Wednesday, 4 May 2016

Mie Ayam “Pocong” Tugu Lilin; Kuliner Dengan Bumbu Mistis


Ilustrasi Gambar

Sabtu kemarin, saya harus sedikit merelakan waktu libur, untuk “mengotori tangan” dengan pekerjaan kantor. Iya, hari Sabtu yang sejatinya adalah hari libur, namun sabtu kemarin saya harus ke kantor untuk lembur. Sama sepertinya dengan kamis ini, disaat ada beberapa karyawan yang mulai "serakah" dengan menambah jatah libur dengan mengambil cuti tahunan, saya harus rela mengurangi jatah long weekend karena ada overtime. 

Suasana kantor kala itu sangat sepi, karena tidak semua karyawan lembur. Saya pun memilih pulang lebih awal, karena saya harus pulang ke Sukoharjo. Saya yang kini hidup di Boyolali, tidak akan membiarkan rumah di Sukoharjo yang sepi itu, semakin sepi. Jadi, setiap seminggu sekali saya akan menyempatkan untuk menengok rumah, meski hanya sekedar mampir.

Pulang dari kantor, saya tidak mampir-mampir dulu untuk sekedar ngopi bersama rekan kerja di sebuah warung yang terletak di dekat tempat kerja. Saya hanya mengirim pesan singkat kepada kerabat saya yang kebetulan selama bekerja di Boyolali, saya menumpang di rumah kerabat saya tersebut. Bahwa saya akan langsung puang ke Sukoharjo, sepulang kerja.

Dari kantor, saya langsung mampir di SPBU untuk mengisi bensin, sekaligus mengambil sejumlah uang di ATM yang juga terletak di area SPBU. Kemudian memacu motor menuju Sukoharjo.

Tidak biasanya, kali ini saya pulang ke Sukoharjo lewat pertigaan tugu Kartasura, kemudian melewati kawasan industri; Tyfountex, kemudian melewati lorong underpass Makan Haji, yang dulu sempat berubah menjadi (seperti) area pemancingan, karena masih ada genangan air saat hujan lebat.

Saya berencana mampir di sebuah warung mie ayam yang sudah lama tidak saya kunjungi. Kalian yang pernah tinggal di Solo, pasti mengenal, atau setidaknya pernah mendengar warung mie ayam dengan sebutan “mie ayam pocong”. Warung mie ayam ini terletak di pinggir kota Solo, yaitu di daerah Pajang, Laweyan, Solo, lebih tepatnya di dekat tugu lilin.

Warung mie ayam yang sebenarnya bernama Warung Mie Ayam dan Bakso Tugu Lilin ini, sekilas nampak seperti warung pada umumnya. Warung ini selain menjual mie ayam, juga menjual bakso. Namun, yang terkenal di warung ini adalah mie ayam-nya. Warung  ini selalu ramai oleh pembeli. Selain terkenal akan rasanya, mie ayam ini juga terkenal dengan “bumbu-bumbu” mistisnya.

Konon, warung itu selalu ramai, dikarenakan sang pemilik warung mempunyai pesugihan. Warung itu dihuni oleh makhluk yang tak kasat mata, yaitu pocong. Iya, pocong yang merupakan hantu yang seperti kita ketahui dari film-film horror Indoensia. Pocong merupakan hantu yang seperti mayat yang dikafani. Pocong bergentayangan karena ketika dikubur lupa dilepas talinya.

Terlepas dari benar dan tidaknya cerita itu. Konon, orang yang duduk dan makan di sana, akan merasakan enak, karena ketika sedang duduk dan makan di sana, mereka sedang di pangku oleh pocong. Dan mie ayam akan menjadi tidak enak, jika dibawa pulang. Kesan mistis juga nampak, ketika ada taburan bunga dan di salah satu sudut warung ada sebuah wadah air, yang konon sebagai tempat air liur pocong.

“Monggo. . . monggo. . . monggo!” Begitulah teriakan sang penjaga warung, sambil meracik bumbu-bumbu mie ayam dalam mangkuk-mangkuk yang sudah tertata. Ada cerita, bahwa teriakan “monggo” yang dalam bahasa Indonesia adalah untuk mempersilakan tamu yang baru datang, itu ditujukan kepada pocong-pocong yang tak kasat mata. Secara sengaja saya juga pernah mengamati perilaku itu ketika sedang jajan di warung mie ayam itu. Dan benar! Penjaga warung ada berteriak “Monggo . . .monggo. . monggo” padahal kala itu warung masih sepi dan tak ada pengunjung yang ingin masuk ke warung itu.

Saya sendiri mengetahui keberadaan mie ayam pocong ini atas cerita dari dosen saya, ketika sedang mengikuti mata kuliah psikologi periklanan. Dan karena rasa penasaran, saya bersama teman-teman kuliah pun langsung menuju ke TKP. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari warung mie ayam itu, karena warung itu seperti warung mie ayam pada umumnya. Warung dibawah tenda terpal, dengan dua meja panjang tempat menaruh makanan untuk teman menikmati mie ayam ataupun bakso, seperti; gorengan, kerupuk, serta rambak. Namun, warung itu selalu ramai  oleh pembeli. Soal rasa? Ya setelah pertama kali datang hanya karena rasa penasaran. Setelah itu, setidaknya sudah empat kali saya jajan di warung mie ayam itu.

Dan kedatangan yang kali ini, berarti sudah yang kelima kalinya, saya ke warung ini. Setelah keluar dari macetnya lalulintas di lampu merah sebelum tugu lilin, saya pun ambil kanan sedikit dan memarkirkan sepeda motor tepat di sebelah warung mie ayam yang terlihat sudah ramai itu. Beruntung, ada Mas-mas juru parkir yang membantu saya untuk memarkirkan motor. Dalam hati saya sempet mbatin “Ini warung kaki lima, tapi saking ramainya sampai ada juru parkirnya”

Saya memesan satu porsi mie ayam dan segelas es jeruk. Kemudian menempati tempat duduk kosong, setelah ada pelanggan yang sudah selesai makan. Tak menunggu lama, pesanan saya pun datang, satu porsi mie ayan dengan bumbu “mistis” itu, kemudian disusul dengan segelas es jeruk. Saya kemudian menambahkan sedikit sambal serta saus untuk membuat mie ayam tersebut semakin mak nyus.

Semangkuk mie ayam yang berbeda dengan mie ayam lainnya. Tentu lebih enak, terutama tekstur mie yang pas menurut saya, tidak terlalu lembek, dan sudah matang. Selain itu, mie ayam itu juga memiliki kuah yang sedikit pekat dan kaya akan bumbu.

Saya mengambil sebungkus rambak, untuk menciptakan irama kemriuk untuk menambah nikmat mie ayam tersebut. Dan menghabiskan mie ayam tanpa malu ketika menyruput kuahnya sesendok demi sesendok.

Persaingan Bisnis
Label mie ayam pocong yang ditujukan kepada warung mie ayam dan bakso tugu lilin ini, menurut informasi yang saya dapatkan dikarenakan, adanya persaingan bisnis. Warung mie ayam yang selalu ramai membuat pesaingnya melakukan langkah-langkah picik, seperti menyebarkan isu tentang pocong dan memberikan label mie ayam pocong. Namun, hal itu tidak membuat warung semakin sepi, justru orang semakin banyak yang penasaran keberadaan mie ayam pocong itu sendiri. Seperti halnya dengan saya, karena cerita dari dosen, saya pun justru mulai penasaran dan langsung ingin mengunjungi warung mie ayam itu. Pertama saya hanya ingin mengobati rasa penasaran saya. dan kedua saya ingin menikmati apakah mie ayam yang sudah terkenal itu benar-benar enak. Dan hasilnya, sudah lima kali saya mengunjungi warung mie ayam itu.

Dan kalau boleh jujur, bukan label halal yang membuat saya ingin menikmati mie ayam itu, tapi justru label pocong.

Kuliner dan Mistis
Kuliner dan mistis. Adalah dua hal yang sebenarnya sulit untuk bisa dipadukan, mengingat mie ayam bukanlah sesajen dalam sebuah ritual. Namun, sebagai seorang pengusaha kuliner sang pemilik warung tahu betul, bahwa yang terpenting dalam bisnis kuliner adalah masalah rasa. Isu pocong membuat orang-orang mulai penasaran dan mencoba untuk menikmati mie ayam di warung itu. Kemudian, bagaimana caranya agar orang-orang yang awalnya datang ke warung itu hanya karena penarasan, kemudian bisa datang lagi? Tentu dengan “mengikatnya” dengan suguhan rasa mie ayam, dengan potongan ayam yang sedikit besar untuk ukuran satu porsi mie ayam, kemudian rasa khas dari kuah mie ayam itu sendiri. Ingat yang berbicara dalam bisnis kuliner bukanlah klenik, tapi rasa. Karena tidak mungkin orang akan bilang “makan mie ayam di sana saja, di sana ada pocongnya lho” saya yakin tidak mungkin!

Kemudian tentang isu makanan yang dibawa pulang akan tidak enak? Saya kira makanan apapun akan menjadi tidak senikmat dan seenak jika di makan di warung. Karena kalau dibawa pulang tentu akan membuat makanan menjadi tidak senikmat jika segera dinikmati selagi masih mengepulkan asap panas. Apalagi mie ayam, yang jika terlalu lama bisa mengembang. Dan saya kira hal ini bisa dijelaskan dengan logika waras kita lah.

Rejeki tidak bakal kemana
Mie ayam pocong tugu lilin ini adalah sebuah contoh, bahwa rejeki tidak mungkin tertukar. Dan urusan rejeki, bukanlah urusan manusia. Manusia hanya berusaha, sedangkan hasil, Tuhan yang menentukan. Warung mie ayam yang ramai, kemudian diisukan memiliki pesugihan dengan adanya pocong di warung mie ayam itu, bertujuan agar warung menjadi sepi, tapi ternyata? Alam berbicara lain, isu-isu itu justru membuat orang-orang yang mulai penasaran, malah bekunjung ke warung mie ayam itu. Dan karena rasa, kemudian mereka justru menjadi pelanggan warung mie ayam dengan “bumbu” mistis tersebut.

Dan inilah sebuah contoh, bahwa ternyata apa yang sebenarnya menjadi kelemahan, namun justru hal itu malah bisa menjadi sebuah kekuatan. Penyebarluasan isu mie ayam dengan label pocong yang dilakukan secara massif dan struktur oleh lawan bisnis, ternyata  justru memberikan manfaat bagi pemilik warung mie ayam tugu lilin. Bisa dibilang hal itu adalah bentuk iklan secara gratis untuk memperkenalkan warung mie ayamnya, meski itu dengan cara yang negatif.

***

Setelah selesai makan, kemudian ada pelanggan yang datang, saya pun kemudian sedikit merasa terusir mengingat warung yang masih ramai, namun, pelanggan masih terus berdatangan. Setelah membayar, kemudian saya melanjutkan perjalanan pulang saya ke Sukoharjo.