Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Memenuhi Undanganmu

Friday, May 20, 2016

Sumber Gambar
“Saya baik-baik saja, hanya sedikit kacau”

Kira-kira begitulah jawaban saya beberapa hari yang lalu, ketika salah satu kawan saya menanyakan tentang kabar saya. Dan rasanya,  kalimat itu memang tepat untuk menjelaskan sedikit hal tentang kondisi psikologis yang sedang saya alami. Tentu hal ini masih berkaitan dengan rutinitas saya. Apalagi kalau bukan masalah pekerjaan. Saya yang awalnya mampu menikmati pekerjaan, dan tanggung jawab yang diberikan kepada saya. Namun, kali ini saya kalah juga dengan “penyakit lama” dalam diriku, yaitu rasa bosan. Saya sudah kehilangan cara untuk mengusir rasa bosan itu, hingga membuat diri saya sudah merasa sampai pada titik jenuh.

Beberapa hari ini, saya kesulitan dalam memulai sebuah tulisan. Bisa Anda bayangkan, memulai sebuah tulisan saja sudah kesulitan, apalagi menulis dan menyelesaikan untuk mengisi postingan di lobimesen.com ini? Itulah alasan kenapa beberapa hari ini lobimesen sepi tulisan baru. Tahu sendirilah siapa yang paling produktif menulis di lobimesen.com. Bukan! Tentu bukan saya yang paling produktif, karena masih ada Mas Wildan yang maqom-nya jauh lebih tinggi daripada saya yang masih belajar menulis ini. Ini saya tidak sedang merendah lho ya, namun memang begini adanya.

****
Meski sedang kacau, tentu saya berusaha untuk bekerja seperti biasa. Seperti hari sabtu kemarin, saya tetap masuk overtime. Namun, saya lebih banyak menghabiskan waktu di meja daripada berkeliling untuk memantau situasi dan kondisi di tempat produksi. Saya hanya sesekali menengok dari jendela atas yang berada tepat di depan meja saya. Karena ruangan HRD berada di lantai dua,  hanya dengan berdiri saja, saya sudah mampu melihat secara kesuluruhan di ruang produksi melalui jendela depan meja tersebut.

Sepulang kerja, saya pun terlibat dalam obrolan yang sedikit serius. Obrolan yang lebih mengarah tentang bagaimana karir saya untuk ke depannya. Terlalu asyik mengobrol mulai dari obrolan santai hingga obrolan serius, tidak terasa waktu hampir menunjukan pukul 02:00 pagi. Kami pun menyudahi obrolan. Saya sebenarnya belum mengatuk, namun teman mengobrol saya malam itu, nampak sudah mengatuk berat dan terlihat sudah kecapekan, karena baru saja perjalanan dari Semarang. Ada hal yang coba kami simpulkan dalam obrolan kami malam itu, “Karir itu seperti sebuah kutukan, ia melekat pada diri seseorang. Pada awalnya kitalah yang memilih pekerjaan, namun akan ada saatnya pekerjaan lah yang memilih kita”

Malam itu saya tidak pulang, saya memutuskan untuk numpang tidur di sofa tempat kami mengobrol berdua hingga pagi itu. Baru setelah sholat shubuh saya pamitan pulang, karena saya teringat dengan sebuah undangan dari salah satu "sahabat" saya. Dalam keadaan masih mengantuk saya mandi dan bergegas untuk pulang menuju ke Sukoharjo.

Ketika perjalanan pulang, saya sengaja lewat di jembatan dekat rumahnya. Saya menurunkan laju kendaraan sebelum mendekati jembatan dan menoleh ke kiri untuk melihat rumahnya. Sepi, bahkan tak ada tenda, atau tanda-tanda bahwa ada acara resepsi di sana.

Sesampai di rumah saya mencari lagi undangan itu. Seingat saya, undangan itu saya taruh di meja tempat biasa saya menaruh tas dan helm. Dan ketemu! Dan waktu aku melihat undangannya ternyata acara resepsi bukan di rumah yang dekat jembatan itu. Tapi, di tempat lain.

Dan waktu saya melihat, pukul berapa acara resepsi dimulai, ternyata masih pukul 11:00 siang, saya masih memiliki sedikit waktu untuk tidur sebentar. Karena kepala saya pusing, karena kurang tidur.

***
Awalnya saya akan menghadiri undangan resepsi itu sendirian. Sendirian? Iya, sendirian! Saya tidak merasa harus membawa gandengan untuk sekedar pengakuan siapa yang lebih bahagia.  Namun demikian, untungnya ada kawan lama yang beberapa hari yang lalu sempat bertemu setelah sekian lama tak jumpa. Kami ngobrol ngalur-ngidul untuk sekedar berbagi pengalaman.

Kawan lama saya itu, adalah kawan dari SD hingga SMP, kemudian setelah lulus SMP hingga saya lulus kuliah, saya sudah tidak pernah bertemu lagi. Jadi, tidak heran jika pertemuan kala itu membuat saya lupa waktu. Dan dari obrolan panjang itu, ternyata ia juga mendapat undangan pernikahan dari orang yang mengundang saya juga. Sepertinya, tidak semua kawan-kawan lamanya di undang, karena hanya beberapa saja yang diundang. Dan dari obrolan kami, akhirnya kami pun sepakat untuk njagong bareng. Jadilah dua pemuda tanggung berencana jagong bareng, namun diantara kami belum berpikiran untuk di-jagongin

Awalnya saya berpikir bahwa hanya saya dan kawan saya saja yang akan jagong bareng, ternyata bertambah satu orang lagi, yang ternyata masih kerabat jauh. Jadilah kami njagong bertiga. Kami bertiga masuk ke tempat resepsi dan mengisi buku tamu. Setelah bersalaman dengan para among tamu, kami pun memilih tempat duduk pojok paling belakang.   

Sepertinya acara molor hampir satu jam, di undangan tertulis acara dimulai pukul 11:00, namun hampir pukul 12.00 acara belum juga dimulai. Untung saya masih sabar, kalau tidak sabar, mungkin saya sudah mengambil alih singgasana dan duduk di sana *upsss

Menunggu lama, kawan saya sudah tidak jenak. Tempat duduk yang awalnya sepi dan lega, berangsur-angsur menjadi penuh dan udara menjadi sedikit panas. Saya mengusir kebosanan dengan bermain handphone, kemudian kawan di sebelah saya sebal-sebul mengeluarkan asap rokoknya yang membuat udara tambah pengap.

Saya sempat berguman kepada kawan, saya “Kalau sampai pukul 12.00 acara tidak dimulai, mending pulang” Namun, justru selang sebentar setelah saya bergumam,  justru acara benar-benar sudah dimulai. Saya tetap di tempat duduk, sambil melihat sekeliling dan beberapa tamu undangan yang baru datang. Siapa tahu kawan lama masa sekolah, atau ada seseorang yang saya kenal. Sedangkan kawan di sebelah saya, sudah nggegeri ngajak balik, dan masih tetap sebal-sebul mengeluarkan asap rokok.

“Nanti, nggak enak kalau langsung pulang duluan” jawab saya untuk menenangkan kawan saya yang sudah mulai bosan. Kemudian, saya mengikuti acara dengan kurang khidmat, maklum terlalu banyak sambutan, ditambah udara yang sedikit panas, membuat saya pengen cepat pulang dan mampir ke warung es kelapa muda.

Kemudian mempelai perempuan mulai masuk dan menuju “singgasana”-nya, dengan diiringi dengan bunyi gamelan, neng nong neng gung. . . Saat itu, saya hanya terdiam, kemudian mengamati dan merasakan apa yang saya rasakan. Biasa saja! Dan saya lega.

Kemudian selang beberapa saat, masuklah mempelai pria. Dan disaat mempelai pria mulai masuk, kawan saya yang duduk tepat disebelah saya, malah berguman “Lho, kok lebih pendek, cocoke mbi kowe jane, Rik” mendengar itu, saya melirik ke arahnya, sambil mengernyit dan bergumam, “Ndasmu” kami tertawa kecil dan sedikit cekikikan, kawan saya juga cuma tertawa nyengir sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya.

Kemudian, jamuan yang awalnya hanya ada teh hangat yang sudah mulai dingin itu, kemudian nampak sinoman sudah mulai sibuk membagikan jamuan lainnya. Aku merasakan snack itu, dan rasanya tidak enak. Rasa tidak enak itu muncul bukan karena rasa pahit tentang sebuah harapan yang pernah putus, lho ya. Memang dari cateringnya, karena bukan saya saja yang merasakan tidak enak, tapi kawan saya juga merasakan hal yang sama. Dan baru sehabis keluar sop, saya bertanya kepada kawan saya, “Balek, sekarang atau nanti?”
“Manut”
“Atau kita foto dulu sama kedua mempelai baru setelah foto langsung pamit pulang?” saya mengajak kawan saya itu untuk berfoto bersama dengan kedua pengantin terlebih dahulu.
“Nggak usah, ribet malahan, langsung balik aja”
“Okey”

Kami berdua langsung pulang tanpa bertemu langsung dengan pengantin, meski hanya sekedar berfoto bersama, dan mengucapkan selamat kepada pengantin baru. Dan kami pun memutuskan untuk makan siang di warung mie ayam, kemudian pulang dan tidur.

***
Tak ada maksud apapun, ketika kami, terutama untuk saya sendiri, mengapa kami memutuskan untuk pulang lebih awal, tanpa berfoto dan bertemu langsung untuk sekedar mengucapkan kata “selamat ya” dan melafalkan doa-doa untuk kebahagiaan mereka berdua yang baru saja diikat oleh ikatan pernikahan.

Kami menganggap bahwa kami sudah terlalu lama di acara resepsi itu. Saya pun juga turut mendoakan untuk kebahagian mereka berdua. Dan untuk mengakhiri tulisan ini, saya akan menuliskan kembali puisi yang sebenarnya akan saya sisipkan dalam kado untuknya. Namun, karena beberapa alasan, hal itu saya urungkan. Dan dalam tulisan ini saya coba tulis ulang, meski puisi itu sudah saya posting dalam blog pribadi saya.

Pengantar Kado

Tak ada kata-kata puitis, atau syair-syair indah
Dan tak ada kata-kata manis untuk mengiringi kado ini

Hanya ada jiwa dan raga yang senantiasa terus hidup dalam pengharapan
Harapan yang pernah putus, dan berubah menjadi keputus-asaan

Ah sudahlah,
Kini semua itu hanya menjadi sebuah kenangan

Iya, kenangan yang bisa saja muncul tiba-tiba
Ia datang seperti pemberontak  yang  dalam diamnya ternyata sedang menghimpun kekuatan

Kekuatan untuk menyerang secara tiba-tiba

Dan aku sempat dihantui oleh kenangan,
Kenangan manis yang ternyata berujung pahit

Tapi sudahlah, aku hanya ingin berdamai dengan masalalu
Karena bagaimana pun juga, masalalu telah mengajariku apa itu setia,
Meski dengan cara menderita

Kini engkau sudah bahagia
Dan aku juga bahagia dengan diriku sendiri

Dan hanyaada sebuah kado yang diantar langsung oleh seorang “Sahabat”
Yang datang untuk turut mendoakan, agar kalian menjadi keluarga yang bahagia.

Sekali lagi, Selamat Berbahagia

Dari Sahabatmu

                                                                                                                       Boyolali, 14 Mei 2016