Ads Top

Di Hari Buku Nasional ini




Bolehkah mengucapkan selamat hari buku nasional? Haramkah memperingati hari buku nasional? Wkwkwk

Gara-gara jaman telpon pintar, hape selalu online dengan dunia maya, saya jadi tahu kalau hari ini adalah hari buku nasional. Dari timeline akun facebook-ku, banyak akun-akun yang hari ini membuat status tentang hari buku nasional.
Bahkan kini kita selalu bisa tahu tanggal-tanggal hari spesial. Masih gara-gara telpon pintar.

Lalu dengan tahu itu apakah ada pengaruhnya? Tentu ada. Kadang tidak. Haha

Malahan sering membuat kita menjadi tengkar di dunia maya. Kayak, hari Kartini setiap 21 April. Yang paling rame itu misalnya, “Cut Nyak Dien lebih pantas menyandang pahlawan emansipasi wanita dibandingkan dengan RA Kartini”

Kok suka pada ngebikin ruwet ya. Nyebelin kan lihat timeline terasa sesek gara-gara begituan?

Ngapain lho ya dibanding-bandingkan. Semakin banyak tokoh yang menginspirasi kan semakin bagus. Artinya orang yang hebat ndak cuma satu dua orang saja. Masak iya hanya dua kandidat (pilpres 2009) saja yang kompeten untuk melayani rakyat endonesia yang kaya raya SDM ini?

Kalau kamu ngefans dengan si A, dan membuat pribadimu tumbuh menjadi lebih baik, kan bagus. Tidak usah pusing kenapa yang bukan kamu kok ndak ngefans si A juga. Malah ngefans sama si-B atau si-C yang menurutmu bukan orang yang sama sekali spesial. Yang penting kan harusnya seberapa dirimu menjadi orang yang lebih baik dari siapa yang kamu anggap orang baik itu. Tapi kadang juga lucu, yang bukan kamu itu sama ributnya dengan kamu. Ndak ada yang mau mengalah. Wkwkwk

Tapi ndak apa-apa namanya juga era smartphone. ‘Bukan era smartpeople kan?’

Sebenarnya di hari buku nasional nan berbahagia ini saya ingin berkampanye agar kita semakin gemar membaca. Juga menulis (sekalian). Juga cintailah buku-buku karya nasional.

Di status fesbuk saya tadi siang, saya menulis: Membacalah setiap hari. Menulislah setiap hari. Cocok dengan hari buku nasional ini. Padahal saat nyetatus itu belum sadar jika hari buku nasional.

Sebenarnya saya nyetatus seperti itu untuk diri sendiri. Sudah lama gairah membaca saya menurun. Tidak lagi books hunter. Tidak lagi up to date buku-buku yang sedang hits (sesuai genre buku kesukaan). Lama tidak ke gr*media. Lama tidak lagi membaca ‘buku’. Tapi masih lebih lama yang tidak menulis lagi. Hehe

Membaca itu baik. Tentu saja. Karena saya suka membaca. Walaupun sekarang lebih sering membacanya media online. Bukan buku. Kurang baik sebenarnya.

Sungguh beruntung bagi orang-orang yang terlahir menjadi orang yang suka membaca. Hobi membaca sejak masa balita. Atau yang pada akhirnya mendapatkan hidayah menjadi orang yang suka membaca. Itu tidak lebih buruk kok. Dan orang yang lebih lama hobi membaca juga belum tentu lebih baik.

Karena bukan lamanya. Bukan lebih awalnya atau lebih terlambatnya. Bukan juga berapa banyaknya yang dibaca. Tetapi, apa pengaruhnya bagi diri orang yang membaca. Menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat. Atau menjadi orang yang malah lebih buruk dan merugikan. Menjadi khalifah yang amanah atau menjadi insan yang hanya akan berbuat kerusakan?

Saya malah jadi mikir-mikir. Hidup saya ini bermanfaat atau merugikan. Atau ada dan tidaknya saya tidak pengaruh sama sekali terhadap apapun. Tidak ada ya ndak masalah. Ada ya ndak masalah. Hayo?

Btw, menulis itu penting. Berkarya. Memproduksi tulisan. Tidak hanya menjadi konsumen terus. Jangan terlalu konsumtif gitu.

Tapi hari ini temanya bukan tentang menulis. Hari ini temanya buku. Buku! Buku! Buku! Termasuk skripsi? Bisaaa. Buku nikah? Punyaaa :p

So pesan penutupnya: membacalah. Perbanyaklah membaca. Sukailah membaca. Membacalah setiap hari. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Termasuk, membaca surah-surah al Qur’an. Tentu saja. (*)
Powered by Blogger.