Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Undangan Pernikahan

Wednesday, April 20, 2016
Ilustrasi Gambar 

Sesampai di rumah, aku menaruh tasku di atas sebuah meja yang terletak di sudut ruang, sebuah meja biasa aku menaruh helm. Kemudian aku menyalakan televisi, meski sebenarnya aku sedang tidak ingin menontonnya. Aku hanya ingin membuat suasana rumah menjadi sedikit ramai. Menyalakan televisi adalah salah satu yang sering aku lakukan. Tidak jarang, ketika aku keluar malam, aku akan mengunci rumah dan televisi masih dalam keadaan menyala. Aku tidak mau membuat rumahku yang sepi itu, semakin sepi. Aku ingin menghidupkan rumahku dengan menyalakan telivisi agar terlihat bahwa rumah itu berpenghuni.

Dulu, ketika masih ada seseorang yang sangat peduli denganku. Ada seseorang yang memastikan aku sudah tertidur, kemudian mematikan televisi, serta memastikan bahwa semua pintu sudah terkunci. Tidak ada yang melarang tentang kebiasaanku menyalakan televisi meski tak ada yang menontonnya. Kini, aku baru mematikan televisi ketika aku terbangun dari tidurku. Dan tidak jarang, televisi baru aku matikan ketika bangun di pagi hari.

Aku tidak ingin kebiasaanku di rumah menjadi sebuah keharusan. Maka, ketika memilih hidup di sebuah kos-kosan, aku justru menjauh dari televisi. Sengaja aku tidak membeli televisi, karena aku ingin membuat sebuah ruangan yang sepi, sunyi dan penuh ketenangan. Di dunia luar sudah terlalu ramai oleh manusia-manusia dengan segala kepentingannya. Maka, bukan keramaian lagi yang kucari, tapi sebuah ruang yang penuh dengan ketenangan. Aku merasa, di ruang-ruang sunyi aku bisa jauh lebih menikmati hidup. Karena aku hanya butuh ruang untuk menikmati kesunyian, itu saja.

Di wilayah-wilayah senyap lah, aku seperti bisa memahami diriku sendiri. Aku seperti sedang berhadapan dengan diriku sendiri dan mencoba berkomunikasi tentang segala hal yang menjadi kerisauanku. Aku gila? Oh tentu tidak! Aku hanya ingin mengenal diriku sendiri, itu saja.
***
Aku menuju ke dapur untuk memanaskan air. Sambil menunggu air mendidih aku menyalakan laptop kemudian mengambil rokokku, dan menyulutnya. Aku menikmati setiap hisapan rokokku, menghisap dalam-dalam, kemudian menghempuskan asapnya, seakan segala permasalahan hidup ini turut keluar bersama dengan asap rokok.

Air sudah mendidih, aku menaruh kopi ke dalam sebuah coffe press, kemudian menyeduhnya dengan air yang baru saja mendidih, mengaduknya, dan menunggu beberapa saat. Kemudian aku menekan coffe press agar ampas kopi mengendap ke bawah. Aku sedang ingin menikmati kopi pahit saat itu, aku hanya menaruh sedikit gula ke dalam cangkirku, kemudian menuangkan kopi dari coffe press ke dalam cangkir yang sudah aku beri sedikit gula itu. Dan mengaduknya secara perlahan.

Sebelum menikmati kopi hitamku, tentu ada ritual khusus sebelum menyruputnya, yaitu dalam keadaan mata tertutup aku menghirup kepulan asap dari cangkir kopi, menikmati aroma kopi itu. Aroma kopi khas Sumatera! Kopi itu adalah kopi kiriman dari saudaraku yang tinggal di Sumatera, beberapa hari yang lalu, ia mengirimiku beberapa bungkus kopi.

Aku menyalakan kembali rokok, menyruput kopi sambil sesekali menghisap rokokku dalam-dalam. Percampuran sisa-sisa kopi yang masih di lidah bercampur dengan aroma tembakau benar-benar perpaduan yang menghasilkan sebuah rasa yang sulit aku jelaskan.

***
Di rumah, koneksi internet bisa dibilang masih lancar, bahkan kalau malam internet justru semakin kencang, tak butuh menunggu lama untuk menonton video di youtube. Aku membuka e-mail karena sengaja aku tidak men-sinkron-kan akun e-mail ke dalam android-ku. Waktu aku buka, ternyata hanya e-mail dari situsweb langganan, dari Lina joobstreet, dan beberapa hanya promo dari lazada. Kemudian menutupnya dan mencoba melihat-lihat di sent item. Ada e-mail yang sengaja aku kirimkan kepada seseorang yang tak pernah aku harapkan balasan darinya.

Kemudian, aku mulai melakukan aktifitas berselancar di dunia maya. Membuka facebook, twitter dan membaca beberapa blog yang menarik ketika sedang walking blog untuk membaca tulisan-tulisan dari para blogger. Tentu tidak semua tulisan aku baca. Aku hanya membaca sesuai dengan kebutuhan saja, dan tentu sesuai dengan tema-tema yang sedang aku sukai.

Ketika masih khusyuk di depan laptop, ada suara dari luar yang memanggil-manggil namaku. Waktu, aku keluar, ternyata tetanggaku. “Ada titipan, Mas” tetanggaku memberiku sebuah undangan. Aku menerima undangan tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Waktu aku baca sekilas, ternyata dari salah satu teman lamaku. Melihat undangan itu, aku jadi teringat dengan kekonyolan tempo hari. Jujur, aku sudah lama memblokir semua akses salah satu temanku, atau lebih tepatnya seseorang yang pernah menjadi seseorang yang singgah di hatiku. Mungkin, kata “mantan” bisa menyederhanakan apa yang aku maksud.

Dari nomor handphone, akun jejaring sosial, hingga kontak BBM sudah aku hapus semua. Sengaja aku menutup segala akses tentang dia. Aku hanya ingin melupakannya, itu saja! Namun,  malam itu benar-benar konyol, di tengah kesibukan bekerja, tanpa sengaja aku malah menerima permintaan pertemanan dari seseorang. Dan sialnya, itu adalah dia. Tidak mungkin langsung aku menghapusnya dari kontak. Aku membiarkan saja. Kemudian selang beberapa saat, ada beberapa pesan BBM yang masuk, ternyata dari dia. Aku membuka agak lama pesan BBM itu.
“Hai”
“Masih ingat aku?”
“Sekarang sibuk apa”
“Sekarang domisili kamu dimana?”
Selesai membaca pesan BBM sengaja aku tidak langsung membalasnya. Ada jeda yang lumayan lama. Kenapa? Sekali lagi, dia bukan prioritas lagi.  Kemudian aku membalas pesan darinya dengan singkat.
“Iya”
“Sekarang di Boyolali”
Tak lama kemudian ada balasan darinya
“Ohh, kapan pulang ke rumah?”
“Aku mau ke tempatmu, minggu ini aku pulang”
Kali ini aku segera membalas pesan darinya
“Seminggu sekali aku pasti pulang”
Dia membalas pesanku lagi.
“Okey, sabtu aku ke tempatmu ya?”
“Semoga bisa ketemu kamu”
Aku menjawab pesannya, dengan nada-nada seperti orang yang sok sibuk
“Okey, tapi aku tidak janji”
Belum selesai mengetik lagi, dia sudah membalas pesanku
“iya, sih”
“okey, kalau gitu besok kabari aku lagi kalau sudah di rumah, ya?”
“Soalnya, minggu aku harus balik lagi ke Jakarta”

Aku hanya mengiyakan saja, meski dalam hati aku tidak mengharapkan pertemuan dengannya. Dia pun juga mengiyakan dan menyuruhku untuk memberinya kabar lagi.

Hingga minggu aku tidak memberinya kabar. Aku benar-benar sibuk. Sabtu aku ada overtime, kemudian baru minggu agak siang aku pulang. Itu pun minggu sore aku harus balik lagi, karena senin aku harus dinas pagi.

Waktu aku menerima undangan itu, aku melihat undangan berwarna merah jambu itu. Aku melihat sampul undangan itu. Ada nama lengkap yang begitu panjang. Dan itu, adalah namanya! Waktu aku membaca dalam hati nama lengkapnya yang panjang itu. Biasa saja! Tidak ada perasaan apa-apa lagi. Dan aku lega!

Ternyata dia ingin bertemu denganku hanya ingin memberikan undangan pernikahannya secara langsung kepadaku. Aku tidak tahu mengapa dia seperti harus memberikan undangan itu langsung kepadaku.

Aku sudah melupakannya, meski ada sisa-sisa ingatanku tentang dirinya. Namun, harus aku akui aku belajar banyak darinya, belajar dari kisah-kisah yang telah aku jalani. Tidak semua orang bisa menerima kita, dia adalah orang yang pernah menerimaku, meski itu cuma sesaat. Dan bersamanya aku belajar setia, bersamanya pula aku terluka. Kemudian, apa aku harus terluka lagi dengan undangan pernikahannya? Tentu tidak! Karena aku cukup lega dengan diriku sendiri, ketika aku bisa bersikap biasa saja ketika melihat undangan itu.

Aku hanya menaruhnya di atas meja di dekat laptopku. Kemudian ada pesan BBM masuk. Ternyata berasal dari dia. Sepertinya dia ingin memastikan bahwa aku sudah menerima undangannya. Kemudian ia mengakhiri pesan BBM,
“Sudah terima undangannya?”
“Aku berharap kamu bisa datang”

 Aku menjawabnya dengan singkat pesan BBM darinya “iya” meski dalam hati aku menggerutu, “tapi, aku tidak janji” Aku kemudian menaruh undangan itu di atas meja yang terletak di sudut ruang tempat aku menaruh tas dan helm. Semoga aku tidak lupa dengan undangan itu.