Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Tribute to Riki: Empat Kali Mencoba Salaman Sama Kamu.

Saturday, May 21, 2016

Membaca Riki dalam postingan terakhir lobimesendotkom mengingatkanku akan suatu cerita. Hmm, pasti pembaca sudah menebak cerita ini nanti akan serupa. Tepat. Memanglah tema ceritanya sama: memenuhi undangan. Jangan ketawa, ini cerita sedih. Serius, ini cerita sedih!

Ceritanya, konon ada seseorang bernama Yuri datang ke sebuah pesta pernikahan.

Kisah ini terjadi tepat setahun lalu lebih beberapa hari. Yuri berjuang memenuhi sebuah janji pada dirinya sendiri. Sebulan sebelum, ia menerima sepucuk surat undangan dengan bentuk unik. Lelaki berkulit gelap itu menerimanya lewat seorang teman yang tahu-tahu nongol di lorong kos Yuri. Sebenarnya firasat Yuri sudah tidak enak waktu melihat temannya itu.

“Bentar, aku tahu kamu kesini mau apa,” ujar Yuri.

Lelaki itu berhenti. Terdiam. Bibirnya menganga-nganga, seperti akan mengatakan sesuatu. Namun sebelum kata-katanya keluar, Yuri sudah menimpali.

“Bawa pulang!” ujar Yuri dalam bahasa Jawa.

Sang Kurir diam. Matanya berkedip-kedip cepat. Yuri akhirnya kasihan melihat lelaki dengan rambut disisir tengah itu. ia tahu temannya itu tidak salah. Meskipun dalam hati ia sangat marah dan ingin sekali memukul Sang Kurir Undangan itu untuk melampiaskan kekesalan. “Mana bendanya?” tukas Yuri.

“Benda apa?”

“Udah gak usah berlagak bodoh,” Yuri tambah kesal.

Sang Kurir lalu mengeluarkan undangan berwarna biru putih itu. Yuri langsung menyambarnya dan... (adegan berikutnya tidak boleh ditampilkan, karena mengandung unsur kekerasan terhadap benda mati).

Yuri kembali dari lamunannya ke masa sekarang. Pagi ini ia bersama tiga orang teman mencegat bis AKAP di halte bus kampus (yang katanya) World Class University. Bis berwarna abu-abu mereka cegat dan tiga jam kemudian mereka sampai di Kota A. Destinasi sebenarnya masih di kota B yang berjarak kurang lebih tiga jam dari Kota A. Bila kecepatan bis 90km/jam, berapa energi yang dibutuhkan Yuri untuk menahan sesak dalam hatinya?

Di kota A, Yuri dan ketiga kawannya sarapan di warung dekat terminal. Mereka transit sejenak untuk mengisi perut dan khusus buat Yuri:menata hati. Ia mengirim pesan kepada sahabatnya untuk mendoakan. Hari ini ia akan menyelesaikan semua yang telah ia mulai. Yuri akan bertarung habis-habisan dengan egonya.

Bis ke kota B tidak begitu banyak dan hanya seperti bis lintas desa. Kecil dan penumpangnya yang bejubel hingga keluar pintu membuat siapa saja yang melihat menelan ludah. Yuri berpisah dengan ketiga temannya yang naik bis mini itu. Lelaki yang kemarin memlontosi rambutnya itu sudah berjanji akan datang bersama sahabat-sahabat satu kampusnya.

Ia dijemput dengan mobil abu-abu oleh Kirin dan Dias.

Dalam mobil mereka bercanda dan tertawa karena yang terdengar dari speaker adalah lagu galau semua. Sepuluh menit perjalanan lagunya sudah tentang melepaskan. Lagu berikutnya tentang patah hati. Yuri geli mendengar playlist Kirin yang seperti sudah disiapkan khusus untuknya.

“Ini gak ada lagu lain apa?” protes Yuri.

“Lagunya mengerti suasana hatimu Mas,” ujar Kirin sambil terkekeh.

Dias ketawa.

Suara Avril Lavigne dan (mantan) suaminya Chad Kroeger terdengar merdu. Meskipun tidak menenangkan, lagu itu merasuk ke dalam hati Yuri. Hatinya yang kala itu entah sedang memroduksi perasaan apa. Lewat senandung kecil mengikuti lirik lagu Let Me Go ia coba alirkan perasaannya.

Love there was hung on the wall
Used to means something but now it means nothing
The echo’s are gone in the hall
But i still remember the pain of December
Oh there isn’t one thing left here to say
I’m sorry it’s too late

Mobil pun berhenti di sebuah rumah bergaya serba putih. Mereka mampir ke tempat pacarnya Kirin dulu untuk bersiap. Yuri, mengenakan kemeja kotak-kotak kesayangannya. Kirin dan Dias berdandan rapi dengan kebaya dan stelan gaun khusus njagong. Sementara Edo, pacar Kirin mengenakan batik lengan panjang. Mereka lalu berangkat sekitar jam 9. Perjalanan panjang menanti mereka.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan hati, batin Yuri.

Memanglah Yuri sudah sebulan ini menyiapkan hati dan mental untuk menghadiri undangan sahabatnya yang sempat memberi arti sebuah ikatan. Sebuah ikatan yang belum pernah Yuri rasakan sebelumnya. Entah mengapa ikatan yang sekuat itu Yuri pertahankan malah lepas. Memanglah benar sesuatu akan lepas bila terlalu erat menggenggamnya.

Dalam perjalanan ia terus memandangi Kirin dan Edo yang bercanda mesra. Menatap bahwa ia tidak bisa seperti itu lagi bersama sahabatnya yang hari ini menikah. Yuri duduk di kursi belakang bersama Dias. Perempuan yang membalut dirinya dengan baju pink itu tiba-tiba memperlihatkan ponselnya.

“Titip Mas Yuri ya, kata Miki,” ujarnya.

“Oh lagi chat sama kamu?”

“Iya. BBM,”

Udah mau meledak ini, ujar Yuri dalam hati. Yuri kala itu tidak sadar bahwa dirinya diperhatikan benar-benar oleh teman-teman seperjalanannya. Kirin dan Dias berusaha agar Yuri tidak ‘menggila’ dalam momen bahagia itu. Sekuat tenaga Yuri mencoba menahan seluruh desing, debur, deru, dan de de de lainnya yang berproduksi dengan cepat dalam hatinya. Terus berzikir dan memohon benar-benar kepada Tuhan agar mendapatkan kekuatan.

Miki, yang tidak bisa hadir kala itu juga nitip salam untuk mempelai. Sebenarnya Miki, Kirin, dan Dias adalah sahabat karib mempelai perempuan. Yuri merasa beruntung bisa bareng mereka melewati batu demi batu, lubang demi lubang dalam perjalanan ke Kota B yang ternyata jalannya lumayan bersifat off road. Ketiganya paham Yuri sangat ingin datang ke pernikahan sahabat mereka. Dan mereka juga tahu Yuri butuh teman untuk itu.

Sampailah di tempat acara.

Yuri dan Kirin cs menanti pengantin keluar dari ruang rias. Akad nikah sudah berlangsung pagi tadi jam 8. Mereka datang sekitar jam 12 siang saat resepsi. Yuri mengambil segelas sirup yang entah rasanya apa karena di lidahnya terasa hambar. Hidangan tersuguh di mana-mana dengan warung-warung kecil di setiap menunya. Yuri dan lainnya mencari tempat duduk setelah mengambil beberapa minuman.

Tidak lama mempelai pun keluar.

Mempelai pria mengenakan baju ungu semi abu-abu dan rangkaian melati terkalung di lehernya. Musik pun disetel dan para tamu undangan berdiri untuk memotret upacara itu. Sang mempelai pria disambut mempelai wanita lalu berdua naik menuju pelaminan. Yuri melihat tiga teman sebisnya tadi pagi yang sudah berdandan rapi, muncul dari ruang ganti.

Sesi foto-foto pun tiba.

Yuri, Kirin, Dias, dan Edo mengantri untuk bersalaman dengan mempelai. Degup jantung Yuri berpacu. Lebih kencang daripada jet tempur Amerika yang akan menggempur Irak atas nama misi perdamaian. Semakin kencang dan semakin kencang. Saat ia naik tangga pelaminan rasa sesaknya tertahan karena harus menyalami orang tua mempelai wanita.

Mereka bersalaman. Semakin dekat dengan mempelai degup jantung Yuri semakin jauh dari degup jantung manusia biasa. Yuri disambut tawa mempelai pria yang tanpa diduga memeluk dan mengucapkan terima kasih. Yuri balas memeluk dan menyalami lalu tersenyum mengucap selamat. Saat akan menyalami mempelai perempuan Yuri menelangkupkan tangannya di depan dada.

Sang mempelai wanita tidak memandang Yuri dan sibuk berkelakar dengan ketiga temannya bergantian. Yuri merasa tidak dianggap. Seluruh perasaan yang membuncah tertahan. Yuri menatap mempelai wanita dengan... ah sudahlah tidak usah diteruskan. Sang mempelai wanita mengajak Kirin dan Dias berfoto namun mempelai pria bilang nanti saja. Yuri menurut dan segera menyalami orang tua mempelai pria lalu turun.

Tanpa ia sadari ternyata ketiga temannya jadi berfoto.

Yuri kesal dan menunjuk-nunjuk tiga temannya sambil berkacak pinggang di depan pelaminan. Mereka duduk kembali setelah satu sesi foto tanpa Yuri. Kirin cs mengambil makanan dan hidangan lainnya. Yuri bergabung dengan teman-teman satu bisnya tadi, yang ternyata belum berfoto.

“Mas Yuri ayuk foto,” ajak salah satunya.

Yuri tanpa diminta berdiri mengiyakan. Ia tadi belum foto, ya sekarang harus foto dong!

Kembali adegan tadi berulang dengan tiga pemain yang berbeda. Yuri menyalami, memberi selamat dan sebagainya. Di naik pelaminan yang kedua ini Yuri disuruh mempelai pria untuk mencabut melati. Yuri dan ketiga temannya kebingungan karena mereka merasa itu tidak sopan. Tapi kedua mempelai sepertinya sangat bersemangat agar melati mereka diambil.

Mantennya aja yang diambil boleh gak?

Belum selesai kebingungan mereka, fotografer sudah menyuruh untuk berfoto.

Mereka berfoto dan sesi bersalaman pun terulang. Mempelai wanita masih tidak menatap Yuri ketika lewat di depannya. Entah apa yang dirasakannya kala itu. Yuri dan ketiga temannya turun. Mereka kembali ke tempat duduk. Yuri mengambil napas panjang. Hari itu sangat panas dan tempat yang disediakan pun sudah penuh dengan tamu.

Tidak lama seseorang yang terkenal kelucuannya di antara kami pun datang.

“Hei Mas!” sapa Ray dari kejauhan.

Yuri mendengar suara yang akrab di telinganya. “Hei,” Yuri menyalaminya.

“Piye Mas sudah salaman dengan mempelai wanita belum?”

Asem, umpat Yuri dalam hati. “Udah. Dua kali malah,” ujarnya.

“Lho, udah foto?”

“Udah.”

“Wah kalau gitu ayo foto lagi temenin aku,” ujar Ray.

Yuri tidak punya pilihan lain. Ia naik pelaminan lagi, salaman lagi, ditawari melati lagi dan turun lagi. Masih sama tidak ada beda dari mempelai wanita saat Yuri lewat di depannya: mengalihkan pandangan. Yuri merasa ada yang mengganjal. Bagaimana pun hari itu, Yuri bertekad menyelesaikan urusan perasaannya. 

Mereka lalu kembali ke tempat duduk. Bersama Kirin cs. Mereka terlihat sedang menikmati hidangan. Ray yang selalu bersemangat untuk makan lalu mengambil hidangan. Dias dengan suaranya yang lembut berkata, “Mas Yuri gak makan?”

Yuri menggeleng.

Ia merasa tidak ada yang bisa dimakan. Jika bisa ia ingin segera pergi dari tempat itu dan berteduh dari panas siang itu yang melebihi biasanya. Berteduh demi hatinya yang sudah tidak sanggup lagi menahan luapan rasa. Beruntung kemudian ada yang mengajaknya untuk shalat. Ketiga teman sebisnya tadi, sebut saja Ersi, Iman dan Deri.

Mereka shalat di masjid terdekat –yang ternyata cukup jauh kalau jalan kaki.

Yuri mengimami. Ia meluapkan rasa dalam hatinya yang entah namanya apa. Pokoknya Yuri ingin meluapkan itu semua kepada Tuhan. Dalam hati ia sudah ingin sekali mengakhiri episode hari itu dengan satu tindakan. Satu tindakan yang akan membuatnya lega dan tidak akan memikirkan pernikahan itu lagi dan karena Yuri berhasil menaklukkan ketakutannya.

Akhirnya ia putuskan untuk kembali ke tempat resepsi, namun kali ini di luar.

Edo terlihat sedang merokok di parkiran jadi Yuri memiliki alasan untuk tinggal. “Aku di sini saja nemenin Mas Edo,” ujar Yuri kepada Ersi, Iman, dan Deri.

“Kamu gak makan beneran?” tanya Edo.

“Gak Mas, gak ketelen,” jawab Yuri.

“Aku tahu perasaanmu. Baru pertama kali ya?”

“Iya.”

Dan gak pengen ada yang kedua kali, lanjut Yuri dalam hati.

Akhirnya Yuri mendapatkan pertolongan. Edo sepertinya juga sudah ingin balik karena waktu juga sudah menjelang sore. Dia mengajak Yuri masuk untuk pamit. Kirin cs sedang menunggu dan menyantap beberapa hidangan penutup. Mereka berempat pamit kepada kedua mempelai.

Aduh, erang Yuri dalam hati, mengapa salaman sama mereka lagi.

Tapi dalam sisi hati Yuri yang lain, memaksanya untuk mau kembali menaklukkan ketakutannya. Ia kali ini harus mendapatkan perhatian mempelai wanita bagaimanapun caranya. Ia putuskan untuk pamit berbarengan dan mencoba bersalaman dengan mempelai wanita untuk yang keempat kalinya. Kali ini ia harus berhasil mencuri perhatian mempelai wanita dan menyelesaikan semuanya.

Saat berada di depan mempelai wanita, Yuri tidak langsung ngeloyor. Ia menunggu mempelai wanita selesai mengucapkan terima kasih kepada tiga temannya. Detik berikutnya ia mengangkat tangannya setinggi perut. Mengepalkan tangan dan menatap sungguh-sungguh perempuan di depannya. Sang mempelai wanita mengerti, meskipun tidak melihat wajah Yuri ia memberikan tangannya dan melakukan tos tinju. Yuri menghela napas lega. Ia turun dari pelaminan dengan bersemangat.

Saat menuju parkiran, Yuri menoleh ke belakang untuk terakhir kali dan tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Mendoakan dalam hati agar kedua mempelai selalu dalam lindungan Allah, diberkahi dunia atas pernikahan mereka. Ia pun pulang bersama Kirin cs. Yuri meminta diturunkan di bundaran jalan besar yang tadi sempat mereka lewati. Ia akan pulang bersama Ray, Ersi, Iman, dan Deri. Pulang ke kota asalnya karena Kirin cs tinggal di Kota A.

Kirin cs sempat cemas ketika Yuri berjalan turun dari mobil.

Ia tidak mau ditemani. Yuri ingin sendiri. Bagaimana pun sudah cukup momen itu untuk Yuri. Ia lapar. Dari kejauhan ia melihat warung bakso di perempatan dan memasukinya. Yuri makan. Selang beberapa menit mobil Kirin cs muncul lewat di depan warung bakso dan semua jendelanya terbuka.

Mereka mencariku, batin Yuri.

Ia melambaikan tangan dan menunjuk-nunjuk mangkok bakso. Dias dan Kirin tampak menghela napas dan Edo memberi isyarat buat pulang duluan. Lelaki yang sedang menelan baksonya itu mengacungkan jempol dan tersenyum. Entah kelihatannya senyum getir atau senyum apa. ia makan bakso dengan perasaan enggan dan hanya memenuhi perutnya yang sebah.

Yuri menghabiskan sisa baksonya. Ia menghubungi Ray dan meminta untuk menjemput di bundaran. Kurang lebih 20 menit kemudian driver mobil kijang itu memberi kabar bahwa mereka di SPBU dekat bundaran. Yuri membereskan tasnya, membayar bakso lalu pergi.

Mobil kijang sudah menunggu Yuri. Saat masuk ketiga temannya menyambut dengan ceria. Ersi yang terkenal dengan ejekan pedas (nan jujur) menyapa sambil ketawa. Sementara Iman dan Deri yang baru saja kenal dengan Yuri tidak berkomentar. Mereka tidak tahu bahwa Yuri hari itu adalah tokoh yang benar-benar dipertanyakan kehadirannya.

“Mas aku tadinya sudah niat mau ngeledekin kamu, tapi aku jadi tidak berani,” ujar Ray.

“Niatmu jelek,” balas Yuri.

Selang beberapa menit Yuri mendapatkan telpon dari Miki. Ia tidak menunggu untuk menerima telpon itu. Yuri benar-benar ingin melampiaskan rasa kesalnya. Kontan saat menerima telpon dan di seberang Miki bertanya kabar, lelaki yang baru saja memenuhi undangan itu menjawab, “Super Saiya level 10.”

Warning: Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kemiripan nama atau kesamaan tokoh, itu hanya perasaanmu saja.