

Pemimpin yang baik banyak-banyak bertobat. Muhammad yang sudah diampuni dosanya saja shalat sampai menangis-nangis. Beliau memerlakukan istri dan keluarganya dengan lemah lembut. Beliau menjawab pertanyaan dengan analogi yang mudah dimengerti. Tanpa menggurui dan merasa harus dihormati sebagai rasul. Itu Muhammad, kita-kita yang dosanya jelas-jelas ada bukankah lebih perlu merendah dan bertobat? Jangan merasa sudah baik. Tidak penting jadi orang baik, cukup jadilah orang yang berada di jalur yang baik.

Hmm, mungkin ini sudah terlampau panjang. Kegelisahanku sudah tertumpahkan di rangkaian kata tidak beraturan ini. Aku tidak tahu akan bermanfaat buat pembaca lobimesendotkom atau tidak. Aku sendiri tidak menyangka bisa menulis sepanjang ini. Semoga saja tulisannya enak dibaca. Bila tidak ya langsung ditelan saja.

Aku hanya berharap makin banyak orang rendah hati di dunia ini. Paling tidak orang-orang di sekitarku lah. Buat apa jaga citra diri tapi tidak mampu menghargai orang lain? Mau seperti apa juga yang menilai baik buruk paling sempurna itu Tuhan. Manusia melihat sejajar dengan manusia lain soalnya. Penilaian sekarang bisa saja di lain waktu berubah.


Bukan berarti melepaskan kehormatan juga. Bagaimana pun kita ini layak menghormati dan menghargai diri kita sendiri. Cukup mempertahankan diri ketika memang dihina dan dilecehkan. Bila hanya diremehkan, biarkan saja. Melayani pandangan sebelah mata orang lain tidak akan ada habisnya. Kita jadi sombong juga ketika marah-marah dan merasa lebih tinggi dari orang yang meremehkan kita.

Terima kasih sudah membaca, maaf bila ada kata yang tidak pantas.