Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Tips Untuk Deddy dan Mahasiswa Semester Akhir Lainnya dalam Menghadapi Cobaan Skripsi

Saturday, April 2, 2016
Ketika ada sebuah pesan facebook, dan ternyata itu adalah japri-japri dari Deddy, bahwa ia mau ikut berkontribusi di lobimesen.com ini, ada sebuah perasaan senang, mengingat blog bersama sedang butuh kontributor agar memberikan nuansa yang berbeda. Namun, ada juga perasaan khawatir, karena hal ini menjadikan Deddy menjadi malas mengerjakan “tugas sucinya”. Apalagi kalau bukan skripsi!

Sedikit bisa bernafas lega ketika tulisannya yang berisi curhatan sebagai mahasiswa semester akhir, ia posting di blog bersama ini. Setidaknya, ada wadah untuk menampung segala keluh kesahnya ketika galau mengerjakan skripsi.

Dan karena beberapa hari yang lalu, Deddy sempat mengabari kami akan off sampai waktu yang tidak ditentukan, karena harus segera fokus untuk menyelesaikan tugas sucinya. Saya pun tidak bisa berkata apa-apa. Dan sebagai kakak tingkat, saya hanya akan memberikan sedikit wejangan kepada Deddy yang sedang mengerjakan skripsi, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi mahasiswa semester akhir lainya.

***
S – K – R – I – P – S - I. Entah kenapa, susunan huruf yang membentuk kata “skripsi” itu, seperti nampak biasa. Namun, bagi sebagian orang (terutama mahasiswa semester akhir) bisa nampak menjadi kata-kata horor. Dan ke-horor-an kata “skripsi” sama halnya dengan kata “nikah” bagi orang yang sudah dewasa dan mapan secara ekonomi namun tak pernah merasakan manisnya pacaran.

“skripsi” dan “nikah” Selain menjadi kata yang sangat sensitif. Pertanyaan yang melibatkan dua kata tersebut, mampu merusak nafsu makan ketika lebaran yang penuh dengan makanan enak. Untuk kata yang pertama saya pernah mengalaminya, untuk yang kedua, belum! Mungkin lebaran tahun ini!

Skripsi merupakan sebuah “tugas suci” yang harus diselesaikan, agar mahasiswa bisa lulus dari cobaan dalam dunia perkuliahaan. Skripsi seakan menjadi momok bagi sebagian orang, karena lambannya proses skripsi, juga sangat berpengaruh pada lamanya masa studi.

Meski saya juga bukan orang yang pintar dalam hal akademik, yaitu seperti halnya orang-orang dengan IQ di atas rata-rata, yang mampu menyelesaikan kuliah di usia muda, yaitu bisa lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun, plus dengan predikat cumlaude. Duh! Saya hanya bisa membayangkan, betapa menderitanya ketika saya menjadi orang seperti itu. Namun, saya bisa lulus kuliah S1 dalam waktu 4 tahun, lebih 10 bulan (sengaja saya tidak menggunakan kata 5 tahun, kurang 2 bulan, heheheJ)  itupun setelah saya sadar, bahwa hampir 1 tahun sudah dikerjain dosen (baca; membantu project dosen). Karena, normalnya kuliah S1 bisa ditempuh rata-rata 4 tahun.

Setidaknya, saya yang sudah lulus S1 dan tentu tidak sampai terancam droup out ini. Hanya ingin sekedar memberikan saran atau tips kepada Deddy dan mahasiwa semester akhir lainnya yang sedang mengerjakan skripsi, agar bisa lulus dengan predikat menyenangkan hati orang tua.

Berikut saran dari saya, agar bisa segera lulus dari cobaan skripsi.
Niat
Innama’ a’malu binniyat, artinya segala perbuatan itu tergantung pada niat. Seperti halnya dalam beribadah, tentu sebelum mengerjakan skripsi harus diawali dengan niat yang tulus dari hati nurani, bukan karena paksaan. Kemudian pertanyaannya adalah, mengerjakan skripsi itu untuk apa? Nah, ada yang salah kaprah dalam hal tujuan skripsi. Tujuan mengerjakan skripsi bukan hanya semata-mata untuk sekedar lulus. Tapi lebih dari itu, skripsi bertujuan untuk membahagiakan orangtua. Karena apa? Ketika kamu bertujuan untuk membahagiakan orangtua, bukan hanya lulus kuliah yang akan kamu dapatkan, tapi lebih dari itu. Apa? Uang jajan? Bukan! selain mendapatkan pahala, membahagiakan orangtua juga membuat segala sesuatunya menjadi berkah, tentu ilmu yang kamu dapatkan semasa kuliah akan menjadi berkah.

Berkumpul dengan pejuang skripsi
Ingat dengan salah satu bait lagu opic yang berjudul obat hati  “Yang kelima, . . .  berkumpulah dengan orang-orang sholeh” *sambil nyanyi
Sama halnya dengan mengerjakan skripsi. Ketika kamu ingin segera menyelesaikan skripsi, tentu kamu juga harus bergabung atau berkumpul dengan orang-orang yang meski sudah melibas habis, SKS demi SKS setiap semesternya, namun masih aktif ngampus untuk ke perpustakaan mencari bahan buat skripsinya. Serta berkumpul dengan pejuang-pejuang skripsi yang rela blosoran di lantai demi menunggu dosen untuk konsultasi, setidaknya ada teman yang akan saling menguatkan ketika di-PHP dosen pembimbing.

Dan jangan berharap bisa segera menyelesaikan skripsi ketika kamu justru bergaulnya dengan begundal-begundal kampus yang sering ngeles dengan kutipan andalan khas penikmat drama injury time “Bukan lulus tepat pada waktunya, tapi lulus pada pada waktu yang tepat”

Segera punya pacar
Lho apa hubunganya? Karena mempunyai pacar, itu sama halnya menambah satu pembimbing skripsi. Kalau lazimnya pembimbing skripsi itu hanya ada dua, yaitu pembimbing satu sebagai pembimbing utama, kemudian yang satunya lagi adalah pembimbing kedua atau pembimbing pembantu. Nah, untuk pembimbing ketiga ini adalah pacar. Tentu hal ini hanya berlaku untuk mereka yang cinlok dengan teman satu angkatan. Kalau tidak punya pacar satu angkatan? Demi segera lulus, mending segera nggebet salah satu teman seangkatan aja deh. Ini dalam rangka agar segera menyelesaikan skripsi.

Dengan memiliki pacar, itu artinya akan ada orang yang lebih cerewet daripada pembimbing satu dan dua. Jika pembimbing satu dan dua kamu lebih hobi corat-coret naskah skripsi kamu. Untuk pacar sekaligus berperan ganda sebagai pembimbing ketiga itu, dia akan sangat cerewet ketika kamu tidak kunjung mengerjakan skripsi. Serta menjadi lebih cerewet lagi ketika pacar kamu dalam masa PMS. Dan pacar, adalah satu-satunya pembimbing skripsi yang mau rela berkorban demi kamu, terutama dalam proses penelitian skripsimu.

Kemudian ada jomblo yang nyahut “Nanti nggak fokus dong skripsinya, terus kalau putus nanti jadi patah hati terus mogok ngerjain skripsi gimana?” Duh, kaya situ pernah punya pacar terus patah hati aja. Hehehe

Saya pernah punya kawan, dia adalah kawan satu angkatan saya. Dia putus dengan pacarnya ketika sedang proses pengerjaan skripsi, kalau tidak salah dia sedang mengerjakan BAB IV. Ternyata, patah hati yang ia rasakan justru seperti menjadi bahan bakar untuk lebih bersemangat lagi dalam mengerjakan skripsi. Alasannya satu, dia hanya ingin segera lulus dan segera meninggalkan kota yang penuh kenangan itu. Tapi, dia juga mengalami masa-masa hampir depresi kira-kira satu minggu lah, sebelum akhirnya ia bangkit lagi.

Meski ada beberapa oknum yang menjadikan skripsi sebagai alasan untuk putus, seperti “Maaf ya, kita nggak bisa sama-sama lagi, karena aku harus fokus sama skripsi” dalam menghadapi situasi seperti itu, kamu harus tetap dalam kondisi waras. Kamu nggak harus sedih dan menyalahkan skripsi dengan menghapus semua data skripsi dari laptopmu. Jangan! Itu hanya akan membuatmu jadi lebih gila lagi. Tidak percaya? Silakan dicoba

Kerjakan
Jangan sekali-kali berhenti mengerjakan skripsi. Karena sekali saja kamu berhenti mengerjakan skripsi, efeknya bisa berbulan-bulan. Karena sulit membangun mood untuk mengerjakan skripsi, sama sulitnya bisa move on dari mantan. Jadi sebisa mungkin kamu harus bisa konsisten mengerjakan skripsi. Dan ingat, menunda mengerjakan skripsi, itu artinya sama saja anda sedang menunda menikah.

Apapun yang terjadi pada skripsimu, meski harus melakukan beberapa kali revisi. Kamu harus melakukannya dengan penuh semangat. Ada kesalahan dalam skripsimu, revisi! Ada kesalahan lagi. Revisi! Ada kesalahan lagi. Revisi! Begitu seterusnya hingga dosen pembimbing bosan dengan tampangmu.

Dan perlu kalian ketahui, dosen pembimbing tidak langsung meng-acc skripsimu dan lebih terkesan menyulitkan itu sebenarnya sedang mempersiapkan mahasiswanya agar bisa menjalani kehidupan yang sebenarnya. Karena sebagai orang yang berpengalaman, dosen tahu betul. Bahwa kehidupan sebenarnya adalah kehidupan setelah lulus kuliah. Sujud syukur Tuhan memberikan pekerjaan kepada saya sebelum saya resmi diwisuda. Setidaknya saya tidak menemui cobaan setelah lulus kuliah. Jadi pengangguran.

Kerjakan lagi

Semua yang sudah saya sarankan diatas, tentu tidak semuanya benar lho, Ded, namun dengan mengerjakan mulai sekarang juga, InsyaAllah membuat kamu cepat lulus. Pokoknya, Kerjakan, dan Kerjakan lagi. Karena lulus dan wisuda itu tidak akan pernah terjadi ketika kamu hanya punya niat, kumpul-kumpul di angkringan dengan teman seangkatan, kemudian asyik berpacaran. Kamu harus segera menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Coba bayangkan betapa bahagianya wajah kedua orangtuamu ketika mengantarmu dan melihat pakaian kebesaran (besar dalam arti yang sesungguhnya) saat wisuda. Bahkan orangtuamu akan rela berdandan sejak subuh demi penampilan yang tetap modis. Dan tentu, wisuda tidak akan terjadi setelah kamu bangun dari tidurmu, bukan?  Malah baca tulisan ini hingga kelar. Kerjakan bro!!!!